Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bag 3
Minangkabau, Lereng Singgalang Pos Satu,2011
Udara pagi di kawasan Pos Satu Gunung Singgalang terasa sejuk dan menyegarkan paru-paru, bercampur aroma tanah basah serta dedaunan yang masih lembap terkena embun semalam. Di jalur yang terjal dan berbatu itu, tiga sosok remaja baru saja mengakhiri perjuangan berat yang mereka jalani berbulan-bulan lamanya. Mereka adalah Bhumi, Bayu, dan Erwin Rasyad Chaniago—anak tertua sekaligus murid pertama Arlan Rasyad Sikumbang. Selama ini, ketiganya harus berlari naik turun lereng gunung hanya dengan memakai terompah kayu buatan tangan, alas kaki yang kasar dan tidak rata, yang menguji ketahanan kaki dan keseimbangan tubuh mereka hingga batas maksimal.
Bagi Erwin , Bhumi dan Bayu, yang baru menginjak usia belasan tahun dan berasal dari desa di kaki gunung, latihan ini terasa sangat berat. Sering kali telapak kaki mereka terasa perih tergesek kayu, napas terengah-engah, dan rasa lelah hampir membuat mereka berhenti. Namun kehadiran Erwin, yang sudah lebih terlatih, selalu menjadi teladan dan penyemangat. Kini, setelah berbulan-bulan melakukannya, hari itu mereka berhasil menyelesaikan putaran bolak-balik terakhir dengan langkah yang jauh lebih mantap. Keringat membasahi tubuh mereka, namun rasa bangga terasa lebih besar daripada rasa lelah.
Di hadapan mereka berdiri Arlan Rasyad Sikumbang, ahli waris ilmu Silek Tuo Harimau yang dihormati. Ia mengamati satu per satu kondisi ketiganya dengan pandangan teliti, memastikan tidak ada yang terluka atau kelelahan berlebihan. Setelah yakin mereka siap melanjutkan, Arlan memberi isyarat agar mereka berkumpul rapat.
"Duduak basilo, rapek an duo tapak kaki angku di tanah(Duduklah bersila, satukan kedua telapak kakimu hingga menempel rapat di atas tanah,)” perintahnya dengan suara tenang namun tegas.
Ketiganya segera melaksanakan perintah itu. Posisi ini membuat otot paha dan selangkangan langsung terasa tertarik dan kencang, terutama bagi Erwin , Bhumi dan Bayu yang belum terlalu lentur. Arlan kemudian mendekati mereka, memperagakan gerakan yang harus diikuti.
"Kini, gunakan duo talapak tangan untuak manyokoh bagian ateh paho sacaro pelan-pelan jo batahap," lanjunyo sambil mangikuik-i caro nan Ambo lakuan. "Sokoh saketek demi saketek, jan tagesa-gesa, sampai kaduo lutuik bisa turun mandakek dan akhirnyo manyantuah pamukoan tanah jo rato jo sajaja. Raso an tarikannyo, bukan raso sakit nan mancucuak.(Sekarang, gunakan kedua telapak tangan untuk menekan bagian atas paha secara perlahan dan bertahap,Aku lanjutkan sambil menunjukkan caranya. Tekan sedikit demi sedikit, jangan tergesa-gesa, hingga kedua lutut bisa turun mendekat dan akhirnya menyentuh permukaan tanah dengan rata dan sejajar. Rasakan tarikannya, bukan rasa sakit yang menusuk).”
Arlan sendiri membantu meluruskan posisi mereka. Ia menekan perlahan paha Erwin , Bhumi-Bayu yang terlihat paling kaku, sambil mengatur napasnya agar tetap tenang.
"Tariek napas dalam-dalam, ambuahan pelan-pelan katiko Ambo manyokoh. Bakanai juo angku-angku katiko malakuan surang.(Tarik napas dalam, hembuskan perlahan saat saya menekan. Begitu juga kalian saat melakukannya sendiri).” katanya. Satu per satu ia bantu Bhumi, Bayu, dan terakhir Erwin, hingga posisi lutut mereka benar-benar rata menyentuh tanah tanpa ada yang terangkat sedikit pun.
Gerakan ini dilakukan berulang kali secara perlahan, membuat aliran darah yang sempat terhambat saat berlari kembali lancar, dan otot yang tegang mulai melunak.Setelah mereka terbiasa dengan posisi itu, Arlan menjelaskan maksud latihan ini.
"Garak manyatukan talapak kaki lalu manyokoh paho sampai lutuik kanai tanah tu bukan hanyo peregangan biaso sajo. Iko adolah langkah dasar untuak mambukak kalenturan pinggua jo paho. Nantinyo, jikok angku-angku handak mangasai posisi manalantangkan kaki luruah sajaja atau balah kaki sapanuahnyo, pondasi ko lah nan paliang pantiang. Tanpa bisa manyokoh lutuik sampai rato di tanah ko, angku-angku indak akan punyo ruang garak nan cukuik untuak manghasilkan tanago tendangan nan maksimal(Gerakan menyatukan telapak kaki lalu menekan paha hingga lutut menyentuh tanah bukan sekadar peregangan biasa. Ini adalah langkah dasar untuk membuka kelenturan pinggul dan paha. Nantinya, jika kalian ingin menguasai posisi menelentangkan kaki lurus sejajar atau belah kaki sepenuhnya, fondasi inilah yang paling penting. Tanpa bisa menekan lutut hingga rata di tanah ini, kalian tidak akan memiliki ruang gerak yang cukup untuk menghasilkan tenaga tendangan yang maksimal).”
Ia melanjutkan penjelasannya dengan nada yang lebih mendalam.
"Ilmu Silek Tuo Harimau maniru garak harimau nan manarakek jo maloncek. Harimau bisa mangayuangkan kaki jo kuek jo jauah dek otot pinggua jo pahonyo lentua tapi padek. Jikok angku-angku hanyo mangandalkan kakuatan otot tanpa kalenturan, tanago angku-angku akan baranti di tangah jalan dan justru bisa marusak sendi surang. Ingek: kakuatan nan elok adolah kakuatan nan bisa dikandalikan dan disalurkan jo sampurno.(Ilmu Silek Tuo Harimau meniru gerakan harimau yang menerkam dan melompat. Harimau bisa mengayunkan kaki dengan kuat dan jauh karena otot pinggul dan pahanya lentur namun padat. Jika kalian hanya mengandalkan kekuatan otot tanpa kelenturan, tenaga kalian akan terhenti di tengah jalan dan justru bisa merusak sendi sendiri. Ingat: kekuatan yang baik adalah kekuatan yang bisa dikendalikan dan disalurkan dengan sempurna).”
Setelah beberapa menit melakukan peregangan hingga lutut terasa ringan dan menyatu dengan tanah, Arlan memberi kesempatan kepada ketiganya untuk beristirahat sejenak. Mereka mengambil air dari Batok Kelapa, membasahi tenggorokan yang kering, sambil merasakan perbedaan pada tubuhnya—rasa berat di kaki sudah berkurang banyak. Namun waktu istirahat tidak berlangsung lama.
"Eloklah, cukuik lah istirahatnyo.(Baiklah, cukup istirahatnya)” panggil Arlan kembali.
"Kini kito lanjuikan untuak manguekkan bahu, lengan, jo inti tubuah. Ambiek posisi manumpu pado tangan, tapi gunakan hanyo ujuang limo jari sajo—ibu jari, tunjuak, jari tangah, jari manih, jo kaliangiang. Lakuan garak naiak-turunkan tubuah sabanyak duo puluah kali jo tataruah.(Sekarang kita lanjutkan menguatkan bahu, lengan, dan inti tubuh. Ambil posisi menumpu pada tangan, namun gunakan hanya ujung lima jari saja—ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Lakukan gerakan menaik-turunkan tubuh sebanyak dua puluh kali dengan teratur).”
Erwin Rasyad Chaniago, Bhumi dan Bayu saling berpandangan. Melakukan gerakan itu dengan seluruh telapak tangan saja sudah melelahkan, apalagi hanya mengandalkan ujung jari yang luas tumpuannya sangat kecil. Namun tidak ada yang mengeluh. Erwin segera mengambil posisi yang benar sebagai contoh, diikuti oleh kedua temannya.
Pada hitungan kesepuluh, Erwin Rasyad Chaniago terlihat goyah, tubuhnya miring ke samping karena jari-jarinya belum cukup kuat menahan beban.Bhumi dan Bayu merasakan rasa perih di ujung jarinya, namun tetap berusaha menjaga punggung tetap lurus. Arlan berjalan mengawasi, sesekali mengingatkan.
"Napas tataruah, turun pelan-pelan, naiak jo tanago nan tapusek. Jan tagesa-gesa.(Napas teratur, turun perlahan, naik dengan tenaga yang terpusat. Jangan terburu-buru).”
Hitungan demi hitungan terus berjalan. Saat mencapai angka dua puluh, jari-jari mereka terasa panas dan gemetar, namun ada rasa lega dan kekuatan baru yang terasa tumbuh. Arlan mengamati mereka dengan pandangan yang puas namun tetap tenang. Baginya, melihat ketiganya mampu melewati setiap tahap ini adalah bukti kesungguhan hati yang dibutuhkan untuk meneruskan warisan ilmu leluhur.
Matahari semakin tinggi, menyinari lereng Gunung Singgalang dengan cahaya hangat. Di tempat yang sepi ini, setiap tetes keringat menjadi saksi bahwa perjuangan yang sabar akan membentuk kekuatan yang sesungguhnya—bukan hanya untuk bertarung, tetapi juga untuk melatih jiwa agar menjadi tangguh dan penuh kendali.