Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Yang Tegas
Aroma minyak kayu putih dan uap obat penurun panas menguar tipis di dalam kamar utama yang megah. Ibu Yooka baru saja selesai menyeka tubuh Sonya yang lemas dengan air hangat, mengganti pakaiannya yang basah kuyup akibat siksaan Talitha, dan menyuapkan dosis obat pelancar aliran darah serta penurun demam. Seluruh tubuh Sonya tampak dipenuhi memar keunguan, terutama di sekitar pergelangan tangan dan lehernya.
Batara berdiri kokoh di dekat jendela besar yang tertutup rapat, menatap lurus ke arah ranjang dengan kedua tangan terselip di saku celana kainnya. Wajahnya sedingin es, tanpa ekspresi, namun aura di sekelilingnya begitu pekat dan menekan.
Ibu Yooka berbalik, membungkuk pelan dengan guratan kecemasan yang mendalam di wajah tuanya. "Tuan Besar, saya sudah membersihkan tubuh Nyonya Muda dan memberikan obat penurun panas dosis tertinggi yang kita miliki."
"Kondisinya?" tanya Batara. Suaranya rendah, pendek, dan sarat akan tuntutan mutlak.
"Nyonya Muda masih demam tinggi, Tuan. Suhu tubuhnya meningkat drastis dalam satu jam terakhir," jawab Ibu Yooka, suaranya sedikit bergetar. "Siksaan fisik dan air dingin tadi pagi membuat syok sistem imunnya yang memang sudah lemah. Saya... saya menyarankan agar Nyonya segera dibawa ke rumah sakit pusat di Kota Qislan. Fasilitas medis di sana jauh lebih lengkap untuk menangani kondisi kritis seperti ini."
Mendengar saran itu, mata Batara berkilat tajam. Rahangnya mengencang. "Tidak."
"Tapi Tuan, jika demamnya tidak turun—"
"Aku bilang tidak, Yooka," potong Batara. Nada suaranya tidak tinggi, namun getaran dingin di dalamnya membuat Ibu Yooka seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Membawa istri seorang Moretti ke rumah sakit umum dalam kondisi seperti ini sama saja dengan membiarkan musuh-musuh klan The Inferno mencium kelemahan mereka.
Batara tidak suka mengulang perkataannya. Dengan sebuah gerakan kode tangan yang sangat minimalis, hanya jentikan kecil dari dua jarinya dia mengisyaratkan agar Ibu Yooka segera meninggalkan kamar.
"Baik, Tuan Besar. Saya permisi," ucap Ibu Yooka pelan, melangkah mundur dengan kepala menunduk hingga pintu ganda kamar itu tertutup rapat tanpa suara.
Di atas ranjang berukuran king size beludru hitam, Sonya masih meringkuk dalam posisi janin. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat. Suara gemertak giginya yang beradu menahan dingin terdengar jelas di keheningan kamar, padahal sistem pendingin ruangan (AC) sudah diatur oleh Ibu Yooka pada temperatur hangat yang maksimal. Lembar selimut tebal berlapis dua yang menutupi tubuhnya seolah sama sekali tidak mampu menembus rasa dingin yang membekukan tulang-tulangnya.
Batara berdecak pelan. Matanya menatap tajam setiap getaran dari tubuh wanita itu. Tanpa suara, tangan kekarnya bergerak membuka satu per satu kancing kemeja hitam yang dikenakannya, lalu melepas pakaian atasnya tersebut dan mencampakkannya begitu saja ke lantai. Tubuh bagian atasnya yang kekar, dipenuhi guratan otot yang kokoh serta beberapa bekas luka tembak dan sayatan pisau, kini terekspos sepenuhnya di bawah temaram lampu kamar.
Batara melangkah mendekati ranjang, lalu menyibak selimut tebal yang membungkus Sonya dengan satu tarikan kasar.
Merasakan hilangnya kehangatan selimut dan adanya desiran angin yang membawa firasat bahaya, Sonya perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Pandangannya yang buram menangkap sosok tinggi besar Batara yang kini bertelanjang dada tepat di atasnya. Rasa trauma dan ketakutan yang mendalam seketika menyerang isi kepalanya. Sonya menyangka pria itu akan menuntut haknya lagi di saat tubuhnya sedang berada di ambang batas kehancuran.
"Jan-jangan... Jangan sekarang. Aku... aku mohon, Tuan..." ratih Sonya, suaranya parau, terputus-putus oleh napasnya yang memburu panas. Kedua tangannya yang gemetar mencoba mendorong dada bidang Batara, namun kekuatannya tidak lebih dari seulas embusan angin bagi pria itu.
"Diam!!!" bentak Batara rendah.
Tanpa memedulikan penolakan lemas dari istrinya, tangan besar Batara bergerak cepat menangkap ujung tali gaun tidur sutra yang dikenakan Sonya. Dengan satu sentakan yang efisien namun tegas, dia melepaskan ikatan tali tersebut, membuat gaun itu melonggar dan terlepas dari tubuh Sonya, menyisakan wanita itu dalam kondisi telanjang dan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
"Tuan... Saya mohon, tidak sekarang... tubuhku sangat sakit..." Sonya menangis, air mata panasnya mengalir melewati pelipisnya yang membara. Dia memejamkan mata erat-erat, mempersiapkan diri untuk rasa sakit yang biasa dia terima jika pria itu mulai mendominasinya.
Namun, Batara tidak berbicara sepatah kata pun. Dia tidak melakukan apa yang ditakutkan oleh Sonya. Pria itu justru naik ke atas ranjang, merangkak mendekat, lalu menarik tubuh mungil Sonya ke dalam dekapannya. Dia memeluk tubuh Sonya yang panas luar biasa, menempelkan dada bidangnya yang sejuk langsung pada kulit punggung dan dada Sonya yang membara. Selimut tebal kemudian ditariknya kembali menggunakan satu tangan, membungkus mereka berdua di dalam satu ruang kedap yang hangat.
Sonya tersentak, seluruh tubuhnya menegang kaku di dalam pelukan erat gurita otot Batara. Kulit mereka yang saling bersentuhan secara langsung mengirimkan sensasi yang aneh. Panas dari tubuh Sonya seolah perlahan-lahan diserap oleh tubuh besar Batara yang kokoh.
"Sa-sakit... Tuan... aku mohon..." Sonya masih merintih, mencoba bergerak gelisah karena merasa terkunci.
Batara tetap membisu, membiarkan keheningan menguasai mereka. Cengkeraman tangannya di pinggang Sonya justru semakin mengerat, mengunci pergerakan gadis itu agar tetap menempel sempurna pada dadanya. Batara sengaja menggunakan metode transfer panas tubuh alami, cara kuno yang sering digunakan para prajurit di medan perang untuk meredakan hipotermia dan demam ekstrem yang diderita.
Lambat laun, keajaiban aneh itu terjadi. Detak jantung Batara yang konstan dan kuat di belakang punggung Sonya seolah menjadi ritme yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat rasa dingin yang membekukan dalam tubuh Sonya perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan yang nyaman dan protektif. Tak lama kemudian, embusan napas Sonya yang semula memburu kasar mulai teratur. Tubuhnya perlahan rileks, rasa menggigilnya lenyap sepenuhnya, dan dia akhirnya tertidur lelap di bawah perlindungan tubuh sang mafia.
...****************...
Byuurrr!!!
"Ah! Brengsek! Beraninya kamu menyiramku?!"
Teriakan melengking penuh amarah menggema di dalam ruang isolasi bawah tanah Mansion Moretti yang gelap, dingin, dan berbau anyir besi serta kelembapan.
Talitha Munic tersentak bangun dari tidurnya yang tidak nyaman. Tubuhnya terduduk di atas kursi kayu tua dalam posisi kedua tangan dan kakinya terikat erat oleh rantai besi yang dingin. Dia sudah berada di ruangan terkutuk ini selama berjam-jam, tertidur karena terlalu lama menunggu kedatangan Batara setelah diseret paksa oleh para penjaga tadi pagi.
Di depannya, Batara Moretti berdiri dengan tenang memegang sebuah gelas kaca kosong. Pria itulah yang baru saja menyiram wajah penuh riasan Talitha dengan sisa air minumnya. Batara tidak membalas makian Talitha. Dia hanya melangkah mundur beberapa tindak, lalu duduk di atas sebuah kursi sofa kulit mewah yang sengaja diletakkan di sudut ruangan isolasi, satu-satunya barang mewah di tempat kotor itu.
Batara mengangkat salah satu kakinya, menumpukannya di atas lutut kakinya yang lain dengan pose yang sangat dominan. Jevan yang berdiri setia di samping sofanya segera mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berisi cerutu mahal, memotong ujungnya dengan rapi, lalu menyalakan pemantik api untuk Batara. Pria itu mengisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap tebal ke udara, menatap Talitha melalui kabut asap dengan pandangan yang mengerikan seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang terpojok.
Talitha, melihat pria yang sangat diinginkannya berada di sana, langsung mengubah ekspresi wajahnya dari marah menjadi merengek-rengek manja, meskipun bibirnya yang sobek akibat tamparan Jevan tadi pagi masih terlihat bengkak dan mengeluarkan bercak darah kering.
"Tuan Batara... tolong lepaskan aku," rengek Talitha dengan suara yang dibuat-buat sedih, matanya berkaca-kaca menatap Batara. "Lihat apa yang dilakukan anjing penjasamu ini kepadaku! Jevan sangat kasar terhadapku! Dia menamparku berulang kali dan mengurungku di tempat kotor ini! Aku ini tamu terhormatmu, Tuan Batara! Aku ini adik dari istrimu... maksudku, aku ini wanita yang seharusnya berada di sampingmu!"
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭