Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.
Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.
Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.
Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.
Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.
Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.
Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.
Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Nyari Sarang
Seteleh pemeriksaan selesai, Veyra akhirnya memilih untuk pulang. Karena sampai detik itu pun, Alvero belum membalas pesannya.
Di dalam mobil, Regan mengemudi dengan santai. Musik Bruno Mars mengalun dari kabin mobil.
Di kursi sebelahnya, Veyra duduk bersandar. Rambutnya terus menari karena angin dari jendela yang sengaja dibuka. Pandangannya jatuh ke luar sana.
Regan sesekali menoleh, menatapnya sebentar. Ia menghela napas pelan.
"Kamu ngantuk?" tanyanya memecah hening.
Veyra hanya menggeleng. Tak ada jawaban satu kata pun.
"Kamu mau apa, hm? Mau beli cemilan buat di rumah? Atau apa? Biar aku beliin." Regan meyakinkan sekali lagi.
Veyra membuang napas. Ia menengakkan duduknya, lalu menoleh menatap Regan.
"Gak perlu beli apa-apa. Cemilanku masih banyak di rumah."
Regan hanya mengangguk. Pandangannya sekarang fokus pada jajaran pedagang di kaki lima. Matanya terpaku pada satu food cart yang berjualan es teller creamy.
"Veyra, tunggu sebentar, ya." Katanya sambil menepikan mobil ke bahu jalan. Lalu mematikan mesinnya.
"Jangan lama-lama, aku sudah pengen sampai rumah." Jawabnya lirih. Nada suaranya campuran antara capek dan sudah tidak mood untuk semuanya. Karena Alvero yang mendadak sibuk, bahkan sampai hilang kabar.
"Sebentar." Regan segera keluar dari dalam mobilnya. Langkahnya lebar saat menghampiri food cart.
Veyra menunggu sambil memeriksa ponselnya lagi. Ia menghela napas panjang, lalu kepalanya bersandar. Matanya menatap langit-langit mobil, sebelum akhirnya ia pejamkan.
Setelah beberapa menit, pintu mobil kembali terbuka. Regan masuk sambil membawa dua cup es teller.
Veyra kembali membuka matanya. Ia sedikit terkejut saat tangan Regan sudah ada di depannya.
"Kamu gak lagi tidur, kan?" tanya Regan sambil menatapnya dengan senyum khasnya.
"Nggak. Aku belum bener-bener ngantuk, Regan."
"Yaudah, kita makan ini sebentar. Kamu mau?" Regan mengangkat satu cup es teller di hadapan Veyra.
Veyra menatapnya sebentar. Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya. Seolah rasa lelah barusan tak pernah ada.
Tangannya meraih cup es teller itu, "makasih ya."
"Sama-sama," jawab Regan dengan antusias.
Saat Veyra membuka tutup cupnya, keju parut langsung berjatuhan. Ia cepat-cepat mengaduknya.
Veyra menyendok irisan alpukat, lalu melahapnya. "Regan, kenapa kamu tiba-tiba beliin aku es teller. Apa kamu emang lagi pengen?"
"Bisa di bilang gitu. Tapi lebih ke... nggak suka aja lihat kamu cemberut." Jawab Regan sambil mengunyah.
Veyra tertawa kecil. "Ohh, jadi kamu tahu cara perempuan menurunkan moodnya?"
Regan mengangguk cepat. "Aku harus tahu, Veyra. Untuk nanti, saat aku sudah punya pasangan."
"Kayaknya kamu tertarik banget buat cari tahu tentang perempuan?"
"Tentu, karena aku gak mau pasanganku merasa tidak di mengerti. Apalagi sampai merasa sendiri." Tatapan Regan beralih ke wajah perempuan di sampingnya.
Veyra membalas tatapan itu sebentar, lalu beralih menatap es teller yang tinggal setengah. "Kamu benar, Regan."
Regan mengangguk.
Sekarang tak ada lagi yang bersuara. Sampai es teller mereka habis. Regan kembali menyalakan mesin mobil, lalu kembali ke jalan utama untuk melaju.
Veyra kembali diam, bukan lagi merasa capek. Tapi ucapan terakhir Regan yang mendadak terus terngiang di kepalanya. 'Apalagi sampai merasa sendiri.'
Kata-katanya benar, Veyra sendiri tidak bisa membantah. Terkadang, ia juga merasa sendiri saat keadaan seperti ini. Alvero yang selalu fokus pada kerjaannya, bahkan sampai lupa untuk memberi kabar.
Tapi di sisi lain, Veyra juga tahu. Itu adalah bentuk tanggung jawab Alvero yang ingin mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya, dengan cara bekerja keras.
Regan menatap Veyra sebentar. "Veyra, kamu kenapa lagi? Capek ya?"
"Nggak. Aku cuma ngantuk."
"Yaudah, kamu tidur aja. Kalau udah sampai rumah. Aku bangunin kamu."
"Gak mau, Regan."
Tak lama, ponsel Veyra berbunyi dari dalam tasnya. Nama Mas Al, terpampang jelas di layar. Veyra membuang napas, lalu menjawabnya.
"Hallo, sayang." Suara Alvero dibalik telepon.
"Hm," Veyra hanya menggeram.
"Sayang, kamu dimana?"
"Aku lagi jalan pulang sama, Regan," jawab Veyra sambil menoleh ke Regan.
"Kok bisa sama dia?"
"Kita ketemu di lobby kantor. Terus Regan ajak aku makan sambil nunggu kamu. Tapi lama, jadi sekalian aja dia nganterin aku cek kandungan."
"Ya ampun! Sayang aku benar-benar minta maaf. Aku..."
"Mas, lanjut ngobrol di rumah aja. Bentar lagi Aku nyampe."
Veyra memutuskan sambungan telepon dalam sepihak.
Wajahnya kembali di tekuk, seperti menunjukkan kekesalan pada suaminya.
Regan hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Mobil milik Regan akhirnya masuk ke halaman luas keluarga Alvero. Saat mobil berhenti, Veyra cepat-cepat turun.
Dan tak lama, mobil milik Alvero kini menyusul masuk. Alvero segera keluar, mengejar istrinya yang pasti sudah ngambek.
"Sayang, aku minta maaf. Aku bikin kamu nunggu lama ya!" Alvero menarik tangan Veyra.
Tapi Veyra menipisnya. "Kita bicarain di kamar aja. Aku mau bersih-bersih dulu."
Veyra mendorong pintu, melangkah masuk dengan rasa kesal pada suaminya. Bahkan sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada Regan.
Di teras depan pintu masuk. Alvero berdiri sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa sampai lupa kalau hari jadwal Veyra cek kandungan." Gumamnya.
Dari halaman, Regan berjalan menghampiri. Wajahnya tenang tanpa beban.
"Alvero, istrimu ngambek. Jangan dibiarin ya." Katanya.
Alvero mendengus. "Kamu pikir aku tipe suami yang membiarkannya begitu saja."
Regan terkekeh, ia sudah berdiri di hadapan Alvero. Satu tangan masuk ke saku celananya. "Aku gak berpikir sampai situ. Aku tahu kamu."
Alvero melemparkan tatapan yang menusuk.
"Al, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Sekarang gimana? Klient itu masih marah sama kamu?"
Alvero sedikit tersentak, ia tak percaya. Orang seperti Regan, ternyata tidak melupakan kesalahannya begitu saja.
"Kenapa kamu cuma diam? Masih marah? Ahh... baiklah. Aku mau pulang saja." Regan berbalik. Tapi sebelum melangkah, suara Alvero menghentikannya.
"Klient belum memberikan jawaban apa-apa." Jawabnya.
Regan mengangguk. "Semoga aja klientnya mengerti, atas kesalahan ini."
Tak ada lagi yang bersuara. Kedua pria itu sekarang hanya saling berhadapan.
"Oh iya, aku pulang dulu. Selamat malam Pak Direktur, sampai ketemu besok di kantor." Regan melambaikan tangannya. Langkahnya cepat saat menuruni tangga teras.
"Regan!" Alvero kembali memanggilnya.
Regan berdiri di depan pintu mobil. Alisnya mengernyit. "Kenapa?"
Alvero berjalan menghampiri. Tangannya menepuk bahu Regan pelan. "Makasih ya. Udah nemenin Veyra."
"Sama-sama," jawab Regan cepat.
"Tadi ada investor yang meminta data keuntungan. Jadi lama meetingnya, karena aku harus menghitungnya dengan teliti."
"Tapi aman, kan?"
Alvero mengangguk lega. "Aman banget. Investor sangat puas dengan hasil keuntungannya."
"Syukurlah kalau begitu."
Keduanya kembali diam. Beberapa detik berlalu. "Aku pulang dulu. Kamu cepet masuk, bujuk Veyra. Jangan sampai dia marah."
"Hati-hati," ucap Alvero.
Saat Regan sudah benar-benar masuk mobil. Alvero kini berlari masuk ke rumah.
Ruang keluarga sudah mulai sepi. Langkahnya cepat ketika ia menaiki anak tangga.
Begitu tiba di depan pintu kamar, Alvero langsung membukanya dan masuk. Tapi Veyra tak ada di sana. Alvero yakin jika istrinya itu sedang berada di kamar mandi. Jadi ia menyusulnya masuk ke sana.
Tak lama, Veyra keluar lebih dulu. Dan setelah beberapa saat, Alvero juga keluar, ia masih mengenakan balutan handuk di pinggangnya.
"Sayang, jangan diemin aku kayak gitu. Aku minta maaf." Katanya sedikit merengek.
Veyra yang tengah mengeringkan rambutnya, ia tak merespon apapun.
"Aku bantu keringin ya." Alvero mengambil hair dryer dari tangan istrinya.
Gerakannya lembut saat mengusap rambut Veyra. "Sayang, tadi ada meeting dadakan. Itu dari investor, jadi aku gak bisa batalin gitu aja."
Veyra masih diam.
"Perhitungan keuntungan itu sangat menyebalkan. Aku lupa antar kamu gara-gara itu."
Masih tak ada jawaban.
"Sayang, hari Sabtu besok kamu jangan kemana-mana, ya. Aku mau ajak kamu ke Puncak."
"Puncak?" Ulang Veyra akhirnya.
"Iya, kita pergi berdua aja."
"Mas, serius? Sabtu besok mau ke Puncak?" Tanya Veyra memastikan.
"Iya sayang."
Perlahan, wajah cemberut Veyra akhirnya tersenyum. Veyra mendongak. "Mas, aku udah lama pengen ke sana. Pengen lihat kebun Teh. Pengen ngadem dari hawa panasnya Jakarta."
Alvero tertawa kecil. Lalu berdehem. "Udahan nih marahnya."
"Nggak, aku masih marah." Veyra bangun dari duduknya. Ia langsung naik ke atas ranjang, berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Alvero cepat-cepat menyusulnya. "Sayang aku ikut!"
"Mas! Pakai baju dulu. Seenggaknya kamu pakai sempak."
Alvero tertawa keras. "Dia lagi nyari sarangnya, sayang."
"MASS!! Teriak Veyra dari balik selimut.
Bukannya bangun, tawa Alvero justru semakin menjadi.
hati-hati lidah tak bertulang vey
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri