Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penginapan
Penginapan
"Mau pergi jalan-jalan mas?",
"Lihat-lihat saja pak",
Davis bermalam di sebuah tempat penginapan yang konstruksinya estetik dan juga nyaman.
Kawasan rumah yang terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan itu dimanfaatkan menjadi tempat penginapan dengan pelayanan yang ramah dan menyenangkan.
Davis sedang melihat peta daerah ketika seorang petugas penginapan menyapanya di pagi hari yang syahdu.
"Kalau di sini banyak tempat wisata alamnya mas",
"Mau yang semi pegunungan ada, mau yang pantai juga ada",
"Pantainya masih bersih mas, airnya bening, pasirnya pink",
"Aku lihat-lihat dulu pak",
"Mau berenang sama ikan hiu juga bisa",
"Kalau masnya butuh tour guide lokal yang handal, kami bisa bantu",
"Terimakasih",
"Aku lebih suka jalan-jalan sendiri",
Hari itu Davis pergi ke salah satu tempat wisata alam yang secara statistik lebih sedikit pengunjungnya dari tempat rekreasi yang lain.
Karena hari ini adalah waktu libur panjang bagi mereka yang masih sekolah dan bekerja di instansi negeri.
Tempat ini menjadi ramai sekali.
Berdesak-desakan ramai orang-orang.
Terutama anak-anak kecil dan anak-anak remaja.
Berendam di kolam air hangat dengan suasana yang tenang.
Itulah yang didambakan Davis sebelumnya.
Yang sekarang terjadi sebaliknya.
Davis berendam di kolam air hangat bersama suara gaduh dari anak-anak yang asyik bermain.
"Aduh",
"Sialan",
"Lempar sini om bolanya",
"Lempar om",
Davis yang tengah rebahan manis di atas perahu karet berwujud bebek. Kepalanya terlempar bola plastik mainan anak-anak.
Kacamata hitam Davis sampai melorot.
"Anak setan",
"Anak setan",
Davis melempar bolanya jauh ke luar kolam air panas.
Anak-anak kecil itu murka dan melakukan serangan balas dendam.
"Dorong.... ",
"Dorong.... ",
Dengan berani mereka bersatu padu mendorong perahu karet Davis sampai terbalik.
Davis pun terjungkal. Tercebur ke dalam kolam.
"Ha... Ha... Ha... Ha... Ha... ",
"Ha... Ha... Ha... Ha... Ha... ",
"Dasar bocah gemblung",
Dari tempat pemandian air panas. Davis tidak langsung pulang ke penginapan.
Petualangan seseorang yang tengah patah hati dan kecewa baru saja dimulai ketika malam.
Davis berkunjung ke sebuah tempat penginapan.
Tapi tempat penginapan ini lain dari pada sebelumnya.
Disewanya bisa jam-jaman tidak sampai menginap.
"Silahkan om, mau pilih yang mana?",
"Waduh, kenapa tampangnya pada kaya anak sekolahan semua ya?", batin Davis.
Pukul dua belas malam Davis berjalan pulang ke tempat penginapan dimana ia berperan menjadi orang yang baik-baik.
Sepanjang jalan raya yang sudah sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat dan tak mau menepi.
Davis sampai di tempatnya bermalam dengan badan yang agak sempoyongan dan sudah mengantuk berat.
Ketika Davis mau membuka pintu kamarnya ia melihat ada pergerakan yang mencurigakan.
Ada seseorang yang masuk ke lingkungan rumah penginapan.
Kemudian orang itu mencoba membuka pintu ruangan utama.
Bangunan itu adalah tempat resepsionis menerima tamu dan pemilik penginapan ini tinggal di dalam sana.
Tidak salah lagi. Orang itu pasti hendak berniat jahat. Maling.
Di daerah yang jauh dari pusat peradaban ini memang masih sangat rawan dengan yang namanya pencurian, begal dan kriminalitas yang lain.
Sejujurnya Davis sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur.
Tapi mau bagaimana lagi. Jiwa patriotiknya bergejolak meski sudah bukan seorang pahlawan lagi.
"Argh.... ",
Seseorang yang ternyata masih anak muda itu berteriak kesakitan ketika Davis berhasil meringkusnya dengan sekali sergapan.
"Dasar masih bau kencur",
"Kenapa menjadi pencuri?",
Davis menjatuhkan tersangka ke lantai. Menguncinya dengan tindihan kaki dan bobot badan.
Menekan leher dan kepalanya dengan siku.
"Lepaskan aku",
"Aku bukan maling",
"Kamu salah paham",
"Mana ada penjahat yang mau mengaku?",
"Dasar anak ingusan",
"Hayo mengaku",
"Sumpah, aku anak pemilik rumah penginapan ini",
Tiba-tiba pintu ruangan utama itu terbuka.
"Mas Davis?",
"Mas Marco?",
Petugas penginapan itu mengenali keduanya.
"Bapak tahu siapa anak ini?",
"Itu mas Marco mas, anak pemilik rumah penginapan ini",
Davis dengan seribu malu melepaskan tersangka yang salah tangkap.
"Maafkan aku",
"Maafkan aku",
"Aku benar-benar minta maaf",
"Aku terlalu gegabah",
"Maafkan aku",
"Maafkan aku mas Marco",
Selain karena mengantuk berat. Mungkin juga akibat dari Davis yang terlalu banyak minum.