NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tikus (Origin Story Hattori Zen—Flashback)

Lorong pagoda itu mendadak hening setelah kata "Pengkhianat Negara" terlontar dari bibir Kaede. Hattori Zen terpaku, kata-kata itu terasa lebih tajam daripada shuriken yang nyaris merobek wajahnya. Dia bertanya dalam hati…

'Nani? Doiu koto da...?' (Apa? Apa maksudnya...?)

Sena mencengkeram dipan bambunya, urat lehernya menegang. Bibirnya yang pucat bergerak cepat mengeluarkan suara serak yang memecah kesunyian bilik pengobatan.

​Datuk Lagang yang sedang memutar jarum peraknya terhenti sejenak, ia menatap Sena dengan pandangan yang dalam.

Sena kembali mengigau, kali ini dengan nada yang lebih menuntut dan penuh tekanan.

​"Sono makimono no naiyo wa... ittai nanda?!" (Apa sebenarnya isi gulungan surat itu?!)

​Puti Kirai yang sedang mengompres kening Sena tersentak. Ia menoleh ke arah Datuk Lagang dengan wajah penuh kebingungan. "Guru... Apa yang Sena katakan? Suaranya terdengar seperti... ratapan."

Sang Datuk mengernyit. Ia akrab dengan nada bicara para pedagang dari Kanton atau Quanzhou, namun suara yang keluar dari mulut Sena terasa lebih tajam, penuh konsonan yang kaku dan bertenaga.

​"Hanba tidak tahu putri, mungkin.. jiwanya sedang berkelana ke tempat yang sangat jauh," balas Datuk Lagang mencoba menenangkan keadaan.

Datuk Lagang menekan titik Shenmen di pergelangan tangan dan Anmian di belakang telinga—titik-titik rahasia untuk memadamkan api kegelisahan di dalam jiwa, sebuah teknik pengobatan yang pernah ia pelajari dari pedagang Quanzhou dari Dinasti Yuan.

​Sena mengerang pelan, tubuhnya yang tegang perlahan melunak, dan kesadarannya kembali tersedot masuk ke dalam kegelapan memori, kedalam mimpi alam bawah sadarnya…

​Hattori Zen kembali menguasai dirinya. Ia mengabaikan berbagai pertanyaan di kepalanya dan memfokuskan pandangan pada Kaede yang masih siaga dengan posisi rendah.

​"Pengkhianat?" Hattori mendesis, suaranya kembali dingin. "Klan Iga hanya menjalankan perintah Daimyo. Jika surat ini adalah bukti pengkhianatan, maka tunjukkan padaku siapa yang sebenarnya yang kau layani, Kunoichi."

​Kaede tersenyum sinis, sebuah senyum penuh belas kasihan. "Idealisme yang kaku, hanya akan menguburmu dalam penyesalan, selamanya kau hanya akan menjadi alat."

​Mata Hattori menyipit. "Aku tahu apa yang kulakukan!"

Hattori memutar sedikit Ninjato-nya (pedang pendek-nya), Ren mengerti isyarat yang Hattori berikan, perintah untuk menjalankan sesuai misi.

Kaede melirik Ren yang tetap waspada menjauh darinya, ketika dia hendak menghalangi Ren, pori-pori kulitnya merasakan bahaya yang mendekat.

Ting—!

Sebuah Shuriken yang di lempar Hattori, ditangkis dengan presisi oleh Kaede dengan Kodachi. Katana pendek itu mementalkan Shuriken menancap kokoh di dinding kayu.

Tujuannya Hattori jelas, menghentikan Kaede dan memberi Ren jalan untuk mengambil gulungan surat Daimyo Daichi.

​Tanpa peringatan lagi, Kaede menerjang. Gerakannya seperti tarian maut; rambutnya tergerai setelah kedua Senbon dicabut dari tempat nya, tusuk konde itu terlesat….

Sret..

Hattori memiringkan kepalanya, namun satu Senbon tetap merobek pipi kirinya, ia segera memanfaatkan dinding lorong dan berakrobat di udara, disusul tebasan Ninjato-nya, pedang pendek itu menghujam keras ke arah Kaede.

CLANG—!

Kaede menangkis, Kodachi itu sedikit bergetar, ia terdorong beberapa langkah ke belakang.

“RESTU”

“RETSU”

Begitu segel Retsu dihentakkan, pupil mata keduanya mengecil. Dunia seolah melambat, dan detak jantung mereka berdentum seperti genderang perang yang sinkron

Kekuatan otot dan reaksi mereka meledak seketika menciptakan duel sengit, saling jual beli serangan, saling menebas dan menangkis, tubuh mereka bergerak dalam kecepatan tinggi dalam lorong sempit.

Lantai kayu berderit hebat setiap kali kaki mereka berpijak dengan tenaga penuh. Dinding kayu berdentum keras, gemanya mengusik kesunyian dan suara baja yang beradu seolah saling melengkapi menjadi simfoni yang mengiringi pertarungan kedua Shinobi tingkat tinggi itu.

Clang.. Clang… Clang—!

Keduanya terseret mundur saling menjauh—memasang kuda-kuda menahan tarikan gravitasi yang menyeret tubuh mereka.

Kaede kembali berlari menyerang, melepas Manriki-Gusari, sebuah rantai kecil dengan pendulum Kunai yang mengikat pinggangnya.

Dia bagai dewi perang yang menari indah namun mematikan, rantai baja itu seperti pusaran gelombang ombak yang menderu, setiap aliran nya merobek lantai dan dinding.

Hattori melakukan Ukemi, ia berguling dan menjaga jarak, bergerak zig-zag menghindari serangan Manriki-Gusari, namun akhirnya kakinya terlilit.

Bibir Kaede sedikit tersungging, dia menarik dan mencengkram kuat Kodachi miliknya, siap menghunuskannya ke tubuh lawannya.

Namun, Hattori Zen bukanlah petarung biasa. Alih-alih melawan tarikan rantai itu, ia justru melompat maju, mengikuti arah tarikan untuk menambah kecepatan serangannya sendiri.

​Clang—!

​Bilah Ninjato Hattori beradu dengan Kodachi Kaede dalam jarak yang sangat intim, begitu dekat hingga mereka bisa merasakan hawa panas dari napas satu sama lain.

​"Pelajaran pertama, Kunoichi," bisik Hattori, matanya berkilat di balik penutup wajah. "Jangan pernah menarik mangsa yang jauh lebih berat darimu."

​Hattori memutar tubuhnya secara vertikal di udara. Ia memanfaatkan berat badannya untuk memelintir rantai tersebut. Kaede yang tidak mau tangannya patah akibat lilitan rantainya sendiri, terpaksa melepas pegangannya.

​Di saat itulah, Hattori menendang dinding dengan keras, melenting ke belakang sambil melepaskan lilitan rantai di tangannya dengan satu sentakan cepat.

Rantai itu terjatuh ke lantai kayu, menimbulkan suara gemerincing logam yang tajam di keheningan lorong.

Sementara itu, di balik pintu geser ruang utama, Ren bergerak laksana asap. Ia melihat sang Komandan Penjaga Perbatasan Teluk Azamo, Yasuhira Kouga—seorang pria paruh baya dengan Chonmage—gaya rambut khas para samurai dan baju zirah yang belum lengkap, tengah duduk menggulung surat di atas meja.

Ren yang melihat celah, berlari dengan niat menyambar gulungan itu, namun ia segera menyadari kesalahannya. Sang Komandan yang tampak tak menyadari kehadirannya itu tiba-tiba berdiri tegak dengan tenang, tangannya sudah menggenggam gagang Katana yang bersandar di sampingnya.

​"Seekor tikus kecil," suara Yasuhira Kouga berat dan bergema, penuh otoritas.

​Tanpa perlu mencabut pedangnya secara penuh, Yasuhira hanya melakukan gerakan Tsuka-ate (memukul dengan pangkal gagang pedang).

Gerakannya begitu cepat dan bertenaga hingga Ren yang lincah pun tak sempat menghindar sepenuhnya. Pangkal pedang itu menghantam rusuk Ren, membuatnya terlempar ke dinding kayu.

"​Khakh—!" Ren terbatuk, merasakan tulang rusuknya retak.

​Yasuhira menarik pedangnya perlahan. Bilah bajanya berkilau biru tertimpa cahaya fajar, menunjukkan kualitas tempaan tingkat tinggi. "Shinobi memang ahli menyelinap, tapi kalian tidak punya kehormatan untuk berdiri di hadapan Katana-ku."

Sementara di lorong, kedua Jonin yang sedang berduel sengit mendengar suara dentuman dari dalam ruangan, seketika duel Hattori dan Kaede terhenti. Pintu geser utama ruangan itu hancur berantakan karena tubuh Ren yang terlempar keluar.

“Ren” Teriak Hattori tercekat, ia tak bisa bergerak sembarangan karena Kaede masih dalam posisi siaga tempur.

​Yasuhira melangkah keluar dengan tenang. Jubah Haori-nya berkibar ditiup angin fajar yang masuk dari jendela yang pecah.

Kehadirannya seketika mengubah atmosfer; lorong yang tadinya penuh hawa membunuh yang lincah, kini terasa tertekan oleh keberadaan sosok yang begitu dominan.

​"Kaede," panggil Yasuhira tanpa menoleh pada pengawalnya. "Kau terlalu lama bermain-main dengan tikus ini."

​Kaede segera berlutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan Yasuhira."

​Hattori Zen mengencangkan pegangan pada Ninjato-nya. Ia bisa merasakan perbedaan level yang sangat jauh.

Jika Kaede adalah angin yang lincah, maka Yasuhira Kouga adalah gunung yang tak tergoyahkan.

​"Tikus Iga," Yasuhira menyebut Hattori dengan tikus seolah ia bukanlah siapa-siapa dihadapkan sang Komandan. "Aku menghargai keberanianmu menyusup sejauh ini. Tapi kau melakukan kesalahan besar dengan berpikir bahwa benteng ini hanya dijaga oleh pemanah-pemanah ceroboh."

​Yasuhira mengangkat pedangnya, mengambil kuda-kuda Jodan-no-kamae (pedang di atas kepala). Kekuatannya terasa menekan udara di lorong sempit itu. "Mari kita lihat, apakah kecepatanmu bisa melampaui kebenaran dari pedangku."

Ia tidak memberikan waktu untuk negosiasi. Dalam satu gerakan yang begitu halus hingga suara udara yang terbelah baru terdengar setelah bilah pedangnya menyarung kembali

ZING—!

“Hiken—Tsubame Gaeshi (Teknik Pedang—Pembalasan Sang Walet)” Ucap Yasuhira tenang dan dingin.

Di lorong pagoda Teluk Azamo, Yasuhira Koga baru saja melakukan satu gerakan yang nyaris mustahil diikuti mata manusia. Sebuah kilatan perak membelah udara fajar.

​Darah Ren memercik ke dinding kayu pagoda, dan saat itulah dunia Hattori serasa runtuh. Suara kepala yang jatuh menggelinding di lantai kayu bergema seolah menusuk hingga ke alam bawah sadarnya. ​"REEEEEENNNNN!"

​DUAR—!

​Suara petir menggelegar di kejauhan Lembah Harau seolah sedang meneriakan sesuatu.

Di dalam bilik pengobatan, Sena tersentak bangun. Tubuhnya terduduk tegak mengejang, seolah ditarik oleh tali yang tak terlihat.

Jarum-jarum perak Datuk Lagang yang tertancap di tubuhnya bergetar hebat, beberapa di antaranya terlepas karena tegangnya otot Sena yang mendadak.

​Napasnya menderu, pendek dan kasar. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya masih kosong, seolah masih menatap darah yang memercik di lantai kayu pagoda ribuan mil jauhnya.

Puti Kirai mematung, kain kompres di tangannya terjatuh ke lantai.

​Sena perlahan menundukkan kepala. Bahunya yang biasanya tegap kini bergetar hebat. Di bawah temaram lampu minyak, ia membisikkan satu nama dengan suara yang begitu rapuh, seolah nama itu adalah beban paling berat yang pernah ia pikul.

​"Ren..." ucap Sena lirih.

​Setetes air mata jatuh ke atas dipan bambu sebelum ia jatuh pingsan lagi.

Puti Kirai dan Datuk Lagang terdiam seribu bahasa. Mereka menyadari, bahwa pemuda di hadapan mereka bukan sedang bangun dari mimpi buruk biasa, melainkan baru saja kembali dari neraka yang nyata.

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!