NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 AKTIFKAN BATAS KELUARGA

[Rekomendasi: aktifkan batas keluarga.]

Kalimat sistem itu terdengar dingin di kepala Arkan, tetapi untuk pertama kalinya sejak sore tadi, ia tidak merasa perlu membantah.

Riko sudah berdiri di ruang tamu mereka seolah rumah itu miliknya sendiri. Sandalnya masih menempel debu jalan, senyumnya terlalu lebar, dan matanya bergerak cepat seperti orang yang sedang menghitung kemungkinan. Ia tidak datang karena rindu. Tidak datang karena benar-benar peduli pada Naya. Ia datang karena kabar tentang uang lebih cepat sampai ke telinganya daripada rasa malu.

Bu Sari berdiri kaku di dekat meja. Naya menunduk sambil memeluk mapnya, seolah dokumen di tangannya tiba-tiba menjadi alasan semua orang datang mengusik.

Arkan melihat itu.

Lalu sesuatu di dalam dirinya menjadi tenang.

Dulu, ia mungkin akan mempersilakan Riko duduk. Mungkin akan membuatkan minum. Mungkin akan menjawab pertanyaan satu per satu karena merasa tidak enak menolak keluarga sendiri. Namun hari itu, setelah mendengar sistem menyebut dua puluh lima triliun sebagai otoritas aset level satu, Arkan justru sadar bahwa batas pertama yang harus ia bangun bukan pagar rumah, bukan tembok tinggi, bukan rekening rahasia.

Batas pertama adalah mulutnya sendiri.

Kepada siapa ia menjelaskan.

Kepada siapa ia diam.

Dan kepada siapa ia menutup pintu.

Riko tertawa kecil ketika tidak ada yang langsung menjawab. Ia menepuk bahu Arkan dengan gaya akrab yang terasa dipaksakan, tetapi telapak tangannya belum sempat menempel lama ketika Arkan sedikit menggeser tubuhnya. Gerakan itu kecil. Hampir tidak terlihat. Namun cukup membuat tangan Riko turun menggantung di udara.

Senyum Riko membeku sesaat.

“Wah, sekarang kaku sekali kau, Kan. Sama saudara sendiri masa begitu?” ucapnya, mencoba menutup rasa canggung dengan tawa.

Arkan menatapnya tenang. “Ada perlu apa, Bang Riko?”

Pertanyaan itu langsung memotong basa-basi.

Riko berkedip. Ia melirik Bu Sari, mungkin berharap perempuan itu akan melembutkan suasana seperti biasanya. Namun Bu Sari masih diam, dan Naya tidak mengangkat wajah sama sekali. Ruang tamu kecil yang biasanya mudah dikuasai Riko dengan suara kerasnya kini terasa berbeda.

“Ya, aku cuma dengar kabar,” kata Riko akhirnya. “Katanya Naya sudah bisa ambil berkas. Aku ikut senanglah. Keluarga kan harus saling dukung.”

[Sistem mendeteksi kalimat umum tanpa kontribusi nyata.]

[Riwayat dukungan subjek: rendah.]

[Riwayat meminjam uang: ada.]

[Riwayat mengembalikan uang: tidak terdeteksi.]

Arkan hampir tersenyum dingin.

Sistem benar-benar tidak memberi ruang untuk nostalgia palsu.

“Terima kasih sudah ikut senang,” jawab Arkan. “Sekarang Naya perlu istirahat. Ibu juga.”

Riko tampak tidak menyangka percakapan akan ditutup secepat itu. Ia melangkah sedikit lebih jauh ke dalam rumah, matanya turun ke meja, ke piring gorengan, ke kursi tua, lalu kembali ke Arkan.

“Sebentar saja. Aku cuma mau ngobrol. Katanya tunggakan langsung lunas semua. Lumayan juga itu, Kan. Dapat rezeki dari mana?”

Bu Sari menahan napas.

Naya menggenggam map lebih kuat.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Riko cukup lama sampai pria itu mulai tidak nyaman.

“Bang Riko,” ucap Arkan pelan, “kalau datang untuk memberi selamat, terima kasih. Kalau datang untuk bertanya uang, jawabannya tidak ada.”

Senyum Riko memudar.

“Lho, aku kan keluarga.”

“Justru karena keluarga, harusnya Bang Riko tahu kapan bertanya dan kapan cukup mendoakan.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Di luar, suara anak kecil menendang bola terdengar beberapa kali, disusul tawa dari gang sebelah. Namun di dalam rumah, udara seperti berhenti bergerak. Bu Sari menatap Arkan dengan cemas, seolah takut kalimat itu akan memicu keributan. Naya mengangkat wajah sedikit, matanya menunjukkan campuran terkejut dan lega.

Riko tertawa pendek. Kali ini tawanya tidak lagi terdengar ringan.

“Wah, kau berubah sekarang, Kan. Baru ada uang sedikit, sudah beda bicara.”

Arkan menatapnya tanpa berkedip.

Kalimat itu dulu bisa membuatnya mundur.

Tuduhan sombong adalah senjata paling sering dipakai orang-orang yang terbiasa mengambil ruang dari hidup orang lain. Mereka datang tanpa izin, bertanya tanpa batas, meminta tanpa malu, lalu ketika ditolak, mereka menyebut orang lain berubah.

Namun hari ini, Arkan tidak ingin kalah oleh kalimat seperti itu.

“Mungkin memang harus berubah,” jawabnya.

Riko terdiam.

Arkan melanjutkan, suaranya tetap rendah. “Dulu kami terlalu sering diam karena tidak enak. Terlalu sering menjawab karena takut dianggap sombong. Terlalu sering memberi meski kami sendiri kurang. Kalau perubahan itu membuat Bang Riko tidak nyaman, berarti perubahan itu memang perlu.”

Wajah Riko mengeras.

Bu Sari menunduk, tetapi kali ini ia tidak menghentikan Arkan.

Mungkin karena kalimat itu juga menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam. Bertahun-tahun ia hidup di antara rasa tidak enak, sungkan kepada keluarga, takut dibicarakan tetangga, dan akhirnya membiarkan rumah kecil mereka menjadi tempat orang lain datang meminta tanpa pernah benar-benar hadir saat mereka jatuh.

Riko mengusap hidungnya, lalu tersenyum miring. “Aku cuma bercanda, Kan. Jangan tegang begitu. Lagian, kalau memang ada rezeki lebih, keluarga kan bisa saling bantu.”

Nah.

Akhirnya sampai juga.

Arkan mendengar suara sistem di kepalanya bahkan sebelum Riko menyelesaikan kalimat.

[Permintaan terselubung terdeteksi.]

[Prediksi lanjutan: subjek akan menyebut kebutuhan mendadak, peluang usaha, atau utang sementara.]

[Rekomendasi: tolak sebelum narasi terbentuk.]

Arkan menarik napas pelan.

“Untuk sementara, Arkan belum bisa bantu siapa pun.”

Riko tampak tersinggung. “Aku belum minta.”

“Bagus kalau begitu.”

Naya hampir menunduk untuk menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

Bu Sari memejamkan mata sebentar.

Riko kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Wajahnya perlahan memerah. Ia jelas tidak terbiasa dipotong sebelum sempat menyusun cerita. Biasanya, orang-orang seperti Bu Sari akan mendengarkan sampai akhir. Setelah itu, rasa kasihan akan bekerja. Kalau pun tidak bisa memberi banyak, setidaknya ada sedikit uang keluar.

Tapi Arkan tidak memberi celah.

Tidak hari ini.

Riko tertawa lagi, kali ini lebih kasar. “Baiklah. Aku paham. Sekarang Arkan sudah punya uang, keluarga kecil seperti kami tidak dianggap.”

Arkan menatapnya, lalu menjawab tanpa menaikkan suara.

“Bang Riko masih punya utang ke Ibu.”

Riko membeku.

Bu Sari mengangkat wajah cepat. “Kan…”

Arkan tidak menoleh.

“Jumlahnya tidak besar,” lanjut Arkan, “tapi waktu Ibu menagih pelan-pelan, Bang Riko bilang belum ada. Waktu Ibu sakit, Bang Riko tidak datang. Waktu Naya kesulitan berkas, Bang Riko juga tidak tanya. Jadi jangan bicara seolah keluarga ini baru tidak dianggap hari ini.”

Setiap kata jatuh dengan tenang.

Dan justru karena tenang, kata-kata itu lebih tajam.

Riko membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan pembelaan. Matanya bergerak ke Bu Sari, berharap ada rasa iba yang menyelamatkannya. Namun Bu Sari hanya menunduk lagi, tangannya menggenggam ujung kerudung, wajahnya penuh campuran malu dan lega.

Naya menatap Arkan seperti baru melihat sisi lain abangnya.

Sisi yang selama ini mungkin selalu ada, tetapi terlalu sering ditahan karena keadaan.

Di dalam kepala Arkan, sistem berbicara.

[Respons efektif.]

[Level batas keluarga meningkat.]

[Catatan: Tuan Rumah tidak sepenuhnya lembek.]

[Rekomendasi tambahan: ganti sepatu agar ketegasan terlihat lebih konsisten.]

Arkan nyaris kehilangan napas.

Bahkan di tengah konfrontasi, sistem masih sempat menghina sepatunya.

Riko akhirnya mundur setengah langkah. Senyum di wajahnya hilang, digantikan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat.

“Ya sudah. Kalau begitu aku pulang. Aku cuma niat baik.”

“Terima kasih niat baiknya,” jawab Arkan.

Riko menatapnya tajam. “Hati-hati, Kan. Orang kalau baru naik, biasanya lupa tanah.”

Arkan tidak membalas dengan emosi.

Ia hanya berkata pelan, “Orang yang tidak ikut mengangkat tidak perlu mengingatkan soal tanah.”

Riko benar-benar terdiam.

Beberapa detik kemudian, pria itu berbalik dan keluar dari rumah dengan langkah lebih keras daripada saat datang. Sandalnya menghantam lantai teras, lalu suara langkahnya menjauh ke arah gang. Tidak lama kemudian, terdengar sapaan samar dari luar—mungkin Bu Lilis, mungkin tetangga lain—dan suara Riko yang langsung merendah seperti orang yang baru mendapatkan bahan cerita baru.

Pintu rumah masih terbuka.

Arkan berjalan mendekat dan menutupnya.

Kali ini, ia menguncinya.

Klik kecil dari kunci pintu terdengar sederhana, tetapi bagi Arkan, suara itu terasa seperti garis pertama yang ia tarik antara keluarganya dan dunia luar.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!