NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sobekan Kertas dan Ancaman di Batas Logika

Langkah kaki kelima sahabat itu akhirnya membawa mereka sampai ke area depan pintu gerbang utama kampus. Di bawah naungan pohon peneduh di dekat trotoar jalan raya, mereka memutuskan untuk berpisah menuju kendaraan masing-masing. Hari sudah beranjak semakin sore, dan kepuasan atas hasil ujian yang luar biasa masih menyisakan senyuman di wajah Deandra, Jovanka, Sasti, dan Susan.

"Zen, kita duluan ya. Mobil gua diparkir di blok sebelah," pamit Jovanka seraya melambaikan tangan, diikuti oleh Sasti yang tersenyum ramah.

"Gua dan Susan juga duluan, Zen. Kabari di grup kalau taksi lu sudah jalan," timpal Deandra sebelum melangkah pergi berlawanan arah.

Zenix mengangguk pelan sebagai jawaban. "Ya, hati-hati di jalan."

Kini, Zenix berdiri sendirian di dekat tiang gerbang kampus, menunggu taksi pesanan online nya yang menurut aplikasi masih terjebak macet sekitar dua blok dari posisinya saat ini. Untuk mengusir rasa jenuh sekaligus berniat mengisi kembali energi batinnya yang terkuras setelah ujian, Zenix menurunkan tas ransel hitamnya dari pundak. Ia bermaksud mengambil salah satu surat balasan dari Anisa membaca kembali untaian doa dari gadis suci itu selalu berhasil membuat semangatnya kembali meningkat berlipat ganda.

Namun, saat matanya beralih menatap tas di pangkuannya, degup jantung Zenix mendadak berhenti sejenak. Ia melihat ritsleting bagian samping tasnya dalam keadaan sedikit terbuka.

Firasat buruk langsung menghantam benaknya. Dengan gerakan terburu-buru, tangan kanannya yang mengenakan cincin perak segera merogoh ke dalam kompartemen utama tas. Ia meraba-raba sela-sela buku tebal, mencari-cari keberadaan amplop cokelat kecil yang selalu ia bawa ke mana pun sebagai jimat penyemangatnya.

Nihil. Amplop itu tidak ada di sana.

"Sial, ke mana suratnya?" bisik Zenix dengan nada suara yang mulai panik.

Ia tidak mau menyerah. Zenix segera membuka ritsleting bagian depan tasnya, mengacak-acak tempat penyimpanan pena, kunci, dan dompet. Ia memeriksa setiap sudut sempit di bagian depan, berharap surat itu terselip di sana. Namun hasilnya tetap sama tidak ada tanda-tanda keberadaan kertas bergaris milik Anisa. Seluruh isi tasnya bersih dari surat tersebut.

Zenix berdiri tegak kembali dengan napas yang mulai memburu. Otak logisnya segera berputar cepat, mencoba mengingat kembali rute yang dilaluinya beberapa menit lalu. "Pasti jatuh waktu aku membalikkan badan di lorong kampus tadi," pikir Zenix dalam hati.

Tanpa membuang waktu lagi, Zenix membatalkan niatnya untuk langsung pulang. Ia memutar balik langkah kakinya, berjalan cepat masuk kembali melewati gerbang kampus. Matanya bergerak liar, celingak-celinguk menyisir setiap jengkal lantai paving block halaman depan, lalu beralih menyusuri lantai marmer koridor luar yang mulai sepi dari aktivitas mahasiswa. Zenix berjalan dengan dahi berkerut dalam, memandangi kolong-kolong bangku taman dan sela-sela tanaman hias, mencari di mana kiranya surat berharga itu terjatuh.

"Kamu mencari surat ini?"

Sebuah suara bernada tinggi yang sangat akrab menginterupsi keheningan lorong sunyi di dekat pilar besar gedung administrasi.

Zenix menghentikan langkahnya, langsung menoleh tajam ke arah sumber suara. Di sana, bersandar pada pilar semen yang kokoh, berdiri Jennie dengan gaun merah menyalanya yang mencolok. Di sela jari-jari tangannya yang berkuku panjang penuh cat warna merah muda, Jennie memegang selembar kertas bergaris yang sudah dikeluarkan dari amplop cokelatnya. Wajah gadis pirang itu tidak lagi memancarkan binar manja kini yang tersisa hanyalah tatapan penuh kebencian, kecemburuan yang membakar, dan senyuman sinis yang meremehkan.

Melihat surat berharga milik Anisa berada di tangan orang yang salah, kilat kemarahan langsung menyala di sepasang mata tajam Zenix. Aura dingin Pangeran Es seketika menguar hebat, membekukan atmosfer di lorong tersebut.

"Kembalikan surat itu, Jennie," perintah Zenix dengan suara berat yang sangat rendah, bergetar menahan emosi yang mulai tersulut. Langkah kakinya maju satu langkah, menuntut pengembalian haknya.

Namun, alih-alih takut dengan gertakan Zenix, Jennie justru tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sumbang dan dipenuhi rasa sakit hati yang mendalam. "Kembalikan? Jadi bener ya, Zenix... ini alasan kamu selalu mengabaikan aku selama berbulan-bulan ini? Karena cewek kampung murahan bernama Anisa ini?!" jerit Jennie dengan suara melengking.

SREEEKKK! CRASH!

Tanpa belas kasihan, tepat di depan mata Zenix, kedua tangan Jennie bergerak cepat merobek kertas surat bergaris dari Anisa menjadi dua bagian, lalu merobeknya lagi berkali-kali hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi bisa dibaca. Sialnya, surat penuh doa suci itu kini telah hancur menjadi sampah kertas yang berhamburan di atas lantai marmer.

"Jennie!!!" bentak Zenix dengan suara menggelegar yang mengguncang lorong sepi itu.

Tangan kanannya yang mengenakan cincin perak seketika mengepal sangat erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol putih. Amarah dan emosi yang meledak-ledak membubung tinggi di dalam dada Zenix. Anting hitam di telinga kirinya bergetar seiring dengan rahangnya yang mengatup rapat menahan murka. Selama hidupnya di kota ini, tidak pernah ada seorang pun yang berani mengusik ketenangannya sampai sejauh ini, apalagi menghancurkan sesuatu yang paling ia sakralkan.

Langkah kaki Zenix maju dengan cepat, kilat di matanya seolah siap untuk membalas perbuatan keji tersebut. Namun, tepat satu detik sebelum ia melangkah lebih jauh, sebuah benteng kesadaran mendadak menghantam otaknya.

Zenix teringat akan ajaran moral yang tersirat dalam setiap tutur kata lembut Anisa selama di desa.seorang laki-laki sejati diukur dari bagaimana ia mengendalikan amarahnya. Zenix tersadar sepenuhnya bahwa ia adalah seorang pria, dan tidak peduli seberapa bejatnya perbuatan Jennie, ia tidak boleh dan tidak akan pernah menurunkan harga dirinya dengan cara memukul atau menggunakan kekerasan fisik pada seorang gadis.

Zenix menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk meredam gemuruh di dadanya, lalu membuka kepalan tangannya. Dengan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki, Zenix menatap serpihan kertas di lantai dengan rasa pedih yang tersembunyi, lalu menatap Jennie dengan pandangan yang sangat muak. Ia memilih untuk mengabaikan keberadaan Jennie, berbalik arah, dan mencoba pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bagi Zenix, meladeni kegilaan Jennie hanya akan membuang energinya yang berharga.

Melihat Zenix yang kembali berpaling dan bersiap melangkah pergi, ego Jennie sebagai cewek paling populer di kampus benar-benar hancur berantakan. Ia tidak terima diabaikan setelah melakukan konfrontasi sebesar ini.

"Zenix Dirgantara! Jangan harap kamu bisa lari!" teriak Jennie dengan lantang, suaranya menggema memenuhi langit-langit koridor. "Kamu dengar ini baik-baik! Aku akan mengerahkan semua orang dan uangku untuk mencari tahu di mana keberadaan gadis kampung bernama Anisa itu! Aku akan mendatangi tempatnya, dan aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya sampai sehancur-hancurnya karena sudah berani merebut kamu dari aku!"

Ancaman lantang yang keluar dari mulut Jennie itu seketika membuat langkah kaki Zenix terhenti di tengah lorong. Punggung tegapnya membeku.

Namun, alih-alih berbalik dengan rasa panik atau ketakutan karena keselamatan Anisa terancam, sebuah pemikiran lain mendadak melintas di dalam benak Zenix. Garis rahangnya yang kaku perlahan melonggar, dan sudut bibirnya justru berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat misterius, dingin, dan sarat akan ironi.

Di dalam isi pikiran Zenix, ia justru teringat dengan sangat jelas bagaimana mengerikannya medan pertempuran gaib di Hutan Sangker. Zenix teringat malam di mana mahluk-mahluk hitam bermata merah, roh-roh pendendam yang kelaparan, dan hawa magis yang bisa merusak kewarasan manusia mencoba mendobrak pondok bambu Anisa. Jangankan seorang Jennie yang hanya bermodalkan baju mewah dan uang kota sekelompok bandit bersenjata tajam saja bisa hilang tak berbekas di dalam perut hutan terkutuk itu.

"Menghancurkan Anisa?" ucap Zenix di dalam hatinya dengan nada mencemooh yang sangat dalam. "Silakan saja kalau kamu berani, Jennie. Masuklah ke dalam Hutan Sangker. Begitu kamu menginjakkan kaki di batas gubuk bambu Anisa, kamu tidak akan berhadapan dengan gadis desa yang lemah... kamu akan langsung berhadapan dengan ribuan mahluk gaib penunggu Hutan Sangker yang siap mengoyak kesombongan kotamu menjadi debu."

Zenix tahu betul, Anisa dijaga oleh kesucian imannya sendiri, dan alam di sekeliling Desa Beringin Sakti memiliki hukum mistisnya sendiri untuk mengadili orang-orang kota yang datang dengan niat busuk. Oleh karena itu, Zenix sama sekali tidak merasa perlu khawatir. Ancaman Jennie terdengar seperti lelucon bodoh dari seorang anak manja yang tidak tahu bagaimana rasanya melihat dunia mistis yang sesungguhnya.

Tanpa sudi menoleh ke belakang untuk memedulikan ocehan, jeritan, ataupun ancaman-ancaman kosong yang terus diteriakkan Jennie dari balik pilar, Zenix memilih untuk kembali melangkah maju. Ia berjalan dengan tenang dan acuh tak acuh, meninggalkan serpihan kertas yang hancur dan seorang gadis kota yang sedang dikuasai oleh api kegilaannya sendiri.

Kebetulan sekali, saat Zenix tiba kembali di depan gerbang luar kampus, mobil taksi online berwarna silver yang dipesannya sejak tadi telah sampai dan menepi di pinggir trotoar. Sang sopir taksi menurunkan kaca jendela, memastikan identitas penumpangnya.

Zenix membuka pintu belakang taksi dengan gerakan cepat, menyilangkan tas ranselnya di samping tubuh, lalu segera masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk ber AC.

"Jalan pak, sesuai aplikasi," ucap Zenix singkat dengan suara beratnya yang kembali tenang.

"Baik, Mas," jawab sang sopir, langsung menginjak pedal gas membelah arus lalu lintas sore yang padat, membawa Zenix pergi menjauh dari area kampus.

Di dalam taksi yang melaju membelah kota, Zenix menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berkejaran. Meskipun surat fisik dari Anisa telah hancur dirobek hari ini, Zenix tahu bahwa esensi dari surat itu doa subuh dan janji suci mereka telah tertanam abadi di dalam sanubarinya dan tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun. Pekan depan, ia akan memastikan untuk kembali menemui Kang Maman di pasar grosir, mengirimkan surat baru, dan melanjutkan perjuangannya tanpa ada satu pun rintangan yang bisa menghentikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!