Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Ambang Fajar
Keheningan yang magis menyelimuti ruang tengah pondok bambu setelah kilatan cahaya putih dari roh kakek dan ayah Anisa memudar sepenuhnya. Hawa dingin ekstrem yang sempat mencengkeram ruangan perlahan-lahan surut, berganti dengan kehangatan fajar yang mulai mengintip dari sela-sela dinding anyaman bambu. Bau harum minyak misik dan kemenyan suci masih tertinggal tipis di udara, menjadi bukti bisu bahwa kehadiran para pelindung gaib itu bukanlah sebuah ilusi belaka.
Anisa perlahan menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai gemuruh emosi di dadanya. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia menyeka sisa-sisa air mata yang mengalir membasahi pipinya menggunakan ujung jilbab instan hitamnya. Setelah beberapa saat, tangisnya mereda, menyisakan raut wajah yang jauh lebih tenang, pasrah, sekaligus dipenuhi kedamaian yang aneh.
Ia mendongak, menatap Zenix yang masih berdiri mematung di samping meja pendek. Cowok berambut cokelat keperakan itu tampak dilingkupi rasa bersalah yang amat besar, wajah tampannya yang biasa dingin kini terlihat sangat cemas dan kebingungan.
Anisa bangkit berdiri perlahan, merapikan gamis marun gelapnya yang sedikit kusut karena berlutut tadi. "Mas Zenix... saya mohon maaf," ucap Anisa dengan suara yang masih agak serak namun terdengar sangat lembut. "Maaf karena barusan saya menangis histeris dan membuat Anda salah paham. Saya menangis bukan karena menolak atau merasa tertekan dengan ucapan Anda."
Zenix menatap Anisa lekat-lekat, anting hitam di telinga kirinya berkilau redup seiring dengan kepalanya yang sedikit miring. "Lalu... kenapa kamu menangis seperti itu, Anisa? Kamu seperti melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat."
Anisa mengangguk pelan, sepasang mata bulatnya menatap sudut ruangan dekat rak buku tua yang kini sudah kosong. "Benar, Mas Zenix. Tepat saat Anda mengutarakan perasaan Anda tadi, roh kakek dan ayah saya datang menampakkan wujud mereka di sudut sana. Selama bertahun-tahun hidup sebatang kara di pondok ini, saya tahu mereka selalu menjaga saya dari balik tirai gaib, tapi baru kali ini... baru detik ini mereka benar-benar memperlihatkan wujud fisik mereka yang sangat nyata di depan mata saya. Entah ini karena efek rasa rindu saya yang sudah terlalu menumpuk, atau karena ada alasan lain dari alam... saya benar-benar terkejut dan tidak bisa menahan air mata saya."
Mendengar penjelasan jujur dari Anisa, Zenix tertegun. Rasa sesak di dadanya yang mengira dirinya ditolak langsung menguap seketika. Pemuda kota itu memutar cincin perak di jarinya, mencoba mencerna rentetan kejadian mistis yang baru saja terjadi. Ada rasa takjub sekaligus haru yang merayap di hatinya ia baru saja menyaksikan bagaimana dimensi spiritual dan jalinan kasih sayang keluarga yang telah tiada masih bekerja begitu kuat di pondok ini.
Anisa melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Zenix, menatap lurus ke dalam manik mata tajam cowok tersebut dengan keberanian yang murni.
"Mengenai ucapan Mas Zenix barusan..." Anisa menjeda kata-katanya, rona merah muda yang sangat tipis mendadak muncul di kedua belah pipinya yang bersih tanpa riasan. "Jika memang Mas Zenix sangat menyukai saya... Mas Zenix harus berusaha untuk bersabar."
Dahi Zenix sedikit berkerut, namun ia tetap mendengarkan dengan saksama.
"Hari ini Mas Zenix akan pulang ke kota untuk melanjutkan kehidupan dan kuliah Mas Zenix yang tertunda. Jarak antara kota metropolitan dan desa terpencil ini sangat jauh, belum lagi kendala komunikasi di sini yang sama sekali tidak ada sinyal ponsel," tutur Anisa dengan pemikiran yang sangat dewasa dan matang. "Dan satu hal yang harus Mas Zenix ketahui tentang saya... sebagai seorang gadis desa yang dididik dengan syariat agama oleh kakek saya, saya tidak mau dan tidak mengenal yang namanya hubungan berpacaran."
Zenix terdiam, menunggu kelanjutan kalimat Anisa dengan dada yang kembali berdegup kencang.
"Bagi saya, hubungan antar manusia itu sakral. Jika memang takdir dan perasaan Mas Zenix itu benar-benar tulus dan serius, kalau bisa... setelah urusan kalian selesai, kita langsung menikah saja tanpa ada proses pacaran yang mendekati zina," tegas Anisa, suaranya terdengar sangat berwibawa dan penuh prinsip hidup yang teguh. "Akan tetapi, saya sangat mengerti posisi Mas Zenix saat ini. Mas Zenix masih berstatus sebagai mahasiswa, masih harus fokus pada kuliah, tugas-tugas kampus, dan masa depan yang harus diraih di kota. Saya tidak mau kehadiran saya atau perasaan ini justru menjadi beban pikiran yang mengganggu fokus kuliah Mas Zenix di sana. Oleh karena itu, Mas Zenix harus bersabar menyelesaikan semuanya lebih dulu."
Zenix terpaku, kata-kata Anisa barusan laksana tamparan lembut yang menyadarkan logikanya, sekaligus semakin menambah rasa kagum yang tak terbatas pada gadis tersebut. Di saat gadis-gadis di kotanya selalu menuntut perhatian instan, status pacaran yang pamer di media sosial, dan sering kali menjadi distraksi dalam perkuliahan, Anisa justru memikirkan masa depannya dengan begitu bijaksana.
Melihat Zenix yang hanya terdiam, Anisa menundukkan pandangannya sedikit, jemarinya bertautan di depan gamisnya. "Sebenarnya... ada satu rahasia yang belum saya katakan."
Zenix memajukan tubuhnya sedikit. "Rahasia apa, Nis?"
"sejujurnya... saya juga menyukai Mas Zenix," aku Anisa lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan namun terdengar sangat jelas di telinga Zenix. "Perasaan itu muncul pertama kali saat saya memberikan obat untuk luka mas zenix yang dimana luka mas Zenix yang hanya meninggalkan bekas darah kering di lengan mas zenix pada malam pertama kalian tiba di pondok ini. Saat menatap wajah Mas Zenix dari dekat, ada getaran aneh yang belum pernah saya rasakan seumur hidup saya. Akan tetapi, awalnya saya selalu menyangkal perasaan aneh itu. Saya terus mengira bahwa itu hanyalah rasa iba atau rasa kemanusiaan biasa seorang tabib kepada pasiennya. Saya tidak berani berharap lebih pada seorang pemuda kota yang berpenampilan modern seperti Anda."
Anisa kembali mendongak, senyuman manis dan tulus terukir indah di bibirnya, membuat matanya berbinar jernih. "Namun ternyata... ketetapan hati berkata lain. Pagi ini saya mendapati kenyataan bahwa perasaan aneh yang saya sangkal itu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Perasaan saya dibalas, bukan hanya saya saja yang memiliki perasaan suka, ternyata Mas Zenix juga memiliki perasaan yang sama."
Mendengar pengakuan jujur dari Anisa yang juga menyukainya sejak awal pertemuan, seulas senyuman yang sangat langka akhirnya terbit di wajah tampan Zenix. Sifat dingin dan kaku yang biasanya ia pelihara di kampus mendadak luntur total pagi ini di dalam dapur pondok bambu. Dada Zenix dipenuhi oleh rasa bahagia yang membuncah, sebuah kepuasan batin yang jauh lebih besar daripada saat ia memenangkan taruhan atau kompetisi apa pun di kota.
Zenix memajukan langkahnya, berdiri tepat di depan Anisa dengan jarak yang sopan namun terasa sangat intim oleh ketulusan. "Aku berjanji padamu, Anisa. Aku akan bersabar. Aku akan pulang ke kota hari ini, menyelesaikan kuliahku secepat mungkin dengan fokus penuh, dan aku tidak akan pernah menyentuh atau melirik gadis mana pun di sana. Begitu aku lulus dan memegang gelar sarjanaku, aku bersumpah demi sisa hidupku... aku akan kembali lagi ke Desa Beringin Sakti ini untuk langsung melamarmu dan membawamu ke pelaminan."
Anisa mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan. "Saya akan memegang janji Mas Zenix. Saya akan selalu menunggu Anda di pondok ini, menjaga batas suci tempat ini, dan selalu mendoakan keselamatan serta kelancaran kuliah Mas Zenix di dalam setiap sujud shalat saya."
Tanpa mereka sadari, dari celah jendela dapur yang menghadap ke halaman belakang, sosok roh wanita cantik penunggu pohon jambu air yang tadi siang sempat menggoda Zenix, tampak duduk di atas dahan pohon sambil tersenyum manis menyaksikan ikrar janji suci dua anak manusia yang berbeda dunia tersebut. Restu gaib tampaknya telah dijatuhkan sepenuhnya oleh para penghuni pondok warisan kakek Anisa.
"Oi, Zen! Anisa! Kalian sedang mengemas piring tanah liat atau sedang membuat piringnya dari awal sih? Lama banget di dalam!"
Suara teriakan bernada gurauan dari Jovanka dari arah halaman depan seketika memecah momen syahdu di dalam pondok. Zenix dan Anisa tersentak, lalu saling pandang dan terkekeh pelan bersama sebuah tawa kecil yang mencairkan seluruh sisa kekakuan di antara mereka berdua.
"Iya, sebentar, Jovan! Ini sudah selesai!" balas Zenix berteriak dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih ceria dan bertenaga dari biasanya, membuat Deandra yang berada di luar halaman langsung menoleh ke arah Jovanka dengan senyum penuh arti, tahu bahwa sang ketua geng pasti telah menyelesaikan urusan hatinya di dalam sana.
Anisa dengan cekatan segera mengambil beberapa potongan kayu bakar sisa untuk memastikan tungku dapur sudah benar-benar padam sepenuhnya, sementara Zenix membantu membawa sisa barang bawaan ringan milik mereka. Piring-piring tanah liat yang beralaskan daun pisang telah tersusun rapi di rak dapur, menandakan bahwa tugas mereka di pondok ini telah selesai untuk sementara waktu.
Dengan langkah yang mantap dan dipenuhi oleh harapan baru yang cerah tentang masa depan, Zenix dan Anisa berjalan berdampingan keluar dari pintu depan pondok bambu, melangkah melewati pagar bunga kuning untuk bergabung bersama keempat sahabat lainnya yang sudah tidak sabar menanti kepulangan mereka menuju kota.