Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-9 Bertemu si cantik lagi
Begitu sampai di ruang receptionis, terdengar heboh para karyawati.
“Pagi Pak Vincent! Selamat Pagi!” sapa mereka.
“Pagi Vera, Lia,” jawab Vincent.
“Wah Pak Vincent sangat ganteng hari ini,” kata Vera.
“Kemarin juga ganteng Vera,” jawab Vincent.
“Sekarang lebih ganteng Pak!” seru Lia.
“Jangan merayu Lia, aku sudah punya calon istri!” jawab Vincent.
“Apa pak? Calon istri?” tanya mereka serempak. Begitu juga dengan karyawati yang baru datang mengantri di lift.
“Iya calon istri! Jadi mulai sekarang kalian jangan merayuku lagi!” seru Vincent sambil tersenyum, dia membayangkan si cantik calon istrinya itu.
“Ah Pak, kan baru calon. Sebelum janur kuning melengkung, aku masih punya kesempatan Pak!” seru salah seorang karyawati.
“Tidak mau Nunik, kau sudah punya suami dan anak,” kata Vincent.
“Tidak apa-apa Pak, Nunik tinggalkan suami Nunik demi pak Vincent,” ucap Nunik diikuti tawa yang lain.
“Aku tidak mau anak-anakmu minta jajan padaku,” ucap Vincent, membuat yang lain semakin ramai tertawa, sedangkan Nunik hanya cengesan.
Tiba-tiba mata Vincent terhenti pada sekelompok pria wanita yang berkumpul di kursi tunggu di ruang Loby yang luas itu. Disana ada beberapa set meja kursi untuk menunggu, tentu saja dengan kursi kursi berkulit halus yang empuk.
“Cantik? Si cantik ada disini?”gumamnya.
“Vera, Lia, siapa mereka yang berkumpul itu? Itu tamuku bukan?” tanya Vincent pada receptionis.
“Bukan Pak. Mereka tamu bagian personalia. Mereka anak-anak kuliah yang sedang membuat skripsi Pak, akan magang sekitar 1 minggu,” jawab Vera.
Vincent menoleh lagi kearah mereka yang berkumpul itu.
“Uuh Pak Vincent, lihat yang bening dikit lupa sama Lia,” ucap Lia.
“Kau salah Lia, dia terbening dari sekian wanita bening didunia ini,” jawab Vincent, membuat Lia mencibir sedang Vera hanya tertawa.
Vincent berfikir sejenak. Lalu kakinya melangkah menuju pria wanita yang berkumpul itu.
“Selamat Pagi!” sapanya. Merekapun melihat kearahnya.
“Pagi Pak!” jawab mereka.
Agathapun sama seperti teman-temannya menatap kearah suara, dia langsung kaget saat melihat sosok pria tengil di mall itu. Tapi pria ini terlihat sangat berbeda, dia sangat rapih dan tampan, tidak terlihat seperti si playboy di mall.
“Kalian akan ke personalia?” tanya Vincent.
Salah seorang dari mereka yang duduk, ketua Timnya, berdiri.
“Benar pak, kami sedang menunggu Pak Arnest,” jawab Dion.
Vincent menatap Dion lalu kepada yang lainnya dan matanya terhenti pada Agatha yang membuang muka. Vincent terdiam sesaat, dia tidak menyangka kalau gadis cantik itu calon istrinya, dan dia sangat menarik dimatanya.
“Kalian tunggu saja, sebentar lagi Pak Arnest akan tiba,” jawab Vincent.
“Ya Pak Vincent, terimakasih,” ucap Dion.
“Vin, Vincent?” dalam hati Agatha terkejut. Nama pria itu sama dengan sipenelpon salah sambung yang mengajaknya bertemu di mall itu. Tapi kata Amanda, pria yang bernama Vincent itu berkulit gelap dan giginya ompong. Ah mungkin Vincent yang lain, fikir Agatha.
Vincent mengangguk, matanya melirik sebentar pada Agatha tapi tidak bicara apa-apa, dia meninggalkan mereka. Meskipun kakinya menjauh, tapi hati Vincent terus bicara, dan kepalanya terus berfikir, bagaimana caranya supaya dia bisa melihat sicantik tiap hari di kantor ini.
Agatha dan teman-temannya segera menemui Pak Arnest kepala bagian personalia.
“Kalian bisa kerja mulai hari ini, tapi di subdin yang berbeda ya, nanti ada karyawan saya Aldo
yang membimbing kalian,” kata Pak Arnest. Mereka duduk berkumpul diruangan Personalia.
Telpon mejanya tiba-tiba berbunyi, Pak Artnest menerima telpon itu.
“Iya Pak, tapi mereka semua jurusan bisnis pak, tidak ada yang jurusan sekretaris, itu biasanya Diploma Pak,” kata Pak Arnest.
Kemudian Pak Arnest menoleh pada Agatha dan teman-temannya.
“Ada yang namanya Cantik? Si cantik?” tanya Pak Arnest.
Semua saling pandang dan menggeleng.
“Tidak ada Pak,” jawab Dion mewakili.
Pak Arnest bicara lagi dengan yang ditelpon.
“Tidak ada yang namanya Cantik, Pak,” ucap Pak Arnest, terus menoleh pada semua anak kuliah itu yang tampak bengong tidak mengerti arah pembicaraan Pak Arnest.
“Baik Pak, baik,” jawab Pak Arnest lalu telpon ditutup.
“Mm kau siapa namamu nak?” tanya Pak Arnest pada Agatha.
“Agatha Pak,” jawab Agatha.
“Kau diminta pak Vincent menjadi sekretarisnya,” kata pak Arnest.
“Tapi Pak, saya sedang membuat skripsi bukan sedang melamar pekerjaan,” kata Agatha, tidak mengerti. Rupanya si playboy itu ingin mengerjainya.
“Ya ya aku mengerti, Tapi aku tidak bisa menolak perintahnya. Kau sendiri yang bicara dengan pak Vincent ya. Ada di lantai 12,” kata pak Arnest. Agatha langsung cemberut, malas dia harus bertemu dengan pria itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia ingin skripsinya cepat selesai. Dengan terpaksa dia harus menemui pak Vincent itu.
Saat Agatha berjalan menuju ruangannya Vincent, seorang wanita cantik menghampirinya.
“Kau sudah ditunggu di ruangan pak Vincent,” kata wanita itu. Agatha agak merasa tidak nyaman mendengar nada bicara wanita itu. Tapi dia tidak memperdulikannya, segera menuju ruangan Vincent.
Tok tok tok.
“Masuk!” terdengar suara dari dalam.
Agatha membuka pintu perlahan, dilihatnya pria itu sedang duduk di kursinya terlihat sangat sibuk, padahal Vincent hanya pura-pura sibuk saja, yang ada di benaknya bertemu dengan si cantik Amanda, yaitu Agatha.
“Kalau kau sudah jadi istriku, kau tidak perlu mengetuk pintu lagi jika ingin menemuiku, cantik,” batinnya.
Agatha ragu-ragu untuk masuk.
“Ayo masuklah!” kata Vincent, menatap gadis cantik itu.
“Ayo duduklah Cantik,” kata Vincent.
“Aku bukan cantik, Pak,” kata Agatha agak kesal, pria itu sedari di mall memanggilnya Cantik terus.
“Ya ya duduklah,” ucap Vincent. Karena Agatha masih berdiri saja.
Akhirnya Agatha duduk dengan enggan. Entah mau bicara apa pria tengil itu.
“Apa kau sudah makan?” tanya Vincent.
“Tadi pagi di rumah,” jawab Agatha, dengan malas, kenapa pria ini begitu banyak basa basi.
Vincent menatap Agatha lekat-lekat. Dimatanya gadis itu terlihat sangat cantik dan menarik, dia sangat menyukainya, rasanya pandangannya tidak mau lepas dari menatapnya.
“Aku mau menikah denganmu,” kata Vincent tiba-tiba.
“Apa? Kau bicara apa?” tanya Agatha terkejut, begitu juga dengan Vincent. Dia keceplosan bicara padahal ayahnya sudah mengingatkannya untuk tidak membicarakan perjodohan mereka setelah Amanda selesai kuliahnya. Dia ingin hari ini saja menikah dengan Amanda tidak perlu dilama-lama lagi.
“Kira-kira skripsimu berapa lama lagi?” tanya Vincent.
“Sekitar dua bulan lagi, ini penelitian terakhir,” jawab Agatha.
“Dua bulan,” gumam Vincent. Agatha terdiam.
“Apa kau punya pacar?” tanya Vincent.
“Punya, Pak,” jawab Agatha, sengaja bicara begitu biar Vincent berhenti menggodanya. Mendengar Agatha menjawab begitu, Vincent terkejut.
“Kau punya pacar? Kau harus memutuskan pacarmu itu!” serunya dengan agak keras. DIa tidak terima calon istrinya ternyata punya pacar.
“Kenapa saya harus memutuskannya? Apa urusannya dengan Bapak?” tanya Agatha dengan kesal.
“Pokoknya kau harus putus saja,” jawab Vincent dengan ketus.
“Pak saya kesini bukan untuk membahas pacar saya, kata pak Arnest, Bapak meminta saya jadi sekretaris Bapak, saya tidak bisa, saya sedang penelitian bukan sedang melamar pekerjaan,” kata Agatha dengan kesal. Dia sudah semakin malas bicara dengan Vincent. Yang diajak bicara tampak bingung dan melamun. Gadis ini punya pacar, bagaimana ini? Berarti dia harus memutuskan pacarnya. Bagaimana cara dia memutuskannya supaya tidak pacaran lagi dengan pria itu?
“Pak, bisakan saya kembali ke pekerjaan saya Pak? Saya ditugaskan dibagian perencanan,” kata Agatha.
Vincent menatapnya.
“Bagaimana kalau nanti kita makan siang,” kata Vincent.
“Saya sudah ada janji dengan pacar saya Pak,” jawab Agatha, berbohong.
“Apa? Tidak boleh!” seru Vincent, dia tidak rela calon istrinya makan siang dengan pacarnya.
“Bapak ini aneh. Ya sudah pak, saya akan kembali ke bagian personalia,” ucap Agatha sambil berdiri.
“Kau akan makan siang dimana dengan pacarmu?” tanya Vincent. Agatha mengerutkan keningnya, kenapa pria ini begitu ikut campur dengan urusannya?
“Di rumah makan bebek goreng sambal hijau,” jawab Agatha, asal bicara.
“Kau akan makan disana?” tanya Vincent.
“Iya Pak, permisi pak,” jawab Agatha, buru-buru dia keluar dari ruangan Vincent.
Orang yang aneh fikirnya, sudah jelas pria ini hanya akan menggganggunya saja.
Vincent masih duduk dikursinya. Fikirannya terus pada Amanda yang ternyata calon istrinya itu punya pacar dan mereka akan mkan siang di rumah makan bebek goreng sambal hijau. Dia jadi pernasaran seperti apa pacarnya Amanda. Sepertinya dia harus mengukutinya, dia harus membuat mereka putus.
Seharian ini Vincent benar-benar tidak bisa konsentrasi. Dibiarkannya pekerjaannya menumpuk, fikrannya terus pada calon istrinya yang ternyata sudah punya pacar. Dia calon suaminya saja dilarang untuk membicarakan soal perjodohan mereka, tapi ternyata malah calon istrinya yang punya pacar. Bagaimana ini? Nanti siang dia akan mengikutinya, ingin melihat siapa pacar calon istrinya itu. Dia juga harus bicara dengan ayahnya supaya dia cepat-cepat menikah dengan Amanda atau mereka bertunanagn dulu. Daripada seperti ini ternyata Amanda pacaran dengan orang lain, tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan.
Hingga tiba saatnya makan siang, Vincent langsung keruangan personalia, ke tempat ruangan anak-anak kuliah itu ditepatkan.
“Kalian akan makan siang dimana?” tanya Vincent.
“Kita makan dikantin saja,” jawab Dion.
“Maaf ya teman-teman, aku makan diluar, aku ada janji,” kata Agatha, sengaja bicara begitu biar Vincent yakin kalau dia benar-benar akan makan siang dengan pacarnya.
“Hu kau tidak setia kawan,” kata Tamara.
“Soalnya kau sudah ada janji dengan pacarku,” jawab Agatha. Vincent mendengarnya menjadi terbakar hatinya dan cemburu. Dia benar-benar ingin memukul pacarnya Amanda.
“Aku duluan ya,” kata Agatha, meraih tasnya, menatap pada Vincent.
“Mari Pak,” ucapnya tersenyum ramah, padahal dalam hatinya dia tertawa, melihat wajah Vincent yang masam.
Agatha menjalankan mobilnya dengan pelan. Makan siang sendirian pasti sangat membosankan. Gara-gara pria itu jadi dia harus berbohong. Tiba-tiba saat melihat spion kanannya ada sebuah mobil yang mengikutinya, dan dia ingat mobil itu diparkir khusus dengan tanda diparkiran itu untuk direktur.
Apa Vincent mengikutinya? Pria kepo itu benar-benar keterlaluan, dia mengikutinya! Apa yang harus dilakukannya sekarang? Mobilnya mendekati rumah makan Bebek goreng sambal hijau, tidak ada waktu untuk bersandiwara mencari pacarnya lagi.
*****************
Jangan lupa like vote dan komen
Penasaran kan nantinya mereka menikah siapa dengan siapa? Ikutin terus yuk.
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤