Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Membangkitkan Kenangan Menyakitkan.
Di keheningan malam yang perlahan mulai pergi menyambut terbitnya surya, Raja Nexalion Ars bersama jajaran prajurit pilihannya akhirnya tiba di wilayah utara Nova. Mereka kini berdiri tepat di depan sebuah titik kosong yang sunyi, sebuah gerbang tak kasat mata yang menyembunyikan kesucian kuil kuno.
Raja Nexalion maju perlahan lahan sambil menundukkan kepalanya sedikit, mempersembahkan suara penuh wibawa dan rasa hormat yang mendalam, membuktikan bahwa dirinya adalah sang pemimpin sah yang datang memenuhi panggilan spiritual.
"Hormatku kepada sang penjaga. Aku telah menerima pesanmu dan segera bergegas kemari dikarenakan himbauan mendesakmu.
Maka dari itu, kumohon perlihatkan gerbang itu, sang Orbiter Ars," ucap Raja Nexalion, suaranya menggema memecah kesunyian malam.
Tak lama setelah kalimat itu terucap, udara di depan mereka mendadak berderu hebat. Butiran cahaya keemasan berkumpul dan memadat, membentuk sesosok bermanifestasi manusia tua berwajah bijaksana. Ia adalah Tetua Guardian Nova yang sebenarnya merupakan Avatar langsung dari cahaya kesadaran Orbiter Ars itu sendiri.
"Aku adalah Avatar Orbiter Ars, bentuk manusia yang kubuat sebagai tetua di kuil ini," sambut sang Avatar dengan nada suara yang mengalun tenang namun berwibawa. "Benar adanya, aku mengundangmu kemari karena ingin membicarakan hal yang sangat serius. Namun kumohon, hanya Sang Raja saja yang diperkenankan untuk melangkah masuk ke dalam."
Raja Nexalion mengangguk paham. Ia berbalik dan menatap panglima setianya, Jenderal Grisha Lyin ayah dari Kenan Lyin, teman sekolah Kinanti.
"Baik, sang penjaga," sahut Raja, lalu menoleh ke arah Grisha. "Grisha, tolong perintahkan seluruh prajurit untuk membuat camp di sekitar sini sambil tetap berjaga dengan waspada. Aku mungkin akan membutuhkan waktu seharian penuh untuk berdiskusi dengan sang Orbiter Ars. Yah, lagipula ini bukan kali pertamanya kau mengantarku kesini, bukan?"
Jenderal Grisha segera menegakkan tubuhnya dan memberi hormat dengan tegas.
"Siap Raja, saya laksanakan!"
Sang jenderal pun berbalik dan mulai memberikan arahan kepada pasukannya untuk mendirikan tenda dan memperketat barisan pertahanan di sekitar reruntuhan.
Sementara itu, Raja Nexalion dibimbing oleh sang Avatar melangkah masuk menembus tabir tak kasat mata di bawah reruntuhan aliran sungai yang deras. Seketika, pintu gerbang batu kuil yang megah itu terbuka perlahan, menyembunyikan dunia luar. Raja melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang persis seperti yang tertulis dalam dongeng kuno. Di tengah altar utama, sebuah bola cahaya terang dengan indahnya. Raja Nexalion mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam bola cahaya tersebut. Detik itu juga, kesadaran fisik sang raja tersentak. Jiwanya melesat masuk ke dalam dimensi pertemuan spiritual yang dipenuhi cahaya nan suci, di mana entitas agung Orbiter Ars telah berdiri menantinya.
"Hormat saya, sang Orbiter Ars, penjaga utama Planet Nova," sapa Raja Nexalion dengan raut wajah yang mendadak berubah sendu. "Ada apa gerangan kau memanggilku secara mendadak seperti ini? Ketika terakhir kali kita bertemu di dimensi ini... kau memperlihatkan penglihatan masa depan tentang istriku yang akan meninggal seusai melahirkan anak keduaku. Di saat itu pula, kau bilang kepadaku bahwa anak keduaku akan menjadi benang merah takdir yang menentukan masa depan planet ini..." Raja menjeda kalimatnya, dadanya terasa sesak saat ingatan pahit belasan tahun lalu kembali berputar di kepalanya.
*Kilas Balik: 17 Tahun yang Lalu*
Di dalam dimensi cahaya yang sama, Raja Nexalion muda dan Ratu Kavella yang tengah hamil muda berdiri berdampingan memenuhi panggilan perdana dari sang entitas pelindung planet.
"Hormatku, sang penjaga Nova. Saya sudah hadir di sini memenuhi panggilanmu," ucap Nexalion muda dengan senyuman bahagia yang merekah. "Sebenarnya, ada kabar baik yang ingin kusampaikan kepadamu. Istriku tercinta saat ini sedang mengandung anak kedua kami. Sebelumnya aku sangat ingin mengenalkan anak pertama kami, Kirana, kepadamu, tetapi kami tahu aturan bahwa kami hanya diperbolehkan menginjakkan kaki di sini jika kau yang memanggil."
Ratu Kavella ikut membungkuk anggun sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Hormatku, sang Orbiter Ars."
Mata cahaya milik Orbiter Ars menatap ke arah sang Ratu dengan pancaran kehangatan yang bercampur dengan rasa cemas. "Aku turut mengucapkan selamat atas kehadiran calon anak keduamu, Nexalion... Namun, justru hal itulah yang ingin kusampaikan kepadamu hari ini. Anak yang berada di dalam kandungan Ratu akan menjadi penentu takdir di masa depan Planet Nova. Dia akan menjadi penyambung kehidupan bagi seluruh kekuatan planet ini, sekaligus membawanya ke panggung semesta yang jauh lebih luas.
Tetapi... ada konsekuensi menyakitkan yang harus dibayar."
Dahi Nexalion berkerut, perasaannya mendadak tidak enak. "Ada apa, sang Orbiter Ars?"
"Sang Ratu... tidak akan selamat setelah melahirkan anak keduanya. Maafkan aku," ucap Orbiter Ars.
Raja dan Ratu seketika membeku. Seluruh kebahagiaan yang baru saja disampaikan langsung runtuh dalam sekejap.
"Tunggu! Kenapa hal itu bisa terjadi kepada istriku?!" seru Nexalion dengan nada suara yang mulai meninggi. "Kau hanya bercanda, bukan?! Pasti... pasti ada cara untuk merubah takdir buruk itu, kan?!"
Orbiter Ars menggeleng pelan dalam pendaran cahayanya. "Maafkan aku, Nexalion. Semua penglihatan masa depan ini pasti akan terjadi. Aku hanyalah entitas yang bisa melihat jalinan waktu, namun tidak memiliki kuasa untuk merubahnya."
"Tidak mungkin! Jika kau memang bisa melihat masa depan, coba kau cari tahu apa penyebab yang membuat istriku meninggal! Biar aku bisa mencegahnya!" tuntut Nexalion frustrasi.
"Aku hanya melihat kilasan akhir dari garis kematiannya, tanpa tahu rantai penyebab pastinya. Aku tahu kau sangat marah kepadaku, tetapi aku hanya bisa menyampaikan apa yang diperlihatkan takdir," balas Orbiter Ars penuh rasa sesal.
Nexalion berpaling, menatap wajah istrinya yang tampak memucat. "Tidak... ini tidak mungkin, Sayang. Ayo kita kembali ke istana! Aku tidak butuh anak keduaku menjadi penghubung benang merah atau apa pun itu yang kau katakan! Anak keduaku cukup menjadi putri biasa di Kerajaan Central! Ayo kita pergi, Kavella! Cepat keluarkan kami dari ruangan ini, sang Orbiter Ars!" bentak Raja dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Nexalion menarik kasar tangan istrinya untuk berbalik. Namun, Ratu Kavella justru menahan langkahnya. Dengan keteguhan hati seorang ibu dan seorang ratu, ia menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta dan kepasrahan.
"Maafkan aku, sang Nexalion... Aku sangat mencintaimu," bisik Kavella lembut, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tetapi jika ini memang sudah menjadi takdir yang harus terjadi demi masa depan planet dan anak kita, aku siap menerimanya dengan lapang dada."
"Tidak! Tidak! Ini pasti bisa dirubah, aku yakin pasti ada celahnya!" bantah Nexalion keras. Ia menoleh tajam ke arah sang pelindung.
"Cepat keluarkan kami dari sini!"
Melihat tatapan penuh luka, amarah, dan kekecewaan yang begitu besar dari Nexalion, Orbiter Ars akhirnya mengembuskan pendaran cahaya redup, mengembalikan kesadaran fisik mereka berdua ke dunia nyata di dalam kuil.
Dengan diselimuti badai emosi, Sang Raja menarik lengan Ratu keluar dari dalam kuil. Ia langsung memerintahkan seluruh pasukan pengawalnya untuk segera balik ke istana. Di sepanjang perjalanan pulang, atmosfer rombongan terasa begitu mencekam. Jenderal Grisha yang menyadari gelagat aneh rajanya akhirnya memberanikan diri untuk mendekat.
"Maafkan kelancanganku, Raja. Tetapi kenapa wajahmu terlihat begitu gelisah? Apakah ada bencana besar yang akan menimpa kita, atau ada situasi kacau yang akan terjadi di masa depan nanti?" tanya Grisha cemas.
Namun, Raja Nexalion sama sekali tidak mengacuhkan pertanyaan panglimanya. Pikirannya buntu, terus berputar mencari segala cara yang masuk akal demi menyelamatkan nyawa istri tercintanya.
Setibanya di istana, Raja Nexalion langsung menerapkan aturan ketat. Ia memerintahkan pasukan pengawal pribadi untuk menjaga kamar Ratu selama 24 jam penuh tanpa lengah. Para pelayan istana juga diperintahkan untuk menyajikan makanan dengan kandungan nutrisi terbaik. Ratu Kavella benar-benar dilarang untuk melangkah keluar dari kamarnya sampai hari persalinan tiba.
Hari demi hari berlalu, Sang Raja menjelma menjadi sosok yang teramat protektif. Akibat fokusnya yang seratus persen tercurah pada keselamatan sang istri dan bayi di dalam kandungan, anak pertama mereka, Kirana yang saat itu masih kecil, mulai merasa terabaikan. Ia sering berdiri di balik pintu kamar, menatap sedih ke arah ayahnya yang tidak lagi memiliki waktu untuk mengajaknya bermain.
Ratu Kavella yang menyadari hal tersebut tidak tinggal diam. Di sela-sela waktu istirahatnya, ia selalu memanggil putri sulungnya itu untuk masuk dan mengajaknya bermain di atas tempat tidur, mencoba memberikan limpahan kasih sayang yang mulai hilang.
"Kirana, ayo sini sayang, mendekat ke Mama," panggil Kavella dengan senyum hangat.
Kirana kecil berlari kecil dan naik ke atas ranjang. "Ya, Mama?"
"Maafkan Ayahmu yang belakangan ini terlalu fokus kepada Mama, ya? Ayahmu itu hanya tidak ingin Mama kenapa-napa, makanya karena itu Ayah sangat fokus menjaga adikmu yang ada di dalam sini," ucap Kavella lembut, menuntun tangan mungil Kirana untuk menyentuh perutnya yang kian membesar.
Kirana mengangguk polos, meski matanya menyiratkan kesedihan. "Tidak apa-apa kok, Mah. Kirana paham."
Kavella membelai rambut putri sulungnya dengan sayang, lalu memeluknya dengan teramat erat. Tanpa bisa dibendung, air mata sang ratu jatuh membasahi pundak Kirana.
"Kamu kalau sudah besar nanti... tolong jaga Kinanti dengan baik ya, Sayang. Mama ingin kamu hidup dan tumbuh besar bersama adikmu, saling menyayangi, dan menjaga Ayahmu..."
Kirana kecil tersentak di dalam pelukan ibunya. "Mama... kenapa Mama menangis? Aku juga jadi ikut sedih..."
Kavella buru-buru melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dengan cepat, mencoba tertawa kecil. "Enggak... enggak kok, Sayang. Ini Mama kayaknya cuma lagi pilek saja, hehe."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka menampakkan sosok Raja Nexalion. Melihat Kirana ada di sana, ia langsung berucap dengan nada tegas namun tenang, "Kirana, kamu bermain di luar dulu ya bersama Bibi pelayan. Mama harus istirahat penuh sekarang, oke?"
Kirana mengangguk patuh lalu turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Sepeninggalan Kirana, Ratu Kavella menatap suaminya dengan pandangan mengingatkan.
"Sayang, tampaknya kau harus mulai memperhatikan Kirana juga. Aku perhatikan akhir-akhir ini kau jarang sekali mengajaknya bermain atau sekadar mengobrol," tegur Kavella lembut.
Nexalion menghela napas, duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan istrinya. "Sebelum kau hamil, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya. Jadi, dia pasti bisa mengerti untuk memberikan ruang kepadaku agar bisa fokus memperhatikan kesehatanmu dulu, Kavella."
Kavella hanya bisa membatin dengan pilu, (Aku akan terus memberikan seluruh sisa perhatian dan kasih sayangku kepada Kirana. Sebelum waktuku di dunia ini habis, aku tidak ingin dia tumbuh dengan rasa kecewa terhadap ayahnya sendiri.)
Bulan demi bulan terus berganti, hingga tibalah malam sebelum persalinan sang Ratu. Di malam yang sunyi itu, Raja Nexalion mendadak mendapatkan mimpi buruk yang dikirimkan oleh kesadaran Orbiter Ars. Di dalam mimpi itu, diperlihatkan bahwa rahim Ratu Kavella mengalami kerusakan jalinan otot yang parah secara alami, sehingga jika dipaksakan untuk melahirkan, pendarahan hebat yang tak terbendung akan merenggut nyawanya.
“Akhhh! Sayanggg! Kayaknya aku mau melahirkan!”
Raja Nexalion langsung terbangun dari tidurnya akibat suara teriakan histeris dari sang istri yang mengerang kesakitan di sampingnya.
"Tunggu, Sayang! Tahan sebentar, aku akan segera memanggilkan tabib istana!" panik Nexalion.
Raja berlari ke pintu, berteriak memerintahkan prajurit untuk membawa tabib terbaik malam itu juga. Tak lama, tabib istana datang dengan tergesa-gesa dan langsung menyiapkan peralatan persalinan darurat di dalam kamar.
"Ayo, Tabib! Kumohon dengan sangat, selamatkan anakku dan istriku!" seru Raja Nexalion, menggenggam erat tangan istrinya yang bersimbah keringat.
"Ayo, Ratu... Tarik napas yang kuat lalu dorong!" instruksi sang tabib tegang.
"Ahhhh! Haaaarrhhh... Sakiiiiiitttt!" jerit Ratu Kavella, mencengkeram sprei kasur dengan kencang.
"Kepala bayinya sudah mulai keluar! Ayo sedikit lagi, Ratu!"
Namun, tepat setelah tubuh bayi perempuan itu berhasil keluar sepenuhnya, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Darah segar mengalir deras tanpa bisa dihentikan dari rahim sang Ratu. Pendarahan hebat terjadi. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi kepanikan yang mencekam.
"Tabib! Apa yang terjadi?! Kenapa darahnya banyak sekali?! Lakukan sesuatu!" teriak Raja Nexalion panik setengah mati melihat wajah istrinya yang kian memucat drastis.
Tabib istana dengan tangan gemetar segera mengambil bayi yang menangis kencang itu, menyerahkannya kepada asisten pelayan, lalu dengan cepat mencoba melakukan pertolongan medis untuk menyumbat pendarahan tersebut, namun usahanya sia-sia.
Di tengah kesadarannya yang kian menipis dan pandangan mata yang mulai mengabur, Ratu Kavella mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Ia menatap wajah suaminya, mengulas sebuah senyuman paling tulus yang pernah ada.
"Sayang... Maafkan aku karena tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu sampai akhir," bisik Kavella dengan suara yang teramat lirih. "Aku yakin... anak kita ini akan menjadi pemimpin yang baik untuk seluruh makhluk di Planet Nova. Kumohon... bimbinglah mereka berdua, dan jaga mereka untukku... Dan kumohon, jangan pernah menaruh rasa benci kepada Orbiter Ars. Aku... aku menerima semua takdir ini dengan ikhlas... Sampai jumpa kembali, Nexalion..."
Perlahan, kelopak mata Ratu Kavella tertutup rapat. Genggaman tangannya di jemari sang raja terkulai lemas. Sang Ratu telah mengembuskan napas terakhirnya.
“Tidak... TIDAKKKKKK! Ini tidak mungkin!”
Raung Raja Nexalion pecah seketika. Ia memeluk tubuh kaku istrinya, air matanya tumpah tak terbendung. “Kau harus tetap hidup demi anak-anak kita!!! Kumohon jangan tinggalkan aku, Kavella!!! BANGUN!!!”
Seluruh orang di dalam kamar tersebut hanya bisa tertunduk diam, larut dalam kedukaan yang mendalam atas kepergian sang Ratu. Di tengah suasana pilu itu, pintu kamar yang sedikit terbuka digeser oleh tangan kecil. Kirana berdiri di sana dengan mata membelalak, menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
Kirana kecil melangkah gemetar mendekati ranjang, mencoba menggoyang-goyang lengan ibunya. "Mama... Mama, ayo bangun. Kita main lagi, Mama... Ayah, kenapa Mama tidak mau bangun? Tidurnya lelap banget..."
Nexalion yang hancur langsung menarik Kirana ke dalam dekapannya, menangis bersama di dada putri sulungnya. "Mama... Mama sudah tidur untuk selamanya, Nak. Dia tidak akan bisa bermain dengan kita lagi di dunia ini... Tapi Ayah mohon, kamu harus tetap tegar ya? Jangan pernah berhenti untuk mendoakan Mama..."
Kirana kecil terisak di dalam pelukan ayahnya. Namun, tatapan matanya mendadak beralih menatap ke arah bayi merah yang sedang menangis di gendongan bibi pelayan di sudut kamar. Rasa sedih di hatinya seketika menumpuk menjadi kemarahan yang besar.
"Tapi kenapa?! Kenapa Mama harus pergi?!" pekik Kirana kecil dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam ke arah bayi itu.
"Jangan-jangan... karena dia, kan?! Dia penyebab Mama meninggal dan meninggalkan kita!!! Aku tidak akan pernah memaafkannya!!! AKU MEMBENCINYA!!!"
Kirana melepaskan pelukan ayahnya lalu berlari kencang keluar dari istana sambil menangis histeris. Raja Nexalion berniat mengejarnya, namun Bi Eni dengan sigap menahan lengan sang raja. "Biar saya saja yang mengejar dan menenangkan Tuan Putri Kirana, Raja. Anda harus tetap di sini."
Keesokan harinya, upacara pemakaman akbar dilangsungkan. Jenazah Ratu Kavella dikebumikan di area pemakaman suci kerajaan dengan penghormatan tertinggi. Pengumuman duka digaungkan ke seluruh pelosok negeri, menetapkan hari itu sebagai hari berkabung nasional bagi Kerajaan Central.
Seusai prosesi pemakaman yang menguras emosi, Raja Nexalion berdiri seorang diri di aula istana, menatap lukisan wajah mendiang istrinya. Ia menghapus sisa air matanya, memperteguh keyakinan di dalam hati untuk terus menghidupkan pesan terakhir Ratu Kavella: menjaga dan membimbing kedua putri mereka, serta menerima suratan takdir yang ada.
*Kembali ke Masa Sekarang*
Gumpalan cahaya kosmic di depan Raja Nexalion berdenyut pelan, membuyarkan seluruh ingatan masa lalu yang begitu menyakitkan itu. Suara agung dari kesadaran spiritual Orbiter Ars kembali terdengar di dalam dimensi pertemuan.
"Maafkan aku, Nexalion Ars... Aku baru bisa mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya secara langsung di hadapanmu saat ini," ucap Orbiter Ars penuh rasa sesal. "Awalnya, aku menyangka kau tidak akan pernah sudi lagi datang memenuhi panggilanku karena rasa kekecewaan dan amarahmu yang begitu besar kepadaku di masa lalu. Aku sangat bersyukur... kau ternyata tetap memilih untuk datang kemari."
Raja Nexalion menghela napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat terkuras oleh kilas balik tadi. Ia menatap lurus ke arah sang entitas pelindung planet.
"Aku sudah lama membaca dan menerima pesan belasungkawamu lewat surat yang kau kirim, Orbiter Ars," jawab Raja Nexalion dengan nada suara yang kembali tegas dan berwibawa. "Jadi... katakan kepadaku sekarang, ada urusan besar apa lagi yang membuatmu memanggilku kembali ke kuil suci ini?"
Pendaran cahaya Orbiter Ars mendadak bergejolak hebat, warnanya berubah sedikit meredup dan memancarkan aura ketegangan yang pekat.
"Aku memanggilmu karena aku baru saja mendapatkan sebuah penglihatan masa depan yang paling kelam... dan ini benar-benar ancaman bahaya yang nyata bagi kelangsungan hidup kita," jawab Orbiter Ars dengan nada yang sangat serius.
"Sesuatu yang asing... sebuah entitas yang sangat berbahaya yang tidak seharusnya berada di planet ini, ternyata diam-diam telah hadir dan menyusup di dalam Planet Nova ini, Nexalion..."