NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian Yang Dilakukan Dinda

Langkah kaki Adrian terasa begitu berat saat menapakkan kaki di teras rumah tua berarsitektur kolonial Belanda yang mereka tempati selama masa kuliah kerja nyata (KKN) ini. Rumah besar dengan pilar-pilar putih yang tinggi, jendela kayu yang besar, dan langit-langit tinggi itu kini terasa begitu sepi, dingin, dan asing. Tidak ada lagi kehangatan yang biasanya menyambutnya.

Saat pintu kayu jati yang tebal itu berdecit terbuka, kegelapan dan keheningan langsung menyergap Adrian. Tubuhnya yang memar dan dadanya yang sesak dipaksakannya untuk berjalan menuju ruang tengah. Dia mengempaskan tubuhnya yang lemas ke atas sofa tua berbahan beludru yang berdebu.

Adrian menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan yang remang-remang. Di sinilah, di dalam rumah kolonial ini, kenangan tentang kebersamaan mereka bertiga mendadak berputar kembali seperti rol film tua di kepalanya. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan.

Baru beberapa hari yang lalu, rumah ini dipenuhi oleh tawa dan keluhan mereka. Adrian teringat hari pertama mereka tiba. Rumah ini awalnya sangat kotor, dipenuhi jaring laba-laba dan debu tebal setebal beberapa sentimeter.

"Yan! Kamu bagian yang tinggi-tinggi ya, pakai kemoceng! Aku gak nyampe!" teriakan Dinda waktu itu terngiang jelas di telinga Adrian. Saat itu, Dinda sedang memakai celana jins yang digulung, dengan sapu di tangan dan coretan debu hitam di pipinya yang justru membuatnya terlihat menggemaskan.

"Tenang, Din! Biar Bagas yang angkat-angkat lemari berat ini. Ototnya kan gede kayak kuli!". Sahut Adrian waktu itu, yang langsung disambut lemparan kain lap basah oleh Bagas tepat ke wajahnya.

"Sialan kamu, Yan! Mentang-mentang aku kuat, semuanya diserahkan ke aku!. Gerutu Bagas sambil tertawa, lalu dengan sukarela menggeser meja kayu jati yang super berat itu.

Mereka bertiga bekerja keras sampai kaus mereka basah oleh keringat, saling melemparkan lelucon konyol untuk mengusir rasa lelah dan hawa mistis rumah tua tersebut.

Kenangan itu bergeser ke sudut ruang makan, ke sebuah meja bundar besar di dekat jendela yang menghadap ke halaman samping. Adrian memandangi kursi-kursi kosong di sana.

Di meja itulah mereka selalu makan bersama. Karena keterbatasan fasilitas, mereka sering memasak dengan bahan seadanya mi instan yang dicampur telur dan sayur sawi, atau nasi goreng buatan Dinda yang kadang terlalu asin karena dia sibuk mengutak-atik kameranya sambil memasak.

"Aduh, Din. Ini garamnya tumpah ya? Asin banget kayak air laut!". Protes Bagas sambil menjulurkan lidahnya setelah suapan pertama.

"Eh, bersyukur ya! Kalau gak mau, sini buat Adrian aja! Adrian aja gak protes kok!". Balas Dinda sambil mengerucutkan bibirnya, lalu merebut piring Bagas.

"Jangan dong, Din! Biar asin, kalau kamu yang masak tetap nomor satu!". Rayu Bagas lagi sambil menyengir, merebut kembali piringnya, sementara Adrian hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Saat itu, mereka begitu bahagia. Mereka adalah tim yang solid, tiga sahabat yang berjanji akan menyelesaikan tugas KKN ini bersama-sama dan lulus kuliah di tahun yang sama. Tidak pernah sedetik pun terlintas di benak Adrian bahwa rumah kolonial ini akan menjadi saksi bisu hilangnya kedua sahabat terbaiknya.

Adrian memeluk lututnya di atas sofa, menangis dalam diam yang begitu menyiksa. Bau ruangan ini masih menyisakan aroma parfum Dinda yang samar dan bau minyak rambut Bagas.

"Maaf. maafin aku. Aku yang egois, aku yang ceroboh,". Bisik Adrian lirih ke dalam kegelapan rumah.

Rasa penyesalan itu membakar dadanya lebih menyakitkan daripada luka fisik akibat hantaman makhluk penunggu Jarian. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam itu, kenangan-kenangan manis di rumah ini perlahan berubah menjadi sebuah jangkar tekad yang kuat.

Adrian menyeka air matanya. Dia memandangi sekeliling rumah tua itu sekali lagi dengan tatapan yang kini dipenuhi keberanian. Rumah ini harus kembali ramai. Kursi-kursi makan itu harus kembali terisi. Besok malam, dimana pun Dinda dan Bagas disembunyikan, Adrian bersumpah akan membawa mereka pulang.

Langkah kaki Adrian bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar tidur yang beberapa hari lalu masih ditempati oleh Dinda. Kamar itu terasa sunyi. Di sudut ruangan, sebuah meja rias kayu jati bergaya kolonial berdiri dengan cermin besarnya yang buram berselimut debu.

Di atas meja rias itu, terletak sebuah buku catatan bersampul kain flanel cokelat. Itu buku harian Dinda.

Adrian mendekat, menyentuh permukaannya yang halus dengan jemari yang gemetaran. Dengan menyalakan lampu meja yang temaram, dia membuka halaman demi halaman. Lembar-lembar awal dipenuhi oleh sketsa, jadwal kuliah, dan keluh kesah khas mahasiswa. Namun, semakin lembarannya dibuka, namanya semakin sering muncul di sana.

Adrian mulai membaca kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan Dinda yang rapi.

“Hari ini Adrian bantuin aku lagi benerin lensa kamera yang macet. Cara dia fokus, cara dia senyum pas kameranya berhasil buat jantungku berdebar gak karuan. Aku kagum banget sama dia. Dia selalu ada, selalu bisa diandalkan.”

Adrian tertegun. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat. Dia membalik halaman berikutnya.

“Rasa kagum ini semakin lama semakin salah. Aku menyukai Adrian. Tapi aku takut kalau harus jujur, semuanya akan hancur. Persahabatan kita bertiga. Aku, Adrian, dan Bagas bisa rusak karena perasaanku ini. Lebih baik aku simpan sendiri, meskipun dada rasanya sesak tiap kali dekat dia.”

Air mata Adrian kembali menetes, membasahi permukaan kertas. Dia tidak pernah menyangka bahwa di balik tawa ceria Dinda selama ini, ada perasaan mendalam yang dipendamnya rapat-rapat.

Namun, saat Adrian membalik halaman-halaman menjelang keberangkatan mereka ke desa ini, guratan pena Dinda berubah menjadi tidak beraturan, tampak ditekan dengan penuh amarah dan rasa sakit.

“Aku gak bisa bohong lagi. Aku benci melihat perempuan itu. Perempuan di kampus yang akhir-akhir ini terus-terusan nyari alasan buat dekat dengan Adrian. Dan yang paling buat aku sakit, Adrian meresponsnya dengan senyuman yang sama, senyuman yang kupikir cuma milikku.”

“Aku gelap mata. Rasa cemburu ini membakar otakku sampai rasanya mau gila. Aku gak mau kehilangan Adrian. Gak akan pernah.”

Di lembar paling akhir, tulisan Dinda berubah drastis menjadi sangat kacau, coretannya tebal dan bergetar, ditulis tepat pada malam sebelum Dinda dinyatakan hilang di hutan larangan.

“Hutan ini. Jarian ini punya jawaban. Aku mendengar bisikan itu di kepalaku sejak kita sampai di desa ini. Sang Penunggu Jarian menawarkan kesepakatan. Sebuah perjanjian. Dia berjanji akan mengikat hati Adrian untukku selamanya, membuat Adrian tidak akan pernah menatap perempuan lain lagi, asal aku memberikan apa yang dia minta sebagai gantinya. Aku tahu ini salah, aku tahu ini iblis. Tapi aku tidak peduli lagi. Asalkan Adrian jadi milikku, aku rela menyerahkan diriku ke dalam Jarian.”

Buku itu terjatuh dari genggaman Adrian. Tubuhnya lemas, merosot ke lantai di samping meja rias.

Kebenaran yang baru saja terungkap menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik makhluk berbulu hitam itu. Ternyata, hilangnya Dinda bukan sekadar kecelakaan atau kelalaian biasa. Dinda menyerahkan dirinya secara sukarela kepada iblis penunggu Jarian demi sebuah rasa cinta yang berlebihan dan cemburu yang membutakan mata.

"Dinda, kenapa kamu melakukan ini?". Bisik Adrian memeluk kepalanya, menangis histeris di dalam kamar yang sunyi.

Kini, benang merah misteri itu menjadi jelas. Alasan mengapa kamera Dinda menjadi kunci, dan alasan mengapa sang penunggu Jarian begitu murka malam ini hingga membawa Bagas sebagai gantinya. Iblis itu merasa Adrian telah melanggar wilayah kekuasaannya dan mencoba merebut kembali apa yang menjadi hak milik Jarian lewat perjanjian gaib.

Adrian menatap tajam ke arah jendela yang menghadap ke hutan larangan. Rasa takutnya kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh gelombang tekad yang menyala-nyala.

"Kamu sudah salah melangkah, Din. Tapi aku gak akan membiarkan iblis itu memilikimu ataupun Bagas,". Geram Adrian, mengepalkan tinjunya erat-erat.

Ritual penyeberangan dimensi bukan lagi sekadar misi penyelamatan baginya. Ini adalah perang untuk merebut kembali jiwa dua sahabatnya dari cengkeraman perjanjian terkutuk sang penunggu Jarian.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!