Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bikin repot ya ?
Kay sedang membantu Sheeva makan saat Nindy, Yongki dan anak-anak The King datang mengunjungi Sheeva. Baru saja masuk Nindy sudah tidak bisa menahan keharuannya. Dua minggu dia hanya melihat Sheeva yang terus tidur, kini dia bisa melihat sahabatnya membuka mata. Andai tak di tahan Yongki mungkin Sudah habis tubuh Sheeva karena dipeluk Nindy
" Aku lega Sheev kamu sudah bangun " Sheeva hanya tersenyum. Jujur kepalanya masih sedikit nyut-nyutan.
" Dua minggu nggak ada kamu di sekolah itu aneh Sheev. Aku nggak ada temannya " Nindy mengusap air matanya.
" Maaf ya aku sudah membuat kamu dan yang lain khawatir "
" Jangan gitu lagi ya " Sheeva menganguk pelan dan itu sukses membuat kepalanya kembali berputar rasanya. Reflek dia memejamkan matanya. Kay lalu mendekat.
" Sakit lagi kepalanya ?" Dengan lembut kay memijit kepala Sheeva. Ada rasa nyaman kala tangan besar Kay mengusap lembut kepalanya.
" Iya kak, rasanya muter kalau aku buka mata " Sheeva bahkan terlihat sampai meringis menahan sakit di kepalanya.
" Buat merem saja dulu Sheev." Nindy ikut khawatir di buatnya.
" Minum teh hangatnya dulu ya " Sheeva membuka matanya sebentar. Kay dengan telaten membantu Sheeva minum.
" Istirahat saja Sheev " Ucap Nindy.
" Maaf ya Nin "
" Is okay sheev "
Nindy beralih duduk di sofa yang biasa di pakai Kay untuk tidur saat menjaga Sheeva. Dia menatap sendu kearah sahabatnya.
" Jadi kasihan sama Nindy, biasa lihat dia ceria dan paling ramai. Sekarang lesu karena sahabat baiknya sedang sakit " Celetuk Rama tiba-tiba.
" Besok kalau Sheeva sudah sehat juga balik ke setelan pabrik itu saudari kembar kamu " Balas Yuda.
" Maaf Sheev kita baru datang buat jenguk kamu. Kegiatan sekolah lagi padet banget " Ucap Faris yang mendekat ke arah Sheeva.
" Tidak apa-apa kak Faris. Terima kasih sudah menyempatkan menjengukku"
" Sheev maaf kita nggak bawa apa-apa karena belum tau pasti apa aja yang boleh dan tidak boleh di makan sama kamu. Jadi kita cuma bawa ini " Antoni menaruh bukcet bunga lili putih di nakas sebelah tempat tidur Sheeva.
" Terima kasih banyak kak, maaf jadi merepotkan "
" Santai saja Sheev . Cepet sembuh ya, kasihan Nindy kayak pisang goreng dingin kalau kamu nggak ada di sekolah Sheev, letoi tak bertenaga dia " Nindy bersungut sembari melotot kearah Antoni.
" Oya Kay, ini ada titipan dari mami. Kata mamiku ini susu bagus buat orang yang baru siuman Kay. Sebagai penganti nasi dan makanan keras lainnya. Bisa membantu lambung adaptasi setelah lama nggak terisi makanan." Ucap Yuda sembari menyerahkan goodie bag berisi beberapa kotak susu dan juga beberapa barang lainnya.
" Thank's Yud, bilangin terima kasih ke mamimu ya " Yuda mengangguk.
" Terima kasih banyak kak Yuda, sampaikan juga ke maminya kak Yuda ya "
" Sama-sama, nanti aku sampaikan ke Mami "
" Ini juga susu yang di rekomendasiin sama om Juna, cuma gue belum sempet keluar buat beli " Ucap Kay sembari melihat kemasan susu yang di bawa oleh Yuda.
" Nggak loe kasih ramuan aneh-aneh kan Yud susunya ?" Lagi-lagi Rama mengeluarkan banyolannya.
" Enak aja, loe pikir gue sekriminal itu apa ?" Sheeva tersenyum mendengar itu.
" Est.. Bu bos senyum " Ucapan Rama membuat Kay menoleh kearah Sheeva. Lega..itu yang kay rasakan.
" Aturan memang bambang Rama ada disini sebagai asisten dokternya kok, biar bu bos cepet Sehat "
" Bukan sehat enek iya Sheeva lihat kamu tiap hari Ram " Sheeva kembali terseyum.
" Iya nggak Sheev ?" imbuh Yuda.
" Iya kalau kak Rama tiap hari ada di sini bisa-bisa bukan merawat Sheeva"
" Lha terus ngapai Nin ?"
" Godain mbak-mbak yang ada di rumah kak Kay. Kan biasanya mata kak Rama nggak berkedip kalau lihat emak-emak "
" Pacar loe itu Yong, suka bener kalau ngomong "
" Udah ah bercanda mulu "
Hampir dua jam mereka ada di ruangan Sheeva. Ada saja bahan yang membuat suasana menjadi lebih hidup. Setelah merasa cukup menemani Kay dan Sheeeva semua pamit undur diri. Nindy awalnya ingin tinggal dan menemani Sheeva malam ini. Namum urung karena omanya di rumah sendiri. Papa dan mamanya harus keluar kota untuk perjalan bisnis.
Kini hanya tinggal Kay dan Sheeva di dalam ruangan itu.
" Masing pusing ?" Kay mendekat kearah ranjang Sheeva usia mengantar teman-temanya keluar.
" Sedikit kak, udah nggak sesakit tadi "
" Sabar ya, nanti pelan-pelan juga sembuh "
" Kak ..!"
" Apa ?' Ucap Kay sembari membetulkan selimut Sheeva.
" Memang sampai berapa hari sih aku tidak bangun, bener ya sampai dua minggu ?" Kay memilih duduk di samping ranjang Sheeva.
" Kurang lebih ya memang segitu lamanya, kenapa tanya begitu hemm ?" Kay selalu saja mengusap lembut pipi Sheeva. Dan entah kenapa Sheeva menjadi suka dan kadang ketagihan di perlakukan begitu.
" Lama banget berarti ya. Pantas bunda sampai sakit begitu "
" Wajar kan kalau seorang ibu mengkhawatirkan kondisi anaknya ?"
" Hemm..aku selalu saja membuat bunda khawatir kak " Wajah Sheeva menjadi sendu.
" Yang penting mulai sekarang kamu harus menjaga kondisi kesehatan kamu. Semangat cepat pulih agar bisa beraktivitas seperti biasa agar bunda Aya tidak perlu khawatir lagi "
" Iya kak "
" Mereka masih mencariku ya kak ?" Kay menghela Nafas.
" Sepertinya masih. Kenapa memang ?"
" Nggak papa, semoga mereka tidak mengusik panti saja kak "
" Jangan risau, panti aman karena ada anak-anak The King yang bergantian berjaga di sana "
" Aku jadi bikin repot kak Kay ya ?" Kay tersenyum lembut ke arah Sheeva.
" Nggak kok"
" Kak..!"
" Kenapa kak Kay banget sih sama aku ?" Kay mendadak gelagapan mndapat pertanyaan begitu dari Sheeva.
" Memang orang berbuat baik harus ada alasannya ?"
" Tidak kan ?" imbuh Kay.
" Jangan buat mikir aneh-aneh. Anggep aja aku ini penolong yang Tuhan kirim buat kamu "
" Sekarang tidur ya "
" Tapi, lampunya jangan di matikan dan kak Kay jangan jauh-jauh " Kay tersenyum.
" Iya jangan khawatir, aku disini kok buat jagain kamu."
Kay mengenggam tangan Sheeva agar sheeva merasa aman karenanya.
Perlahan mata Sheeva terlelap. namu genggamannya di tangan Kay tak mau di lepaskan.
" Tidurlah Sheev, semoga besok pagi ketika kamu bangun kamu sudah jauh lebih fit."
terlalu berat beban hidup sheeva..