Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu Reno benar-benar datang ke apartemen Nila sambil membawa rantang berisi nasi goreng buatannya sendiri. Meskipun mobilnya sudah terparkir cukup lama di area apartemen, ia sama sekali belum berani turun. Tangannya masih menggenggam erat setir mobil, sementara pikirannya dipenuhi percakapannya dengan Zoya tadi pagi.
Status pernikahan mereka yang ternyata belum benar-benar selesai membuat kepalanya terasa nyeri sebelah. Selama ini Reno terlalu yakin semuanya sudah berakhir sejak Zoya pergi empat tahun lalu. Padahal kenyataannya hubungan itu masih menggantung secara hukum, dan kini justru menjadi penghalang terbesar untuk kembali bersama Inara.
Reno mengembuskan napas kasar lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Aku harus nyelesaiin semuanya sama Zoya,” gumamnya lirih. “Biar bisa nikah sama Inara.”
Namun setelah mengucapkan itu, bayangan Zidan justru muncul di kepalanya. Kalau nanti hak asuh jatuh ke Zoya…?
Rahang Reno langsung mengeras. “Kalau sampai Zidan diambil sama dia…” lirihnya pelan sebelum tertawa hambar. “Bodoh banget sih kamu, Ren.”
Tangannya mengacak rambut sendiri frustrasi. Semua ini memang berawal dari dirinya. Dulu ia membawa Zoya kembali hanya untuk membuat Inara cemburu dan takut kehilangan dirinya. Ia pikir semuanya masih bisa ia kendalikan seperti biasa. Nyatanya sekarang keadaan justru berbalik menghantamnya.
“Aku harus cari pengacara,” gumamnya lagi. “Aku yang ngerawat Zidan dari bayi, tidak boleh Zoya mengambilnya.”
Di tengah pikirannya yang kacau, pandangan Reno tiba-tiba tertuju ke arah lobi apartemen. Napasnya langsung tertahan.
“Inara…”
Wanita itu baru saja keluar sambil membawa tas kecil di tangannya. Namun, beberapa detik kemudian rahang Reno perlahan mengeras saat melihat Altaf dan Baba sudah berdiri di sana.
“Tante baik hati!” seru Baba girang sambil berlari kecil memeluk pinggang Inara.
Inara langsung tertawa kecil lalu mengusap kepala anak itu lembut. Karena rengekan Baba yang meminta untuk ditemani ke tempat syuting, akhirnya Inara memiliki kesibukan pagi ini.
“Baba semangat banget pagi-pagi,” ucap Inara sambil tersenyum hangat pada anak itu.
“Karena Baba kangen,” celoteh Baba yang identik dengan gombalannya.
Altaf yang berdiri di dekat mobil hanya menggeleng pelan, lalu fokus pada Inara. “Maaf merepotkan.”
“Ayah, Tante tidak merasa direpotkan. Apalagi kalau ketemu aku yang imut ini, wajah Tante jadi makin berseri,” sahut Baba penuh percaya diri, membuat Inara benar-benar kembali memiliki semangat hidup.
Di sisi lain, entah kenapa pemandangan sederhana itu membuat dada Reno terasa sesak. Sudah lama sekali ia tidak melihat Inara tersenyum seringan itu. Selama beberapa bulan terakhir bersamanya, wanita itu lebih sering diam. Kalaupun tersenyum, senyumnya terlihat dipaksakan.
Namun sekarang, di depan Altaf dan Baba, Inara justru tampak jauh lebih hidup.
Tangan Reno perlahan mengepal di atas setir saat melihat Baba terus berceloteh di depan Inara, sementara Altaf sesekali menatap wanita itu dengan santai. Dan ketika Inara tertawa kecil beberapa detik kemudian, sesuatu di dada Reno terasa makin tidak nyaman. Tanpa sadar ia langsung membuka pintu mobil lalu turun begitu saja sambil membawa rantang di tangannya.
Baba yang pertama kali menyadari keberadaan Reno langsung berkedip beberapa kali.
“Om emosian,” gumamnya polos.
Altaf spontan menoleh, sementara Inara langsung membeku di tempat.
“Mas?” Inara memanggil dengan nada pelan seolah tidak percaya lelaki itu menghampirinya.
Reno berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya sempat jatuh pada tangan Inara yang masih berada di kepala Baba sebelum kembali menatap wanita itu.
“Aku nyari kamu,” ucap Reno, mengabaikan keberadaan Altaf dan Baba.
“Nyari aku?” tanya Inara bingung.
“Iya.”
Suasana langsung terasa canggung. Baba perlahan mundur ke belakang Altaf lalu berbisik tanpa mengecilkan suara sedikit pun.
“Yah, auranya Om ini kayak mau marah terus,” sindir Baba.
“Baba,” tegur Altaf pelan sambil menahan senyum.
“Kan bener.”
Reno langsung melirik tajam ke arah anak kecil itu. Namun Baba malah sembunyi di balik kaki Altaf tanpa takut sedikit pun.
“Ada apa, Mas?” tanya Inara lagi untuk mengalihkan suasana.
Reno sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat rantang di tangannya. “Aku bikinin kamu sarapan,” ucapnya.
Inara tampak kaget, tapi lebih ke rasa tidak percaya. “Mas masak?”
“Iya.” Reno berdeham pelan. “Walaupun tadi hampir gosong.”
“Om bisa masak?” sahut Baba spontan.
“Sedikit,” jawab Reno dengan sedikit nada bangga.
“Wah… hebat juga," puji Baba spontan.
Altaf langsung menepuk pelan kepala Baba. “Jangan gampang kagum.”
“Lah Ayah aja gak bisa masak,” cetus Baba.
Altaf menarik napas dalam-dalam, mulai merasa tidak paham sebenarnya Baba sedang berada di pihak siapa. Namun demi menjaga harga dirinya sebagai seorang ayah, ia tetap menjawab dengan tenang. “Bisa.”
Baba langsung mendecak kecil. “Mie instan gak dihitung.”
Ucapan polos itu membuat Inara refleks menahan tawanya, sementara Altaf hanya menatap datar putranya sendiri.
“Kamu terlalu banyak bicara,” ucapnya dengan nada kesal.
Bukannya takut, Baba malah menyeringai kecil. “Turunan Ayah.”
Perdebatan kecil ayah dan anak itu justru membuat suasana di antara mereka terlihat hangat tanpa disadari. Dan entah kenapa, hal sederhana itu membuat Reno merasa seperti orang asing di tengah-tengah mereka. Rahangnya perlahan mengeras. Tangannya yang memegang rantang bahkan tanpa sadar mencengkeram lebih kuat.
“Kalau kalian mau ribut, cari tempat lain aja,” ucap Reno akhirnya dengan nada datar, tetapi jelas terdengar tidak suka. “Sekarang giliranku sama Inara, jadi jangan ganggu kami.”
Baba yang tadi masih santai langsung mendongak menatap Reno, sementara Altaf hanya memasukkan sebelah tangannya ke saku celana tanpa mengubah ekspresi.
Sebelum suasana semakin aneh, pintu lobi apartemen kembali terbuka. Nila keluar sambil membawa dua gelas minuman dingin di tangannya. Namun baru beberapa langkah berjalan, wanita itu langsung berhenti begitu melihat Reno berdiri di sana sambil membawa rantang.
“Buset,” celetuknya spontan. “Matahari terbit dari barat?”
“Nila,” tegur Inara pelan, malu sendiri.
“Apa? Aku kaget tau.”
Reno malas menanggapi sindiran itu. Tatapannya tetap lurus pada Inara, seolah sejak tadi hanya wanita itu yang ia lihat.
“Aku tahu semuanya gak bisa langsung balik kayak dulu,” ucapnya pelan. Kali ini nadanya jauh lebih rendah dibanding biasanya. “Tapi aku lagi nyoba, Ra.”
Run inara run