NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Berliana Febbyola

"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.

Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.

Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.

Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"

Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.

Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.

Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 KULKAS 2 PINTU

Setelah dari ruang guru, Kai pergi ke Kelas untuk mengambil ransel. Sesampainya di Kelas, Kai melihat Nathaniel sudah duduk di salah satu meja.

"Dari tadi, Tan?" tanyanya dengan dingin.

"Nggak perlu basa - basi, bodoh. Aku paham sekarang. Anak konglomerat yang nggak bisa tanggung jawab modelannya kayak gini." senyumnya sinis.

Nathaniel beranjak dari duduknya dan menghampiri Kai yang masih berdiri.

"Jangan terus salah paham karena orang tua kita. Itu urusan mereka, nggak ada hubungannya dengan persahabatan kita, Tan." jelas Kai.

"Terserah." singkatnya lalu pergi sambil menyenggol bahu Kai.

Kai terdiam dan tak menyusul Nathaniel yang berlalu pergi.

____________________

Jam menunjukkan pukul 7 malam, terlihat Ana sedang memainkan ponselnya dan memandang foto - foto bersama kedua sahabat barunya.

"Jadi ini rasanya punya sahabat akrab." sambil senyum - senyum sendiri.

Raka menghampiri Ana dan duduk disampingnya dengan wajah yang lesu.

Ana langsung terfokus dengan kehadiran Raka dan langsung menyimpan ponselnya.

"Hem.. udah punya teman baru ya?" tanya Raka dengan nada lemas.

"Um.. gitu deh. Kenapa? Soal bocah SMP itu lagi?" sahut Ana, sedikit menyindir pacar Raka yang terkadang membuat sebal dengan kelakuannya yang kekanak - Kanakan dan merengek kepada Raka seperti anak SMP.

"Apa sih Najel? nggak lucu ya." tegasnya.

Ana hanya mendengus kesal, tapi ia sudah membacanya dari ekspresi Raka. Apa mungkin benar tebakannya?

Raka menghela nafas panjang ketika melihat ponselnya. Dan itu cukup membuat Ana paham, "Ah, bocah itu lagi."

"Raka, besok aku mau pulang bareng temanku ya. Jadi kamu nggak perlu nunggu di halte bis." jelasnya sambil beranjak dari duduknya. Dan Raka hanya mengangguk.

Pagi harinya, Ana suda bersiap - siap dengan rambut terurai dan jepit rambut di pinggir rambutnya, disisi bagian atas telinga.

Di gerbang sekolah tampak sudah ramai orang - orang. Membuat Ana sedikit terkejut, ia takut terlambat.

Gadis itupun mempercepat langkahnya. Dan dilorong, Ana sedikit berlari karena dilorong itu tidak banyak siswa.

Tak melihat ke depan, Ana hanya terus berlari dengan ransel kecil di punggungnya. Dan-

BRUGH!

Ugh!

Gadis itu akan terjungkal ke belakang tapi pinggangnya serasa ada yang menahan.

Perlahan membuka matanya, terlihat sepasang mata tajam, hidung yang mancung dan rahang yang tegas. Kai.

"Kai?" batinnya, lalu membulat mata ketika sangat jelas wajah Kai yang berjarak cukup dekat dengannya.

"Kamu buta?" sarkas Kai dengan tatapan tajam.

Ana langsung membenarkan posisi yang tadi ditahan oleh KAI saat akan terjatuh. "Em.. a-aku minta maaf." sedikit membungkuk dan melihat ternyata gantungan kunci berbentuk buku miliknya jatuh.

Kai langsung mengambilnya dengan ekspresi masih datar. Memberikan gantungan kunci, sambil menatap Ana lama sampai bel masuk yang membuat tatapan itu selesai.

Ana langsung mengambil gantungan di tangan Kai dan berlari sambil mengucapkan terimakasih.

"(Mendengus.) Dia nggak berubah kelakuannya. Masih ceroboh." gumam Kai, sambil melirik ke arah Ana yang sedang berlari menuju kelas, sebelum akhirnya ia pun pergi ke perpustakaan.

Di kelas, Ana tampaknya masih tidak percaya bahwa yang menahan pinggangnya agar tak jatuh adalah Kai. Dan bisa - bisanya ia membuat first encounter yang seperti itu dengan Kai.

"Semoga aku nggak bertabrakan lagi dengan orang itu. Kulkas 2 pintu.", batinnya.

"Ana.. kamu lagi apa di depan pintu kelas? Ayo masuk." pekik Sheila.

"Hah? Ouh.." Ana terkejut karena ternyata ia masih diam di depan pintu kelas, rasanya jantung ini masih berlarian sahutnya.

"Kita jadi, kan ke bioskop nonton film yang terbaru?"

"Uhum.(Mengangguk semangat.) Aku udah minta izin ayahku, tapi aku nggak bisa terlalu malam." jelas Ana.

"Tenang aja, filmnya akan selesai jam 7 kok." timpal Jeje.

Disaat Ana sedang asyik mengobrol dengan teman - temannya, Kai masuk ke kelas dengan ekspresi dinginnya. Bahkan tidak menyinggung kejadian bertabrakan mereka di lorong tadi.

"Fyuh.. untung aja dia nggak mempermasalahkan yang tadi." batinnya Ana.

Tak terasa mata pelajaran pertama selesai, Ana dan yang lainnya pergi ke kantin untuk memenuhi asupan energi yang sudah terkuras karena pelajaran kimia.

"Ayo ke kantin!" sahut Sheila.

Mereka pun ke kantin sambil mengobrol dan tertawa. Sesampainya disana, terlihat Kai hanya membawa apel saja ditangannya dan duduk sendirian seperti biasa.

Tak ada yang berani mendekatinya.

"Bahkan lalat pun, nggak berani hinggap hehe.."

"Kai ini cokelat buat kamu, semoga kamu suka ya." tiba - tiba saja ada seorang gadis membawa sekotak cokelat yang sangat cantik, dengan hiasan yang ramai.

SREETT!! BRAK!

Kotak terlempar dan semua cokelat itu berserakan di lantai.

Ana dan teman - temannya juga langsung melihat ke belakang. Gadis itu hanya bisa berlinang air mata.

"Kejam banget." gumam Ana.

"Si Kai ini emang, psikopat. Nggak suka banget." ketus Sheila.

Jeje hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala.

"Je. Kamu udah kenal dari lama dengan Kai ya? Aku liat kamu kayak udah hafal banget kelakuan Kai."

"Semenjak kelas 10 aja sih, karena ikut Olimpiade bareng. Jadi udah hafal sama sifat aslinya." jelas Jeje santai.

Ana hanya mengangguk, paham.

Setelah kejadian itu, Kai langsung pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia paling tidak suka, ada yang ganggu waktunya dengan memberi hal - hal tidak jelas. Bahkan menurutnya, itu cuma membuang waktu.

"Dia nggak minta maaf?" tanya Ana, merasa kasihan. Karena dirinya pernah dipermalukan dihadapan banyak orang.

"Ah, bukan Kai kalau dia minta maaf. Kita ke kelas yuk!" ajak Sheila, karena mereka sudah menghabiskan makan siang.

Di lorong itu, Kai seperti sedang menunggu seseorang di lapangan dan ternyata itu adalah cowo yang tak kalah populer juga yakni Nathaniel.

"Mereka mau berantem lagi?" tanya Sheila kepo.

"Udahlah, jangan ikut campur. Itu kan masalah mereka." tepis Jeje.

"Kamu nggak asyik, Je! Hum." ngambek Sheila langsung masuk ke kelas.

Jeje hanya mengangkat bahunya dan Ana tertawa melihat tingkah Sheila.

Disisi lain, Kai berbicara dengan nada serius dengan Nathaniel yang terlihat senyum arogan padanya.

"Kenapa?" Nathaniel menatap sinis.

"Aku cuma mau menjelaskan sekali lagi, ini kesalahpahaman keluarga kita. Gak mungkin pa-" belum sempat Kai meneruskan bicaranya, Nathaniel langsung memotong.

"Udahlah, udah kadaluarsa untuk dibahas lagi. Malam ini, ada tantangan balapan di tempat biasa. Udah lama nggak olahraga semenjak di Jepang. Olahraga melampiaskan emosi." timpalnya.

"Hem.. Tapi-"

"Seorang Nathaniel, nggak terima apapun alasannya." tegasnya, lalu pergi begitu saja.

Kai hanya menatap Nathaniel yang semakin menjauh.

"(Menghela nafas panjang) Dia masih aja keras kepala." sahutnya perlahan, lalu pergi ke Kelas.

Kai yang baru masuk Kelas menjadi pusat perhatian semua orang yang di Kelas.

"Ana." tiba-tiba Kai memanggil gadis itu dengan nada yang dingin.

#Bersambung...

1
Berliana Febbyola
Iya kah? Lebih terpontang panting kalau yang iniiii🤭
NonaMudaDesi
Ceritanya mirip drakor true beauty yah, tapi ini lebih dark nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!