“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PENYAMARAN SANG DESAINER
Malam di pinggiran Roma terasa seperti napas monster tua yang sekarat.
Bau logam berkarat dan limbah kimia dari sungai terdekat menggantung di udara, menciptakan kabut tipis yang menyembunyikan dosa-dosa di wilayah industri Via della Croce.
Pabrik tekstil tua itu berdiri seperti raksasa beton yang membusuk, dengan jendela-jendela pecah yang tampak seperti mata yang mengawasi dalam gelap.
Alesha berdiri di balik bayangan truk pengangkut yang berkarat, mengamati gerbang utama.
Vincenzo benar, menyerbu tempat ini secara terang-terangan adalah tindakan bunuh diri.
Lorenzo telah menempatkan setidaknya selusin pria bersenjata di setiap sudut.
Namun, Lorenzo melakukan satu kesalahan besar, dia meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh seorang Alesha yang sedang murka.
Alesha tidak mengenakan gaun merah atau pakaian kulit yang mencolok.
Di balik jaket besarnya, ia telah menyiapkan mahakarya terpenting dalam hidupnya, bukan untuk panggung catwalk, melainkan untuk infiltrasi.
Ia telah menjahit sendiri seragam buruh pabrik yang identik dengan milik para pekerja shift malam di sana.
Ia menggunakan kain kanvas kasar yang ia temukan di gudang bawah tanah villa, mengampelasnya dengan batu agar terlihat kusam, dan memercikkan noda minyak mesin di tempat-tempat yang strategis.
Ia mengikat rambutnya erat-erat di bawah topi rajut yang kotor, mengoleskan jelaga di bawah matanya agar terlihat lelah, dan menyembunyikan pisau lipat serta alat sabotase di dalam saku celana kargo yang ia modifikasi.
"Ingat, Nyonya," suara Vincenzo terdengar dari earpiece kecil di telinganya.
"Saya berada di luar. Jika dalam lima belas menit Anda tidak memberi kode, saya akan masuk dengan sisa kekuatan yang ada."
"Tetap di posisimu, Vincenzo," bisik Alesha.
"Biarkan aku melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh senjatamu."
Alesha keluar dari bayangan, berjalan dengan langkah gontai dan bahu merosot, meniru gestur buruh yang kelelahan setelah bekerja belasan jam.
Ia bergabung dengan sekelompok kecil pekerja yang sedang masuk melalui pintu samping untuk mengganti shift.
Penyamarannya sempurna.
Para penjaga di pintu masuk hanya melirik sekilas ke arahnya, tertipu oleh detail tekstur kain dan aroma kimia yang sengaja ia semprotkan ke pakaiannya.
Begitu berada di dalam, pemandangan itu membuat perutnya mual.
Pabrik itu masih beroperasi secara ilegal di bawah kendali Lorenzo, memproduksi tekstil murah dengan kondisi kerja yang tidak manusiawi.
Mesin-mesin uap kuno menderu keras, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga.
Alesha bergerak menyelinap di antara tumpukan gulungan kain wol yang berbau belerang.
Ia terus bergerak menuju area administrasi, tempat ia menduga Matteo disekap.
Namun, langkahnya terhenti saat ia melewati sebuah ruang pemotongan kain yang luas di lantai dua.
Di sana, di bawah lampu neon yang berkedip, ia melihat pemandangan yang membakar darahnya.
Salah satu anak buah Lorenzo yang bertubuh kekar, dengan tato burung pemakan bangkai di lehernya, sedang menyiksa seorang pria tua yang tampaknya adalah salah satu mandor pabrik yang mencoba melawan.
Sang mandor terikat di tiang besi, wajahnya babak belur, sementara si algojo memegang sebilah pisau panas yang siap ditempelkan ke kulit pria malang itu.
"Di mana kunci brankas dokumennya, Tua Bangka?" bentak si algojo.
Alesha tahu ia harus fokus pada Matteo, tapi sisi bar-barnya tidak bisa membiarkan kekejaman ini terjadi di depan matanya.
Ia melirik ke arah mesin pemotong kain raksasa yang berada tepat di belakang si algojo.
Itu adalah mesin kuno dengan bilah melingkar yang berputar sangat cepat, ditenagai oleh tekanan uap tinggi.
Dengan kecepatan seorang penjahit yang sedang memotong pola, Alesha menyelinap ke panel kontrol mesin tersebut.
Ia tidak butuh kekuatan otot, ia hanya butuh pengetahuan teknis.
Ia mencabut katup pengatur tekanan dan menyumbat saluran pembuangan uap dengan gulungan kain wol sisa yang ia ambil dari lantai.
Ia mengatur kecepatan putaran bilah hingga melewati batas maksimum.
Ngiiinggg!
Suara mesin itu mulai meninggi, bergetar hebat hingga baut-bautnya terlepas.
"Eh? Apa yang terjadi dengan mesin ini?!" si algojo berbalik, wajahnya menunjukkan kepanikan.
Tepat saat itu, Alesha menarik tuas terakhir dan berlari menjauh.
BOOM!
Ledakan uap yang dahsyat menghancurkan panel kontrol. Bilah pemotong kain yang berputar lepas dari porosnya, meluncur seperti cakram maut yang memotong meja-meja kayu dan menghancurkan pipa-pipa air di langit-langit.
Uap panas menyembur ke mana-mana, menciptakan kabut putih yang membutakan.
Si algojo terlempar ke tumpukan kain sementara para penjaga lainnya berlarian masuk ke ruangan itu, mengira ada serangan bom.
"Sekarang!" bisik Alesha pada dirinya sendiri.
Di tengah kekacauan itu, ia menyelinap melalui pintu darurat yang menuju ke ruang bawah tanah.
Ia tahu ledakan itu akan menarik semua penjaga ke lantai atas.
Tangga menuju ruang bawah tanah terasa lembap dan dingin.
Bau busuk air payau dan minyak tanah semakin kuat. Alesha menggenggam pisau lipat di saku celananya, jantungnya berdegup kencang hingga terasa di tenggorokannya.
Ia mencapai sebuah pintu besi berat yang sedikit terbuka.
Cahaya remang-remang dari lampu bohlam kuning keluar dari celahnya.
Alesha mengatur napas, bersiap untuk menerjang siapa pun yang ada di balik pintu itu.
Ia menendang pintu itu perlahan dan masuk dengan posisi siap menyerang.
Namun, pemandangan di dalam sana tidak seperti yang ia bayangkan.
Ruangan itu luas, dipenuhi oleh mesin-mesin tenun tua yang sudah berkarat.
Di tengah ruangan, Matteo duduk terikat di sebuah kursi kayu besar.
Tangannya diborgol di belakang punggung, dan ada noda darah kering di pelipisnya.
Lorenzo berdiri di hadapannya, memegang sebuah map dokumen dengan wajah yang merah padam karena amarah.
Alesha berhenti di balik bayangan mesin tenun, bersiap untuk melompat.
Namun, ia tertegun saat mendengar suara Matteo.
Suaranya tidak terdengar seperti korban yang ketakutan. Suara itu dingin, jernih, dan penuh dengan aura kemenangan yang mengerikan.
"Kau pikir dengan mengikatku di sini, kau bisa mendapatkan tanda tanganku, Paman?"
Matteo terkekeh, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Alesha berdiri.
"Kau begitu sibuk mencuri aset-asetku hingga kau tidak menyadari bahwa saat kau membekukan rekeningku, kau juga mengaktifkan protokol likuidasi otomatis yang akan menghancurkan seluruh saham Al-Ricci dalam waktu enam jam."
"Kau gila!" teriak Lorenzo, mencengkeram kerah baju Matteo.
"Kau akan bangkrut!"
Matteo mendongak, menatap pamannya dengan mata yang berkilat tajam di bawah cahaya lampu kuning.
Senyumnya melebar, senyum seorang predator yang telah berhasil menggiring mangsanya ke dalam jebakan yang paling gelap.
"Aku lebih baik menjadi raja di atas tumpukan abu daripada melihatmu duduk di atas takhtaku, Lorenzo," ucap Matteo dengan nada tenang yang mematikan.
"Dan dengar... suara ledakan tadi? Itu bukan kecelakaan. Itu adalah tanda bahwa 'istriku' yang kau remehkan itu sudah berada di gedung ini. Dan percayalah, dia jauh lebih tidak sabaran daripada aku."
Lorenzo terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Ia segera berbalik ke arah pintu, tepat di mana Alesha sedang berdiri.
Alesha keluar dari bayangan, melepaskan topi rajutnya dan membiarkan rambutnya tergerai.
Ia memegang pisau lipatnya dengan cara yang sangat tidak terduga, namun penuh ancaman.
"Suamiku benar, Lorenzo," ucap Alesha dengan nada bar-bar yang tak tertandingi.
"Aku bukan orang yang suka menunggu lama."
Matteo menatap Alesha.
Meski dalam keadaan terikat dan terluka, ada binar kebanggaan dan kasih sayang yang liar di matanya.
"Tepat waktu seperti biasa, Sayangku."
Malam itu, di ruang bawah tanah yang dingin, aliansi mereka mencapai puncaknya.
Sang seniman yang pura-pura lumpuh dan sang desainer yang menyamar sebagai buruh kini berdiri berhadapan dengan musuh mereka.
Dan Lorenzo Al-Ricci baru saja menyadari bahwa ia tidak hanya melawan dua orang, melainkan satu kekuatan tunggal yang siap menghancurkan apa pun demi melindungi satu sama lain.