Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti deretan pohon di sepanjang jalan perumahan elite itu. Cahaya matahari yang masih malu-malu menembus celah dedaunan, menciptakan siluet panjang di depan gerbang rumah keluarga Arthea. Seperti rutinitas yang belakangan ini ia bangun, Kaizar Ravindra sudah berdiri bersandar pada mobilnya, menunggu sosok yang kini menjadi pusat gravitasi dunianya.
Akan tetapi, pagi ini Kaizar tidak tampak seperti biasanya. Matanya yang tajam terlihat sayu, menyimpan jejak lelah akibat pergulatan batin dari penglihatan gelap semalam. Begitu pintu rumah terbuka dan Zivara melangkah keluar dengan tas kanvas di bahunya, jantung Kaizar seolah berhenti berdetak sesaat.
Tanpa aba-aba, bahkan sebelum Zivara sempat mengucapkan salam, Kaizar bergerak cepat. Ia memangkas jarak di antara mereka dan langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan yang sangat erat.
Zivara tersentak, tubuhnya menegang karena terkejut. Ia bisa merasakan detak jantung Kaizar yang berpacu liar di balik kemeja mahalnya, juga napas pria itu yang terasa hangat namun gemetar di ceruk lehernya.
"Maaf... Maafkan aku, Vara," bisik Kaizar parau, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan. "Aku minta maaf untuk segalanya."
Ucapan itu terus mengalir dari bibir Kaizar, berulang-ulang seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. Zivara terpaku dalam kebingungan yang nyata. Di ingatannya, mereka baru saja memulai kembali interaksi di lini masa ini, dan Kaizar belum melakukan kesalahan fatal apa pun yang menuntut permohonan maaf sedalam ini.
Zivara mencoba mengatur napasnya yang sesak karena dekapan itu. Dengan lembut, ia mendorong bahu tegap Kaizar, berusaha mengurai pelukan yang terasa begitu posesif sekaligus rapuh tersebut.
"Ada apa, Kak?" tanya Zivara dengan dahi berkerut, menatap wajah Kaizar yang tampak begitu hancur. "Kenapa tiba-tiba begini?"
Kaizar tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Zivara dengan sorot mata yang dalam, seolah sedang memastikan bahwa gadis di depannya ini nyata, bukan sekadar bayangan yang jatuh dari atap gedung dalam mimpinya. Penglihatan tentang malam di Grand Preanger semalam masih menghantuinya, membuatnya merasa menjadi pria paling hina di dunia.
"Maafkan aku," ulang Kaizar lagi, suaranya lebih rendah sekarang.
Zivara menghela napas pendek, mencoba tetap tenang meskipun jantungnya sendiri mulai berdebar tidak keruan. "Kakak tidak punya salah apa-apa padaku. Untuk apa minta maaf?"
Kaizar terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya perlahan. Meskipun begitu, beban di dadanya tidak berkurang sedikit pun. Ia sadar bahwa permohonan maaf ini bukan hanya untuk apa yang telah terjadi, melainkan untuk takdir kejam yang sedang mengintai mereka.
Dalam diamnya, Kaizar bersumpah. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak hanya mencintai Zivara dengan cara yang baru, ia harus menjadi tameng bagi gadis ini. Ia harus melindunginya dari skenario mengerikan yang sedang disusun oleh Luna atau Adrian. Ia tidak akan membiarkan Zivara menjadi korban untuk kedua kalinya.
"Ayo berangkat," ajak Kaizar akhirnya, berusaha menguasai diri dan membukakan pintu mobil untuk Zivara.
Perjalanan menuju kampus dipenuhi oleh keheningan yang canggung. Zivara sesekali melirik ke arah Kaizar yang fokus menyetir dengan rahang yang mengeras. Perubahan sikap pria itu terlalu drastis. Apakah Kaizar juga mulai melihat kepingan masa lalu? Ataukah ini hanya bagian dari permainan baru Kaizar untuk menjeratnya kembali?
Begitu mereka sampai di area parkir fakultas, Zivara melihat sosok yang sangat ia hindari sedang berdiri di dekat tangga lobi. Adrian Marcelino. Pria itu tampak sedang berbincang dengan Luna, dan entah mengapa, keduanya menoleh ke arah mobil Kaizar dengan tatapan yang sangat mencurigakan.
**
Langkah kaki Luna terasa berat saat menginjakkan kaki di pelataran fakultas yang mulai ramai oleh riuh mahasiswa. Dadanya masih bergemuruh akibat pertemuannya dengan Adrian kemarin, ditambah lagi sikap dingin Kaizar yang semakin sulit ia tebak. Akan tetapi, ketenangannya kembali terusik saat sosok yang sangat ia hindari muncul dari balik pilar gedung, menghadang jalannya dengan sikap angkuh yang masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
"Datang sendirian, Luna?" sapa Adrian dengan nada sarkastik yang kental. Matanya menyisir area parkir di belakang Luna. "Ke mana Kaizar? Pria pemujamu itu tidak menjemput?"
Luna menghentikan langkah, menatap Adrian dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian tertahan. "Apa itu penting bagimu, Adrian? Urus saja urusanmu sendiri sebagai dosen baru di sini," jawabnya ketus.
Adrian justru terkekeh, sebuah tawa kering yang terdengar sangat memuakkan bagi Luna. "Tentu saja penting. Bukankah kamu begitu mencintai Kaizar? Rasanya lucu melihatmu terlantar begini di saat pria itu belakangan ini terlihat begitu sibuk mengitari Zivara."
Kalimat Adrian bagaikan menyiram bensin ke dalam api yang sudah menyala di hati Luna. Luna melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum kayu cendana milik Adrian yang kini terasa mencekam.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan kembali ke sini, Adrian? Bukankah merusak hidupku sekali saja sudah cukup?" tuntut Luna dengan suara rendah yang bergetar.
Adrian terdiam sejenak, menatap Luna dengan kedalaman mata yang sulit dibaca. "Aku kembali untukmu, Luna. Bukankah itu sudah jelas? Aku ingin kamu kembali padaku."
Luna mendengus, sebuah tawa pahit lolos dari bibirnya. "Kembali padamu? Setelah kamu memperlakukanku seperti sampah taruhan dan kabur ke Italia? Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah kembali padamu. Kamu sudah menghancurkan hidupku, jadi lebih baik sekarang kamu menyingkir dari hadapanku sebelum aku berteriak."
Tepat saat Luna hendak melangkah pergi melewati bahu Adrian, deru suara mesin mobil yang sangat ia kenali memecah ketegangan di antara mereka. Suara knalpot Range Rover hitam itu seolah membawa aura dominan yang langsung membekukan suasana.
Keduanya serempak menoleh ke arah gerbang masuk parkiran. Mobil Kaizar melaju pelan, lalu berhenti tepat beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Luna menatap mobil itu dengan harapan yang kembali tumbuh, sementara Adrian menyipitkan mata, menanti drama yang akan segera terungkap. Tatapan keduanya tampak sangat mencurigakan saat melihat siapa yang keluar dari pintu penumpang di samping Kaizar.
***
🤣🤣🤣