NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Menghitung Kabel di Sektor Utara

Bau garam menyengat langsung menusuk hidung begitu aku memarkirkan motor bebek tua ini di pinggir jalur berbatu. Panas matahari Tanjungbalai siang ini rasanya seperti membakar ubun-ubun, membuat keringat mengalir deras dari balik helm belahku, membasahi leher jaket kurir yang mulai kuyu dan kaku karena sisa peluh kemarin.

Aku sengaja mengambil lembar manifes tambahan dari meja admin subuh tadi. Paket kardus tebal berisi suku cadang trafo seberat lima kilo yang tujuannya ke ujung Sektor Utara sebenarnya bukan bagian dari rute harian ku. Kurir lain biasanya malas ke sini karena jalannya hancur dan gersang. Tapi hari ini, tempat terasing ini justru menjadi tujuan utamaku. Aku butuh alasan yang sah untuk berada di sini tanpa memancing curiga orang-orang Baron.

Begitu menjejakkan kaki di tanah berpasir hitam dekat batas pasang surut air laut, pemandangan di depanku langsung membuat bulu kudukku meremang.

Sektor Utara yang biasanya hanya berisi rawa bakau mati dan menjadi tempat para nelayan menambatkan perahu rusak, kini sudah berubah total. Deretan tiang besi pancang berwarna hitam legam berdiri berjejer, menancap kokoh ke dalam lumpur pantai sepanjang hampir dua kilometer. Di antara tiang-tiang itu, jaring kawat raksasa setinggi tiga meter terbentang kencang, memutus total akses dari daratan menuju muara luar.

Suara dengung konstan yang berat dan memekakkan telinga terdengar berasal dari trafo kelabu yang menggantung di tiang utama. Jaring kawat itu tidak biasa. Di siang bolong begini pun, aku bisa melihat kilatan uap biru tipis yang berderit setiap kali ada percikan air laut yang mengenai permukaannya. Gila. Itu kawat setrum tegangan tinggi. Baron benar-benar berniat mengurung makhluk apa pun yang ada di dalam rawa agar tidak bisa lolos ke laut lepas.

Aku menelan ludah, membayangkan Kala. Kalau cowok bermata emas itu nekat berenang lewat jalur pantai ini, dia pasti akan langsung terpanggang sebelum sempat menyentuh air asin.

"Oi, Kak! Nyari siapa di sini? Area ini steril dari orang luar!" sebuah teriakan ketus membuyarkan lamunanku.

Seorang petugas gardu bertubuh gempal dengan seragam lapangan biru gelap berlogo Baron Logistics sedang berdiri di dekat pintu pagar kawat, tangannya memegang papan jalan berdinding papan tripleks. Matanya menatapku dari atas sampai bawah dengan penuh selidik. Di belakangnya, dua orang pekerja kasar sedang sibuk mengelas dudukan generator portabel, memercikkan bunga api yang berbau logam terbakar.

Aku langsung memasang wajah paling polos yang bisa kukerahkan. Sambil menurunkan standar samping motor bebekku yang berdecit nyaring, aku membenahi letak kardus paket di jepitan tengah motor.

"Aduh, Bang, santai dulu. Jangan galak-galak, nanti cepat tua," ujarku dengan cengiran lebar, menggunakan logat khas pelabuhan yang agak mendayu-dayu untuk mencairkan suasana. "Ini nah, ada paket kiriman dari depo pusat. Manifesnya tertulis buat Gardu Pengawas Tiga Sektor Utara. Atas nama Bang jono ada?"

Si petugas gempal itu mengerutkan kening, memeriksa papan jalannya. "Jono lagi benerin sekring di dalam gardu listrik. Taruh aja di situ."

Aku tidak langsung bergerak pergi. Malah, aku sengaja mematikan mesin motor, lalu merogoh kantong jaket kurirku. Aku mengeluarkan sebungkus rokok kretek yang sengaja kubeli di warung simpang tiga tadi, lalu menyodorkannya ke arah si petugas.

"Panasnya minta ampun ya, Bang. Kerja di tepi pantai begini bisa bikin kulit kelupas," kataku sambil menyodorkan sebatang rokok. "Bagi satu ya, Bang, biar nggak tegang kali mukanya."

Melihat sebungkus rokok kretek murah namun harum itu, pertahanan si petugas gempal agak melunak. Matanya berbinar kecil. Dia mengambil sebatang, lalu membiarkanku menyulut ujungnya dengan korek api gas milikku. Setelah embusan asap pertama keluar dari mulutnya, dia menyandarkan punggungnya ke pagar, tampak mulai menikmati obrolan warung ini.

"Iya nih, proyek dadakan dari bos besar. Bikin pusing kepala," keluh petugas itu, suaranya melunak, tidak lagi sekaku tadi. "Sudah tiga hari kami lembur pasang jaring kawat ini. Katanya ada hewan buas lepas dari penangkaran milik Baron di hulu, makanya seluruh pantai dipagar setrum."

"Oalah… pantesan gede kali jaringnya, Bang.

Sampai pakai trafo segala," sahutku sambil pura-pura kagum, matanya memandang liar ke arah susunan kabel yang menjulur dari gardu listrik utama menuju generator portabel di pojok tanggul. "Nggak jebol tuh token listriknya kalau nyala terus siang malam?"

Petugas itu tertawa remeh, menepuk trafo di dekatnya. "Ya nggaklah. Ini generator portabel cadangannya aja spek tinggi. Tapi ya namanya juga mesin rakitan baru, ada masanya loyo juga. Kalau malam, jam-jam rawan pengalihan arus ke depo utama di pelabuhan bawah, daya di jaring ini pasti agak drop."

Jantungku berdegup kencang mendengar kalimat itu. Informasi emas. "Oh, ada drop-nya juga ya? Jam berapa tuh, Bang? Biar kalau aku lewat sini malam-malam nggak kena imbas setrumnya."

"Halah, kurir harian mana boleh lewat sini malam-malam," gurau petugas itu sambil mengibas tangan. "Tapi biasanya itu pas jam pergantian sif subuh, sekitar jam empat sampai jam lima pagi. Arus dialihkan ke mesin pemanas kontainer ikan di depo pusat. Di sini dayanya turun drastis, cuma sisa buat lampu sorot aja. Kawatnya paling cuma bikin geli-geli kalau disentuh jam segitu."

Aku mengangguk-angguk dengan wajah bodoh, seolah hanya menganggap itu sebagai angin lalu.

Padahal, otakku sedang bekerja keras bagai mesin tik, merekam kata demi kata, menghitung letak kabel pemantik berwarna kuning yang terhubung dari generator menuju panel utama, dan menghafal mati-mati waktu penurunan daya itu: jam empat subuh.

"Wah, ngeri juga ya. Mending aku pulang tidur kalau jam segitu," kataku sambil menyerahkan pulpen agar dia menandatangani bukti terima manifes paket kardus tadi.

"Ini potongannya sudah pas, kan? Saya mau balik ke depo dulu, Bang. Takut dicariin korlap," sambungku setelah menerima kembali papan jalan yang sudah diteken.

"Ya, makasih rokoknya, Dek Kurir. Hati-hati di jalan, banyak truk tanah lewat depan," balas petugas itu ramah.

Aku segera menaiki motor bebekku, menyelah mesinnya dengan satu hentakan kaki yang kuat, lalu memutar arah menjauh dari Sektor Utara.

Begitu pos jaga itu hilang dari spion, senyum polos di wajahku langsung lenyap, digantikan oleh gumpalan rasa ngeri yang pekat di dalam dada.

Baron Logistics tidak sedang bermain-main.

Mereka menguasai pelabuhan ini dengan uang dan teknologi besi yang kejam. Skala pagar setrum itu membuktikan bahwa mereka punya sumber daya tanpa batas untuk memburu Kala.

Tanganku bergetar sedikit saat menggenggam stang motor, memacu kecepatan membelah jalanan berbatu yang berdebu. Waktu kami tidak banyak. Pagar kawat itu akan aktif penuh dalam beberapa hari lagi jika pemasangan generatornya selesai. Aku harus segera pulang ke Kamar Nomor Empat dan menyusun rencana pelarian dengan sisa informasi yang sudah kusimpan di dalam kepala ini, sebelum jalur tikus di rawa benar-benar tertutup rapat dan membuat kami berdua tamat di tempat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!