NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manager baru

Tak lama kemudian, aroma masakan yang harum memenuhi seluruh ruang makan.

Bibi keluar dari dapur sambil membawa beberapa piring.

Gerakannya cekatan.

Di atas meja makan yang panjang, satu per satu hidangan mulai tersusun rapi.

Sup hangat dengan aroma kaldu yang lembut.

Sayuran tumis yang masih mengeluarkan uap.

Ayam berbumbu manis gurih.

Nasi putih hangat.

Bahkan sendok, garpu, dan serbet kecil pun sudah ditata begitu rapi.

“Ayo neng, sini duduk makan.”

Bibi menarik salah satu kursi.

Mireya yang tadinya masih duduk di sofa langsung berdiri pelan dan mendekat.

Saat melihat meja makan itu, matanya sedikit membesar.

astaga… ini buat aku semua?

Ia duduk perlahan.

Masih sedikit kikuk.

Bibi tersenyum ramah.

“Kalau nggak sesuai selera bilang ya, neng.”

“Nanti Bibi ganti.”

Mireya langsung menggeleng cepat.

“Ih jangan gitu, Bi…”

“Makanan kan nggak boleh dibuang…”

Bibi terkekeh kecil.

“Lah bukan dibuang, neng.”

“Kalau misalnya kurang asin, kurang manis, atau ada yang nggak cocok, bilang aja.”

“Selera orang beda-beda.”

“Nanti Bibi masakin lagi.”

Mireya mengangguk pelan.

Namun dalam hati ia sudah tahu—

ia tidak mungkin tega bilang apa-apa.

Dengan hati-hati ia mengambil suapan pertama.

Begitu makanan masuk ke mulut—

Mireya membeku.

Matanya langsung membesar.

Rasanya…

hangat.

Lembut.

Manis gurih yang pas.

Dan entah kenapa…

sangat familiar.

Tangan yang memegang sendok perlahan berhenti.

Dadanya terasa sesak.

Lalu tiba-tiba matanya memanas.

Setetes air mata jatuh.

Bibi yang melihat langsung panik.

“Lho, neng?!”

“Kenapa?”

“Enggak enak ya?”

“Jangan dimakan kalau nggak enak, nanti Bibi ganti!”

Mireya buru-buru menggeleng.

Air matanya malah semakin jatuh.

“Bukan…”

Suaranya kecil.

“Ini enak banget, Bi…”

Ia tersenyum tipis di tengah air mata.

“Rasanya… mirip masakan mama…”

Kalimat itu keluar pelan.

Nyaris seperti bisikan.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Bibi yang tadi panik perlahan melunak.

“Oh…”

Tatapannya berubah lembut.

Jadi bukan karena makanannya tidak enak.

Tapi karena…

Mireya rindu.

Rindu rumah.

Rindu ibunya.

Rindu masa ketika wanita itu masih sehat dan bisa berdiri di dapur sambil tersenyum.

Mireya menunduk.

“Sekarang mama di rumah sakit…”

“Dan… mungkin nggak bisa masak lagi…”

Suaranya pecah.

Bibi langsung mendekat.

Tangannya yang hangat menepuk lembut pundak Mireya.

“Oh sayang…”

“Pantesan…”

Mireya mengusap air matanya cepat-cepat.

Namun Bibi malah tersenyum lembut.

“Ayo atuh, Bibi juga ikut makan sini.”

Mireya menarik kursi di sampingnya.

“Duduk sama aku, Bi…”

Bibi tertawa kecil.

“Nggak ah, Bibi masih kenyang.”

“Nanti aja makannya di dapur.”

“Kamu dulu yang makan.”

“Bibi mau beres-beres sebentar.”

Ia menunjuk ke arah dapur.

“Halaman sayurnya tadi baru dipetik.”

“Masih seger-seger.”

“Mau Bibi masukin kulkas dulu.”

Mireya menatap wanita itu.

Ada rasa hangat yang aneh di dadanya.

Seolah rumah yang tadi terasa terlalu besar dan asing…

pelan-pelan mulai terasa nyaman.

Sebelum kembali ke dapur, Bibi menoleh lagi.

Senyumnya begitu lembut.

“Udah ya, jangan nangis…”

“Kamu anak cantik.”

“Anak baik.”

“Ibu kamu pasti bakal cepat sembuh.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Mireya kembali memanas.

Namun kali ini bukan karena sedih.

Melainkan karena merasa diperhatikan.

Bibi memandangnya dari atas ke bawah.

Lalu tersenyum lagi.

“Jadi kamu namanya Mireya…”

“Cantik ya…”

“Kayak orangnya.”

Mireya langsung tersipu malu.

Pipi nya memerah.

“Ah, Bibi bisa aja…”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke penthouse ini...

ia merasa tidak sendirian.

...****************...

Entah sudah berapa lama Mireya tertidur.

Yang jelas, tubuhnya benar-benar lelah setelah seharian dipaksa menerima kenyataan bahwa hidupnya berubah total.

Dari kamar kontrakan sempit.

Ke penthouse mewah.

Dari gadis biasa.

Menjadi istri rahasia kepala keluarga Ardevar.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuatnya tersentak bangun.

Mireya langsung duduk tegak.

Napasnya tercekat.

Pandangan matanya masih sedikit buram.

“Hah…?”

Ia melihat ke kanan kiri.

Kasur empuk.

Kamar luas.

Jendela besar.

Pemandangan ibu kota.

Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.

“Oh ya ampun— rumah baru…”

Tok tok.

Ketukan terdengar lagi.

Kali ini lebih tegas.

Mireya buru-buru turun dari kasur.

Merapikan rambutnya dengan tangan.

“I-iya sebentar!”

Begitu pintu dibuka—

seorang wanita berdiri tegak di depannya.

Rambut hitam sebahu tertata rapi.

Setelan jas wanita berwarna abu gelap.

Heels rendah yang elegan.

Di tangannya ada terminal tablet hologram.

Tatapannya tajam.

Profesional.

Dan sangat berwibawa.

Mireya langsung refleks menegakkan badan.

“Eh…”

Wanita itu menatapnya dari atas ke bawah sebentar.

Bukan menghina.

Lebih seperti menilai.

Lalu ia mengulurkan tangan.

“Rhea.”

“Manager yang akan menangani Anda mulai hari ini.”

Nada suaranya datar.

Jelas.

Tidak bertele-tele.

Mireya buru-buru menjabat tangannya.

“M-Mireya…”

Rhea mengangguk tipis.

“Saya tahu.”

Kalimat itu sukses membuat Mireya sedikit kikuk.

astaga… iya juga ya…

Rhea melangkah masuk tanpa banyak basa-basi.

Pandangan matanya cepat menyapu kamar.

Lalu kembali ke Mireya.

“Robert sudah memberi saya seluruh data perpindahan kontrak.”

“Termasuk riwayat pekerjaan Anda.”

Mireya langsung menegang.

Rhea menyalakan terminalnya.

Beberapa hologram data muncul di udara.

“Debut dua tahun lalu.”

“Puncak popularitas singkat.”

“Lalu stagnan.”

“Sebagian besar pekerjaan figuran.”

Kalimatnya tajam.

Lurus.

Seperti pisau.

Namun wajah Rhea tetap profesional.

Tidak ada nada mengejek.

“Dan Anda hanya menerima dua puluh persen pembagian.”

Mireya menunduk sedikit.

Malu.

Kesal.

Semua bercampur.

Rhea mematikan hologram.

“Saya akan bicara jujur.”

Tatapannya bertemu langsung dengan Mireya.

“Saya tidak peduli Anda datang dari keluarga siapa.”

“Dan saya juga tidak peduli status Anda dengan Tuan Zevran.”

Jantung Mireya sedikit berdegup.

“Di industri ini, hasil yang berbicara.”

Sunyi sejenak.

Lalu—

Rhea melipat tangan.

“Kalau Anda tidak punya kemampuan, saya sendiri yang akan mengatakan itu langsung pada beliau.”

Wajah Mireya langsung menegang.

Namun anehnya…

ia tidak marah.

Karena dari nada Rhea, itu terdengar seperti tantangan yang adil.

Bukan hinaan.

Mireya menarik napas.

Lalu menatap balik.

“Kalau begitu…”

“Aku akan membuktikannya.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Rhea sedikit terangkat.

Hampir seperti senyum.

Bagus.

Ada api.

Itu yang ia cari.

“Selasa pagi kita mulai.”

Rhea mengetuk terminalnya.

“Saya sudah menjadwalkan tes bakat dan evaluasi kamera.”

“Gedung perusahaan tidak jauh dari sini.”

“Jam sembilan pagi.”

Mireya mengangguk cepat.

“Iya.”

Rhea menatapnya lagi.

“Dan satu hal.”

Mireya berkedip.

“Apa?”

Tatapan wanita itu sedikit melunak.

“Saya tegas.”

“Tapi saya tidak menggigit.”

Kalimat itu membuat Mireya sedikit terdiam.

Lalu tertawa kecil.

Tegangnya langsung berkurang.

Rhea memandangnya sebentar.

Dalam hati, ia mengakui satu hal.

Wajah gadis ini memang punya kamera face.

Sangat cocok.

Namun apakah bakatnya sepadan?

Hari itu akan menjawab semuanya.

...****************...

Siang itu di penthouse terasa lebih tenang dari biasanya.

Mireya sudah berpakaian rapi, rambutnya yang sedikit berantakan telah di sisir dengan perlengkapan yang dia bawa di tas, dan di tangannya sudah ada tas kecil.

Tujuannya jelas.

Pulang.

Saat ia melangkah ke ruang tengah, Bibi langsung menghampiri dengan wajah terkejut.

“Neng mau ke mana?”

Mireya berhenti sejenak.

“Ke rumah lama, Bi…”

Belum sempat Bibi bereaksi, suara datar langsung terdengar dari sisi ruangan.

“Besok saja.”

Mireya menoleh.

Rhea sudah berdiri di sana, setelan jas rapi. Mireya dan dirinya tadi mengobrol sebentar di sofa tak di sangka Mireya manager barunya belum pulang, tablet hologram di tangannya menyala pelan.

Wajahnya tenang, tapi tegas.

“Besok sekalian urus pindahan rumah sakit ibu mu, zevran yang mengantar.”

Mireya mengerjap.

“Pindahan secepat itu?”

Rhea mengangguk.

“Ibumu akan dipindahkan ke rumah sakit ibu kota besok.”

“Semua administrasi sudah selesai.”

Sunyi sebentar.

Mireya terdiam.

Cepat.

Terlalu cepat.

Seolah hidupnya bisa berpindah hanya dengan satu keputusan orang lain.

Bibi di dapur ikut kaget.

“Loh… secepat itu?”

Rhea menjawab singkat.

“Sudah diproses dari pihak Ardevar.”

Mireya menunduk sedikit, lalu mengangkat kepala lagi.

“Aku tetap mau ke rumah lama.”

Rhea menatapnya.

“Untuk apa?”

Mireya menggenggam tali tasnya.

“Rapihin.”

“Aku mau ambil barang yang penting.”

Lalu ia ragu sebentar, tapi tetap melanjutkan.

“Dan… aku nggak mau rumah itu dijual.”

Bibi langsung menatapnya sedih.

“Neng…”

Mireya menggeleng pelan.

“Aku nggak mau rumah itu hilang.”

“Bukan karena aku mau tinggal di sana lagi…”

“Tapi itu satu-satunya tempat yang masih ada kenangan mama dan ayah serta kakek nenek ku yang tiada.”

Ruang itu jadi hening.

Rhea menatapnya lama.

Bukan seperti menolak.

Tapi menilai.

Menganalisis.

Lalu akhirnya ia menghela napas kecil.

“Baik.”

Mireya sedikit terkejut.

“Baik…?”

Rhea mengetuk terminalnya sekali.

“Tapi kau tidak pergi sendiri.”

Mireya langsung menoleh.

“Hah?”

Rhea melanjutkan tanpa ekspresi berubah.

“Aku yang mengantar.”

Bibi langsung panik kecil.

“Eh, nggak merepotkan tuh, Neng?!”

Mireya buru-buru menggeleng.

“Enggak, Bi, nggak apa-apa…”

Rhea sudah melangkah duluan ke arah pintu.

“Siapkan diri.”

“Lima menit.”

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk debat.

Mireya hanya bisa mengangguk kecil.

“Iya…”

Beberapa menit kemudian.

Kendaraan terbang sederhana sudah menunggu di balkon luar penthouse.

Bukan mobil mewah seperti milik Zevran.

Lebih kecil, lebih praktis.

Rhea berdiri di samping pintu kendaraan.

“Masuk.”

Mireya ragu sejenak, lalu naik pelan.

Ini pertama kalinya ia benar-benar pergi “sendiri” ke tempat lamanya tanpa keluarga, tanpa siapa pun—hanya diantar seorang manajer baru yang bahkan belum ia kenal lama.

Rhea masuk menyusul.

Pintu tertutup.

Dan kendaraan itu melaju meninggalkan langit ibu kota.

Menuju rumah lama Mireya.

Tempat yang penuh debu, sunyi…

dan kenangan yang belum selesai.

...****************...

Kendaraan yang dikemudikan Rhea melambat begitu memasuki kawasan lama tempat tinggal Mireya.

Gedung-gedung tinggi ibu kota sudah jauh tertinggal.

Kini yang terlihat hanya deretan bangunan padat, jalan sempit, dan lorong-lorong kecil yang saling bertumpuk.

Rhea mengerutkan kening.

Tatapannya menyapu area sekitar.

“Bagaimana kita parkir?”

Nada suaranya terdengar lebih bingung daripada marah.

Matanya menatap gang sempit di depan rumah Mireya.

“Astaga…”

“Kenapa tempat sempit ini bahkan tidak memiliki parkiran yang layak untuk kendaraan terbang?”

Mireya yang duduk di sampingnya langsung menegang.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Harus jawab apa?

Di tempat seperti ini…

jangankan kendaraan pribadi.

Banyak orang bahkan masih mengandalkan transportasi umum murah.

Rhea menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.

“Baiklah, percuma aku mengeluh.”

Ia mengetuk panel kemudi.

“Kita parkir di hotel terdekat.”

Mireya langsung merasa bersalah.

“Maaf, Kak…”

Rhea melirik sekilas.

“Sudah. Jangan minta maaf untuk hal yang bukan salahmu.”

Tak lama kemudian mereka memarkir kendaraan di hotel bisnis terdekat.

Rhea melakukan check-in singkat untuk parkir dan keamanan kendaraan, lalu memesan taksi darat yang berbeda dari jalan utama untuk para VIP kaya yang suka menguasai jalanan kosong. Kali ini tujuannya jelas menuju rumah lama Mireya.

Begitu turun dari taksi di depan gang kecil itu, Rhea menatap sekeliling dengan ekspresi tak percaya.

“Sungguh… ribet.”

Nada kesalnya begitu datar sampai Mireya malah merasa makin bersalah.

“Maaf ya, Kak Rhea… jadi ngerepotin.”

Rhea mendengus kecil.

“Aku manajer mu sekarang.”

“Kalau belum siap repot, aku tidak akan datang.”

Kalimat itu membuat hati Mireya sedikit hangat.

......................

Langit sudah mulai gelap saat mereka tiba di depan rumah kecil itu.

Mireya berhenti sejenak.

Dadanya terasa sesak melihat pintu lama yang catnya mulai mengelupas.

Tangannya perlahan membuka kunci.

Klik.

Pintu terbuka.

Ruangan gelap menyambut.

Mireya langsung menyalakan lampu.

Cahaya kuning hangat menerangi rumah sederhana yang penuh kenangan.

Rhea berdiri di belakangnya, memperhatikan tanpa komentar.

“Masuk dulu, Kak…”

Mireya tersenyum kecil.

“Duduk di meja aja.”

Rhea melangkah masuk perlahan.

Tatapannya menyapu ruangan yang sempit tapi rapi.

Lalu ia mengangkat alis saat mendengar Mireya memanggilnya.

“Kak?”

Mireya menoleh.

“Hehe… aku panggil Kakak Rhea aja ya?”

“Soalnya Kakak kelihatan dewasa banget…”

Untuk pertama kalinya, Rhea terlihat sedikit terdiam.

Lalu sudut bibirnya naik tipis.

“Hm.”

“Memang umurku tiga puluh.”

Ia melipat tangan.

“Sedangkan kamu masih anak kicik.”

Mireya langsung mengerucutkan bibir.

“Eh…”

Rhea duduk di kursi kecil dekat meja.

“Mau aku bantu?”

Mireya buru-buru menggeleng.

“Enggak, Kak.”

“Kakak duduk aja di sini.”

“Biar aku yang beresin.”

Lalu mulailah Mireya sibuk membuka lemari, melipat baju, mengobrak-abrik rak kecil, dan mengambil barang seperlunya.

Sementara itu, sebagai tuan rumah dadakan, ia buru-buru menyuguhkan minuman dingin dan beberapa makanan ringan seadanya.

Rhea menatap gelas di meja, lalu menoleh ke arah Mireya yang sibuk memasukkan pakaian ke tas.

Tatapannya jatuh pada beberapa baju lama yang sudah agak usang.

“Hey.”

Mireya menoleh.

“Ngapain kamu bawa itu?”

Rhea menunjuk dress lama yang warnanya sudah memudar.

“Nanti juga suamimu—”

Ia berhenti sepersekian detik.

Lalu mengoreksi dengan nada datar.

“Tunanganmu.”

“—akan membelikan yang baru.”

“Tidak usah bawa barang yang merepotkan.”

Mireya memeluk baju itu sebentar.

Tatapannya melunak.

“Ini bukan soal baru atau lama, Kak…”

“Ini kenangan.”

Kalimat itu membuat Rhea terdiam.

Ia menatap Mireya lebih lama dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya…

ia mulai benar-benar memahami gadis ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!