Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mimpi
setelah sekian lama akhirnya novelku selesai juga, setelah sempat mandek karna aku stuck dengan ceritanya dan ada suatu hal, akhirnya aku bisa menemukan plot twist dan mengakhiri kisahnya. kali ini stuck ya bukan main, setiap kali aku mau menulis aku selalu ketriger sesuatu sampai aku enggan untuk meneruskan, lalu 2 bulan aku fokus lagi ke diriku sendiri dan bisa melanjutkan juga menyelesaikan. Akhirnya dua hari lagi novelku diterbitkan dan di perjualbelikan ke beberapa platform, aku menerbitkan di Gramedia pustaka utama... akhirnya, penerbit paling terkenal se-Indonesia, aku memilihnya karena tahun lalu novelku juga lolos untuk di terbitkan disana, dan aku mencoba lagi untuk di terbitkan disana, setelah pengiriman naskah novel, aku menunggu lumayan lama dan akhirnya novelku lolos untuk kedua kali, akhirnya novelku disetujui dan dikontrak untuk diterbitkan di Gramedia pustaka utama.
ini adalah novel ke limaku " secangkir kopi sebelum pergi " judulnya, kali ini cerita kehidupan yang mengenaskan seorang pria yang tetap memilih sendiri sampai akhir hayatnya, ia memilih sendiri sampai mati demi menjaga cinta yang masih utuh untuk kekasihnya dulu... Novel novelku semua romance padahal aku tidak punya pengalaman apapun tentang cinta, tapi aku tau rasanya rindu dan di cintai dari keluargaku.
Nanti sore aku mau pergi ke jakarta untuk melihat final edit naskah dan cover secara langsung sebelum terbit, sebenarnya bisa daring tapi aku ingin melihat langsung. bagi penulis ini bukan hanya sekedar menerbitkan karya tapi seperti anak yang di lahirkan sendiri. kali ini aku tidak memilih jadwal kereta malam karena aku tidak berani lagi perjalanan malam, selain karna aku pernah jatuh, kali ini juga sudah tidak ada yang mengantar lagi.
...Selasa 15.45 wib...
" Abah, ibu leea berangkat ya " pamitku dengan mencium tangan mereka
" hati-hati ya mbak leea, jangan lama-lama di jakarta " ucap ibu sedih
" cuma 3 hari bu... setelah itu aleea langsung pulang " jawabku menenangkan
Aku berangkat sendiri.... Melewati jalanan malang yang ramai, entah kenapa hari ini malang yang sejuk berubah sangat panas, aku mengendarai pelan motorku sampai ke stasiun.
di dalam kereta aku tidak bisa tidur, aku hanya merenung dan menatap jendela melihat pemandangan sore dan matahari tenggelam dari jendela kecil ini. Langitnya bewarna jingga merona, pemandangan yang terus berganti seiring jalannya kereta namun pemandangan Matahari tenggelam di langit jingga di belakangnya itu tetap sama. Aku memikirkan sesuatu yang tidak ada di depanku, tapi alurnya sama dengan pemandangan dan langit itu, seperti aku... tapi tidak bisa di jelaskan seperti pemandangan itu. Aku hanya bisa menghela nafas kasar, bukan kesal... hanya seperti mengeluarkan rasa yang tidak bisa di jelaskan. Entah apa itu...
Aku memasangkan earphone di telingaku, aku hendak membuat suasana sedikit damai dengan melihat pemandangan malam, tak banyak yang bisa dilihat perjalanan malam hari, lalu aku berinisiatif menghabiskan perjalanan ini dengan tidur saja, kurapatkan jaketku dan kurapikan lagi selimut yang menutup setengah badanku, kututup sebagian wajahku dengan tudung jaketku, akan aku buat tidur senyenyak mungkin karna sampai jakarta masih nanti subuh.
...Rabu 04.30 wib...
Kereta berhenti di pemberhentianku, jakarta, jakarta di subuh hari sudah cukup ramai, aku sudah pesan grab car sebelum turun dari kereta, jadi aku tidak perlu menunggu, mobilnya sudah ada di depan stasiun, hotel juga sudah kupesan kemaren jadi aku tidak harus menunggu kamar di siapkan.
what's up...
(aku ) 04.35 : "ibu... Aleea sudah sampai jakarta " kabarku ke ibu...
setelah di hotel aku langsung bergegas mandi untuk melaksanakan sholat subuh, setelah itu aku berbaring lagi untuk tidur karna masih nanti siang untuk bertemu editor dan melihat bukuku. jadi aku masih punya banyak waktu, lalu aku tertidur lagi... Aku mau mengumpulkan energiku karna aku juga mau berbelanja sesuatu untuk aylin nanti.
******
aku sedang diam di pinggir danau, menikmati pagi, menyaksikan matahari terbit yang hangat, kumainkan air, melepaskan beberapa perahu kertas kecil dan melihatnya tenggelam setelah itu.
" kenapa sendirian mbak " ucap tiba-tiba seorang laki-laki.
aku menoleh ke arahnya, seorang laki-laki yang tinggi tegap, siapa lagi.....
" kenapa kamu disini " ucapku sambil berdiri
" iya... Saya pulang karna ingin melihat mbak leea tapi setelah ini saya pergi lagi " ucapnya sambil tersenyum ke arahku
" kenapa pulang kalau memang akan pergi lagi " ucapku memalingkan wajah ke arah lain, dia tidak menjawab apapun
" jangan kembali sampai kamu benar-benar tidak akan pergi lagi... Jangan buat perasaan aneh apapun, karna itu menyulitkanku, jika kamu pulang ke tanah air dari liburanmu jangan temui aku " ucapku melangkah pergi, menjauh darinya yang tetap berdiri di tepi danau itu. sebenarnya ada rasa seperti lega tapi tidak benar-benar puas, Kenapa dia datang kalau dia bisa mengucapkan selamat tinggal seenaknya, memangnya sepenting apa dia.
" SAYA JANJI UNTUK PULANG SECEPATNYA " teriaknya setelah aku sudah cukup jauh melangkah darinnya, kali ini aku melambaikan tanganku tanpa menoleh kearahnya, seperti tanda setuju dan ucapan sampai jumpa untuk waktu kita nanti bertemu.
*******
Tling... Tling.... Tling..... (alarm berbunyi )
Aku membuka mataku, meraba kasur dan mematikan alarm di handphone, ku lihat di layar handphoneku masih jam setengah sebelas, jadi aku bersiap untuk pergi sebentar lagi dan mencari makan sebelum ke penerbit, lalu aku diam sebentar memastikan sesuatu, dan aku sadar kalau ingatan saat di danau itu adalah sekedar mimpi, pantas saja, tidak mungkin dia di sini tiba-tiba, tapi sepertinya aku benar-benar menemui sosoknya barusan bahkan baunya sempat tercium di hidungku, mimpinya terlalu nyata untuk di tepis tapi juga terlalu halu untuk disebut nyata, dia disana, di belahan dunia yang lain, kita berjarak 13.400 kilometer jauhnya, tidak mungkin aroma tubuhnya tercium disini, konyol sekali.
Aku tidak tau Maroko seperti apa, entah seberapa beda suasananya dengan Mesir, tapi bagaimanapun suasananya aku harap dia baik-baik saja dan fokus dengan pendidikannya, semoga dia tidak merasakan perasaan aneh sepertiku karena itu benar-benar bisa menyulitkannya dan mengganggunya.
Aku melihat layar ponsel yang menampilkan peta dunia, menelusuri jarak ribuan kilometer antara tempatku berpijak dan tanah Afrika Utara itu.
" bagaimana kabarnya " gumamku
semoga perasaan aneh ini hanya milikku, hanya untukku, dia masih muda, sayang jika perasaan aneh yang kumiliki juga dimilikinya.
" sampai jumpa di titik 0 kg " gumamku lagi, lalu aku beranjak dan bergegas, aku sudah cukup lama melamun
jam 12.45 wib Jakarta pusat
Aku sampai di penerbit, aku bertemu editor bukuku, kita berbincang asyik, ternyata banyak hal baru yang baru aku tau di dunia buku ini, sepertinya aku harus lebih bergaul lagi, bukan hanya aylin tapi aku butuh banyak orang lagi untuk aku bisa terus berkembang lagi.