Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Lin Xia tidak sanggup lagi berdiri di sana sedetik pun, dia berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus hutan bambu sambil menangis tersedu-sedu. Dua temannya saling berpandangan dengan wajah pias, lalu ikut berlari menyusul gadis itu tanpa berani menatap wajah Li Zhen.
Li Zhen tertawa kecil, merasa perutnya sedikit lebih nyaman setelah melihat orang sombong menangis tersedu. Dia melanjutkan perjalanannya yang tidak memiliki tujuan pasti, kakinya melangkah santai menyusuri tebing.
Jalan setapak tanah merah itu perlahan berubah menjadi jalan berbatu pualam yang tertata sangat rapi. Ini menandakan bahwa dia mulai memasuki area fasilitas umum Sekte Teratai Angin yang lebih layak.
Bangunan-bangunan kayu dengan atap melengkung khas arsitektur kuno mulai bermunculan di sepanjang jalan. Lampion-lampion kertas berwarna merah tergantung di setiap sudut bangunan, memancarkan cahaya redup menyambut datangnya malam.
Beberapa murid berlalu-lalang dengan terburu-buru, membawa tumpukan buku kuno atau sekotak pil obat. Tidak ada satu pun dari mereka yang mempedulikan Li Zhen, seolah pemuda berpakaian compang-camping itu hanyalah hantu tak kasat mata.
Li Zhen menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan raksasa yang mengeluarkan aroma kaldu daging yang sangat tajam. Asap putih mengepul dari cerobong atapnya, menari-nari di udara sebelum menghilang tertiup angin malam.
Sebuah papan kayu mahoni berukir tinta emas tergantung di atas pintu masuk yang terbuka lebar. Papan itu bertuliskan 'Aula Makan Murid Luar', sebuah tempat yang saat ini terlihat seperti surga bagi Li Zhen.
Dia melangkah masuk ke dalam aula yang sangat luas tersebut, matanya menyapu ratusan meja kayu bundar yang tertata rapi. Aula itu sangat bising, dipenuhi oleh suara obrolan ratusan murid luar yang sedang menyantap makan malam mereka.
Namun, langkah Li Zhen terhenti di area pembagian jatah makanan yang dijaga ketat oleh seorang pria gemuk berkumis melintang. Pria itu adalah Pengawas Wang, seorang pelayan senior yang terkenal sangat korup dan suka menindas murid miskin.
Pengawas Wang duduk santai di kursi malasnya, memegang sebuah sempoa kayu sambil mengunyah biji kuaci dengan berisik. Seragam sutra birunya tampak sangat sempit di bagian perut, seolah kancing bajunya siap meledak kapan saja.
Li Zhen berjalan mendekati meja pembagian makanan, perutnya kembali berbunyi sangat nyaring saat mencium aroma daging di dalam kuali raksasa. Dia mengetuk meja kayu di depan Pengawas Wang dengan jarinya, mencoba menarik perhatian pria gemuk tersebut.
"Satu mangkuk nasi dan semangkuk daging, cepatlah sebelum perutku memakan organ tubuhku yang lain," pinta Li Zhen dengan nada yang sama sekali tidak sopan.
Pengawas Wang berhenti mengunyah kuaci, melirik Li Zhen dari sudut matanya dengan tatapan meremehkan. Dia meludahkan kulit kuaci tepat di depan sepatu bolong Li Zhen, wajahnya menunjukkan ekspresi muak yang sangat kental.
"Jatah makanan untuk murid tanpa kultivasi sudah habis sejak siang tadi," jawab Pengawas Wang dengan suara serak dan arogan. "Jika kau ingin makan, pergilah ke belakang dapur dan kaislah sisa tulang di tempat pembuangan sampah."
Li Zhen menyipitkan matanya, rahangnya mengeras menahan emosi mendengar hinaan yang sangat terang-terangan tersebut. Tangan kirinya terkepal kuat di balik lengan jubah, sementara tangan kanannya masih bersandar di atas meja kayu.
Sistem di kepalanya kembali merespons kemarahan inangnya, langsung memunculkan layar merah tepat di atas kepala Pengawas Wang yang botak.
[Target: Pengawas Wang. Kelemahan Mental: Secara diam-diam memotong dana makan murid luar untuk membeli perhiasan giok palsu demi menggoda seorang janda penjual arak di desa bawah gunung, namun janda itu menolaknya karena dia bau badan.]
Senyuman iblis perlahan mengembang di bibir Li Zhen, matanya berkilat tajam layaknya seorang pemburu yang menemukan mangsa empuk. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Pengawas Wang yang sedang memutar bola mata.
"Apakah kau yakin makanannya sudah habis, Pengawas Wang?" tanya Li Zhen dengan nada pelan namun mengandung bisa yang mematikan. Dia menatap lurus ke dalam mata pria gemuk itu, membuat Pengawas Wang tiba-tiba merasa hawa dingin merayap di punggungnya.
Pengawas Wang menegakkan duduknya, membusungkan dadanya yang berlemak untuk mengintimidasi pemuda kurus di depannya. "Apa kau tuli? Aku bilang habis ya habis, pergi dari sini sebelum aku memanggil penjaga penegak hukum!" bentaknya keras.
Beberapa murid yang sedang makan di meja terdekat mulai menoleh ke arah mereka, tertarik dengan keributan kecil tersebut. Mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Li Zhen, menebak berapa lama lagi pemuda sampah itu akan dipukuli hingga pingsan.
Li Zhen tidak mempedulikan bisikan di sekitarnya, dia malah tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia menghela napas panjang, menatap Pengawas Wang dengan tatapan penuh rasa iba yang berhasil mengaduk-aduk emosi sang pengawas.
"Aku hanya berpikir, alangkah baiknya jika dana makanan kami yang kau potong itu benar-benar membuahkan hasil," ucap Li Zhen santai. Suaranya tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat telinga Pengawas Wang berdenging tajam.
Pengawas Wang mematung seketika, tangannya yang memegang sempoa bergetar pelan. Matanya melebar penuh kepanikan, namun dia berusaha keras menyembunyikannya di balik ekspresi marah yang dipaksakan.
"Jangan sembarangan menuduh, bocah tengik! Mulutmu itu mencari mati!" raungnya dengan wajah memerah, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara nyaring.
Li Zhen melipat tangannya di dada, senyumnya semakin melebar menjadi sebuah seringai yang mengerikan. Dia melangkah menyamping, berjalan pelan mengelilingi meja pembagian makanan layaknya seekor harimau yang sedang mengitari mangsanya.
"Menuduh? Aku tidak menuduh," kata Li Zhen sambil menunjuk ke arah cincin giok besar di jari manis Pengawas Wang. "Aku hanya mengagumi keberanianmu membeli giok palsu murahan dengan uang hasil korupsi beras sekte."
Kerumunan murid di sekitar mereka tiba-tiba menjadi hening, suara dentingan sumpit dan mangkuk berhenti secara serempak. Semua pasang mata kini tertuju pada cincin hijau mencolok di tangan pria gemuk tersebut.
Keringat dingin seukuran biji jagung mulai bermunculan di dahi Pengawas Wang yang lebar. Dia buru-buru menyembunyikan tangannya di bawah meja, napasnya memburu cepat karena jantungnya berdetak tidak karuan.
"Dan yang lebih menyedihkan lagi," lanjut Li Zhen tanpa ampun, suaranya kini sengaja dikeraskan agar seisi aula bisa mendengarnya. "Kau sudah merampok jatah makan kami demi membeli giok palsu itu, tapi Janda Mei di desa bawah gunung tetap menolak cintamu."
Wajah Pengawas Wang berubah dari merah padam menjadi ungu gelap seolah ada yang mencekik lehernya dengan kuat. Kakinya lemas tak bertulang, membuatnya jatuh terduduk kembali ke kursi malasnya dengan suara debuk yang keras.
"Dia menolakmu bukan karena giokmu palsu," tambah Li Zhen memberikan pukulan terakhir pada mental pria itu. "Dia menolakmu karena bau badanmu lebih menyengat daripada kotoran babi yang berjemur di bawah terik matahari siang."
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Pengawas Wang berkeping-keping tanpa sisa. Rahasia penggelapan dana dan kisah cinta tragisnya yang memalukan kini menjadi konsumsi publik ratusan murid sekte.
Dao Heart sang pengawas meledak dari dalam, aliran qi di tubuh gemuknya berbalik menyerang jantungnya secara brutal. Dia mencengkeram dadanya sendiri, mulutnya terbuka lebar memuntahkan darah segar yang membasahi meja kayu di depannya.
Pengawas Wang jatuh pingsan hingga terguling dari kursinya, tubuh gemuknya menabrak lantai batu pualam dengan suara berdebum yang mengguncang ruangan. Beberapa murid menjerit kaget, mundur menjauhi tubuh pria korup yang kini terkapar tidak berdaya itu.
[Ding! Target Pengawas Wang mengalami kehancuran Dao Heart total. Mendapatkan +1200 Poin Sampah.]
Li Zhen tersenyum puas melihat notifikasi poin dalam jumlah besar yang masuk ke sistemnya. Dia melangkah melewati tubuh Pengawas Wang yang tergeletak pingsan, berjalan santai menuju kuali raksasa di belakang meja.
Tidak ada satu pun pelayan dapur atau murid yang berani menghentikan langkah pemuda berpakaian compang-camping tersebut. Mereka menatap Li Zhen dengan pandangan penuh teror, seolah pemuda tanpa kekuatan kultivasi itu adalah iblis pembantai dari neraka.
Li Zhen mengambil sebuah mangkuk keramik bersih, lalu mencedok nasi putih hangat dan potongan daging berlimpah ke dalamnya. Dia mencium aroma makanannya sesaat, perutnya kembali berbunyi girang menyambut pesta kecil ini.
Dia berjalan santai keluar dari Aula Makan Murid Luar tanpa menoleh sedikit pun ke arah keributan di belakangnya. Suasana malam di luar aula terasa semakin dingin, namun Li Zhen merasa sangat hangat karena perutnya yang akan segera terisi.
Dia melangkah menyusuri jalan setapak berbatu, berjalan berputar-putar mencari tempat yang sepi untuk menikmati makan malamnya. Sesekali dia berhenti untuk mengkritik bentuk daun pohon spiritual yang menurutnya sangat tidak simetris dan merusak pemandangan matanya.
Langkahnya tanpa sadar membawanya semakin jauh ke arah gunung belakang sekte yang terlarang bagi murid luar. Area itu dipenuhi oleh kabut mistis yang lebih pekat, menyembunyikan rahasia besar tentang kebun sayur spiritual dan peternakan hewan berharga sekte.
Li Zhen duduk di atas sebuah batu pipih di pinggir jalan yang sepi, menyuapkan nasi dan daging ke dalam mulutnya dengan rakus. Namun, begitu dia mengunyah daging tersebut, alisnya berkerut tajam dan dia langsung meludahkan makanannya ke tanah.
"Daging apa ini? Teksturnya seperti karet ban dan rasanya seperti kardus basah yang direbus dengan garam laut!" omelnya kesal sambil menatap mangkuknya dengan jijik. Dia melempar mangkuk keramik itu ke semak-semak, membuang makanannya begitu saja karena seleranya sangat tinggi.
Perutnya masih terasa lapar, menuntut makanan yang lebih layak untuk dikonsumsi oleh manusia beradab. Li Zhen bangkit berdiri, menatap jalan setapak yang menanjak membelah kabut tebal ke arah gunung belakang yang penuh misteri.
"Jika tempat makan resmi sekte rasanya seperti sampah, aku harus mencari bahan makanan sendiri malam ini," gumamnya dengan tekad bulat. Dia menepuk debu dari jubahnya, lalu mulai mendaki jalan setapak itu dengan langkah mantap.
Angin malam kembali berhembus, membawa sayup-sayup suara burung aneh dari balik kabut tebal di depannya. Benua Awan Surgawi tidak akan pernah damai malam ini, karena pemuda dengan mulut paling berbisa sedang bergerak mencari mangsa berikutnya.