Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 - MHB
Maya tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan surat instruksi internal pradipta Group itu terus menari-nari, menguliti setiap memori manis seminggu terakhir menjadi potongan-potongan kepalsuan yang mengerikan. Didorong oleh rasa sesak yang tak tertahankan, Maya kembali keluar dari kamarnya.
Arka masih di sana, di depan laptopnya. Namun, begitu mendengar langkah kaki Maya, ia langsung mendongak.
"Kamu belum tidur?" tanya Arka pelan, suaranya parau karena kelelahan.
Maya tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia berjalan mendekati meja makan, lalu melempar amplop cokelat besar yang dibawanya dari rumah sang ayah ke atas permukaan marmer. Bunyi debukan tebal berkas itu memecah keheningan ruangan.
Arka melirik amplop itu, lalu menatap Maya dengan kening berkerut. "Apa ini?"
"Instruksi dari ayahmu," suara Maya bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya agar terdengar dingin. "Surat perintah satu bulan sebelum pernikahan kita disepakati. Isinya sangat jelas, Arka. Kamu disuruh masuk ke hidupku, mengamankan aset digital perusahaan Clarissa, dan memastikan proyek Neo-Industrial jatuh ke tangan pradipta Group secara tidak langsung."
Arka terpaku. Tangannya yang semula berada di atas keyboard perlahan turun.
"Dan surat kaleng di dalamnya..." Maya tertawa sumbang, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai merebak. "Keluarga kita diperas oleh pihak ketiga yang tahu kalau pernikahan ini cuma transaksi ilegal untuk menutupi manipulasi keuangan masa lalu papaku. Jadi, katakan padaku, Arka... semua yang kamu lakukan seminggu ini, pengakuan cintamu di atap gedung tua, aksi pahlawanmu di kampus, bahkan... ciuman semalam. Berapa persen dari semua itu yang merupakan bagian dari misimu?"
Bagi Maya, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang paling rasional. Sepanjang hidupnya, ia diajar untuk melihat dunia lewat angka, kontrak, dan motif. Mantan pacarnya, Adrian, mendekatinya karena status. Ayahnya menjodohkannya karena utang budi dan ketakutan akan penjara. Jadi, ketika melihat dokumen itu, otak korporat Maya langsung menyusun kesimpulan: Arka pun sama. Dia hanya bidak yang dikirim oleh penguasa pradipta Group.
Namun, bagi Arka, tuduhan itu terasa seperti sebuah pisau yang menghantam tepat di dadanya yang telanjang.
Arka perlahan berdiri dari kursinya. Seringai nakal, tatapan penuh percaya diri, dan aura "Baby Tiger" yang biasanya mendominasi ruangan mendadak runtuh. Wajahnya memucat. Ia menatap Maya bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kekecewaan yang teramat dalam.
Pria mana yang tidak hancur ketika seluruh pengorbanan dan cinta tulusnya direndahkan menjadi sekadar strategi bisnis?
"Jadi..." Arka bersuara, nadanya sangat rendah, hampir seperti bisikan yang pecah. "Setelah semua yang kita lewati, setelah aku menyerahkan seluruh waktuku untuk menjagamu, mengurus server kantormu, dan berdiri di depan orang-orang yang menghinamu... di matamu, aku masih cuma bajingan yang sedang menjalankan tugas perusahaan?"
"Lalu aku harus percaya apa, Arka?!" pekik Maya, pertahanannya runtuh. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. "Buktinya ada di depan matamu! Hitam di atas putih! Ayahmu memerintahkanmu masuk ke sini untuk mengamankan aset digital kami. Dan apa yang kamu lakukan seminggu ini? Kamu meretas server Surabaya, kamu mengambil alih sistem keamanan kami. Semuanya cocok, Arka! Kamu melakukan persis seperti apa yang diperintahkan ayahmu!"
Arka melangkah mendekat, namun tidak dengan gerakan posesif seperti biasanya. Langkahnya terasa berat, seolah-olah ia membawa beban yang sangat besar di pundaknya. Ia berhenti tepat di seberang meja marmer, menatap dokumen-dokumen itu, lalu beralih menatap mata Maya yang sembab.
"Aku memang tahu tentang surat perintah Papa," ucap Arka jujur. Pengakuan itu membuat Maya menahan napas, merasa dugaannya benar. "Tapi ada satu hal yang tidak ada di dalam dokumen itu, Maya."
Arka menunjuk dadanya sendiri dengan jari gemetar. "Papa bisa menyuruhku masuk ke apartemen ini, Papa bisa menyuruhku mengawasi proyek Neo-Industrial. Tapi Papa tidak bisa menyuruh jantungku berdetak dua kali lebih cepat setiap kali melihatmu tersenyum. Papa tidak bisa menyuruhku begadang semalaman hanya karena aku takut istriku stres memikirkan pekerjaannya!"
Napas Arka memburu, matanya mulai memerah, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Kamu pikir aku meretas server Surabaya karena perintah Papa? Aku melakukannya karena aku mendengar perempuan-perempuan di pantry itu merendahkanmu dan merendahkanku! Aku ingin membuktikan kalau aku layak berdiri di sampingmu, Maya! Bukan sebagai anak magang, bukan sebagai anak pradipta, tapi sebagai suamimu!"
Arka mencengkeram pinggiran meja, tubuhnya bergetar. "Aku menolak bayaran dari proyek-proyek besarku selama bertahun-tahun karena aku tidak butuh uang Papa. Aku mengambil uang proyek siber kemarin hanya karena aku ingin membelikanmu gelang itu dengan uangku sendiri! Uang dari keringatku! Tapi hari ini... kamu melihat gelang di tanganmu itu sebagai alat transaksi bisnis?"
Maya tertegun. Kalimat Arka menghantamnya telak. Ia melihat ke arah pergelangan tangannya. Gelang emas putih itu berkilau di bawah lampu dapur, terasa begitu dingin sekaligus menyakitkan.
"Aku terluka, Maya," bisik Arka, suaranya mendadak melemah, kehilangan seluruh energinya. "Aku sangat terluka karena ternyata, sedalam apa pun aku mencoba masuk ke hidupmu, kamu tidak pernah benar-benar membuka pintunya. Kamu selalu memandangku dari atas, sebagai wanita dewasa yang paling tahu segalanya, sementara aku cuma anak kuliahan yang gampang memanipulasi perasaan."
Maya mematung di tempatnya. Logika korporat yang tadi ia agungkan mendadak terasa tumpul. Ia melihat Arka—pria yang semalam menciumnya dengan begitu penuh perasaan—kini menatapnya dengan pandangan yang begitu asing. Pandangan orang yang telah menyerah karena merasa tidak dihargai.
"Arka, aku..." Maya mencoba bersuara, namun tenggorokannya mendadak kering.
"Surat kaleng itu," Arka memotong pelan, sambil melirik layar laptopnya yang masih menyala. "Aku sudah tahu sejak tiga hari lalu. Dan kalau kamu mau tahu apa yang sedang kukerjakan semalaman sampai mataku merah begini... aku sedang melacak IP address pemeras itu. Aku sedang menghancurkan jaringan mereka agar rahasia papamu tidak terbongkar, agar perusahaanmu tidak hancur, dan agar kamu tidak perlu menangis."
Arka menutup laptopnya dengan suara klik yang pelan namun terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi kebersamaan mereka malam itu.
"Tapi kurasa, aku tidak perlu repot-repot lagi. Karena bagimu, semua yang kulakukan selalu punya motif licik." Arka membalikkan badannya, berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
"Arka, tunggu!" panggil Maya, langkahnya hendak mengejar. Namun, ego dan rasa syoknya membuat kakinya terpaku di lantai dapur.
Suara klik. Pintu kamar Arka tertutup. Tidak ada bantingan keras, hanya suara kunci yang berputar dengan sangat pelan. Kesunyian yang absolut kembali menguasai apartemen lantai 28.
Maya merosot duduk di kursi dapur, menatap tumpukan kertas di atas meja dengan pandangan kosong. Air matanya terus mengalir, namun kali ini bukan karena rasa dikhianati oleh Arka, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar. Ia baru menyadari bahwa dalam upayanya melindungi diri dari rasa sakit, ia justru telah menghancurkan hati satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Bersambung.....
makasih banyak atas karya nya.... yang super duper kerennnn
di tunggu boncapt nyaaa 🙏🙏😍😍😍
terimakas🙏h neng otor....
pasti capek menghadapi keegoisan maya....
tinggalen ae ka...
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊