Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
"Senior?!"
"Hai."
"K-kau?"
Mark tidak menyerah juga.
"Kenapa dia mengejarku terus?"
"Kenapa?"
"Tidak ada."
Balasku kesal.
"Siapa namamu?"
"Kenapa kau selalu mendekatiku si?!"
"Kenapa kau selalu menjauhiku?"
Aku menambah kecepatan menggoes sepedaku. Namun Mark kembali berada disampingku.
"Apa maumu?!"
Tanyaku makin kesal.
"Siapa namamu?"
"Senior, apa tidak ada yang pernah bilang padamu kalau sikapmu yang seperti ini terlalu mengganggu?!"
"Sayangnya aku hanya seperti ini padamu. Jadi hanya kamu yang bilang seperti itu."
"Kau menyebalkan!"
"Aku hanya ingin tahu siapa namamu."
"Kau kan sudah tahu! Bahkan satu sekolah sudah tahu namaku karena ulah penggemar fanatikmu itu. Justru aneh kalau kamu menanyakan ini padaku."
"Aku hanya ingin perkenalan yang normal saja."
"Menurutmu hal seperti ini disebut perkenalan yang normal?! Kau mengejarku dan itu mengganggu."
"Aku tidak mengejar. Aku sedang berangkat sekolah ke sekolah yang sama denganmu."
Aku terdiam malu. Apa yang dia ucapkan memang ada benarnya juga. Aku pun mengabaikannya sepanjang perjalanan. Saat aku dan Mark sampai di parkiran. Aku kembali merasakan aura jahat itu kembali. Aku melihat ke area sekeliling sekolah. Bayangan hitam mulai berterbangan kesana kemari. Aura yang keluar dari tubuh Mark pun kini berbeda dari hari kemarin.
"Carmila."
Ucapku tiba-tiba.
"Carmila?"
"Namaku. Mila. Carmila."
"Mila ya.."
Aura jahat semakin kuat kurasakan ketika aku hendak meninggalkan parkiran. Awalnya aku ingin menyuruh Mark untuk menjauhiku. Tapi aku tidak bisa menutup mata soal aura kematian yang aku rasakan ini. Aku menghentikan langkahku.
"Ada apa?"
"Senior, apa kau sering melamun akhir-akhir ini?"
"Ya, melamunkan dirimu."
Godanya.
"Aku serius!"
"Aku juga serius, Mila."
"Berhenti melamun mulai sekarang!"
"Jika kau berhenti menjauhiku, mungkin aku akan jadi penurut."
Samar-samar aku mendengar mereka mengucapkan sesuatu.
"Mati! Mati! Mati!"
"Ada apa?"
Tanyanya padaku memecahkan keheningan.
"Aku tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti ini lagi. Tapi.. Aura kematian yang ada disekolah ini... akan membahayakan murid yang lain termasuk aku jika dibiarkan."
"Mila?" Panggilnya lagi.
Aku mengambil benda suci didalam tasku.
"Senior Mark, berikan tangan kananmu padaku."
Tanpa ragu dia memberikan tangannya. Aku pun mengikatkan gelang suci yang biasa aku buat di malam hari untuk berjaga-jaga. Aku memang sedikit mempelajari ini. Dari buku rahasia ibu yang ia tinggalkan.
"Apa ini?"
"Pakai saja. Jangan pernah di lepas jika senior tidak mau mati."
"Oh ini hadiah perkenalanmu?"
"Dengar, jangan pernah lepaskan gelang ini ketika senior berada didalam sekolah"
"Kenapa?"
"Senior Mark, kamu terlalu banyak bertanya! Dengarkan saja! Kau bilang akan jadi penurut?"
Ucapku lalu meninggalkannya.
Aku berharap gelang itu dapat melindunginya untuk sementara waktu. Selama pelajaran berlangsung, pikiranku benar-benar tidak tenang. Kata-kata roh itu terus terngiang di telingaku. Aku melihat ke arah gedung kelas 3 dari jendela. Bayangan hitam yang berkumpul semakin terlihat jelas. Perkataan roh yang selama ini aku lamunkan kini terdengar sangat jelas. Telingaku berdenging. Cairan merah mengalir dari hidungku. Aku mengambil tisu yang ada di bawah mejaku lalu menyekanya.
"Darah!!"
"Senior Mark..."
Gumamku ditengah pelajaran berlangsung.
Aku menoleh kembali ke arah luar jendela. Kumpulan bayangan hitam itu menghilang. Perasaanku mulai tidak tenang. Aku berlari keluar untuk mengecek dugaanku. Bayangan hitam itu kini berpindah di atap gedung olahraga. Ada sesuatu yang terlihat di atap gedung itu. Aku menyipitkan mataku. Aku melihat seorang pria tengah berjalan diatap gedung olahraga yang tanpa pembatas itu. Dia melompat.
"Senior Mark!"
Teriakku dan membuat semua orang terkejut. Ternyata hanya mimpi.
"Wanita jalang!!"
Ucap Jina kesalnya bukan main.
"Bisa-bisanya dia meneriaki nama Mark ditengah-tengah jam pelajaran!"
Lanjutnya lagi.
"Kau tertidur di jam pelajaranku?"
Saat itu jam pelajaran Tuan Josep.
Aku merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungku. Spontan aku menyekanya tanpa tisu.
"Pak Josep! Hidungnya berdarah!"
Teriak salah satu murid di kelasku.
"Senior Mark dalam bahaya!"
Aku berlari keluar menuju tempat yang ada di dalam mimpiku tanpa memperdulikan situasi di kelas saat ini. Jantungku berdetak cepat. Perasaan ini benar-benar membuatku takut. Aura kematian benar-benar semakin jelas aku rasakan. Suara roh-roh itu juga mulai menggema di telingaku. Aku tidak menyadari, saat aku berlari ternyata Tuan Josep ikut mengejarku keluar bersama penggemar fanatiknya Mark. Saat sampai ke gedung olahraga, gedung itu terkunci.
"Pak Josep, kunci.. Mana kuncinya?!"
Aku mulai panik.
"Ada apa sebenarnya ini Mila?"
Tuan Josep hanya bertanya bingung.
Aku berlari menjauhi gedung itu untuk melihat atap gedung dari jauh. Sesuatu terlihat. Mimpiku... Sepertinya menjadi kenyataan.
Pak Josep dan murid yang mengikutiku melihat hal yang sama seperti apa yang aku lihat. Suasana mulai tak terkendali. Murid-murid yang ada di dalam kelas lain dekat gedung olahraga menyadari kami yang ada di luar dan mulai menonton dari kaca jendela. Pak Josep yang melihat seseorang berjalan di atas gedung olahraga langsung berlari mengambil kunci gedung itu untuk membukanya. Roh-roh itu mulai merasuki tubuh Mark.