Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Nayla kembali memperoleh kesadarannya, ia merasa aneh dengan keadaan sekitar. Seketika ia membuka mata, dan terkejut ketika mendapati dirinya sedang berbaring disebuah tempat tidur.
Cepat Nayla bangun, kini ia lebih kaget lagi ketika mendapati kenyataan bahwa ia berada di kamar Hotel yang pernah memberikan kenangan buruk beberapa Minggu lalu.
Ya, Nayla ingat betul kamar itu, meski ia hanya melihatnya sekilas. Korden warna cream yang ada di sana serta perabotan yang ada di dalamnya sama persis dengan yang ia lihat malam itu. Rasa takut menyusup ke dalam hatinya membuat jantungnya berdegup kencang.
Belum selesai dengan rasa terkejutnya, ketika telinga Nayla mendengar suara seseorang,
"Halo cantik!"
Sapa seorang pria yang tiba-tiba sudah bersandar disebuah tiang sebelah kiri TV LED, yang terpasang di kamar itu. Entah sudah sejak kapan pria itu ada disana Nayla juga tidak tahu.
Itu pria yang sama. Pria yang ia temui ketika ia terbangun pagi itu, dan kini, pria itu ada di sana, di kamar yang sama. Membuat Nayla semakin bingung dengan kejadian yang barusan ia alami.
Pria dengan bathrobe berwarna maroon itu berjalan mendekatinya, lalu menyentuh dagu Nayla.
"Apa kabar sayang? Apakah kamu merindukan aku selama ini?" tanyanya dengan mesra yang membuat Nayla merasa jijik seketika.
Dengan cepat ia menepis tangan cowok itu kasar, "Siapa kamu?Jangan kurang ajar ya?!" sarkas nya.
Pria itu mengeluarkan senyuman devil miliknya, "Kamu tidak sedang pura-pura lupa kan? Tidak mungkin kamu lupa dengan aku begitu saja, bahkan malam itu kamu sendiri sudah berjanji tidak akan pernah melupakan aku, lalu kenapa sekarang kamu bertanya, apakah kamu tidak ingat kalau aku adalah pria yang telah kamu perkosa malam itu?" ujarnya sambil menyeringai.
Tentu saja Nayla tidak lupa. Pria itu yang telah memperkosanya, merampas keperawannya. Pria gila itu, Nayla tidak akan melupakannya begitu saja. Meski begitu, ia enggan untuk memberi tahu pria brengsek yang kini ada di dekatnya, karena Nayla tidak mau mengingat kejadian buruk kala itu yang dengan susah payah sudah ia lupakan.
"Apa mau mu? KENAPA AKU ADA DISINI?!" teriak Nayla kencang, marah bercampur emosi juga takut dan sedih semua menjadi satu.
"Apa lagi? Tentu saja kita akan bersenang-senang," jawab dengan santai.
"Kamu gila ya?" Sarkas Nayla.
"Kamu yang gila, pel*cur murahan," Kata Pria itu, kemudian menjambak rambutnya kebelakang, membuat Nayla mendongak menatap wajah pria itu sambil meringis menahan sakit pada bagian kepalanya, "Kamu pikir, kamu bisa pergi begitu saja setelah bermain-main dengan ku? Disini aku bosnya dan aku yang berhak menentukan apakah kamu boleh pergi atau tidak!" Ujarnya sambil melepaskan jambakkan itu dan mendorong kepala Nayla menjadi jenggungan kuat.
"Kamu!"
Nayla emosi setengah mati yang membuat dadanya naik turun, nafasnya memburu tak karuan. Belum pernah ia diperlakukan seburuk ini dan sekasar ini,
"Kamu pikir siapa dirimu bisa memperlakukan aku seperti ini, hah?!" Teriaknya Sarkas.
"Siapa aku itu tidak penting, yang jelas aku berhak atas kamu."
"Hah," Nayla terkejut bukan main, reflek dia membuka mulutnya, saking tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Benar-benar pria sinting. Percuma saja ganteng kalau sableng, guman nya dalam hati.
"Minta maaf!" Ujar pria itu lagi padanya yang membuat Nayla tambah bingung.
Kenapa ia harus minta maaf ke pria itu, bukankah dia yang sudah menyakitinya begini.
"Kenapa harus aku yang minta maaf? jelas-jelas kamu yang sudah menyakiti ku dan memperkosa ku? Kamu yang seharusnya yang minta maaf dan bertanggung jawab atas semua perbuatan mu ini?"
Nayla tidak tahu apa mau pria itu, ia hanya mencoba mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.
"Hahaha..." sang pria tertawa keras, "Memperkosa mu? Bertanggung jawab?" dia mengejek Nayla lagi,
"Hey j*lang, apa kamu akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pria yang tidur dengan mu? Dan berkata jika mereka sudah memperkosa mu?" tanyanya sambil mengangkat dagu Nayla dengan kasar.
"Plak!"
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi pria itu, dan pelakunya adalah Nayla.
Pria itu begitu terkejut atas apa yang telah Nayla lakukan. Tidak menyangka, gadis kecil di depannya begitu berani, hingga menampar nya.
Dia menatap marah kearah Nayla yang kini ada didepannya,
"KAU...!" bentaknya Sarkas.
Pria itu menatap tajam tepat dinamik mata Nayla, kalau mencekik leher gadis itu kuat, membuat ia susah bernapas, hingga tubuh kecilnya bergetar ketakutan.
"Berani-beraninya gadis murahan sepertimu menampar ku!"
Marahnya sambil melepaskan cekikan itu, menghempaskan tubuh Nayla keatas kasur, membuat gadis itu terbatuk seketika, saat mendapati nafasnya kembali normal.
"Kamu harus menerima hukuman dari perbuatan mu ini!"
Seketika pria itu mendorong tubuh Nayla hingga terbaring di atas kasur.
"Rupanya kamu mau main-main dengan ku?!" Marahnya sambil merangkak Naik ke atas ranjang
Melihat pria didepannya mulai kesetanan, cepat Nayla menjauh dan berlari menuruni tempat tidur, menuju pintu keluar. Namun sialnya, langkah pria itu lebih lebar dari langkahnya, dengan satu langkah saja dia sudah bisa menangkap bagian belakang daster Nayla.
"Mau kemana kamu pel*cur kecil?" ucapnya, seraya menarik kencang baju Nayla sehingga dengan satu hentakan kuat tubuhnya itu sudah berada dalam pelukan sang pria lagi.
Dari pelukan pria itu beralih mencengkram pinggang Nayla kencang hingga membuat ia meringis menahan sakit pada bagian pinggangnya. Didorongnya tubuh Nayla hingga punggungnya menyentuh pintu kamar hotel yang kini sedang mereka singgahi.
Sang pria melepaskan tangannya dari pinggang Nayla dan beralih mengurung gadis itu dengan meletakan kedua tangannya di sisi kiri kana kepala Nayla.
"Kamu orang gila, kamu sudah mengambil keperawanan ku dan sekarang apa lagi yang kamu mau dari ku?" Nayla berteriak, marah. Nayla sangat takut mesti ia mencoba untuk menepis rasa itu dari hatinya.
"Aku akan mengambil semua yang engkau miliki termasuk tubuhmu ini!" ditunjuk nya dada Nayla dengan jarinya.
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak sudi!" tolak Nayla. "Lepaskan aku!" didorongnya pria itu dari hadapannya, hingga membuat jarak diantara mereka berdua.
Pria itu menyeringai, "Itu tidak mungkin."
"Aku akan berteriak!" Ancam Nayla.
"Teriak lah, sekeras yang kamu mau, aku jamin tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkan mu. Ingat nona ruangan ini dilengkapi peredam suara." Ujarnya memberitahu.
"Kamu memang gila!" Maki Nayla sedih.
Pria itu merapatkan tubuhnya kembali pada tubuh Nayla, membuat jantung Nayla tambah berdegup kencang saat dadanya menyentuh dada pria itu. Nafasnya naik turun menahan emosi yang meluap-luap, ia tidak rela dipermainkan oleh pria yang ada di depannya.
"Berapa banyak aku harus membayar mu kali ini Nona? Seratus atau dua ratus juta?" Tanya sang pria sambil berbisik di telinga Nayla. Yang lebih mirip kecupan ringan ketimbang pertanyaanya, Sehingga membuat Nayla bergidik Ngeri, takut, jijik dan juga sedih.
Nayla menangis, ia bingung apa yang ada di otak orang di depannya itu, kenapa dia bertanya tentang harganya, apakah menurut dia Nayla sebuah barang yang bisa ditaksir dengan uang.
"Aku tahu, gadis sepertimu sangat mencintai uang. Karena itu aku akan membayar mahal untuk mu siang ini. Sebutkan saja berapa nominalnya, honey?"
"Lepas!" pinta Nayla. "Lepaskan aku!" perintahnya sambil memukul bahu cowok itu dengan kedua tangannya. Tentu saja ia tidak sudi menyebutkan nominal untuk harga dirinya.
"Kamu memang sakit jiwa!" maki Nayla sambil mendorong cowok itu sekuat tenaganya untuk menjauh, Meski hal itu tidak terlalu berarti karena pria didepannya hanya bergeser beberapa senti saja seolah dia sudah memperhitungkan jika hal ini akan terjadi padanya.
"Apa di matamu aku itu mirip perempuan murahan yang bisa kamu beli dengan uang?"
Nayla tidak tahu kenapa pria itu sangat berambisi untuk menidurinya dan menyebutkan nominal angka kepadanya apakah dirinya memang serendah itu dimatanya?
Nayla sama sekali tidak pernah menjual tubuhnya demi uang sepeserpun, memikirkan hal itu dibenaknya saja ia tidak pernah, apalagi melakukannya. Meski ia bukan dari keluarga kaya raya namun keluarganya tidak pernah kekurangan uang untuk kehidupan mereka dan Nayla juga tidak pernah bermimpi menjajakan tubuhnya menjadi pel*cur.
Namun gerakan Nayla memukuli pria di depannya, terhenti sang Pria itu menangkap kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala,
"Ka..."
Belum sempat Nayla menyelesaikan kata-katanya, bibir Pria itu sudah menyambar bibirnya, menciumnya dengan kasar sambil menahan rahang Nayla dengan tangan kananya pria itu yang membuat ia tidak dapat bergerak.
Nafas memburu dengan menc*um penuh nafsu, membuat Nayla semakin merasa dihina, dilecehkan dan tidak dihargai.
Apalagi ketika sang pria mengigit bibir bawah Nayla guna memaksanya untuk membuka mulut agar pria mesum itu bisa memper dalam c*uman mereka dan mengobral-abrik mulut Nayla dengan daging tak bertulang miliknya, juga sesekali menyesapi alat pengecap Nayla. Membuat ia merasa sangat-sangat di lecehkan sekali.
Air matanya yang semula sudah keluar kini mengalir deras bagaikan parit kecil membuat ciuman mereka berasa asin-asin gimana. Nayla menahan peri di dadanya, hatinya sangat sakit diperlakukan seperti ini.
Ia berusaha keras melepaskan ciuman itu dari bibirnya. Ia menendang tulang kering pria itu dengan keras yang seketika sang pria mundur sehingga ciuman mereka terlepas.
"Sialan kamu!" teriak Nayla sedih.
Pria itu tidak perduli dengan sumpah serapah yang Nayla lontarkan untuknya dia mengangkat tubuh gadis itu ala karung beras dan menghempaskannya ke ranjang begitu saja, Melepaskan bathrobe yang membungkus tubuhnya, lalu menghimpit tubuh Nayla yang tergeletak di kasur.
"Apa yang kamu lakukan? apa-apaan kamu?" Nayla menggeser mundur seketika tubuhnya dan menjauh dari pria itu.
Pikiran buruk tentang mimpinya mulai datang, ia takut jika diperkosa lagi.
Pria itu menarik kaki Nayla sehingga membuat tubuhnya merosot mendekati tubuhnya lagi. Kemudian menduduki kaki Nayla agar tidak bisa menendang dan dengan cepat cowok itu mengunci tangan Nayla dengan tangannya lalu mulai menciuminya lagi.
Nayla menangis, meronta sebisa mungkin, terlebih ketika pria itu menyobek paksa daster murahan yang ia kenakan. Siang ini Nayla memang hanya memakai daster Midi, yang harganya sangat terjangkau seratus ribu dapat tiga.
Kini baju itu sudah menjadi dua bagian sehingga menampakkan dada Nayla, seketika ia menyilangkan kedua tangannya guna menutupi aset berharga miliknya.
Melihat keadaan Nayla yang setengah tel*njang membuat cowok itu tersenyum puas.
"Aku tidak akan sekasar ini jika kamu mau memberikannya dengan baik-baik nona," Ujarnya pelan, sambil wajah membelai lembuy pipi Nayla.
"Tidak ada wanita baik-baik yang mau menyerahkan tubuhnya kepada mu meski kamu memintanya dengan baik," Jawab Nayla judes.
"Jika kamu tidak mau, tentu aku harus merebut dan mengambilnya secata paksa," Balas pria itu.
Yang mirip orang kerasukan siang ini. Sedetik kemudian dia mengikat kaki Nayla dengan dasternya itu, agar ia tidak menendang-nendang lagi.
Kini pria itu bejad itu melancarkan aksi jahatnya pada tubuh Nayla yang lemah dan tidak berdaya.
*
*
*
*
Sungguh tragis sekali kejadian ini.
Semoga ini terjadi hanya di novel saja. Tidak pada dunia nyata.
Jangan lupa
like
komen
dan bunga