Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Mahen datang ke kantor dengan petantang petenteng memasang wajah tengilnya. Ia masih ada dua hari untuk menyelesaikan pemotretan.
Berjalan melewati ruangan Naya seraya mengintip ke dalam ruangan untuk memastikan apakah Naya sudah datang atau belum. Saat melihat Naya telah duduk di kursinya, senyuman Mahen merekah lalu dengan semangat masuk tanpa seizin Naya.
"Haiii selamat pagi Naya ..." menyapanya dengan semringah.
Naya mendongak menatap kedatangan Mahen dengan wajah datarnya. "Ini di kantor, Mahen! Bisa kau lebih sopan pada saya?" tegur Naya.
"Eh ... Maaf, bu Naya. Aku terlalu excited bertemu denganmu," ujar Mahen.
"Mau apa kau pagi-pagi masuk keruangan saya nyelonong begitu saja?"
"Ihhh galak banget deh, padahal tadi pagi baru saja mengakui sebagai pacar!" cetus Mahen.
"Hehhh ... Jangan kau anggap serius itu!" elak Naya. "Oke ... Terima kasih untuk bantuan tadi pagi, kamu sudah mau saya ajak pura-pura," ujar Naya.
"Ahhh ... Tidak perlu berterima kasih. Tidak apa-apa, aku sangat senang membantumu apalagi kamu sudah membelikanku banyak pakaian bermerek ini. Makasih loh, aku terkejut saat ada orang mengantarkannya ke rumahku! Bagaimana, apa ini terlihat cocok?" tutur Mahen.
"Hmm ... Cocok-cocok saja!" sahut Naya datar.
"Kau memang sangat baik! Kalau butuh aku buat jadi pacar pura-pura lagi, aku sangat siap!"
Lalu tiba-tiba Rossi masuk. "Ma–maaf, bu. Saya baru dari toilet, Mahen sudah mengganggu bu Naya. Maaf ya ..." kemudian ia menarik Mahen keluar dari ruangan Naya.
"Iiihhh kau kenapa sih? Menarik tanganku sembarangan. Aku masih ada perlu dengan bu Naya!" ujarnya seraya mengibaskan tangan Rossi. Lalu ia hendak kembali masuk.
Rossi sekuat tenaga menahannya lagi. "Ehh ... Ehhh ... Bebal banget sih jadi orang! Jangan ganggu bu Naya. Kalau pagi bu Naya berantakan, semua orang yang akan kena imbasnya. Kalau kamu mau ada yang perlu di sampaikan, katakan saja padaku!" tutur Rossi.
Mahen hanya menatap Rossi seraya bergumam dalam hati. "Kalau saja semua tahu kalau aku semalaman bersamanya, wiihh pasti bakalan heboh."
"Buruan, mau ngomong apa sama bu Naya?" Rossi siap dengan buku catatan dan bolpoint-nya.
"Enggak ada. Bye ..." Mahen berlalu pergi.
"Hehhh ... Tuh bocah ya! Dasar ..." gerutu Rossi kesal. Kemudian ia bergegas kembali keruangan Naya dan memberikan beberapa berkas.
"Bu Naya maafkan aku soal Mahen yang masuk sembarangan keruanganmu," ujar Rossi. "Dia gak sopan banget!" sambungnya menggerutu.
"Lain kali aku tidak mau seperti itu lagi!" sahut Naya. "Sana kembali ke mejamu dan jangan lupa untuk cek pekerjaan Mahen. Aku tidak mau ada kesalahan!" titahnya.
"Siap bosss ..." jawab Rossi bersemangat.
Naya bersandar pada kursinya dan menghela nafas panjang. Mengingat kedua orangtuanya membuat dirinya tidak fokus bekerja.
Bagaimana pun, orangtuanya hanya mengemban tanggung jawab yang agar pencapaian keluarga tidak hancur begitu saja.
"Aghhh ... Aku sama sekali tidak berniat untuk menikah dan sekarang malah kepikiran orangtuaku! lagian paman Ilyas ngebet banget mau ambil alih perusahaan. Padahal dengan sekarang dalam kepengurusan papa itu sudah sangat menguntungkan! Terlalu serakah," gumamnya bermonolog.
Naya memanggil Rossi lewat telepon dan meminta untuk di bawakan kopi seperti biasanya. Apalagi bekas minum semalam masih sedikit menyisakan rasa pusing.
"Ini bu ..." Rossi meletakkan kopinya.
"Jadwalku hari ini aman?" tanya Rossi.
"Aman ... eh iya bu, untuk meeting sore ini di majukan menjadi siang karena klien akan pergi keluar negeri," jelas Rossi.
"Oke."
"Saya permisi, bu."
"Eh tunggu. Pemotretan aman?"
"Aman ..." Rossi mengangkat jempolnya.
"Baiklah. Sana ...."
Tanpa bicara lagi, Rossi keluar dari ruangan Naya. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu istirahat tiba. Naya bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi meeting.
Sebelum pergi ia melihat pemotretan sebentar. Hanya mengawasinya dari belakang dan tidak menghampiri Mahen.
"Bu, mau berangkat sekarang?" tanya Rossi.
"Iya." Naya mengangguk dan berjalan lebih dulu.
Mahen mendengar suara Naya. Berbalik badan dan melihat Naya berlalu pergi. "Na—"
"Istirahat ... Istirahat ..." seru ketua team disana.
Dengan cepat Mahen meletakkan kameranya dan bergegas keluar untuk menyusul Naya. Pergi ke ruangannya dan tidak ada disana.
"Lah, kemana Naya?" gumamnya.
Lalu ia pergi ke lobby dan menanyakannya pada resepsionis. "Kamu melihat bu Naya?"
"Baru saja keluar bersama asistennya," jawabnya.
"Kemana, ya?"
"Mungkin ada meeting dengan client," jawabnya lagi.
"Apa tahu meetingnya dimana?"
"Mana saya tau, Mas. Coba hubungi saja mbak Rossi ..." titahnya.
"Hmmm baiklah. Makasih." Mahen keluar dari kantor pergi ke parkiran dan duduk di atas motornya.
Hari ini ia sudah membeli motor sendiri. Saat setelah mengantarkan motor pak satpam ke rumah Naya, Andro mengiriminya motor second sesuai permintaan Mahen.
Mahen mendapatkan telepon dari Andro.
"Hallo, ada apa?" tanya Mahen.
"Tuan, nyonya besar memaksa ingin bertemu. Beliau memintaku untuk mengantarnya ke kontrakan Tuan. Bagaimana ini? Nyonya sangat memaksa dan mengancam akan memecatku," tutur Andro dari balik telepon.
"Ah elah. Kamu gak bisa ngurus hal kayak gitu doang!" omel Mahen.
"Nyonya memaksa untuk diantar ke kontrakan."
Mahen berpikir tidak benar jika sampai mamanya itu tahu tempat tinggalnya.
"Katakan saja, kita makan siang diluar. Aku sharelock padamu!" Lalu Mahen menutup panggilannya.
"Punya asisten gak bisa ngurus hal begituan! Aghhh ... Aku harus menemui mama dulu, kalau tidak dia akan terus bawel dan meneror Andro!"
Mahen mengirimkan alamat restoran-nya pada Andro. Sengaja memilih restoran yang agak jauh dari kontrakan dan kantor Naya. Dengan motor matic bekasnya itu dan helm yang sama sekali tidak aesthetic, Mahen menerobos jalanan yang cukup lengang.
Setelah sepuluh menit perjalanan, Mahen sampai di restoran itu dan duduk menunggu mamanya datang.
Tidak lama kemudian, Rina–Mama Mahen–datang dan memeluk anak kesayangannya itu.
"Sayang Mama ... Ya ampun. Mama kangen banget sama kamu."
"Ma ... Mama ... Lepasin. Malu di liat orang!"
takkkk
Rina menjitak dahi Mahen dengan cukup keras. "Dasar anak nakal, ya! Seneng banget bikin mamamu khawatir."
"Hehe ... Udah ... Duduk, duduk ..." Mahen mendudukkan Rina.
"Tolong kamu pulanglah ke rumah, mengalahlah dengan papamu. Mama tidak tega melihatmu hidup diluar sendirian," bujuk Rina.
"Tidak. Aku tidak mau menuruti papa! Ma ... Ada kak Bastian, bisa dong urusan perusahaan di serahkan pada kak Bastian saja atau mungkin serahkan pada Jasmin."
"Kamu tahu sendiri Kak Bastian membangun bisnis bersama kak Rania diluar negeri. Jasmin belum bisa karena dia akan melanjutkan s2-nya di Amerika," jelas Rina.
"Mama sama papa gitu padaku! Kak Bastian boleh pergi dengan pilihannya dan mengizinkan Jasmin kuliah diluar negeri. Kalian tidak adil padaku! Memang derita anak kedua itu nyata," cetus Mahen seraya mengerucutkan bibirnya. Di depan ibunya ia begitu terlihat manja.
"Hmmm ... Karena cuman kamu harapan papa, bukan pilih kasih. Kamu kan sudah selesai s2, sayang kalau ilmu-mu tidak di gunakan," bujuk Rina.
"Papa masih sehat segar bugar, masih mampu mengurus perusahaan. Jangan paksa aku terus ...."
"Hmmm ... Kamu ini!"
"Ma, aku suka fotografi. Sekarang juga aku kerja jadi fotografer, ya walaupun masih freelance, tapi aku senang ..." jelas Mahen.
"Hmmm ... Baiklah, kalau memang itu maumu, mama gak akan maksa lagi, tapi tolong kamu jangan pergi dari rumah, ya. Pulang ke rumah, ya ...."
"Ya nanti aku pulang! Apa bisa sekarang kita makan dulu. Aku laper terus harus balik kerja lagi."
Rina tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Mahen dengan lembut. Bagaimana pun, Mahen tetap anak kesayangannya.
Mereka menikmati makanan yang sudah di pesan seraya berbincang-bincang.
"Nanti kalau pulang Mama coba bujuk Papa ...."
"Nah gitu dong, Ma ...."
"Eh iya, satu lagi mama hampir lupa. Soal jodohmu," cetus Rina.
Mendengar itu, Mahen tersedak. Makanan yang baru saja setengah terkunyah itu harus tertelan mengganjal tenggorokannya.
"Eh ... Pelan-pelan dong ..." Rina memberikan Mahen minum dan dengan cepat Mahen meneguknya.
"Ma ... jangan bilang papa juga akan menjodohkanku?" tebak Mahen.