"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hug me
Nick gelisah sejak tadi. Nomor ponsel Ele tidak dapat dihubungi. Ia sudah berulang kali menghubungi akan tetapi hanya suara operator yang menjawab. Tidak biasanya Ele seperti ini.
Nick bergegas menyambar jaketnya, keluar dari rumah, mengendarai sepeda motor menuju rumah Nero.
Sampai tujuan. Nick memperhatikan rumah tersebut dari kejauhan. Terdapat banyak pengawal yang menjaga ketat rumah mewah bergaya klasik khas Italia itu.
Tak berselang lama. Mobil mewah warna hitam memasuki rumah tersebut. Kedua tangan Nick mengepal kuat saat melihat bayangan wanita dari balik kaca jendela mobil, yang ia yakini adalah Ele.
*
"Tuan Nero, yang aku katakan tadi ..." ucapannya terhenti saat Nero memintanya diam.
"Aku sudah tahu semuanya, jauh sebelum kau tahu mengenai kekasihmu itu!" jawab Nero, penuh sindiran yang membuat gadis itu berdecak kesal seraya memalingkan wajah.
Nero tersenyum kecil melihat gadis itu kesal. "Jadi, aku memintamu untuk tetap menjadi kekasihnya."
"Apa? Kau gila?!" Ela langsung menoleh, menatap tajam Nero.
"Wah? Kenapa ekspresimu seperti ini? Kemarin kau memakiku saat aku menjelekannya," ledek Nero. "Apa sekarang kau sudah sadar jika pria itu bukanlah pria baik?" imbuhnya, terkekeh pelan.
Ele menghembuskan nafas kasar, malas menanggapi ucapan Nero, ia memilih beranjak keluar dari mobil.
"Hei, Nona Pemabuk, ingat ucapanku ini jangan putus darinya agar dia tidak curiga. Kau paham 'kan maksudku? Ini demi kebaikan dan keselamatanmu. Bersikaplah seperti biasa, seolah kau tidak tahu apa-apa tentangnya."
Ele menoleh, "kita lihat saja nanti!" jawabnya ketus seraya menutup pintu mobil dengan keras. Ia kesal, dan menyesal karena sudah memberitahukan hal ini pada Nero, karena sekarang ia dijadikan 'umpan'.
"Cih!" Nero berdecih kesal mendengar jawaban gadis itu. Ia hendak turun dari mobil, tapi ponselnya mendadak berdering panjang menandakan ada panggilan masuk dari anak buahnya.
*
*
Ketika sampai kamar, Ele langsung meraih semua barang pemberian Nick. Ia membuangnya ke tempat sampah.
"Tidak kusangka, ternyata kau selama ini hanya memanfaatkanku, penjahat!" geram Ele penuh emosi dan kekecewaan yang bercekol di dalam dada. Ia juga membuang semua foto Nick.
Ele membawa tempat sampah itu ke halaman belakang, lalu membakarnya.
Ele berdiri mematung sembari menatap nanar kobaran api yang membakar semua kenangan tentang Nick. Ia membiarkan air matanya membasahi pipinya.
Hatinya remuk redam mengetahui sebuah kebenaran yang mengejutkan seperti batu besar yang menghantam kepalanya.
"Aku tidak menyangka kau akan bertindak secepat ini." Suara Nero membuat Ele menoleh seraya menghapus air mata.
"Kau ingin menertawakan aku?" balas Ele, serak, lalu kembali terisak.
Nero menatap kobaran api itu sembari bersedekap, kedua matanya menyipit, menatap Ele lekat. "Bukan hanya ingin menertawakanmu, tapi ingin memaki kebodohanmu juga!" balas Nero, terus terang.
Ele mendengus seraya mencebik kesal mendengar ucapan Nero. "Pergi sana!" usirnya, langsung melengos, malas menatap Nero.
Bukannya pergi, Nero malah mendekat, lalu mengusap pucuk kepala gadis itu. "Jangan menangis," katanya pelan. "Pria bajingan seperti dia tak pantas kau tangisi, air matamu terlalu berharga," imbuhnya.
Entah kenapa hati Ele seketika menghangat mendapat sentuhan lembut di pucuk kepalanya. Perasaannya juga jauh lebih tenang saat mendengar nasehat dari Nero.
"Boleh peluk?" Ele bertanya lirih.
Belum sempat menjawab, gadis itu sudah lebih dulu menubruk tubuhnya, memeluknya erat, membuat tubuh Nero menegang seketika.
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.
🥰🥰🥰🥰
biar nti pulang paman botak pangling dan lupa ngasih hukuman 🤣🤣🤣