Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi pahit
Kembali dari rumah Arimbie, tahu-tahu sudah ada 3 orang laki-laki yang sudah tertidur pulas di kamar Arjuna.
“Arrgghh ... si*alan. Kalian mengagetkan saja. Keterlaluan emang kalian semua. Masuk kamar orang sembarangan.”
“Melihat tempat tidurnya sudah penuh diisi oleh ketiga temannya, Arjuna mengalah dan memilih tidur di sofa sambil mengusap jidatnya yang masih terasa ngilu.”
...***...
Pagi-pagi sekali Arjuna sudah bangun seperti biasa. Dilihatnya ke kamar, Triple 'G' bersaudara masih hanyut di alam mimpinya.
“Woyy! bangun, gak, kalian? Kalau gak, aku siram pake air es, nih.” Arjuna menarik selimut hingga tubuh tiga kembar bersaudara yang hanya mengenakan celana boxer itu, menggigil kedinginan.
“Bentar lagi, Bang. Di luar masih gelap,” suara parau si bungsu--Ghaisan sambil menarik kembali selimutnya.
“Hhh ... bagaimana kalian mau bangun rumah tangga, kalau bangun pagi saja susahnya minta ampun,” ucap Arjuna sambil mondar mandir ke kamar mandi.
“Lagian, siapa juga yang mau berumah tangga?” ucap Ghiffari yang mulai bangun sambil mengerjapkan matanya. “Aku masih fokus mengejar S2-ku, Bang, belum mau nikah.”
“Ya sudah, kejar dah tuh yang bener gelar S2-nya. Kita emang ketinggalan jauh sama SAMS*NG (menyebut type salah satu merk ponsel), dia sudah S10 sekarang.”
Arjuna menarik bantal yang tengah ditiduri Ghibran dengan gaya tengkurap. Itu membuat air liurnya mengalir ke bantal Arjuna.
“Hiihh ... basah lagi bantalku, hueek ...!” Arjuna mendengus dari kejauhan lalu segera melempar jauh-jauh bantal milikny karena jijik.
Arjuna menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu menyandarkan kepala sambil memutar bola matanya. “Kapan kalian akan berhenti mengganggu hidupku?”
“Mungkin nanti, setelah Abang menikah,” jawab Ghibran sambil bangun lalu menyeka air liur yang masih basah dengan Punggung tangannya.
“Ish ... ampuuuun Ya Allah. yang satu loyalitas tinggi tapi joroknya kebangetan. Yang kedua rajin bantu beres-beres rumah tapi ketika bersaing dengan S*MSUNG dia gak pernah menang. Nah yang bontot, dia pinter masak secara dia koki di hotel bintang lima. Sayangnya, kalau tidur kaya kebo,” tuturnya panjang lebar sambil menggelengkan kepala.
“Dan kalian kakak-kakaknya kebo, tolong ya, adiknya dibangunin dulu. Setelah itu, rapikan kembali kamar ini se-eksklusif mungkin.” Arjuna mengganti pakaiannya dengan setelan olah raga lalu bergegas menuju halaman.
Pagi memang masih gelap tapi Arjuna sudah biasa melakukan olah raga setiap hari. Tak lama kemudian, Arimbie pun keluar untuk mengantar Dinda yang hendak pulang ke rumah orang tuanya, seperti hari-hari libur sebelumnya.
“Selamat pagi ...,” sapa Arjuna sambil berlari kecil menghampiri.
“Wahh, rajin sekali Pak Juna,” ucap Dinda.
“Iya, Din. Orang keren tetap bangun pagi meskipun hari libur,” jawab Arjuna sambil lari-lari di tempat. “Kalian mau kemana sepagi ini?”
“Saya mau pulang, Pak Jun. Sudah kangen orang tua di rumah. Titip Arimbie, ya.”
“Oh ya. Kalau gitu, hati-hati di jalan ya, Din. Jangan khawatir, karena orang keren juga senang membantu. Jadi, nanti saya bantu pekerjaan Bu Jaksa.”
“Kebetulan banget. Hari ini Pak Juna bisa bantu jagain toko bunga. Kasihan temanku ini tidak pernah libur di hari Minggu,” ucap Dinda sambil nunjuk Arimbie yang sibuk dengan kucingnya, sambil menyiram tanaman.
Setelah Dinda pergi dengan taksinya, Arjuna kembali ke rumah untuk berganti pakaiannya.
“Wahh ... ternyata kalian tidak seburuk yang aku pikirkan, ya,” ucap Arjuna saat melihat ketiga temannya sibuk membereskan isi rumah.
“Pepatah bilang, guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” ucap Ghibran sambil membuka sarung bantal yang penuh dengan air liurnya.
“Artinya?”
“Artinya bahwa orang yang lebih tua harus memberi contoh yang baik pada yang lebih muda, Bang. Abang ngeliatin doang.”
“Terus ... kalau aku kencingnya jongkok, gimana?”
“Abang kencing jongkok, otomatis kita nengok, karena penasaran dengan ukurannya Hahaha ...,” jawab Ghiffari diselingi tawa.
“Hhaa! Dasar somplak kalian.” Arjuna melempar kedua temannya dengan bantal sofa lalu melangkah mencari handuk. “Kok, ada ya, peribahasa macam itu?” gumamnya sambil masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Arjuna kembali ke rumah Arimbie dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
“Ada apa lagi? kenapa anda kembali?” tanya Arimbie yang sibuk menata bunga-bunga.
“Aku kan sudah janji untuk membantu di sini, tapi sebelum itu izinkan aku untuk mereguk pahitnya secangkir kopi. Supaya aku selalu ingat bahwa menunggu cinta darimu pasti tidak akan selamanya manis.” Arjuna meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja teras yang hanya memiliki dua kursi.
“Saya tidak suka dengan rayuan-rayuan lebay yang keluar dari mulut seorang playboy, tapi saya akui filosopi kopi itu memang benar. Bahwa kita jangan terbuai dengan manisnya hidup. Survey membuktikan, bahwa sakit hati dan sakit gigi ternyata diawali dengan sesuatu yang manis-manis.”
“Kalau begitu, minum dulu kopinya. Ini tidak manis. Jadi, tidak akan menyebabkan sakit gigi.”
Arimbie duduk di sebelah Arjuna sambil mencelupkan sendok kecil lalu memutarnya. Ia mengangkat cangkir itu lalu menyeruput isi yang ada di dalamnya. Namun, tiba-tiba dia menyemburkannya kembali dengan refleks.
“Hhaaiiss ... ini pait sekali! harusnya anda tambahkan gula sedikit.”
“Loh ...!” Arjuna mencoba menahan tawanya. “Saya kan sudah bilang, bahwa kopinya tidak manis.” Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu menyeka mulut Arimbie yang basah terkena semburan kopi hitam.
Arimbie menggeser wajahnya untuk menghindar. Namun, pandangannya terpaut pada saputangan di tangan Arjuna.
“Ini ....” Arjuna meletakkan saputangan itu di genggaman Arimbie. “Bersihkan sendiri cairan kopinya.”
Arimbie merentangkan saputangan yang sudah lusuh itu, warnanya pudar bahkan terdapat beberapa sobekkan kecil di sana. Terang saja lusuh, karena Arjuna tidak hanya memiliki dan menyimpan saputangan itu selama 22 tahun, ia juga selalu menggunakannya setiap waktu. Namun, sampai saat ini ia belum ingin menggantinya dengan yang baru.
“Apa ini?” tanya Arimbie sambil mengerutkan wajahnya.
Dalam hati kecil, Arimbie mengingat dengan baik masa kecil itu ketika dirinya memberikan sebuah saputangan cantik pada seorang anak laki-laki yang berusia 4 tahun lebih tua darinya. Namun, dia tidak tahu seperti apa dan di mana anak laki-laki itu saat ini, karena setelah beberapa bulan mengenalnya, orang tua Arimbie membawanya pindah ke kota Bandung. Anak sekecil Arimbie waktu itu tidak paham dengan kata-kata pamit sebelum berpisah. Karena itu, dia pergi begitu saja.
“Kenapa, Bie? Kamu ingat sesuatu dengan saputangan itu?” tanya Arjuna penuh harap.
“Maksudku, apa anda tidak memiliki sapu tangan lain? Kenapa hanya menyimpan ini?”
“Ah, sudahlah,” ucap Arjuna sambil menarik kembali saputangan itu dari tangan Arimbie. Arjuna merasa sedikit putus asa, sekali pun dia menemukan Arimbie, tapi mungkin kenangan itu sudah tersapu oleh waktu. Dia harus berjuang dan memulai cerita yang baru sebagai Arjuna dan Arimbie yang baru mengenal satu sama lain.
“Maaf, maksud saya ....” Arimbie ingin menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud menghina saputangannya. Namun, Arjuna segera mengeluarkan saputangan yang lain dari sakunya. Itu pun milik Arimbie yang digunakan untuk menutup luka beberapa hari yang lalu. Ia meletakkannya di atas meja lalu menunjuk pipi Arimbie yang penuh dengan noda kopi.
Arimbie menyeka pipinya sendiri. Namun, tiba- tiba matanya ingin menatap ke arah Arjuna yang sedang menunduk karena di bawah kakinya, ada Snowy yang tengah mengeluskan bulunya.
“Snowy ...?” Arjuna mengangkat tubuh kecil berbulu putih yang sangat menggemaskan. “Malam nanti, tidur sama ayah lagi, ya.”
Entah karena terpana atau apa namanya. Tanpa disadari kopi pahit di dalam cangkir Arimbie telah habis diminumnya. Rasa pahit pun tiba-tiba berubah menjadi begitu manisnya.
“Jangan salahkan aku jika tiba-tiba kamu terkena diabetes.”
“A-apa ...?!” Seketika Arimbie menjadi sangat gelagapan. Matanya tertangkap basah ketika sedang menikmati keelokan wajah lelaki yang ada di hadapannya.
...—BERSAMBUNG—...
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor