NovelToon NovelToon
PETUAH TANAH LELUHUR

PETUAH TANAH LELUHUR

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Spiritual / Duniahiburan / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Artisapic

Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XII BRAJA TUMAMA

     Netra ing pandeng sira, wengkon ingkang mijil sumebyar jagat ira, kilat braja jumeglur ing ampa, toya ingkang mlurug sigra mluber, jalma tetangisan nasib ira, sinar surya surem ing wanci, jagat peteng tan ana katon, jalmi iku jalmi sing ala, becik katitik, ala ketara, kabeh guyub maring lelampah, jalma agung ingkang mulya, mlebu ing sukma nira, kadiya kilat nyamber ing raga.

    Malam itu kembali para Kerani dan juga petugas keamanan pedukuhan berkumpul di pendopo, dan seperti biasa beberapa laporan sudah diterima oleh pihak pedukuhan untuk dibahas bersama. Juga segala program kembali diarahkan sebagai kemakmuran warga. Di samping itu banyak yang datang untuk mendengarkan pencerahan dari para sepuh sebagai bahan untuk introspeksi diri.

    Waktu itu kembali seorang ki Sawerga melanjutkan pembahasan tentang tokoh wayang sebagai tabiat manusia.

    " Sampai dimana tadi ? tanya ki Werga.

    " Itu Ki, sampai wayang Bilung Ki, kata Wirya.

    " Hmmm....rupanya ada yang serius juga," gurau ki Werga.

    " Iya lah, buat anak cucu nanti, supaya bisa jadi lebih baik, supaya menjadi generasi maju," kata Wirya.

    " Baiklah saya lanjutkan, yang ketiga itu namanya Curis atau Astra Jingga, sifatnya seorang pembantu atau babu, wataknya itu suka makan, pikirannya tidak jeli, yang penting dirinya senang, peduli, supel dan sangat baik dalam kehidupan, tapi gegabah. Biasanya sering mengandalkan kehidupan orang lain," kata ki Werga.

    " Apakah orang seperti itu banyak suksesnya ki," tanya Anggapal.

    " Iya, tapi justru suksesnya itu hanya sementara dan pada akhirnya ia hidup tanpa ada yang peduli akibat ulahnya tadi," jelas ki Werga.

    " Lalu , apakah sifat itu tidak bisa dirubah ki, maksudnya watak orang seperti itu sampai tua ?" tanya Wirya.

    " Iya, itu kan sudah menjadi garis hidupnya, tinggal bagaimana ia jalani saja, tapi ya begitulah orang itu," kata ki Werga.

    Setelah penjelasan baru sampai di situ, tiba-tiba di alun-alun Sapta Raga terjadi bunyi ledakan, semua orang di pendopo saling melongo dan secepat itu mereka mendatangi tempat ledakan itu.

    Tampak di tanah alun-alun Sapta Raga terdapat lubang kecil bekas ledakan tadi. Setelah diamati dan saat itu Anggapala mengambil bungkusan kain kecil, kemudian dibuka kain itu, lalu terlihat beberapa barang terurai. Di kain itu ada patahan duri beracun, juda beberapa serbuk karat serta benda tajam lain yang mampu membuat orang merasa mengerikan.

    " Ini semacam santet atau tenung, siapa yang berani melakukan itu, ini sudah membuat sebuah permainan ilmu," kata Anggapala sambil memandang sekeliling.

    " Kurang ajar," teriak Mandaga.

    " Rupanya belum puas juga ya paman," kata Anggapala.

    Setelah itu mereka kembali ke pendopo dan saat itu juga Anggapala dan Mandaga serta beberapa kerabat berpamitan untuk menuju ke alas Kodra.

    Dalam perjalanan ke tempat tujuan itu, mereka saling bercakap dan sesekali berhenti sejenak untuk menjelaskan dan kembali melanjutkan perjalanan.

    Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tepi alas kodra, lalu mereka beristirahat di situ sejenak. Setelah semuanya selesai, mereka melanjukannya lagi. Kali ini jalan menuju ke dalam alas itu sedikit naik, Soma dan Wirya yang bertubuh tambun merasa sangat letih.

    " Waduuuuuuh.....jangan cepat-cepat jalannya Ki, saya jadi payah ini," kata Soma.

    Semua tersenyum sambil menyeka keringat, beberapa saat kemudian kembali berjalan hingga pada akhirnya sampai di sebuah puncak bukit. Ternyata di tempat itu ada bekas suatu ritual yang masih begitu jelas.

    " Ini, jejaknya masih ada Ki, bisa jadi beberapa hari yang lalu mereka melakukan ritual di sini, siapa ya ?" tanya Mandaga sambil memegang dahi dengan telunjuk.

    " Apa ini kerjaan si dukun biadab itu paman, ki Mirta itu paman," kata Anggapala sambil mengamati sisa-sisa ritual.

    " Begini paman," lanjut Mandaga menjelaskan. " Dulu dalam perjalanan kami ke sini sempat beradu mulut sama ki Mirta, karena mungkin merasa dipermalukan saat itu sehingga mungkin sekarang balas dendam kepada kami, kebetulan kami ini berada di tempat warga Cikeusik, tapi kami janji paman, semua akan kamk atasi," jelas Mandaga sambil menghisap kawung.

    " Tak apa Ngger, semua itu sudah menjadi kewajiban kita semua, kita ini hidup dalam satu daerah, wajibnya kita saling membantu bukan saling menuduh, walau Angger orang pendatang, kami pribumi, tapi kita hidup dalam senasib sepenanggungan Ngger," jawab ki Werga.

    " Baik paman saya bersyukur hidup dengan warga Cikeusik yang menjunjung nilai luhur, kami akan balas semuanya dengan tekad kami untuk membangun Cikeusik ini," jelas Mandaga.

    Malam semakin larut, mereka di bukit itu yang berada di dalam alas kodra masih berkumpul untuk menunggu sesuatu. Beberapa saat kemudian, Anggalapa dan Mandaga juga Pandanala serta beberapa orang yang siap membantu, membentuk lingkaran sambil duduk bersilah dengan posisi tangan saling berpegangan tanpa cela.

    Di tengah mereka tampak sebuah bongkahan benda yang diterangi oleh obor, juga di sebelah bongkahan itu tampak sebuah tempayan berisi sesaji yang penuh dengan syarat. Mereka yang duduk berkeliling itu membaca mantra aji. Hampir dua kawung dihisap waktunya, tiba-tiba bongkahan itu bergetar, setelah lama bergetar lalu bongkahan itu melesat terbang dengan menyala dan secepat kilat bongkahan api itu bergerak cepat ke arah Barat.

    Beberapa saat kemudian, mereka membuka mata sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tampak mereka setiap tubuhnya berkeringat . Sambil menyeka keringat itu, beberapa orang berdiri lalu melangkah menuju ke tepi selokan untuk membasuh muka.

    " Semoga saja semua berjalan dengan lancar sedulur semua," kata Mandaga.

    " Moga saja bisa memusnahkan segala kebathilan Ngger, " jawab ki werga.

" Iya Ki, dan tidak menjadi bagian dari rasa ketakutan bagi warga nantinya," balas Mandaga.

Rombongan Anggapala dan Mandaga akhirnya kembali untuk pulang ke pendopo.

Bongkahan bara yang melesat secepat kilat itu kemudian di suatu tempat setelah beberapa waktu berada di udara, lalu meledak dan terpecah menjadi beberapa bagian. Setiap bagian itu meluncur deras menuju tujuannya masing-masing. Ada lima arah dari ledakan bongkahan itu, dan salah satu menuju ke arah sebuah gubuk yang di dalamnya seperti tempat persembahan, lalu gubuk itu tertimpa bongkahan tadi dan "duuuuaarrr", semua berantakan bahkan hancur. Terdengar suara teriakan lalu hening.

Bongkahan kedua menuju ke arah Selatan juga, namun arahnya lalu membelok ke kiri, di sana sebuah gubuk hampir sama dengan gubuk tadi meledak juga, tampak sosok terpelanting lalu diam tak berkutik lagi. Sementara bongkahan ketiga menuju arah Barat , sama yang dituju adalah sebuah gubuk dengan tempat persembahan, kejadiannya sama persis dan meledak dengan sosok yang terlempar lalu diam. Begitupun bongkahan yang keempat dan kelima juga sama, bahkan kedua gubuk yang menjadi sasaran itu bentuknya rumah kecil dengan aksesoris dan ornamen yang begitu mengerikan, di rumah kecil itu banyak goresan dari darah yang menghiasi ruang sempit itu.

Rumah kecil itu meledak dan terlempar sosok berbaju hitam lalu kejang-kejang dan diam.

Entah apa dan siapa mereka yang jelas semua itu balasan untuk mereka yang sudah berbuat sesuatu yang jahat.

Setelah sampai di pendopo, Matahari sudah menampakkan diri dengan sinarnya.Mereka duduk di pendopo sambil menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan. Kini Cikeusik tidak lagi mengalami gangguan dari jenis santet atau tenung dan sejenisnya. Beberapa saat kemudian, mereka membubarkan diri mungkin akan istirahat atau kegiatan lain. Dalam cerita selanjutnya, akan muncul Siluman buaya putih.

1
ArtisaPic
apa tuh judulnya.....soalnya aku baru ikutan di apk ini/Pray/
Winsczu
kayak baca novel yang udah di cetak 🤣. Tapi gapapa, bagus! 👍🏼👍🏼👍🏼
ArtisaPic: itu lanjutan dari judul
MENGUNGKAP SEJARAH PETENG
baca biar jelas ya/Rose//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!