NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Telah Bicara

Ketika Cinta Telah Bicara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:952.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Eeeewy

Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot menjadi standar ditolak dan diterima, dipilih dan dipinang.

Apalagi ketika ia harus terusir dari rumah karena sertifikatnya telah digadai sang ayah. Sedangkan sang ayah sendiri tewas menjadi bulan - bulanan massa setelah tertangkap basah tengah mencopet.

Yudha seorang pria tamvan, mavan, dan rupawan. Karirnya begitu cemerlang. Namun takdir seolah menjungkir balikkan hidupnya ketika sang istri meninggal saat melahirkan buah hati kedua mereka.

Karena harus menitipkan sang bayi di rumah sang ibu, ia kembali bertemu Maria dalam kondisi saling membutuhkan.

"jadilah baby sitter untuk anakku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu."

"Hey, kamu nggak takut mempercayakan anakmu padaku. Nanti kalau anak mu rewel kemudian aku bunuh, gimana."

Yudha tersadar, kesalahannya di masa lalu telah membuat Maria tidak lagi sama seperti yang dulu.

Namun Ketika Cinta Telah Bicara, akankah menyatukan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Sebuah Ide yang Bagus

Safira mengendarai motornya sambil menahan rasa nyeri akibat lengan kirinya menggesek aspal saat insiden yang baru saja mereka alami.

"Adakah yang sakit?" Maria mengingatkan Safira. Bahkan ia bersedia untuk menggantikan sahabatnya untuk mengambil alih kemudi motor.

"Tidak usah! Kalau kamu yang di depan, kita kapan nyampenya?" Maria hanya tertawa terkekeh dengan sindiran Safira. Maklum kemampuan Maria mengemudi motor itu sangat parah. Kalau ngebut membuat sport jantung. Kalau hati - hati, ia akan membawa motor dengan kecepatan tidak lebih dari seorang pengendara sepeda kayuh. Safira pernah komplain dengan cara Maria menarik gas yang hanya 15km/jam itu.

"Mar, si bocah tadi mati enggak ya?" tanya Safira penuh rasa khawatir. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melindas orang. Masih abege pula.

"Ya mana ku tahu. Kita tadi juga tidak sempat melihat karena sudah di usir teman - temannya," jawab Maria sambil bergidik membayangkan seandainya urusan mereka semakin panjang dan truk yang melaju di belakang mereka tidak berhenti. Haiya...

"Kamu sih, Saf. Punya niat untuk mencelakai Rico segala. Bukannya si buluk itu yang celaka, kita duluan yang kena karma."

*******

Semenjak keduanya mengalami kecelakaan, baik Safira dan Maria tidak pernah lagi membahas  mengenai Rico dan si Sundel. Safira juga tidak lagi menyambangi minimarket untuk membeli camilan. Sebagai gantinya, Maria bersedia direpotkan untuk menjadi kurirnya Safira.

Maria membayar belanjaannya sambil melirik Rico dengan sebal. Si pengurus bongkaran sekarang lebih suka berkantor di minimarket daripada duduk di ruangannya sendiri yang nyaman. Si Sundel benar - benar luar binasa, karena berhasil memelet Rico untuk menjadi jongosnya. The power of sodaranya Bos, geto loh...

Setelah mendapatkan camilan yang di pesan oleh Safira, Maria segera kembali ke ruangan temannya. Jangankan Safira? Maria juga merasa empet melihat dua pasang manusia yang saling mengumbar pesona dengan ilmu guna - guna itu. Ah coba ada daun kelor. Maria ingin sekali memukulkan benda itu ke tubuh si pelakor supaya susuknya lepas.

Ketika berjalan menuju ruang kantor, Maria mulai berpikir. Seandainya ada seseorang yang bisa membuat Safira move on, pasti semuanya akan berakhir dengan happy

ending. Tapi kira - kira, siapakah pangeran tampan berkuda putih yang akan menolong Safira untuk bangkit dari keterpurukkan?

Selintas ingatan tentang Mario tiba - tiba melintas di otak Maria. "Seandainya saja..."

Langkah Maria terhenti ketika seseorang menghadangnya. "Yudha?"

"Jadi kamu benar bekerja di sini?" tanya pria itu dengan tatapan prihatin.

Tentu saja Yudha merasa peduli, karena Maria harus bekerja lebih berat di banding teman - temannya.

"Ya, namanya juga anak mantan preman. Syukur - syukur deh aku bisa mendapat pekerjaan halal," jawab Maria sarkas.

Yudha merasa tersentil. Ia menyesal pernah melontarkan kata - kata itu. Karena Maria menjadikan ucapannya dulu untuk melakukan serangan balik terhadapnya. Benar - benar senjata makan tuan.

"Kamu kerja sama aku saja, yuk!" ucap Yudha dengan suara lembut. Ia masih berharap Maria sudi memaafkan dan menjadi baby sitter untuk anak - anaknya. Jika Maria berkenan, Yudha juga ingin Maria menjadi big baby sitter untuknya. Hitung - hitung sebagai bentuk permintaan maaf karena dulu ia pernah menorehkan luka di hati gadis itu.

Maria menatap pria itu lekat. Hatinya berdebar saat mendapati Yudha tengah menatapnya dengan lembut tidak seculas dulu. Binar mata pria itu berhasil menarik Maria dalam euforia yang dulu sempat padam. Maria buru - buru membuang pandangannya.

"Ingat, Mar. Jangan sampai bertahun - tahun move on. Tapi kembali takluk dalam sekejap mata hanya gara - gara rayuannya!" Maria mengingatkan dirinya sendiri.

"Sorry! Bung. Aku tidaak berminat kerja sama kamu."

Setelah mengucapkan kata - kata bernada sengak itu. Maria bergegas masuk ke ruangan Safira, meninggalkan Yudha begitu saja dengan sejuta penyesalannya.

"Sebegitu benci banget sih kamu sama aku?"

Yudha menatap punggung Maria dengan nanar. Sepertinya ia harus berjuang keras untuk mendapatkan maaf dari gadis itu.

*******

Sampai di dalam kantor, Maria menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan loyo. Setiap berhadapan dengan Yudha, emosinya menjadi tidak stabil. Ujung - ujungnya ia jadi lemas karena membuang energi percuma.

"Arrrggghh...!!" Maria mengacak rambutnya dengan kesal.

"Kamu juga kesal kan melihat si Sundel?" tanya Safira sambil membuka bungkus snack yang dibeli oleh Maria.

"Iya. Double kesal karena sewaktu kembali dari minimarket aku bertemu Yudha."

Safira batal memasukkan snack ke dalam mulutnya. "Yudha datang ke sini?"

"Hu'um" jawab Maria sambil menatap sahabatnya. Kemudian ketika teringat dengan niatnya tadi, Maria pun bertanya pada Safira.

"Jadwal audit pasti pas nya kapan ya, Saf?"

"Kok kamu menanyakan jadwal audit? Takut bertemu pak Mario seperti kamu tidak sengaja bertemu Yudha hari ini ya?"

Maria tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Mana mungkin ia mengatakan pada Safira jika kali ini ia sangat menantikan kedatangan pria itu.

******

Setelah menunggu selama beberapa minggu, akhirnya jadwal audit pasti pas tiba juga. Maria sudah berusaha rajin membersihkan toilet dan seluruh ruangan sejak seminggu yang lalu. Bahkan ia mewakili Safira untuk debat kusir dengan Rico, jika lelaki itu lupa mencatat bongkaran yang berpengaruh pada jumlah losses.

"Apaan lo, cuma cleaning service aja sok ngatur!" umpat Rico. Maria ingin melayangkan bogemnya di wajah si Rico. Biar saja tampang buluknya jadi semakin hancur. Dengan begitu mata dan hati Safira terbuka, sehingga segera move on dari Rico.

"Kalau pekerjaan lo beres, kan pacar baru lo bisa memuji - muji kinerja lo di depan sodaranya, *****!"

Ucapan Maria hanya di jawab dengan tatapan tajam si Rico. Maria balik menantang Rico. Biarpun pria itu menggunakan jimat siung macan asli papua yang katanya bisa membuat takluk orang - orang di sekitarnya, tapi Maria tidak terpengaruh. Maklum, ia sudah tahu jika sejatinya tanpa jimat - jimat tersebut, Rico bukanlah apa - apa.

Melihat lawannya tidak terpengaruh, Rico berdecih kemudian berlalu sambil mengumpat kasar.

Benar saja, pukul sepuluh siang seseorang yang ditunggu oleh Maria datang juga. Dari kejauhan, ia menatap sosok yang mengaku kakaknya itu sedang mengecek Terra.

Ada rasa sedih dan haru menyusup di hati Maria. "Ya Tuhanku, benarkah laki - laki itu adalah kakakku?"

Maria mondar - mandir dengan gelisah di toilet. Siapkah dirinya untuk menerima kenyataan ini? Jika memang benar ia adalah adalah adiknya Mario, apakah hatinya ikhlas memaafkan wanita yang telah menelantarkannya?

"Ayo, Mar. Demi sahabatmu temuilah Mario!"

******

Maria masuk ke ruangan Safira sambil membawakan air mineral untuk pak Mario. Pria itu hanya melirik sekilas dan sibuk mengisi lembaran yang harus ia isi untuk melengkapi laporannya.

Melihat respon pria itu yang terlihat tidak peduli, Maria menjadi kecil hati. Ya mana mungkin sekali Mario adalah kakaknya.

Maria membalikkan badan untuk meninggalkan Mario dan Safira. Sepertinya niat untuk mencomblangkan kedua orang itu terlalu berat. Ketika hendak melangkah pergi, Mario pun menegurnya.

"Tunggu saya mencatat laporan ya! Setelah ini, saya mau bicara!" ucapnya dengan nada tegas.

Maria membalikkan badan untuk menatap Mario. "Siap! Pak," jawabnya sambil tersenyum.

Tbc

1
falea sezi
di tolak sana sini😕 nyesek sampe sini
sakura
...
sakura
..
Audrey Chanel
suka author nya pinter love you Thor
Audrey Chanel
Terima kasih kak Author aku jg mencintaimu😘🫠😂😄🤗🤗🤗
Audrey Chanel
intinya biar si mantan ilang dari pikiran cari yg baru yah Thor
Audrey Chanel
sukurin handuknya buat ngepel
Hania Nasar
krm aj si devil ke mbah D.
atin p
😀😀😀😀thor...edannn tenan critone iki
atin p
auto ngakak...pengene Rico sing mati...wqwqwq tibane bpke dewe...
Sri Hartini
menurutku yudha gak lah buruk,soalnya kelakuan maria sendiri yg menurutku keterlaluan bercandanya,terang aja langsung ditolak cintanya
🍉🕌kimˢᵉˡˡᵒʷ͢ ᵇᵍᶠ🦢
. ok
Marni Aja
😭😭😭
Marni Aja
ikut nangis aku bacanya😭😭
Marni Aja
cerdas jawabanmu mar.... marimar.... maria mersedez😂
Marni Aja
jujur ya, aku itu setiap baca part latahnya maria.., suka ngakak sendiri.... itu jingle telenovela jadul banget jaman aku gadis.... maria mersedes😂😂😂
🍉🕌kimˢᵉˡˡᵒʷ͢ ᵇᵍᶠ🦢
mampir
Marni Aja
😭😭😭
Rian's 666
pas
Rian's 666
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!