Kisah cinta rumit terjalin di antara empat bersaudara, seorang wanita hadir menjadi rebutan.
Dialah Art Tara Biancasandra, seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk semenjak memiliki ibu tiri. Nasibnya berubah setelah mengenal seorang pria kaya yang memanfaatkan dirinya. Dari sanalah ia mendapatkan kisah asmaranya yang rumit, segala keluh kesah kehidupan di dapatinya mulai dari hal baik hingga hal buruk.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah ia mampu menghadapi asmara jajar genjang itu?
Tidak ada permasalahan yang tidak mendapatkan jalan keluarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rha Setia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AJG 11
Pagi menjelang, saat mentari meninggalkan sinar ultravioletnya, saat inilah Tara akan kembali dari alam mimpinya.
Ia melepas rekatan kelopak matanya perlahan hingga mengusapnya untuk memperjernih pandangannya.
Suara dering alat panggilan jarak jauh terdengar nyaring dari samping kepalanya telah menyambut awal harinya.
Setelah melihat nama tersirat dari balik layar alat medianya, semangatnya meledak tanpa aba-aba, membawa jiwanya kembali sepenuhnya dari alam mimpinya untuk segera menjawab panggilannya.
"Ya. Jack, kenapa?" tanyanya dengan suara paraunya, ciri khas orang yang baru terbangun dari tidurnya, suara yang ia keluarkan seketika membuat suara tawa kecil terdengar nyaring di balik alat medianya.
"Queena ngajak ketemu." Jackson mengatakan alasan ia melakukan panggilan padanya, tentu saja itu hanyalah alasan belaka. Sesungguhnya, ia hanya ingin mengetahui keadaan Tara yang terbengkalai.
Sejenak, Tara bangkit dan beranjak duduk masih di atas tempat tidurnya, ia meringis saat merasakan kepalanya yang berputar-putar, ini semua akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol malam sebelumnya.
"Mommy." Suara imut gadis cilik itu membuat Tara menyiratkan senyum lebarnya. Meski hanya dari seberang sana, ia dapat membanyangkan benapa lucu dan imutnya ekspresi si kecil saat mengucapkan kata itu.
"Ya, sayang. Queen mau ketemu mommy ya?" Tara berusaha membuat nada bicaranya menyenangkan, meski sebenarnya ia masih meringis tak lantas memijat lembut keningnya dengan sebelah tangannya.
"Iya. Queen pengen banget ketemu mommy," jawabnya penuh semangat. Dari suaranya, siapa pun tahu jika si kecil itu sudah tak sabar.
"Oke, bisa kasih teleponnya sama daddy lagi ga, sayang?!" Balas Tara tanpa ragu, sesungguhnya iapun mengharap bertemu kembali dengan pria itu.
"Gimana?" tanya Jackson yang penasaran di seberang sana. Ia tak repot-repot menyembunyikan nada dan rasa penasarannya.
"Semalem kamu bikin aku mabok, Jack. Sekarang kepala aku pusing banget. Bisa ga kita perginya ke mall aja?" pintanya dengan nada lirih, apa yang ia desahkan malah membuat telinganya menangkap suara dengusan cemas di balik selulernya.
"Apa lambung kamu kambuh?" Kekhawatiran suara Jackson dapat terdengar jelas oleh Tara di balik alat medianya, wanita itu segera menepis kekhawatiran tersebut.
"Engga, cuma pusing doang kok, dimandiin juga entar sembuh." Tara menyahut, apa yang ia ucapkan benar-benar tak se arah dengan apa yang saat ini tengah dirasakannya, ia terdiam sesaat ketika rasanya nyeri kembali menyerangnya, dia agak meringis, tapi berusaha menyembunyikan itu. "Jadi gimana? Mau ke mall aja?" tanyanya memastikan, tak lama kembali mendengar suara helaan napas rancu menusuk indra pendengarannya.
"Boleh, yang penting ada tempat main anak-anak aja." Jackson segera memutuskan, disela rasa cemas masih membayang, namun segera sirna ketika ia mendengar suara tawa riang di balik sellulernya.
"Oke kalo gitu ke Mall Corinda aja ya, yang deket sini." Tara menyahut sebagai permintaannya.
"Oke." Jackson langsung setuju begitu saja.
"Jam 5 sore aku baru bisa sampe sana."
"Siap!" Jackson membalas, dan katanya sebagai penutup perbincangan hingga panggilan pun terputus begitu saja.
***
Pukul lima sore itu, Tara sudah duduk manis di atas sebuah kursi, tempat khusus yang terdapat di dalam tempat perbelanjaan bergengsi di pusat ibu kota.
Dari arah lima meternya nampak seorang gadis cilik berusia 3 tahun berlari dengan girangnya, ia tak sendirian, di belakangnya anak itu dibuntuti seorang pria tampan yang memiliki tinggi 194 cm. Tinggi yang bisa dianggap normal untuk mereka yang tinggal di wilayah asia, eropa dan wilayah barat, tapi akan terlihat raksasa jika tinggal di wilayah timur atau tenggara.
Tara segera bangkit dari duduknya untuk menyambut gadis kecilnya. Benar adanya, ketika langkah Queena menepi di hadapannya, gadis cilik itu mengadahkan kedua tangannya, meminta pangkuan terhadap wanita yang dianggapnya sebagai ibunya.
Sedangkan keadaan Jackson, ia kini tengah berdiri di hadapan wanita yang telah tersenyum riang bersama anaknya, ia menilik tajam wajah jelita itu yang ingin sekali rasanya ia merangkul tubuh indahnya, membawanya dalam dekapannya, menyemburkan benih cinta di dalamnya. Namun sayang, sudah ratusan kali ia menyatakan perasaannya pada wanita itu, sudah ratusan kali pula ia mendapat penolakannya.
"Lihat apaan sih?" Tara bertanya heran.
Jackson menggidikkan bahu, menutupi kesungguhan jiwanya yang sudah berimajinasi liar tentang wanita yang kini berdiri di hadapannya. "Ga ada."
"Udahlah, kita harus cepet-cepet. Kamu ada jadwal nge-DJ malem ini 'kan?" tanya Tara yang memastikan, dibalas dengan anggukan oleh pria itu.
"Jam sepuluh." Jackson memperjelas pertanyaan itu, namun beribu sayang ungkapannya terabaikan begitu saja tatkala sang wanita tak lagi fokus padanya, ia berpusat pandangan pada si gadis cilik yang berada dalam pangkuannya.
"Sayang, apa yang kamu mau sekarang?" tanya Tara dengan nada yang penuh kasih, seraya mengelus puncak kepala si gadis cilik membuat pria itu tersenyum ceria.
"Mommy, aku mau ke tempat pelmainan boleh?" balas Queena dengan merajuk, itu membuat sang wanita tidak tega jika harus menolaknya.
"Oke, sayang. Mommy setuju." Tara bersemangat, ia langsung menyetujui tanpa pertimbangan dan berpikir. Namun, ia segera mendapat balasan tatapan ledek dari pria --yang masih setia berdiri-- di hadapannya.
"Daddy, ga setuju!" Jackson menyergah, hal tersebut membuat tangan wanita itu terulur, ia mencubit kasar pinggangnya, tentu saja cubitan maut itu segera membuat si korban meringis kesakitan.
"Jangan gitu sama anak kecil!" Tara memperingati, ia tersenyum diakhir kalimatnya meresapi keadaan yang membuat dirinya larut dalam suasana.
Panggilan sang anak terhadap dirinya, membuat hatinya semakin menginginkan suasana itu menjadi kenyataan. Membangun sebuah rumah tangga dengan pria yang dicintainya. Namun, semua itu hanya harapan dan angan belaka saja, selama seluruh orangtuanya masih belum sembuh dari penyakit iblisnya, itu tak akan pernah terjadi. Hingga harapan untuk segera membawa anak kandungnya, anak yang harusnya bertemu dengan ayahnya pun selalu menjadi pertimbangan batinnya.
Tidak ada perbincangan yang terucap kembali terlontar dari mulut mereka, Tara menuntun langkah ayah dari anaknya yang berakhir pada sebuah tempat di mana para bocah menyukainya.
Sasaran utamanya adalah sebuah komedi putar yang masih terdapat di dalam bangunan pusat perbelanjaan tersebut.
Untuk menjaga keamanan si gadis cilik, Tara sengaja ikut naik ke atas komedi putar itu bersama Queena dalam pangkuannya.
Jackson yang begitu meresapi pemandangan indah di hadapannya, dengan sengaja ia mengabadikannya dalam sebuah alat media untuk merekam kegiatan kedua wanita belahan jiwanya.
Satu jam sudah Jackson serta Tara lalui dalam menemani sang belahan jiwa untuk bermain sepuas hatinya, hingga waktunya untuk menyantap makan malamnya tiba, mereka bergegas mengunjungi sebuah restoran, sudah biasa dan wajar apabila pada tempat pusat perbelanjaan terdapat tempat makan untuk para pengunjungnya.
Ketika sang bocah telah menyantap seluruh makanan, --yang sengaja dipersiapkan untuknya-- ia segera tertidur dengan pulas, Tara mendapat waktu untuk menyantap makanannya dalam kesulitan, tatkala si gadis cilik bertengger di atas pangkuannya. Tak tega baginya untuk memindahkan si kecil dari sana.
"Aneh," gumam Jackson sambil menyeringai, tidak percaya saat menatap anaknya yang masih berada dalam pangkuan wanita pujaan hatinya.
"Apanya yang aneh?" tanya Tara dengan raut heran, ia bertanya ditengah kegiatannya yang memasukan sesendok demi sesendok makanan pada mulutnya.
Jackson meresapi pandangannya terhadap wanita --yang masih sibuk menyantap makanannya-- itu. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada saat ia tengah menghabiskan seluruh santapannya, ia sudah bersantai memandangi kegiatan seorang wanita di hadapannya.
"Lebih dari 10 cewek yang aku bawa ketemu sama dia, tapi kamu satu-satunya yang dipilih buat jadi ibu tirinya." Jackson tersenyum dengan penuh harap di akhir kalimatnya, itu membuat tara memaparkan rona wajahnya yang memerah.
"Kamu lagi muji aku?" tanya Tara malu-malu yang tersembunyi di balik nada ledekannya. Sesungguhnya ia pun ingin menyandang status itu. Namun, apalah dayanya jika keadaan dirinya masih direcoki oleh ibu kandungnya.
Dalam kamus hidupnya, ia hanya diperbolehkan mencari uang yang banyak untuk memuaskan hati sang ibu, tanpa mampu menggapai keinginannya.
"Emang aku muji, bukannya orang bilang anak kecil bisa liat hati orang?" Si periang ini selalu mengutarakan isi hatinya tanpa keraguan, bahkan tidak pernah ragu untuk memuji wanita di hadapannya.
"Maksudnya, aku bukan orang jahat?" tanya Tara dengan menyeringai bahagia, hal itu membuat kegiatan makannya terhenti seketika agar mampu menatap jeli wajah yang telah tersenyum di hadapannya. Namun, Jackson menjadi tak tentu arah dan agak gugup melihat tatapan itu, bukan ia tidak mampu membalasnya, namun justru ia takut akan melepas hasrat ingin memilikinya dengan paksaan.
23 bulan sudah ia bersusah payah mengejar wanita yang sudah dinodainya dahulu kala. Awalnya hanya untuk melepas rasa penasarannya.
Setelah mengetahui bahwa wanita itu sunggung wanita yang membayang dalam ingatannya selama 10 tahun itu, ia menetapkan hati untuk menyanding wanita itu menjadi kekasih hatinya. Bahkan ia terobsesi untuk menjadikan wanita itu sebagai ibu dari anak perempuannya.
"Engga juga, kamu jahat sama aku, Art." Jackson merajuk, ia menepis pandangannya hingga menatap arah sampingnya menyembunyikan lirihan batinnya. “Kamu nolak terus cinta aku," imbuhnya mengambil kesempatan emasnya untuk kembali mengutarakan rasa kasihnya.
•
•
•
Tbc
hmm...apakah jackson tahu bahwasanya dia telah jadi seorang ayah??
semoga segera dipertemukan oleh takdir.
dan perasaan mendalam antara kasihan sesal dan tumbuhnya cinta ...
mengapa pula sikap nya sungguh terlihat kejam ke tara,mungkinkah tara anak yg tdk di inginkan kelahirannya??
selamat berjuang tara,menata masa depan dengan peluh halalmu.
ujian terberat tara akan segera dimulai,kenapa kebablasan?kenapa tdk dengerin sahabat kamu tara
saya langsung cus ngingip visualnya mom😁