Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Cemburu (Part 2)
Di bawah sinar rembulan, aku berdiri di depan cendela kamarku untuk mengamati mereka berdua yang sedang duduk bersama. Aurora dan Pangeran Brian sedang duduk santai menikmati susana dingin angin malam. Kusandarkan tubuhku pada bingkai cendela tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari Aurora.
"Sepertinya, ia sangat bahagia sekali bersama Pangeran Brian, tak pernah kulihat Aurora tersenyum seperti itu sebelumnya," kataku sedikit cemas.
Entah mengapa aku tak suka melihat mereka seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? aku pun menutup pintu cendela kamarku. Tiba-tiba dadaku terasa sakit luar biasa, rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Aaagghhh..," Kenapa dengan dadaku sakit sekali," keluhku sambil memegang dada.
Kemudian rasa sakit itu hilang begitu saja.
"Sudah tak sakit lagi? sebenarnya apa yang terjadi?" Aku pun menahan sedikit sisa nyeri di dadaku.
"Besok aku akan suruh dokter untuk mengecek kesehatanku," sahutku berusaha tenang.
*****
Di taman istana, Aurora dan Pangeran Brian menghabiskan waktu bersama.
"Saya suka sekali keluar istana ketika malam seperti ini, menghirup udara malam, merasakan sinar bulan yang membuat saya nyaman dan bersemangat," jelas Aurora kepada Pangeran Brian yang sedang duduk di sampingnya.
"Kadang kita butuh suasana seperti ini untuk membuat hati dan pikiran kita tenang," tutur Pangeran Brian sambil menatap ke atas langit.
"Benar sekali. Tapi sayangnya letak kerajaan ini jauh dari pantai," tutur Aurora memelas.
"Kau juga suka pergi ke pantai?" tanya Pangeran Brian.
"Dulu ketika saya di kerajaan saya, saya hampir setiap hari datang ke pantai," jelas Aurora tanpa sadar mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan.
"Kerajaanmu dekat pantai?" tanya Pangeran Brian
mulai curiga.
"Oh bukan, maksud saya rumah yang saya tempati waktu itu dekat dengan pantai," jelas Aurora salah tingkah.
"Oh begitu." Pangeran Brian menatap wajah Aurora sangat dekat. Aurora pun merasa tidak nyaman dan menggeserkan badannya ke arah berlawanan.
"Aduh sakit,," tiba-tiba Aurora merasa kesakitan.
"Ada apa Aurora, kamu tidak apa-apa?" tanya Pangeran Brian merasa khawatir.
"Dadaku terasa seperti tertusuk sesuatu, sakit sekali!!" seru Aurora yang berusaha menjelaskan rasa sakitnya pada Pangeran Brian.
"Sebaiknya kau istirahat Aurora," ucap Pangeran Brian.
"Biar kuantar kau ke kamar," ajak Pangeran Brian.
Mereka berdua mulai meninggalkan taman.
*****
Keesokan harinya, Kai memanggil dokter untuk memeriksa kondisi tubuhku. Di ruang kerja, kusempatkan waktuku untuk menjalani perawatan.
"Bagaimana dengan kondisiku?" tanyaku penasaran akibat sakit yang kurasakan tadi malam.
"Menurut pemeriksaan saya, Anda sehat sehat saja Yang Mulia," jelas dokter istana padaku.
"Tapi, kenapa tadi malam dadaku terasa sakit sekali seperti tertusuk pedang, setelah beberapa saat sakitnya pun menghilang," terangku pada dokter.
"Baik, saya mengerti Yang Mulia. Saya akan memantau terus kondisi Anda. Untuk sementara ini, saya akan memberi resep obatnya," jelas dokter belum memberi diagnosa secara pasti.
Setelah melakukan tugasnya Dokter pun meninggalkan ruangan kerjaku.
"Yang Mulia, Anda perlu istirahat Yang Mulia," pinta Ken ikut khawatir.
"Benar, Yang Mulia," tambah Kai pula.
"Aku tidak apa-apa, kalian jangan terlalu cemas," kataku pada mereka berdua.
*****
"Tuan putri, ayo bangun! kita harus siap-siap untuk latihan berkuda," kata Mia membangunkan Aurora yang kala itu masih tertidur di kamarnya.
Di bawah hangatnya selimut yang tebal Aurora meneruskan tidurnya tanpa menghiraukan Mia yang berusaha membangunkannya.
"Heemmnn," gumam Aurora malas untuk meresponnya, "latihan apa katamu?" tanya Aurora tak sadar.
"Latihan berkuda, Tuan Putri, Pangeran Brian mengajak Anda untuk latihan berkuda," jelas Mia menarik tangan Aurora.
"Kapan dia bilang akan mengajakku latihan berkuda?!" tanya Aurora sambil berusaha tidur kembali
"Pangeran Brian sudah menunggu di depan paviliun putri," jelas Mia mulai kesal.
"A-apa? dia sudah siap?" Aurora terkejut.
"Cepat Tuan Putri," Mia membuat Aurora tergesah-gesah
Tak lama kemudian, Aurora telah siap dan menemui Pangeran Brian di depan paviliun.
"Maafkan saya, pasti Anda sudah lama menunggu." Aurora tersenyum karena merasa bersalah.
"Tidak apa apa, asal aku bisa bertemu dengan mu," sahut Pangeran Brian asal bicara.
"Apa?" tanya Aurora khawatir salah dengar.
"Bukan bukan, lupakan apa yang kubicarakan barusan, mari berangkat ke lapangan berkuda," ajak Pangeran Brian.
"Iya, tapi saya tidak bisa berkuda," kata Aurora sambil berjalan.
"Tak masalah, akan kuajari nanti," jelas pangeran Brian.
*****
Di lapangan kuda terlihat rumput hijau membentang luas. Cuaca pagi itu pun sangat cerah. Aku didampingi oleh Kai dan Ken hendak berlatih berkuda. Tapi sebelum itu, aku memutuskan untuk menghampiri kuda pribadiku terlebih dahulu.
"Maximus, bagaimana kabarmu?" tanyaku pada kuda kesayanganku itu.
"Apa Kau ingin kucarikan teman?" kataku lagi sambil mengelus tubuh Maximus.
"Maximus adalah kuda yang sangat kuat Yang Mulia," sahut perawat kuda pribadiku.
"Apa dia pernah sakit?" tanyaku.
"Belum pernah Yang Mulia, hanya saja warnanya yang putih seputih salju, sehingga saya harus menjaga kebersihannya dengan baik," jelas perawat Maximus.
"Tolong jaga Maximus dengan baik, kuserahkan Maximus padamu," kataku mantap kepada perawat kuda pribadiku.
Tiba-tiba di saat itu Aurora dan Pangeran Brian tiba di lapangan.
"Maximus, kau tumbuh menjadi kuda yang sangat jantan," suara itu muncul dari arah belakangku.
"Rupanya kalian," kataku menyapa mereka.
"Selamat pagi Yang Mulia," sapa Pangeran Brian.
"Selamat pagi, apa yang kalian berdua lakukan di sini?" menanyakan tujuan mereka.
"Tentu kami ingin latihan berkuda Yang Mulia," jelas Pangeran Brian menoleh ke arah wajah Aurora.
"Apa ini kuda Anda Yang Mulia?" tanya Aurora mendekati Maximus dengan takjub.
"Iya," kataku singkat.
"Waah,,, kau tampan sekali jagoan, lihat kulitmu, putih seputih salju," kata Aurora menyentuh bagian kepala Maximus.
"Apa boleh saya menaikinya?" tanya Aurora sontak membuatku terdiam sejenak.
"Kau serius ingin menaikinya? Maximus adalah kuda yang suka pilih-pilih," kataku pada Aurora.
"Apakah Maximus tidak menyukai saya?" tanya Aurora ingin sekali menaikinya.
"Tidak ada yang tahu sebelum kau mencobanya," ujarku memberikan tali kendali pada Aurora.
"Izinkan aku untuk memandumu Aurora," sahut Pangerang Brian mengambil alih tali Maximus.
"Mari kubantu untuk naik." Pangeran Brian mengulurkan tangannya.
Aurora pun menaiki badan Maximus dengan bantuan pangeran Brian.
Pangeran Brian berjalan mengitari lapangan dengan menggandeng tali Maximus yang ditunggangi oleh Aurora.
Aku pun hanya terdiam di tepi lapangan melihat mereka berdua menikmati waktu bersama.
"Apa mereka serius?" tanyaku sedikit kesal dengan suasana.
"Aneh, kenapa Maximus kali ini sangat penurut sekali? dia dengan mudah mau menuruti kemana saja mereka pergi, setahuku Maximus jarang sekali untuk mudah akrab dengan orang lain selain aku," gumamku merasa hari ini sangat menyebalkan.
Aku pun terus mengawasi gerak gerik mereka berdua, seakan tak rela jika mereka lolos dari pengawasanku.
"Yang Mulia, bolehkah saya mengatakan sesuatu?" tanya Ken tiba-tiba.
"Apa?" sahutku menghiraukannya.
"Kali ini Kami menjumpai Anda sedang cemburu kepada Pangeran Brian," tutur Ken lugas.
"Apa katamu?" sahutku mulai mengalihkan pandanganku dari mereka berdua.
"Apa kami salah lagi?" tanya Ken membuatku sangat kesal.
"Ppftt,,,,," suara Kai yang keluar menahan tawa kecilnya.
"Berapa kali aku katakan pada kalian, tidak ada kata cemburu dalam kamus kehidupanku, aku adalah lelaki yang mempunyai segalanya, apa aku perlu iri atau cemburu pada sesuatu," kata-kataku membuat Kai dan Ken diam.
Beberapa lama kemudian, Pangeran Brian dan Aurora mulai kembali ke tepi lapangan dan Pangeran Brian pun hendak undur diri terlebih dahulu karena ada sesuatu yang hendak ia kerjakan.
"Maaf, Yang Mulia, sepertinya Anda harus menggantikan saya memandu Maximus, karena ada sesuatu yang mendesak," kata Pangeran Brian yang kala itu meminta izin untuk meninggalkan lapangan.
Aku pun mengendalikan tali Maximus untuk melanjutkan latihan. Akan tetapi kejadian yang tak pernah kubayangkan terjadi.
BERSAMBUNG....
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan