Beverly seorang gadis terpelajar yang terpaksa harus menerima sebuah perjodohan yang di adakan oleh orang tua angkatnya .Tapi laki laki yang menikahinya itu malah mempersunting wanita lain setelah beberapa bulan pernikahanannya. Entah nasib apa yang dia alami saat itu?? Niat baiknya membalas budi kedua orang tuanya justru malah menghancurkan masa depannya sendiri.
Dia mengajukan kesepakatan bercerai saat satu tahun pernikahannya.
Bagaimana kelanjutan nasib Beverly selanjutnya???
Akankah dia menemukan seseorang yang bisa menerima status jandanya saat itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Warsiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai awal yang baru
Entah apa yang saat ini Indra rasakan,dia nampak terlihat murung saat ini.
Saat ini dia tengah terduduk di sofa yang biasa di gunakan Beverly untuk membaca buku. Sesekali dia menghisap rokok yang kini berada di tangannya itu,kini pandangannya mulai mengarah pada kamar yang biasa Beverly gunakan.
Indra nampak mematikan rokok yang ada di tangannya dan berjalan memasuki kamar itu.
"ceklekk" Indra mulai membuka pintu kamar itu.
Dia mulai menatap tiap sudut kamar tersebut. Indra nampak berjalan menuju ranjang yang biasa Beverly gunakan,dia mulai mendudukan tubuhnya di atas ranjang tersebut. Tangannya mulai mengelus pelan ranjang tersebut. Entah apa yang dia rasakan saat ini, hatinya tiba tiba berdesir tatkala mengingat siapa yang meniduri ranjang tersebut.
"kenapa aku menjadi seperti ini?"kata Indra yang merasa aneh dengan perasaannya sendiri.
"kenapa dadaku merasa sesak"katanya lagi.
"apa aku sebenarnya memiliki perasaan padanya?"kata Indra lagi namun dengan segera dia menampik perasaannya itu.
"tidak... tidak....aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya"kata Indra mencoba menampik semua perasaan yang sedang membuatnya resah dan gelisah itu.
"cintaku hanya untuk Bianca seorang, dan selamanya hanya dia seorang yang akan menempati posisi di hatiku"katanya lagi.
Entah kenapa semakin dia menamapik perasaannya, semakin sesak pula yang dia rasakan saat ini
Semakin keras dia berusaha menmapik setiap rasa yang mungkin sudah tumbuh itu, rasa kehilangan itu semakin terasa pada dirinya saat ini.
**
Setelah mengambil cuti kerja hampir empat hari kini Beverly berniat kembali ke kota tempat dia bekerja.
Dia memiliki tugas kantor yang memang belum dia selesaikan, untuk itu setelah urusannya selesai dia berniat segera kembali bekerja.
"kamu yakin tidak mau membawa mobil dari rumah bev??"tanya ayah Beverly.
"tidak yah...ayah tenang saja aku sekarang tinggal tidak jauh dari kantorku...aku bisa naik metromini diri kontrakan sampai ke kantor"jawab Beverly sambil mengenas kembali pakaiannya ke dalam koper.
"apa kamu yakin sayang?? bukannya itu akan ribet nantinya...kamu akan lebih mudah saat berangkat ke kantor dengan kendaraan pribadi"kata ibu Beverly yang sedang membantu melipatkan pakaian milik Beverly.
"ibu... biarkan anakmu ini hidup mandiri kali ini... percayalah padaku...ini tidak akan sulit untukku"kata Beverly sambil menatap wajah kedua orang tuanya saat ini, mencoba meyakinkan keduanya agar tidak perlu mengkhawatirkannya.
"baiklah... kalau itu memang sudah menjadi keinginanmu...kelak jika kamu merasa kesulitan kamu bisa datang pada ayah dan ibu"kata ayah Beverly.
"tentu saja aku akan datang pada kalian...kalian akan menjadi tempat pertamaku mengadu saat aku merasa kesulitan"kata Beverly dengan senyum mengembang di bibirnya.
Beverly telah bersiap dengan menarik koper di tangannya.
"ayah... ibu...aku berangkat"kata Beverly sambil memberikan sebuah pelukan hangat untuk kedua orang tuanya .
"iya sayang...kamu hati hati di sana..jangn lupa makan"kata ibu Beverly dengan air mata yang mulai menetes melalui pelupuk matanya.
"baik ibu...aku pasti akan menjaga diriku dengan baik"jawab serly masih memeluk erat kedua orang tuanya seakan enggan untuk melepaskan.
"ibu ... kenapa menangis lagi... kenapa ibu jadi secengeng ini...aku kan cuma pergi bekerja"kata Beverly saat melihat air mata yang mengalir di wajah ibunya.
"sudah...kamu jangan menangis lagi... kasian Beverly akan menjadi terbebani dengan tangisanmu ini nanti...biarkan dia pergi bekerja dengan tenang...berikan dukunganmu untuknya,jangan malah membuatnya merasa sedih"kata ayah Beverly berusaha menenangkan hati istrinya yang begitu lemah itu.
"maafkan ibu sayang...ibu sudah baik baik saja... sekarang pergilah..."kata ibu Beverly.
"semangat... semangat membuka lembaran baru anakku sayang....semoga kamu selalu bahagia"kata ibu Beverly saat Beverly sudah berjalan sedikit menjauh dari keduanya.
"iya ibu,ayah.Terimakasih.Aku menyayangi kalian"kata Beverly dengan segera menghambur ke pelukan ayah dan ibunya kembali.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Beverly pun segera berangkat .
**
Setelah sampai di tempat kontraknya saat ini Beverly segera mengistirahatkan badannya sejenak sebelum dia harus kembali menyelesaiakn proposal yang ditugaskan untuk dia buat.
"semangat bev... semangat...ayo perjalanan kamu masih panjang...jadilah wanita yang kuat dan mari kita mulai awal yang baru ini dengan semangat 45"katanya menyemangati dirinya sendiri
Kini dia mulai terbangun dan membuka laptopnya.
"terlalu banyak laporan yang harus di modifikasi...aku tidak tahuu apakah aku bisa menyelesaiakannya malam ini"gumamnya Beverly masih berkutik dengan laptop dan beberaapa map yang ada di mejanya hingga larut malam.
"aku harus segera menyelesaikannya hari ini,atau aku akan kena masalah besok"kata Beverly pada dirinya sendiri.
Beverly nampak menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku itu.
"huahh... capek sekali...aku ngantuk sekali"katanya.
"jam berapa ini??"kata Beverly sambil melirik jam yang verada di atas dinding nya itu
"sudah hampir jam 4,biar ku lanjutkan besok di kantor saja kalau gitu,mataku sudah nggak kuat lagi"kata beverly kemudian menutup laptopnya. Saking ngabtuknya dia tidur di atas meja dan tidak pindah ke kasur.
***
Pagi harinya di DR group bagian divisi perencanaan strategis, semua sedang gelisah pasalnya kepala departemen mereka tiba tiba mengadakan meeting.
"apa rencana laporan bisnis untuk direktur perencanaan kita yang baru sudah selesai?" tanya kepala departemen itu dengan sorot mata keseriusan pada seluruh pegawai yang ada di hadapannya.
Beberapa pegawai nampak gelagapan tak menentu.
Raut wajah mereka sesat memucat karena terlalu tegang.
Reaksi para pegawai itu nampak takut bahkan ezpresi yang mereka tunjukkan sudah bisa di artikan bahwa terjadi sesuatu dengan pekerjaan mereka.
"Kenapa reaksi kalian semua menjadi seperti ini???jangan bilang kalian belum selesai menyusun laporannya?"tanya Sbastian yang tak lain adalah kepala departemen divisi itu.
"astaga. . orang orang ini benar benar membuatku gila"umpat Sbastian dengan sorot mata menghardik orang orang yang ada di hadapannya.
Para karyawan yang berada di sana masih saja diam tidak ada satupun yang berani memberikan jawaban untuk pertanyaan yang di keluarkan oleh Sebastian.
Sbastian nampak begitu frustasi kali ini.
Entah apa yang di dalan fikirannya saat ini, Sbastian yang biasa terkenal sabar dalam memimpin anak buahnya saat ini justru terlihat begitu kacau.
"brakkk"Suara gebrakakn meja.
"kalian ini"kata Sbastian yang kini sudah berdiri dari posisi duduknya sambil menggertakkan giginya.
"kalian ini belum tahu ya seberapa mengerikan orang yang akan kalian layanu nantinya....astaga....apa kalian berniat mengajakku untuk mati bersama???".kata Sbastian yang nampak sedikit emosi.
"orang orang ini benar benar membuatku marah"gumam sbastian sambil memijat pelipisnya dengan tangannya.
Beberapa karyawan yang berada di situ masih belum ada yang memberikan pernyataannya.
"sekarang aku ingin tahu alasan kalian...salah satu dari kalian coba jelaskan!!"kata Sbastian yang mulai kembali mendudukkan tubuhnya di kursi.
Beberapa karyawan saling menunjuk satu sama lain.
Hingga salah satu dari mereka mulai mengeluarkan suaranya.
"maaf pak...tapi di sini kami juga mengalami kesulitan"kata salah satu karyawan yang ada di sana dengan perasaan gemetar karena takut.
"gara gara masalah korupsi yang dilakukan oleh direktur Roni kemarin, hampir seluruh orang yang berada di perusahaan ini memandang rendah tim perencanaan kami..kami sebagai karyawan merasakan ketidak adilan ini...hingga kami merasa bahwa kerja keras kami ini tidak di hargai sama sekali"lanjut karyawan itu yang tak lain adalah Fatir ,dia mencoba menyampaikan unek uneknya mewakili semua karyawan yang ada di sana.
"saya tahu apa yang kalian rasakan...saya tahu kalian merasa harga diri kalian terhina...tapi bukannya hal semacam ini sudah sering terjadi.... setiap pemimpin kita di ubah akan terjadi ketidak seimbangan dalam struktur kepemimpinan kita lah yang terkena dampaknya.. tapi yang perlu kalian garis bawahi meskipun semua itu terjad divisi kita ini masih tetap bertahan bahkan dapat segera bangkit dari keterpurukan....apa kalian tahu apa alasannya??"kata Sbastian dengan ketegasannya dalam memimpin.
Semua karyawan nampak diam tidak berani memberikan bantahan akan apa yang Sbastian katakan.
"alasannya adalah..karena kalian...karena kita semua di sini merupakan otak dari perusahaan ini...dan apa kalian tahu hanya orang yang benar benar bertalenta dan berbakatlah yang bisa memasuki divisi kita ini"kata Sbastian lagi.
"untuk itu saya tegaskan ke kalian semua..jangan menyerah hanya karena masalah ini...jangan menyerah hanya karena beberapa orang yang meragukan kalian...kita di sini merupakan otak perusahaan ini...tanpa orang orang seperti kita perusahaan ini tidak akan berjalan dengan baik...kalian jangan memperdulikan beberapa orang yang meragukan kemampuan kita...kita harus tetap semangat membangun divisi kita ini"lanjut Sbastian memotivasi bebrapa karyawannya.
Semua karyawan yang ada di sana merasa tergugah dengan kata kata motivasi dari Sbastian.
"baik...kami semua mengerti... kami akan terus berjuang untuk perusahaan ini .dan tidak akan mudah menyerah hanya karena pendapat beberapa orang yang meragukan kemampuan kami"kata Fatir yang kemudian juga di setujui oleh beberapa karyawan lainnya.
semangat
ku memilihmu karena adikku