Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Mia, sepertinya foto pengantin yang hanya berdua saja kurang" kata Mira membuatnya memeriksa hasil foto yang dihasilkannya.
"Baiklah" Mia mulai mengambil foto yang kurang dan menyelesaikan pekerjaan hari ini.
Akhirnya, resepsi pernikahan di aula kota ini selesai dilaksanakan.
"Setelah fotonya siap, kami akan menghubungi" kata Mia pada pengantin perempuan yang mempekerjakannya lalu memberi salam untuk undur diri. Akhirnya, Mia dan Mari membawa semua peralatan dan memasukkanya ke dalam bagasi taksi dan mereka pulang.
"Lelahnya!!" kata Mari lalu meregangkan tangannya sedangkan Mia memilih melihat ke arah luar jendela. Matahari sudah bergulir ke arah barat sejak dia bekerja tadi pagi. Untungnya, Mari sangat membantu dan dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa banyak diatur.
"Mia, kulihat beberapa hari ini kau memakai cincin bagus di jarimu, kenapa sekarang tidak?"
Oh, ternyata Mari memperhatikan jarinya belakangan ini. Setelah menikah dengan kak Benjamin, cincin itu memang sempat dipakainya selama dua hari karena takut Tante Laura akan datang. Tapi, dia malas menggunakannya lagi setelah kak Ben tidak lagi tinggal di rumah mereka dan memilih bersama kekasihnya, Olivia.
Bukannya cemburu, Mia hanya malas memakai sesuatu yang seharusnya bukan miliknya. Dan lagi, ibunya juga mengjijnkan Mia melepas cincin itu asalkan Tante Laura tidak datang ke rumah atau bertemu dengannya.
"Aku memakai barang yang bukan milikku, rasanya tidak nyaman memakainya" jawab Mia membuat Mari bingung.
"Jadi, itu hanya cincin titipan?"
"Bisa dibilang begitu"
Setelah pembicaraan singkat tentang cincin, mereka berdua memilih meletakkan kepala di kursi mobil dan menghirup udara yang lewat melalui jendela taksi. Sekitar sepuluh menit kemudian, Mari turun dari taksi dan melambaikan tangannya ketika Mia mulai menjauh.
"Aku pulang" kata Mia ketika sampai di rumah. Tidak ada yang menjawab karena ibunya sedang ada di restoran. Sebaiknya Mia segera membantunya karena pelanggan di resstoran mulai banyak lagi. Setelah mandi, matahari sudah tenggelam dan dia melihat kotak cincin yang ada di atas meja. Sayang sekali, walaupun cantik sekali, cincin itu bukanlah miliknya.
Mia meletakkan kembali kotak cincin itu di atas meja dan memiih segera pergi ke restoran daging panggang ibu.
"Kenapa kau datang kemari?"
"Pekerjaanku sudah selesai. Hanya tinggal mengedit lalu mencetaknya. Ibu juga hanya bekerja bertiga, pasti sangat merepotkan saat jam makan malam tiba" kata Mia lalu memakai apron hitam dan mulai melayani pelanggan.
Sekitar jam 9 malam, restoran ibunya tutup dan mereka semua mulai membersihkan lantai dan peralatan makan disaat ibunya menyiapkan bahan untuk esok hari. Pekerjaan selesai sekitar satu jam kemudian dan pekerja ibu pulang. Tapi Mia dan ibunya tidak ingin pulang ke rumah dulu, mereka berjalan-jalan di sekitar rumah lalu membeli kopi hangat di pinggir jalan.
"Benjamin sama sekali tidak menghubungimu?"
"Tidak. Aku tidak pernah mendengar kabar dari kak Benjamin"
"Laura selalu menanyakan keadaan kalian dan ibu terpaksa membohonginya"
"Apa Tante Laura baik-baik saja?"
"Iya. Keadaannya membaik setelah kalian menikah. Sebenarnya, ibu ingin mengunjunginya tapi semua pasti berantakan nanti"
"Jangan khawatirkan kami. Ibu pergi saja menemui Tante Laura dan Mia bisa mengatakan kalau Mia sibuk dengan akademi dan pekerjaan. Karena memang itulah yang terjadi"
Mereka pulang dengan membawa kopi di tangan lalu menonton televisi dan makan malam seadanya. Mia mulai mengedit foto ketika ibunya beristirahat. Saat melihat foto di laptop, Mia tersadar kalau dia tidak mengambil satu pun foto pernikahannya sendiri dengan kak Benjamin. Pernikahan yang seharusnya tidak terjadi, hubungan yang seharusnya tidak terjalin ketika dipaksakan maka akan membuat salah satunya terluka. Mia tidak ingin terluka dan memilih untuk mengabaikan segala kelakuan kak Benjamin. Lagipula, dia tidak terlalu mengenalnya walaupun mereka bertunangan sejak kecil. Tapi ... suara hangat yang pernah didengarnya empat tahun lalu tidak akan pernah ada lagi. Entah kenapa, Mia merasa sedih.
Laura melihat foto pernikahan anaknya dan Mia yang ada di ponselnya. Ekspresi keberatan Mia dan Benjamin saat dipaksa menikah sangatlah terlihat. Mereka melakukan pernikahan ini dengan terpaksa hanya demi dirinya. Meskipun merasa menyesal, Laura tetap merasa lega karena putra satu-satunya tidak menikah dengan wanita pilihannya. Olivia hanya memanfaatkan Benjamin demi kelangsungan hidup diri dan keluarganya. Banyak sekali uang yang harus Benjamin keluarkan tiap bulannya demi Olivia dan keluarganya. Bessok pagi, Laura ingin datang ke rumah Kathy, melihat keadaan rumah tangga baru anaknya.
Besok paginya, Laura benar-benar pergi dengan suaminya ke rumah Kathy, tapi tidak melihat mobil Benjamin terparkir di halaman rumah sahabatnya itu. Laura menahan suaminya untuk turun dan memilih melihat dari kejauhan. Benar dugaannya, Mia dan Benjamin tidak hidup bersama walaupun mereka sudah menikah. Mia tetap keluar dari rumahnya sendiri dan naik bus seperti biasanya. Kathy juga pergi ke restorannya untuk bersiap ke restoran tanpa adanya bantuan dari Benjamin. Lalu, kemana putranya?
Laura dan suaminya memutuskan untuk pergi ke apartemen putranya dan lagi-lagi melihat sepatu dan tas Olivia yang ada di dedpan pintu apartemen. Laura membatalkan niatnya untuk memeriksa apartemen putranya atas desakan suaminya. Jonathan Clay takut istrinya akan mengalami serangan jantung seperti sebelumnya.
"Kita pulanng saja" kata Jonathan lalu memaksa istrinya masuk ke dalam mobil. Melihat istrinya kehilangan keinginan untuk bicara membuat Jonathan sangat sedih. Dia harus melakukan sesuatu demi kesehatan istrinya. Mungkin akan terlihat lebih egois tapi Jonathan masih ingin hidup lama bersama istri yang dicintainya.
"Benjamin, bawa barang-barangmu pulang. Mulai sekarang, kau dan Mia akan tinggal di rumah"
Benjamin yang baru saja bangun tidur dari malam panjang dan panasnya dengan Olivia merasa tidak percaya dengan yang didengarnya.
"Ayah, Mia mengkhawatirkan ibunya. Tante Kathy tidak bisa menyiapkan restorannya sendiri tanpa adanya bantuan dari putrinya" jawab Benjamin lalu memakai pakaiannya dan melihat ke arah perempuan yang masih tertidur di ranjangnya.
"Ayah yang akan mengurusnya. Ayah dan ibu akan menunggu kalian untuk makan malam dan pastikan Mia juga membawa semua barang-barang keperluan pekerjaannya"
Benjamin baru saja ingin mengatakan sesuatu dan ayahnya memutuskan teleponnya.
Ada apa lagi sebenarnya? Apa Mia ketahuan?
Benjamin memutuskan untuk menghubungi Mia tapi tidak diangkat. Beberapa kali dia menghubungi Mia, tidak ada yang mengangkat teleponnya. Kemana perempuan ini?
"Ada apa?" Olivia terbangun karena merasakan ranjang yang kosong disampingnya.
"Ayah menyuruhku pulang dan tinggal disana dengan Mia"
Tentu saja, itu membuat Olivia marah.
"Tapi, apa kalian akan tinggal di dalam kamar yang sama? Aku tidak mau kalian tidur bersama"
"Konyol, mana mungkin aku menyentuh anak kecil itu"
Apa? Anak kecil? Kenapa Benjamin memanggil perempuan itu dengan sebutan anak kecil?
"Apa maksudmua?"
"Mia masih berumur dua puluh tahun. Aku tidak akan menyentuhnya, aku janji padamu"
Melihat Olivia marah, membuat hati Benjamin terasa tidak nyaman. Dia menawarkan untuk membelikan tas yang diincar Olivia dan menerima senyuman lebar dari kekasihnya.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla