Sebuah kecelakaan yang hampir menewaskan Aditya dan Lastri membuat keduanya semakin dekat dan terikat satu sama lain. Pernikahan pun terjadi antara keduanya akibat desakan kedua orang tua Aditya.
Kecelakaan yang membuat Aditya kehilangan ingatannya mampu mencintai Lastri yang selalu ada untuknya. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika Aditya mengingat semuanya dan sebuah peristiwa dimasa lalu yang disembunyikan kedua orang tuanya membuat Lastri kecewa dengan keluarga yang menyayanginya karena sebuah alasan dimasa lalu, peristiwa dimana kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan di depan matanya hingga meninggal trauma yang amat dalam untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Apartemen)
...🍁 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Miranda menatap apartemen mewah dengan perasaan bingung. "Kamu tinggal disini?" tanya Miranda menatap Lastri.
Lastri mengangguk. "Saya tinggal bersama teman Tante. Dia sangat baik sekali terhadap saya," sahut Lastri dengan tersenyum.
"Alhamdulillah kalau kamu tinggal disini. Anak saya juga tinggal disini, padahal di rumah saya hanya sendiri, suami saya jarang berada di rumah mungkin sebulan hanya 5 hari di rumah selebihnya selalu berpergian ke luar kota maupun luar negeri. Aditya tidak pernah lagi tinggal bersama saya sejak dia ribut besar dengan papanya, saya benar-benar kesepian sekali," ujar Miranda dengan sendu.
Lastri menatap Miranda dengan prihatin. "Sabar ya Tante mungkin tuan Aditya tidak tinggal di rumah juga karena apartemen ini lebih dekat dari kantor, saya do'akan tuan Aditya mau pulang ke rumah ya, Tan. Saya turun dulu ya Tante maaf kalau tidak bisa mengajak Tante mampir karena saya tidak enak dengan teman saya," ujar Lastri meringis karena nyatanya ia berbohong, mana mungkin ia membawa Miranda ke apartemen Aditya, bisa-bisa Miranda akan marah karena ia tinggal bersama Aditya yang nyatanya mereka bukan suami istri, tetapi Lastri akan menjaga dirinya dengan baik walaupun ia tinggal bersama dengan Aditya.
"Iya tidak apa-apa, Sayang. Tante mau pulang saja karena percuma mampir ke apartemen anak Tante karena Tante yakin dia belum pulang sampai sekarang," ujar Miranda dengan tersenyum.
"Terima kasih, Tante. Sekali lagi saya minta maaf, Tan!" ujar Lastri dengan tersenyum karena jujur ia merasa bersalah karena telah membohongi wanita sebaik Miranda.
"Kamu tidak salah, Lastri. Saya pulang dulu ya, kapan-kapan kita bisa ketemu, kan?" tanya Miranda dengan menatap Lastri.
"Boleh, Tante!" jawab Lastri dengan lembut.
"Saya boleh minta nomor kamu?" tanya Miranda dengan hati-hati.
"Iya boleh, Tante!"
Setelah bertukar nomor ponsel, Lastri keluar dari mobil Miranda. Ia belum melangkah pergi sebelum mobil Miranda benar-benar tidak terlihat di matanya.
"Astaghfirullah!" Lastri benar-benar terkejut saat membalikkan tubuhnya Aditya sudah berada di hadapannya dengan tatapan yang begitu sangat tajam, seakan siap membunuhnya sekarang juga.
"Kenapa kamu bisa pulang bersama mama saya?" tanya Aditya dengan sangat tajam.
Lastri menelan ludahnya dengan kasar. "Saya akan jelaskan didalam, Tuan. Gak enak di luar seperti ini nanti dilihat orang," sahut Lastri berusaha sabar menghadapi Aditya yang sangat arogan.
"Cepat! Jangan buat saya emosi!" ujar Aditya dengan ketus.
Aditya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lastri yang berusaha mengejar langkah Aditya yang begitu cepat. Sesampainya didalam apartemen Aditya menunggu Lastri berbicara, yang membuat gadis itu seperti di intimidasi oleh Aditya.
Lastri tahu walaupun Aditya tidak berbicara tatapannya seakan menyuruh Lastri untuk menjelaskannya dengan segera.
"Tadi saat saya berjalan mencari angkutan umum saya tidak sengaja melihat tante Miranda berjalan kearah jalan raya, dia hampir tertabrak dan dengan cepat saya menolongnya. Lalu kami bercerita sebentar, saya baru tahu jika tante Miranda adalah mama kandung tuan. Tapi saya berani bersumpah jika saya tidak mengatakan saya tinggal bersama dengan tuan di apartemen ini, saya hanya mengata ke tinggal bersama teman," ujar Lastri dengan tegas.
"Kamu tidak berbohong?" tanya Aditya dengan tatapan penuh menyelidik.
Lastri menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Tuan. Saya berbicara jujur. Tapi saya kasihan dengan tante Miranda, dia terlihat linglung tadi di jalan tatapannya begitu sangat sendu. Saya mohon anda sering-seringlah pulang ke rumah Tuan, mama anda kesepian," ujar Lastri dengan sendu.
"Tahu apa kamu? Tidak usah ikut campur masalah keluarga saya!" ujar Aditya dengan tajam.
Lastri terdiam. "Iya saya tahu, Tuan. Saya hanya mengutarakan pendapat saya tadi. Permisi!" ujar Lastri dengan cepat.
Lastri berjalan meninggalkan Aditya begitu saja. Sedangkan Aditya entah mengapa kepikiran dengan ucapan Lastri mengenai mamanya yang hampir tertabrak mobil karena linglung, ada rasa khawatir yang Aditya rasakan namun ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Entahlah semenjak ia ribut dengan papanya Aditya juga menghindar dari mamanya padahal wanita yang melahirkan dirinya itu tidak sama sekali, hanya saja Aditya merasa jika mamanya juga tak mendukungnya dalam hal apapun.
****
Miranda mengaduk makanannya dengan tak semangat, helaan napas terdengar berulang kali setiap kali dirinya makan sendiri. Miranda juga teringat dengan wajah Lastri, wajah seseorang yang sangat mirip dengan sahabatnya tersebut. Yang membuat Miranda menatap Lastri dengan penuh kerinduan tadi.
"Kata pak Yoyo kamu menghilang dan ternyata kamu hampir tertabrak dengan mobil. Bisa gak sih jangan buat saya khawatir terus Miranda? Saya masih banyak pekerjaan di luar tadi, dan saya harus menundanya karena kamu," ujar Arvas yang baru saja datang dengan wajah lelah dan khawatirnya terhadap Miranda.
"Aku tadi tidak hati-hati saja, Mas. Seharusnya kamu tidak perlu pulang karena aku baik-baik saja," sahut Miranda tanpa menatap kearah Arvas.
Arvas menatap istrinya dengan geram, bisa-bisanya Miranda berbicara santai terhadap dirinya sedangkan dirinya mengkhawatirkan istrinya tersebut.
"Bisa-bisanya kamu ngomong sesantai itu. Tau seperti itu aku tidak akan pulang ke rumah dan meninggalkan meeting penting yang sudah menungguku," ujar Arvas dengan kesal.
Miranda menatap Arvas dengan datar. "Jadi, aku harus seperti apa? Apakah aku harus kecelakaan dulu lalu kritis biar kamu anggap aku penting? Begitu, Mas?" tanya Miranda dengan terkekeh sinis bahkan matanya sudah berkaca-kaca menatap Arvas.
Arvas mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak ingin bertengkar Miranda. Aku bekerja karena ingin semua yang kamu mau tercukupi, aku tidak ingin kamu kekurangan uang bersamaku, Miranda! Dari dulu kamu tidak mengerti itu," ujar Arvas dengan dingin.
"Ya aku selalu tidak mengerti dirimu, Mas. Bahkan puluhan tahun kita menikah aku tidak mengerti dirimu sampai sekarang," sahut Miranda dengan lirih. "Kalau begitu ceraikan saja aku, Mas!" gumam Miranda menatap Arvas.
"Mulai ngelantur lagi! Aku sudah kirim uang ke rekeningmu. Berbelanjalah ajak pelayan di rumah, aku harus pergi lagi," ujar Arvas mengalihkan pembicaraan.
"Selalu saja seperti ini. Aku lelah, Mas. Tolong sekali saja kamu di rumah!" gumam Miranda dengan lirih yang masih bisa di dengar oleh Arvas.
"Sayang, aku bekerja demi kamu. Ini meeting penting jika aku bisa menarik investor maka perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan besar, kamu bisa berbelanja sepuasnya jika aku menang tender ini. Aku janji!" ujar Arvas mulai melunak.
"Ya pergi saja tidak usah pedulikan aku lagi," ujar Miranda dengan tersenyum, senyum penuh luka yang membuat hati Arvas seperti di tikam. "Oo iya aku lupa kamu memang sudah tidak peduli denganku!" Miranda terkekeh mengejek dirinya sendiri yang seakan mengemis perhatian Arvas.
Bukan hanya uang yang Miranda inginkan tapi kehadiran Arvas dan perhatian Arvas untuknya tetapi suaminya sama sekali tidak mengerti perasaannya, ia harus dipaksa mengalah dan mengerti Arvas yang workaholic.
"Sayang!" Arvas berusaha sabar menghadapi Miranda.
"Lupakan saja. Aku ketemu dengan gadis yang sangat mirip dengan Ayunda, dia yang menolongku tadi. Aku cuma mau mengatakan itu. Pergilah! Maaf aku tidak bisa mengantarkan Mas pergi. Aku ke kamar dulu," ujar Miranda tanpa menatap ke arah Arvas karena ia ingin menenangkan diri sebelum ia benar-benar mengamuk dihadapan Arvas.
Sesusah itu ya meminta waktu Arvas? Ia masih mempunyai suami tapi Miranda merasa dirinya sudah janda.
lanjut lg dunk up nya