Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.12.Tidur bersama
Mereka keluar bersama dari ruang kerja, dengan Rania terus menggandeng lengan suaminya.
Sekretaris Jhon yang yang sedari tadi menunggu di luar dengan perasaan gelisah, seketika merasa lega, begitu melihat pasangan suami istri itu, keluar dengan menunjukkan kemesraan mereka.
Henri berjalan menghampiri sekretaris pribadinya, yang tengah menatap pasangan suami istri itu dengan senyuman.
" Pergilah beristirahat, kau pasti sudah sangat lelah hari ini, aku juga akan segera pergi tidur " Seru Henri, pada sekretaris pribadinya.
" Baiklah Tuan, selamat malam Tuan, selamat malam Nona Rania" Pamit Jhon.
" Malam sekretaris Jhon" Jawabnya, tersenyum
" Buat apa kau melihat dia terus, , apa kau menyukainya?" Tanya Henri,disertai tatapan tajamnya.
Hanya tersenyum, saat mendengar ucapan suaminya.
" Tentu tidak Tuan, mana mungkin aku menyukai sekretaris Jhon"
Henri hanya menyerngitkan dahinya, mendengar ucapan Rania.
" kalau begitu ayo kita kekamar"
" Ayo Tuan." Jawabnya, dengan menggandeng lengan suaminya, menuju lantai tiga mereka.
********
Saat berada di kamar, rasa gelisah tengah menyelimuti keduanya, mengingat ini adalah malam pertama mereka.
Waktu telah menunjukkan pukul 1.00 dini hari, tanpa berpikir Henri langsung berjalan menuju ruang ganti, untuk mengganti pakaiannya.
" Tuan." Panggil Rania lembut, yang membuat langkah kaki lelaki tampan itu, terhenti seketika.
" Tidurlah dahulu kau pasti lelah, aku akan mengganti pakaianku" Jawabnya tanpa menoleh kearah Rania, dan langsung berlalu keruang ganti.
" Kenapa begitu susah meluluhkan hatimu Tuan, mau sampai kapan kau akan menutup diri" Bathinnya, dengan tatapan sendu, menatap Henri
Rania berbaring, tapi ia belum juga bisa memejamkan matanya, berselang berapa lama, muncul Henri yang sudah berganti pakaian dengan pyama berwarna navi.
" Kenapa kau belum tidur?" Tanyanya, dengan merangkak naik keatas ranjang, dan berbaring disebelah Rania.
" Aku menunggu mu Tuan." Jawab Rania, dengan suara pelan.
" Buat apa kau menungguku, apakah kau tidak merasa lelah, ini sudah pukul 1.00 dini hari.
Rania hanya tersenyum, mendengar ucapan Suaminya.
" Tuan..." Panggilnya, pelan
" Heem..." Jawabnya dengan, tatapan mata tetap tertuju pada langit - langit kamar mereka.
" Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"
Seketika Henri, langsung mengalihkan pandangannya, menatap Rania istrinya.
" Apa yang kau inginkan dariku?"
" Bukahlah pintu hatimu untukku Tuan, walaupun hanya sedikit, dan aku mohon jangan pernah ragu padaku, karena aku tulus padamu " Serunya tersenyum, dengan menatap dalam, bolamata Suaminya.
Menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan istrinya. Rasa takut untuk jatuh cinta, dan di tinggalkan telah menyatuh dengan dirinya, pengalaman buruk yang di alaminya bersama Tanti, masih sangat membekas di hatinya saat ini, di saat dia sangat mencintai seseorang justru wanita itu menghianatinya hanya karena wujudnya yang buruk, sejak saat itu membuat seorang Henri Wilson tidak percaya akan adanya cinta sejati.Dan membuat ia lebih banyak menutup diri, karena ia sangat menyadari kekurangannya.
" Tuan, aku tau apa yang kau pikirkan. Kegagalan yang kau alami bersama Nona Tanti, membuat kau tidak percaya pada Cinta, apalagi ia meninggalkanmu di saat kau membutuhkan dukungan dari orang yang kau sayang, tapi aku mohon percayalah padaku Tuan, mungkin kau menganggap sumpah yang kuucapkan di depan Tuhan hanyalah bualan semata, agar semua orang tau aku sudah menjadi istrimu, tapi percayalah padaku, jujur aku serius mengucap janji pernikahan kita, aku akan membuktikan padamu, kalau aku tulus padamu" Seru Rania, dengan tatapan nanar suaminya, karena Henri masih meragukan dirinya.
" Baiklah"
Mendengar itu, senyum merekah diwajah cantiknya, tanpa meminta ijin wanita cantik itu langsung mendekat kearah Henri, dan memeluk erat tubuh Suaminya.
" Apa yang kau lakukan Rania..!"
Rania mendongakkan kepalanya, menatap suaminya sembari tersenyum, dan tangannya membuka topeng yang masih terpakai di sisi wajah bagian kiri Henri
" Aku hanya ingin memeluk Suamiku, mulai sekarang bukahlah topengmuTuan, jika kita sudah sedang berada didalam kamar, karena aku tidak takut melihat wajah mu" Pinta Rania, dengan tatapan penuh harap.
" Kau tidak takut melihat wajah burukku Rania, aku adalah seorang monsther yang biasa orang - orang ucapkan padaku" Tanya Henri, dengan menatap sendu istrinya.
" Aku tidak takut melihat wajahmu Tuaj, kau bukan seorang monsther, yang aku tau kau adalah Henri Wilson, suami dari Rania Cullen" Jawabnya, sambil membelai lembut pipi suaminya.
Henri hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya, walaupun masih ada keraguan dalam dirinya.
" Tuan..!" Panggilnya.
"Ada apa?"
" Memm..., apakah kau tidak menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami padaku Tuan." Tanya Rania, dengan wajah merona.
" Kewajiban apa?" Tanya Henri, dengan nada heran.
" Apa kau lupa, kalau malam ini malam pertama kita, apakah kau tidak ingin menyentuhku?"
" Tidurlah, kita bisa melakukannya nanti, karena aku tau kau pasti lelah" Titahnya.
" Baiklah Tuan." Jawabnya, dengan mengecup sekilas bibir Henri.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.