(RATE18+)
📢 UPDATE : SENIN/RABU/JUMAT/MINGGU
Saat dua orang mengalami trauma dan rasa sakit dengan status hubungan, Friend With Benefit adalah salah satu opsi berbahaya yang bisa diambil agar tak terlalu merasa sepi. Tapi bagaimana jadinya jika hubungan tersebut justru menjerumuskan mu kedalam lubang hubungan paling berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
matter
note[12/05] : aku mau coba crazy up dihari ultah aku wkwkwk semoga kalian suka, aku selalu tunggu kritik saran kalian ya❤
if u wanna follback/feedback reply here❤
.
.
Eris melangkahkan kaki nya ke ruang Leon. Tapi dia sama sekali tak menemukan Leon didalam sana. Hanya ruang kosong yang berubah atmosfernya jadi lebih dingin.
Telfon kantor di meja Leon berdering, membuat Eris sedikit terlonjak sekaligus dilema untuk mengangkatnya atau tidak.
Dua kali telfon itu berbunyi, tapi masih Eris hiraukan. Walaupun Eris terbilang dekat dengan Leon tapi dia rasa kurang sopan menerima telfon saat empunya tidak ada.
Eris memilih keluar dari ruangan Leon, mencari laki - laki itu disekitar kantor. Ia harus mulai berbicara serius dengan Leon sekarang.
Bruk
Laki - laki yang sedari tadi Eris cari itu berdiri kokoh didepannya. Hanya menggunakan kaos seperti biasa, dengan alis terangkat melihat kearah Eris yang mengusap kepalanya karna tertubruk dada keras Leon.
"aw! "
"kemana? Buru - buru banget." Leon menaikkan sebelah alisnya melihat Eris yang masih menunduk.
"Ada yang mau gue omongin. " Eris masih mengusap kepalanya sambil mendongak, memperhatikan Leon yang tampak berantakan.
"Gue juga. " Leon menarik tangan Eris memasuki lift yang kosong tanpa peduli banyak tatap mata dan bisikan bisikan dari pegawai lain saat mereka lewat.
Membuat Eris membuang nafas kasar lalu melepas tangan Leon yang masih menggenggam tangannya.
10 menit mereka saling diam. Leon memasukkan tangannya ke kantong celana agar tak menyentuh wanita disampingnya itu dan Eris yang menjaga jarak sejauh mungkin agar ia juga bisa mengontrol dirinya untuk tetap diam tanpa menerkam Leon.
Saat pintu lift terbuka, Leon kembali memegang tangan Eris. Menariknya menaiki beberapa anak tangga lalu membuka sebuah pintu rooftop yang menampilkan furniture dengan aksen serba hitam.
Pandangan Eris terpaku pada sebuah twins mini bed hitam yang berada diujung rooftop dengan api unggun kecil yang menyala, salah satu penerangan diantara lampu rooftop yang temaram.
Eris refleks mengehentakkan tangannya yang baru saja akan ditarik Leon menuju tempat itu.
"ehm. Gue mau ngomong serius." Eris mengalihkan pandangannya kemanapun asal tak melihat mata mengintimidasi milik Leon.
"terus? Lo mau ngobrol sambil diri? " Leon melirik Eris yang berjalan sedikit ke tengah rootftop, menyandarkan punggungnya di tembok yang tinggi.
Eris mengangguk sambil berdehem pelan. Sesekali pandangannya teralihkan pada mini bed diujung rooftop, sumpah! Eris berniat benar serius bicara dengan Leon, tanpa saling bertautan apapun atau tanpa busana.
"Lo duluan"
"Lo duluan"
Leon mengusap tengkuknya saat ia dan Eris bicara bersamaa. Sebagai laki - laki Leon mengalah dan mempersilahkan Eris untuk bicara lebih dulu.
Perdebatan panjang soal siapa yang mulai lebih dulu dimulai. Sampai Eris akhirnya mengalah untuk bicara.
"Ok! To the point aja. Lo tau kan skandal yang lagi rame di staff andromade?"
Leon menggangguk, memberi isyarat pada Eris agar terus melanjutkan ceritanya.
"Berarti lo juga tau siapa yang sebarin? Dan soal capture chat itu-"
Eris membuang muka saat Leon menatap matanya intens. Mati - matian dia berusaha menetralkan amukan hatinya agar tetap terlihat tenang didepan Leon.
"Gue cukup tersanjung soal lo yang kasih benefit kaya gitu. Tapi lo gaperlu repot repot,bast*rd! Gue bisa naik diatas kaki gue sendiri. Tanpa belas kasihan lo!"
Eris memicingkan mata, menunjuk dada Leon ambil menekan setiap kata yang dia ucapkan.
"semudah itu lo percaya capture yang bahkan lo sendiri ragu,kan? Itu gue atau bukan. "
Leon tak kalah sinis, bahkan ia tersenyum smirk pada Eris dengan menaikkan sebelah alisnya juga.
"Gue hafal cara ketik lo-"
Leon tertawa, tatapan sinis nya tak ia lepas sama sekali saat melihat mata hazel Eris.
"Cara ketik bisa di manipulasi, Hey! Gue keluyuran terus depan lo, tapi lo gak tanya langsung. Malah lebih dengerin stranger."
Eris mengikuti Leon berjalan keujung, menjatuhkan tubuhnya di single bed. Dengan segera Eris yang berdiri melempar kasar ponsel nya pada Leon,meminta laki - laki itu membaca rentetan teror yang diterima nya.
"Tiap hari gue dapet terror kaya gitu! Lo gatau kan tiap hari juga gue denger sambatan staff lain soal gue yang jadiin lo bahan buat manjat jabatan! " Eris menahan suara nya agar tak berteriak atau memaki Leon walaupun ekspresi datar pria itu tak pernah hilang sedikitpun. Kecuali saat mereka diatas ranjang.
Leon menghela nafas, mengusap kasar wajah nya saat melihat capture yang ditunjukkan Eris dan segera mengambil ponsel nya, menelfon nomor yang menerror Eris.
"Sialan! No nya gaaktif. " Leon melempar ponselnya ke meja. Lalu mendongak melihat mata Eris yang mulai berair.
Leon berdiri, menarik Eris lebih dekat dan memeluknya. Membiarkan bahu Eris yang sudah bergetar menahan tangis.
"Ris, gue berani sumpah demi apapun itu bukan gue. Gue aja gatau lo naik jabatan, gue sama sekali gak kefikiran hal lain pas bareng sama lo. "
"trust me. Please... Gue bakal cari orang itu buat minta tanggung jawab soal apa yang dia-"
" i'm f*cked up! Gaada gunanya,Yon. Gue tau skandal CEO andromade udah sampe ke telinga papa lo. Itu alesan dia dateng kesini, kan?" Eris mendorong Leon, berteriak tanpa perduli Leon yang mengerjapkan mata.
Selama ini, Leon tak pernah melihat Eris semarah ini. Biasanya wanita itu hanya memaki kecil yang menurutnya lucu. Tapi malam ini, Eris terlihat sudah lepas kendali dengan makian kasar yang baru Leon dengar dari mulut wanitanya.
"Ris, kamu-"
"Satu satu nya cara biar andromade tetap ada dibawah pimpinan lo, gue keluar dari perusahaan ini. And our f*ckin relationsh*t! "
Eris sedikit berlari meninggalkan Leon yang masih berdiri diam. Mencoba mencerna apa yang di katakan Eris barusan.
Leon berteriak. Mejatuhkan benda apapun didekatnya, lalu berlari mengejar Eris yang sudah masuk kedalam lift.
\*
"Sam, lo liat Eris ga? "
Leon buru buru menghampiri meja kerja Samuel yang tak jauh dari meja Eris yang sudah kosong. Semua peralatan pribadi Eris yang Leon lihat sering dibiarkan berantakan kali ini kosong. Hanya komputer dan setumpuk note yang sudah Eris revisi.
"Tadi abis dari ruangan Miss. Kath, langsung ambil tas, terus tau dah kemana" Samuel mengedikkan bahu, mendekat kearah Leon dan memelankan suaranya.
"lo pecat Eris, Yon?"
"d*mn it! " Leon berteriak membuat para staff termasuk Kathie yang baru saja keluar ruangan terkejut dengan umpatan Leon yang cukup keras
Samuel mundur beberapa langkah lalu tersenyum kikuk dan melambaikan tangannya, memberi tanda mereka baik - baik saja.
"Hei, Hei ada apa ini? "
Kathie langsung menghampiri Samuel saat Leon buru buru pergi. Wajah dingin dan datar Leon semakin mencekam saat ini, bahkan ia menabrak siapapun yang menghalangi jalannya.
Fikirannya hanya satu, Eris. Ia tak akan pernah membiarkan Eris pergi karna hoax bodoh yang sudah tersebar.
Leon mengepalkan tangannya di kemudi. Menundukkan kepala lalu memukul stir berkali kali. Sebelah tangannya memegang ponsel, mengetikkan sesuatu lalu langsung melajukkan mobil dengan cepat menuju tempat dan menemui orang paling berpengaruh dalam perjalan hidupnya.
o...o...o...
maksudnya udah tamat apa blom😊😊🙏🏻🙏🏻🙏🏻
sumpah gereget tau,,,,
"HEY,,,,,,, LO LO LO NGGA TAU MASALAHNYA JADI NGGA USAH BANYAK B*COD,,,,, URUS AJAA HIDUP LO B*NGSRUD,,, "!!!
ini teh mereka saling suka apa gimana? pernah pacaran,,,?
sungguh membuatku bertanya sendiri,,,,, 🥴🥴
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih