NovelToon NovelToon
Road To Jogja

Road To Jogja

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:170.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.

Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?

Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi hari sebelum berangkat meeting Bian kembali datang ke rumah sakit, ia menyerahkan radio antik milik Sekar yang telah ia perbaiki.

"Alhamdulillah, bisa nyala kembali," wajah Sekar terlihat sangat berseri-seri mendengar radio kesayangan peninggalan almarhum suaminya bisa berfungsi kembali. "Apa kamu seorang teknisi?"

"Dulu aku dan almarhum kakek sering membongkar barang-barang elektronik, jadi sampai sekarang keterusan," jawab Bian.

"Nisaa juga dulu sering di ajak membongkar barang-barang elektronik sama almarhum bapaknya tapi sampe sekarang enggak bisa memasang kembali," ucap Sekar sambil tertawa.

"Ibu..." protes Annisa.

Bian hanya tersenyum lebar, kemudian ia menoleh ke arah Annisa. "Kamu tidak ke pasar?"

Annisa menggeleng. "Hari ini ibu menjalani pemeriksaan lanjutan, dan mas Fahri katanya mau keluar jadi untuk hari ini warung tutup," jawab Annisa.

Bian mengangguk mengerti, ia dan Fahri memang sudah ada janjian dengan pengacaranya untuk menyelesaikan masalah tanah waris almarhum ayahanda Annisa. "Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu ya." ia berpamitan kepada Sekar, barulah keluar dari ruang rawat inap dengan di antar Annisa sampai ke depan pintu.

"Mas, dasinya miring," ucap Annisa ragu-ragu. "Boleh aku benarkan sebentar?"

"Tentu," Bian membiarkan Annisa memperbaiki dasinya. "Tadi aku buru-buru jadi tidak begitu memperhatikan," ucap Bian mengurai ketegangan yang ia rasakan ketika tangan Annisa berada di lehernya, ja sungguh khawatir Annisa dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.

"Sudah." Annisa menurunkan tangannya dari leher Bian.

"Terima kasih," Bian nampak salah tingkah dan wajahnya memerah. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam, semoga sukses mas Imam." Aanisa terus memandangi Bian, sampai-sampai ia tak sadar jika sedari tadi Fahri memperhatikannya.

"Hmmm..." dehaman Fahri membuat Annisa terlonjak dari tempatnya berdiri. "M-mas Fahri, dari kapan di situ? Mengagetkan saja," ucap Annisa gugup.

"Harusnya aku yang tanya ngapain kamu pegang-pegang leher pria yang bukan mahrommu? Kau ini terlihat seperti wanita penggoda saja!!!" tanyanya dengan suara tinggi.

Tanpa berkata-kata, Annisa pergi meninggalkan Fahri. Sungguh kata-kata kakaknya yang menyamakan dirinya sebagai wanita penggoda membuat hatinya sangat sakit ia memang menaruh hati pada Bian dan sangat terpesona oleh ketampanan Bian yang menggunakan stelan jas yang di pilihkan olehnya kemarin, stelan jas itu sungguh pas di tubuhnya yang tegap. Namun tak pernah terlintas dalam benak Annisa jika ia ingin menggoda Bian.

Annisa menghapus air matanya, kemudian ia kembali ke ruang rawat inap ibundanya, ia beruntung karena ternyata kakaknya tidak ada di sana.

...****************...

Pertemuan Fahri dengan dengan pengacara Bian berlangsung singkat dan lancar, sebab sebelumnya Bian sudah menceritakan secara garis besar duduk permasalahan yang ada, sehingga pihak pengacara hanya meminta bukti-bukti soal pembagian waris tersebut.

Selesai meeting Bian menemani Fahri dan pengacaranya, bertolak menuju kota Solo. Pakde Giman yang tengah memarahi tiga anak buahnya yang kemarin memukuli Fahri, terkejut melihat kedatangan Fahri. Tak hanya pakde Giman yang terkejut, ketiga pesuruh itu pun terkejut melihat Bian yang tengah berjalan sembari menggulung lengan kemejanya, dengan sengaja Bian memamerkan otot-otot tangannya.

"Jadi benar, pakde yang menyuruh mereka memukuliku kemarin? Aku bisa membawa masalah ini ke ranah hukum jika pakde tak memberikan sertifikat tanah milik bapakku," ucap Fahri, saat ia menaiki tangga teras kediaman pakde Giman.

"Ooh jadi kamu mau mengancam pakde?" Giman berkacak pinggang seolah ingin menantang Fahri.

Sang pengacara memperkenalkan diri sembari memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA). "Semua bukti yang di miliki oleh Fahri sudah cukup kuat untuk menyert anda ke ranah hukum dengan dua tuduhan. Yang pertama soal penggelapan tanah waris dan yang kedua soal pengkeroyokan kemarin, hanya saja client saya masih ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan, untuk itulah kami datang kemari."

Sekelebat Bian mendengar bisik-bisik dari tiga orang pesuruh itu yang mengatakan bahwa Bian-lah yang kemarin memukuli mereka hingga babak belur. Hal ini membuat nyali Giman mendadak menciut. "Baiklah kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan." ia mempersilahkan Bian, Fahri dan sang pengacara duduk di bangku teras kediamannya.

Akhirnya Giman mengakui jika dirinya sudah menjual tanah itu beberapa tahun yang lalu atas desakan istrinya untuk liburan ke luar negeri, namun Giman berjanji akan mengembalikan uang hasil penjualan tanah tersebut.

"Kami beri waktu satu minggu dan sesuai dengan harga tanah saat ini, bukan harga yang kau jual!!" ucap Bian dengan tegas, kemudian sang pengacara menyodorkan surat perjanjian yang harus Giman tanda tangani.

"Sa-satu minggu?" ucap Giman tergagap, mendengar minimnya waktu yang di berikan oleh Bian kepadanya.

"Ya satu minggu atau kau kami laporkan ke polisi!!"

"Tidakkah pakde berpikir bagaimana kondisi ibuku sekarang?" Fahri tak menyangka jika saaudaranya sendiri tega menikamnya di saat keluarganya mengalami kesulitan.

"Maafkan pakde, pakde tidak tahu jika hal ini akan terjadi. Pakde lihat hidupmu sudah berkecukupan, dan keluargamu tidak pernah ada yang menayakan soal waris yang di berikan kakekmu pada bapakmu."

Fahri menggebrak meja yang ada di hadapnnya, seketika darahnya mendidih mendengar ucapan pakdenya. "Siapa bilang keluargaku tidak ada yang pernah menanyakan hal ini? Dua tahun yang lalu ibuku pernah menanyakan ini pada bude, tapi bude malah mencacinya dan mengatakan bahwa keluarga kami peminta-minta. Dari situlah Ibuku tidak pernah lagi membahas soal hak waris almarhum bapak. Tapi sekarang aku tidak bisa tinggal diam melihat kalian semena-mena dan aeenaknya menikmati warisan bapakku!!"

Setelah Giman menadatangani surat perjanjian pembayaran hak waris atas tanah keluarga Fahri, mereka kembali berdiskusi di sebuah cafe untuk menentukan langkah selanjutnya sebagai antisipasi jika Giman mangkir dari janjinya.

Namun Fahri tak begitu khawatir pakdenya mangkir dari janjinya, sebab ia telah mengkantongi sertifikat rumah Giman sebagai jaminan dari perjanjian yang di buatnya tadi, sehingga jika pakdenya mangkir, Fahri bisa langsung menjual rumah pakdenya.

Selesai berdiskusi, sang pengacara langsung bertolak menuju bandara untuk kembali ke Jakarta, sementara Bian dan Fahri kembali ke Jogja.

1
erna erfiana
bagus, recommended buat dibaca
Land19
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sativa Kyu
👍👍👍
Ai Maswah
Luar biasa
Suyatno Galih
selamat nyut2an bian,
Suyatno Galih
pusing2 km bian lelet amat nginfo ke bini keduluan di labrak mantan, mumet2 bini lu purik
Suyatno Galih
kebumen hadir via palembang
Land19
kok udahan aja sih .
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
Land19
di bayar 1jt eh digantinya malah mobil , .haduh... makasih loh Widya udah bikin hubungan bi sama an baikan
Land19
rasanya pengin jotos tuh si Fahri berasa jadi orang / Kaka udah baik aja .
haduh.
Land19
najong banget kalo ngomong .
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Nia Budiman
di jogja ngak ada angkot, adanya transjogja
bunda DF 💞
sukaa,, ceritanya ringan,, mantaap
AwanMendung26: Terima kasih bunda. 🌻
total 6 replies
bunda DF 💞
purwakarta,, kampung halaman akuuu
yuni kazandozi
novel yang banyak menceritakan hal hal yang positif,dari kisah bian dan anisa kita bisa ambil hikmahnya yang baik
AwanMendung26: Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 1 replies
yuni kazandozi
laaah sudah tamat az inih
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ ¢ᖱ'D⃤
cerita yang sangat menarik, penuh makna, tidak terlalu banyak intrik, dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan enak dibaca...
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ ¢ᖱ'D⃤
wihhh..dalam 5 tahun udah 3 anak aja i i🤭🤭🤭
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ ¢ᖱ'D⃤
wahh..anaknya Bian, pintar hapalannya juga 👍
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ ¢ᖱ'D⃤
waahh Mama Claire pasti cantik banget ini..awet muda lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!