NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.6
Nama Author: Candradimuka

"Jaminan rumah sakit, operasi, dokter, apa pun sampai Ibu kamu baikan. Rumah, makanan, dan sokongan usaha. Sepuluh tahun. Itu mahar saya."

Untuk membiayai operasi cangkok hati ibunya, Juwita sebagai anak satu-satunya harus berusaha keras. Di tengah frustrasi memikirkan biaya rumah sakit, seorang pria tampan datang meminta Juwita jadi istrinya. Sebagai ganti, pria itu akan membiayai seluruh pengobatan Ibu dan akan menanggung kehidupan orang tuanya sepuluh tahun kedepan.

Juwita setuju.

Masalahnya, ternyata pria itu punya tiga anak yang tiga-tiganya adalah anak setan.


*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candradimuka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Pengasuh Laknat

"Den, Kakaknya udah capek. Mainnya entar lagi, yah?" Pengasuh Cetta turun tangan, pergi membujuk Cetta. "Ayok, tengokin Pika sama Mbak. Mimi-nya Den Banyu juga mau dikasih makan."

Penuh rasa syukur Juwita menghela napas.

Anak kecil ternyata lebih merepotkan dari yang terlihat. Beruntung Cetta mau pergi bertemu Pika, alhasil Juwita bisa istirahat.

Tapi itu hanya sebentar sebelum tiba-tiba terdengar suara tangis kencang.

Juwita berlari ke sumber suara, terkejut melihat sebuah ruangan berisikan banyak kotak kaca binatang menjijikan.

Uwwah, kenapa peliharaan anaknya Adji tidak ada yang beres?! Pelihara kucing, kek!

"Kenapa, Mbak?"

Mbak Uni, pengasuhnya Cetta tertawa menepuk-nepuk punggung Cetta. "Aden mau masuk ke kandangnya Mimi, Mbak. Jadi saya larang terus marah. Enggak pa-pa. Udah biasa."

Juwita bergidik melihat kandang si Mimi, kura-kura raksasa tadi yang berupa akuarium raksasa. "Gitu, yah?" Ayo kabur dan jangan dekati tempat ini lagi.

Buru-buru Juwita berbalik, berniat pergi tapi tangisan Cetta aneh. Kenapa, yah?

Mungkin perasaan saja, pikir Juwita. Ia pergi ke kamarnya untuk mandi, gerah habis bermain dengan Cetta. Setelah tidur sebentar karena capek dan tidak terbiasa, Juwita turun. Melihat sekarang sudah pukul dua siang.

Waktunya tidur siang untuk Cetta.

"Mbak Uni, Cetta ma—"

Tangisan Cetta terdengar lagi.

Juwita mulai merasa itu aneh. Apa yah? Itu rasanya tangisan yang menyiratkan ... sakit?

Buru-buru Juwita ke kamar anak tirinya, menemukan Mbak Uni tengah menekan ibu jari kaki Cetta hingga anak itu menangis.

"Mbak!"

Dia tersentak. "Iya, Mbak?"

Hah? Dia melakukan itu pada anak kecil tapi malah bertanya balik? "Mbak ngapain?"

Santai sekali wanita itu berkata, "Den Cetta kalau enggak dimarahin enggak mau tidur siang, Mbak. Jadi mesti diginiin dulu."

Lah, lah, lah? Terus dia kira Juwita akan berkata 'oh gitu, yah?' dan ikut tidur siang?

"Heh, sinting!" Juwita merebut anak tirinya cepat-cepat. "Iya sih capek ngurus anak kecil, tapi kamu emang mau dicubitin tiap diatur?"

"Loh, Mbak? Kok marah sama saya? Kalo enggak diginiin, nanti repot. Mbak belum pernah sih disusahin sama Den Cetta."

Urat-urat Juwita langsung menonjol.

Jal*ng ini, apa dia merasa dia benar jadi tidak akan dilawan? Merasa dia paling tahu karena sudah dari lama melakukannya?

"Pulang kamu. Biar saya yang ngurus Cetta sendiri."

Mbak Uni malah tertawa. "Baru main bola sebentar udah bosen kok bisa nyuruh saya pulang, Mbak? Udah dong, jangan besar-besarin masalah. Nanti Mbak yang—"

Satu tangan Juwita menahan berat tubuh Cetta, sedang satu lagi menutup matanya. Dengan begitu dia tidak akan melihat waktu kaki Juwita melayang, menendang wajah Mbak Uni.

Wanita itu terlempar begitu saja.

Juwita berdiri di depannya, menatap dingin.

"Katanya muka itu terhormat jadi enggak boleh ditampar apalagi ditendang." Juwita menggertak giginya. "Tapi kayaknya situ enggak tau yang namanya terhormat jadi saya juga enggak peduli. Pergi sebelum gigi kamu saya rontokin!"

Mbak Uni syok. Namun saat Juwita terlihat siap menendangnya kedua kali, buru-buru wanita itu beranjak pergi, lari ketakutan.

Cih. Dasar brengs*k.

Berapa lama dia menjaga Cetta dengan metode penjagaan itu? Iya sih Juwita akui sangat menjengkelkan menjaga anak kecil yang membosankan ini.

Tapi dia pikir bisa mencubitinya sesuka hati agar tidak merepotkan?

"Kakak?"

Juwita menghela napas. Memeluk bocah sontoloyo itu erat-erat. "Kamu kenapa enggak bilang, sih, Bocah."

"Bilang apa?"

Nampaknya dia belum mengerti. Atau mungkin karena terbiasa.

"Tidur siang digendong suka, enggak?" Juwita mendadak takut meninggalkannya. "Ayok. Nonton Ronaldo di bawah sambil tidur siang."

*

1
Rahmawaty❣️
Panggilannya ganti donk jgn lu gw lu gw , tante aja ya😅
Rahmawaty❣️
Mreka abis ngpain thor ko bajunya berserakan???? Udh belah duren blom si???? 😅😅
Rahmawaty❣️
Wowww😆
Rahmawaty❣️
Kadang aku slalu berbuat baik ke org tp knp allah blm mendatangkn hal baiknya buat aku🥲
Rahmawaty❣️
Tampol jg ni si nenek nenek🤭
Rahmawaty❣️
Wow di ciummm
Rahmawaty❣️
Pdhl prgi sama suaminya tp ttep aja ada yg jahatin
Rahmawaty❣️
kaya sales ya wi/Facepalm//Facepalm/
Rahmawaty❣️
Haduhhhhhh...
Anak2 tirinya cuma beda brpa tahun doang sma ibu tirinya , jd gmna yaaaa...kn jd baperrr mrekaa🤭😋
Rahmawaty❣️
Jgn di bayangin atuh wi😂😂
Rahmawaty❣️
Apa mesti melihat bukti dlu baru kalian pda prcaya ya bocah
Rahmawaty❣️
Emg rada rada ni bocah , ga bisa ikhlas nerima mamanya prgi kayanya..
Udh bagus adeknya ga rewel nanyain mamanya ,
Rahmawaty❣️
Haha lgsug repleks liet bajunya/Facepalm//Facepalm/
Rahmawaty❣️
/Joyful//Joyful//Joyful/
Rahmawaty❣️
Emak lu udh dikuburan kocak
Rahmawaty❣️
Pikiran wanita beda2 , ada yg krna ngandelin suaminya jd ga bisa lepas dari suami.. Tp klo wanita yg berkarir mh gampang2 aja pisah dri suami krna bisa mandiri
Rahmawaty❣️
😂😂😂😂
Rahmawaty❣️
Cetta umur 6 thn mh udh gede, udh msuk SD kya anakku, hrs nya udh ngerti mamanya si
Rahmawaty❣️
Iiihh ko anak2 nya pda bgitu sii ngomongnya
Rahmawaty❣️
Cetta ini cwok ya thor ????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!