"Gue peringatin sama lo, jangan pernah sentuh barang-barang gue!" ucap Refano sambil menarik kasar gantungan kunci yang ada di tangan Wafa.
"Dan satu lagi. Jangan pernah lo deketin Fani. Karena lo cuman bawa pengaruh buruk buat dia." suara datar dan tatapan tajam Refano tujukan kepada Wafa yang masih setia berdiri didepannya.
"Fani teman aku. Dan aku merasa bahwa nggak ada salahnya Fani membuat keputusan yang membuat dia jadi lebih baik." balas Wafa dengan berusaha untuk tidak sakit hati dengan ucapan Refano barusan.
"Lebih baik dengan berhijab maksud lo?"
"Apa yang salah dengan hijab?"
"Nggak usah ikut campur urusan keluarga gue. Dan ingat, lo nggak tahu apa-apa soal kehidupan gue. Jadi berhenti untuk pengaruhin Fani atau lo akan menyesal."
Bagaimana kisah Wafa selanjutnya? akankah dia mampu untuk menghadapi rintangan demi rintangan yang menimpa hidupnya?
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26 🌻🌻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan dengan Adik Panti
..."Bahagia itu sederhana. Sesederhana kamu berkumpul bersama orang-orang yang tulus menyayangimu"...
...-AwanMendung26...
HAPPY READING....
"Wafa, aku minta maaf, ya, soal ucapan Naila tadi." kini Fani tertunduk lesu mengingat sikap Naila pada Wafa.
"Nggak apa-apa Fan. Aku ngerti kok Naila kayak gitu karena dia peduli sama kamu. Dia nggak mau kamu berteman sama orang yang justru bawa pengaruh buruk buat kamu."
"Maaf Fani kalau aku ikut campur. Aku boleh tahu nggak Naila itu siapa dan kenapa dia kayak benci banget sama Wafa?" Tanya Zeya yang penasaran dengan semua ini.
"Naila itu sepupu aku. Dia sebenarnya baik kok. Cuman masa lalu dia aja yang buat dia memandang kalau perempuan berhijab itu buruk."
"Kenapa Naila bisa nggak suka sama perempuan berhijab?"
"Sebenarnya kisah keluarga aku juga nggak beda jauh dengan kisah keluarga Naila. Di mana Papa Naila juga pernah selingkuh dengan perempuan berhijab. Dan karena kejadian itu Mama Naila depresi berat dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya. Naila benar-benar terpukul waktu itu. Bahkan Papa Naila juga benci sama Naila dan nggak pernah mau menganggap Naila itu anaknya. Akhirnya Mama aku yang ngerawat Naila sejak Mama Naila meninggal. Makanya aku dekat banget sama Naila. Tapi, semenjak SMA Naila pindah keluar kota kerumah neneknya. Dan disitulah kami pisah, sampai akhirnya kita bisa ketemu lagi sekarang." Kisah Naila memang hampir sama dengan kisah keluarga Fani. Namun, Fani lebih beruntung karena dia masih bisa berkumpul dengan keluarganya sekarang.
"Kenapa Papa Naila bisa benci sama Naila?" Kini pertanyaan itu berasal dari Wafa. Jujur, Wafa juga sangat penasaran dengan kisah Naila.
"Papa Naila sedari awal menginginkan anak laki-laki untuk jadi penerus bisnisnya. Tapi, justru anak perempuan yang lahir. Waktu melahirkan Naila, Mamanya tiba-tiba mengalami pendarahan hebat dan kata dokter satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah pengangkatan rahim untuk menghentikan pendarahannya. Setelah rahim Mama Naila diangkat secara otomatis Mama Naila nggak akan bisa hamil lagi. Dan itu semua dijadikan alasan buat Papa Naila mencari perempuan lain untuk mendapatkan anak laki-laki sebagai penerusnya kelak. Naila sama sekali nggak pernah merasakan kasih sayang dari Papanya. Sejak umur 9 tahun, Naila nggak pernah lagi bertemu dengan Papanya. Kami sudah berusaha untuk mencari informasi soal Papa Naila. Tapi semua itu sia-sia karena Papa Naila sama sekali nggak nganggap Naila sebagai anaknya lagi."
"Kasian juga, ya, Naila. Pantas aja dia kayak benci banget sama perempuan berhijab." ucap Zeya sambil membayangkan bagaimana pahitnya kehidupan Naila sedari kecil.
Mereka bertiga akhirnya terdiam untuk beberapa menit. Berperang dengan fikiran masing-masing sambil menikmati tiupan angin yang menerpa kulit mereka.
"Eh, katanya tadi mau jalan-jalan. Jadi nggak?" Tanya Fani yang menatap Wafa dan Zeya bergantian.
"Memangnya kita mau kemana?" Wafa menatap Fani menunggu jawaban.
"Kalian mau ikut aku nggak buat ngajarin anak-anak panti?"
"Anak panti asuhan?" Tanya Zeya memperjelas.
"Iya. Biasanya setiap hari sabtu aku selalu luangin waktu buat ngajar anak-anak panti. Kalian mau ikut nggak?" keduanya lalu mengangguk dengan antusias.
Akhirnya mereka bertiga sama-sama menuju ketempat yang disebutkan Fani tadi dengan Wafa yang mengendarai motornya sambil mengikuti mobil Fani dari belakang. Sedangkan Zeya ikut bersama Fani di mobil. Mobil Fani pun berhenti pada salah satu rumah bertuliskan 'Panti Asuhan Kasih Bunda'. Anak-anak panti langsung berhamburan menyambut mereka bertiga setelah mengetahui siapa yang datang berkunjung.
"Kak Fani!" teriak anak-anak tersebut sambil berlari menuju kearah Fani. Fani menyambut mereka dengan merentangkan kedua tangannya. Mereka memeluk Fani seolah-olah sangat senang dengan kehadiran Fani disini.
"Gimana kabar kalian?" Tanya Fani pada segerombolan anak panti itu.
"Baik kak. Kakak kenapa baru datang kesini. Kami nungguin kak Fani dari kemarin," jawab salah satu anak perempuan yang diperkirakan umurnya baru 9 tahun.
"Kak Fani aku udah selesai baca buku yang kak Fani kasih ke aku loh," ucap salah satu anak perempuan dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Kak Fani aku juara lomba mewarnai di sekolah loh" tambah seorang anak laki-laki berkulit sawo matang.
"Wah kakak senang dengar kalian semua pintar-pintar."
"Maaf, ya, kak Fani baru bisa datang hari ini. Kemarin kakak ada urusan. Jadi, nggak sempat datang jenguk kalian."
"Oh, iya, kenalin ini teman-teman kakak. Ini namanya kak Wafa" ucap Fani sambil menunjuk kearah Wafa.
"Halo kak Wafa!" ucap anak-anak panti tersebut secara serentak.
"Halo, adik-adik!" balas Wafa sambil tersenyum ramah kearah anak panti itu.
"Nah, kalau yang ini namanya kak Zeya," lanjut Fani sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah Zeya.
"Halo kak Zeya!" sapa adik-adik panti tersebut.
"Halo semuanya."
"Eh, dek Fani. Sejak kapan datang?" Tanya salah satu ibu panti yang juga berhijab sama seperti Fani dan Wafa.
"Baru aja Bu."
"Oh, iya, mari masuk dek. Anak-anak saking senangnya dijenguk sama dek Fani langsung lupa ngajak untuk masuk kedalam,"
"Soalnya kita udah kangen banget Bu sama kak Fani. Minggu lalu kan kak Fani nggak datang ke panti. Kami fikir kak Fani udah nggak mau kesini lagi." Bocah perempuan berusia 9 tahun itu kembali mengutarakan isi hatinya. Mendengar itu mereka hanya bisa tertawa dengan penuturan gadis kecil itu.
"Silahkan duduk dek," ibu panti tersebut mempersilahkan Fani, Wafa dan Zeya untuk duduk disebuah kursi yang ada diruang tamu. Sedangkan anak-anak panti yang lain kembali sibuk bermain.
"Gimana kabarnya dek Fani?"
"Alhamdulillah baik Bu. Ibu sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah Ibu juga baik."
"Kemarin pas dek Fani nggak kesini mereka nanyain dek Fani terus."
"Saya juga rindu banget sama mereka Bu. Tapi, minggu lalu saya ada sedikit kesibukan jadi belum sempat mampir ke panti."
"Oh, iya, dek. Kalau boleh Ibu tahu, ini teman dek Fani?"
"Iya, Bu. Ini teman-teman saya. Ini Wafa dan ini Zeya" Wafa dan Zeya kemudian bersalaman dengan ibu panti tersebut.
"Maasyaa Allah, makin ramai panti kita nantinya. Sering-sering, ya, dek Wafa dan Zeya kesini," ucap ibu tersebut sambil tersenyum ramah.
"Kalau gitu saya permisi, ya, Bu. Saya mau ngajar anak-anak dulu."
"Iya, dek, silahkan."
Mereka bertiga akhirnya berkumpul bersama anak-anak panti dibawah salah pohon besar yang ada dipekarangan panti.
Wafa dapat melihat bagaimana antusias anak-anak panti tersebut untuk belajar. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat senyum dan gelak tawa anak-anak itu terdengar. Wajah polos dan lugu mereka. Keceriaan mereka seolah-olah menjadi salah satu sumber kebahagiaan mereka saat ini. Wafa bersyukur dapat dipertemukan dengan orang tulus berteman dengannya. Bertemu dengan anak panti itu membuat Wafa banyak belajar dari mereka. Jika dibandingkan dengan kehidupan Wafa, maka dia sangat jauh lebih beruntung dibanding anak-anak itu. Meski ayahnya sudah meninggal, paling tidak dia masih bisa merasakan kasih sayang dari ibunya. Dia masih memiliki saudara yang bisa dia ajak bercanda bersama. Berbeda dengan mereka yang tidak pernah tahu bagaimana wajah orang tua mereka. Mirip siapa wajah mereka, apakah ibunya atau ayahnya? Dan bagaimana keadaan mereka sekarang.
"Wafa?" Zeya terus saja memanggil Wafa untuk membuyarkan lamunan perempuan disampingnya itu.
"Wafa, hei!" Zeya seketika menguncang kecil lengan Wafa melihat tak ada respon apapun dari temannya itu.
"Eh, iya, Zeya. Kenapa?"
"Kamu kok dari tadi aku perhatiin melamun sih. Kamu ada masalah?"
"Nggak kok. Aku baik-baik aja."
"Coba deh liat anak yang disana Fa, dia kok malah duduk sendirian dan nggak gabung sama anak-anak yang lain?" Wafa mengikuti arah tangan Zeya yang menunjuk pada ada perempuan yang duduk sendiri diayunan.
"Kesana, yuk!" ajak Wafa pada Zeya. Mereka berdua akhirnya memilih untuk menghampiri gadis kecil tersebut.
"Halo, dek. Namanya siapa?" Tanya Wafa ramah. Namun, anak itu tiba-tiba saja membuang muka kearah lain saat sedang ditanya. Melihat itu seketika Wafa dan Zeya saling memandang seolah memberi kode bertanya.
"Lho, kok nggak dijawab? Oh, iya, sebelumnya kenalin, kakak ini temannya kak Fani. Nama kakak, Wafa. Dan teman kakak yang ini namanya kak Zeya." anak perempuan itu tampak mencuri pandang kearah Wafa dan Zeya.
"Adek kenapa, kok nggak ikut gabung belajar sama teman-teman yang lain?" Wafa tidak mau menyerah untuk mendapatkan respon dari gadis kecil dengan pipi cubby itu.
"Adek mau coklat nggak? Kakak ada coklat nih," kini Zeya mengeluarkan jurus terakhir yang dia ketahui untuk membujuk anak-anak. Zeya melihat di tv bahwa anak-anak akan lebih mudah dibujuk jika menggunakan ice cream atau coklat.
"Mau," akhirnya suara pelan itu keluar dari bibir mungil milik gadis berpipi cubby itu.
"Nih," dalam hati Zeya bersorak kemenangan. Akhirnya bendungan es batu itu mencair dengan sebungkus coklat miliknya. Untung saja Zeya menyiapkan coklat ditasnya. Karena memang Zeya juga sangat menyukai coklat.
"Kalau kakak boleh tahu, nama adek siapa?" Kini Wafa kembali mencoba keberuntungannya untuk membujuk gadis itu.
"Putri," jawab gadis tersebut dengan suara datar dan sibuk membuka bungkus coklat miliknya.
"Putri kok nggak ikut belajar sama teman-teman yang lain?"
"Orang lain belajar untuk banggain orang tua mereka. Sedangkan putri nggak tahu orang tua Putri siapa dan di mana mereka sekarang. Jadi, untuk apa Putri susah-susah belajar." Wafa dan Zeya yang mendengar ucapan Putri tiba-tiba dibuat diam. Anak seusia Putri bahkan sangat peka dengan keadaannya.
"Kok Putri ngomongnya gitu. Teman-teman Putri yang dipanti kan juga nggak punya orang tua. Tapi, mereka juga tetap semangat buat belajar kan? Lagi pula kita belajar bukan cuman buat banggain orang tua aja. Mungkin salah satu alasan kita belajar memang untuk membanggakan mereka. Tapi, itu bukan satu-satunya alasan buat belajar. Kita belajar supaya kita bisa menjadi anak yang pintar. Dengan belajar kita juga bisa tahu hal yang baik untuk kita dan hal yang buruk untuk kita. Meskipun Putri nggak tahu orang tua Putri siapa. Tapi, Putri kan punya ibu panti dan juga teman-teman panti yang lain yang bisa Putri banggain. Mereka semua itu keluarga Putri. Dan mereka semua juga sayang sama Putri. Jadi, Putri harus semangat untuk belajar. Agar suatu saat Putri bisa meraih cita-cita Putri." Ucap Wafa sambil mengelus pelan rambut gadis tersebut.
"Putri tahu nggak, ayah kakak juga udah nggak ada. Ayah kakak udah meninggal. Tapi, kakak tetap semangat buat belajar supaya suatu saat ayah kakak bisa bangga sama kakak. Karena kakak bisa meraih cita-cita kakak."
"Tapi kakak masih punya ibu?" Wafa mengangguk.
"Gimana kak rasanya punya ibu. Enak nggak? Kata teman-teman disekolah. Punya ibu itu enak. Ada yang selalu bacain buku sebelum tidur, ada yang ngajarin kalau ada tugas sekolah yang susah. Ada yang peluk kalau lagi kedinginan." Ucapan Putri barusan seolah-olah kalimat menyakitkan untuk Wafa. Anak seusia putri tumbuh dewasa karena tuntutan keadaan. Mereka harus belajar untuk bertahan hidup dan tetap tersenyum walaupun rasanya semua itu harus dipaksakan.
"Punya ibu memang enak kok Putri. Tapi, walaupun Putri nggak tahu ibu Putri ada di mana. Tapi Putri kan masih punya ibu panti yang sayang sama Putri seperti ibu sendiri" kini Zeya yang berusaha untuk membalas ucapan gadis kecil itu.
"Iya, sih kak. Ibu panti itu memang bukan ibu kandung Putri tapi ibu panti selalu sayang sama Putri walaupun kadang Putri nakal."
"Berarti sekarang Putri mau belajar kan bareng teman-teman yang lain?" Tanya Zeya sambil menatap Putri.
"Iya, Putri mau belajar kak. Makasi, ya, kak udah mau dengerin cerita Putri." Wafa dan Zeya kemudian mengangguk.
"Oh, iya, kalau boleh tahu umur Putri berapa sekarang?"
"Kata ibu panti umur Putri udah 10 tahun." ucap Putri sambil memakan coklat yang sedari tadi belum masuk ke mulutnya.
"Wah, berarti Putri harus lebih semangat lagi belajarnya."
"Iya, kak."
"Ya, udah. Aku ke teman-teman dulu, ya, kak. Aku mau belajar sama mereka juga." Ucap Putri sambil melambaikan tangannya kearah Wafa dan Zeya.
betapa indahnya bersama mahrom yg sejalan..
semoga solih sholihah q, juga mendapatkan spt keindahan kisah ini d akhirnya..aamiin
sub
like
vote
iklan
komen
kopi
stars
cha yo..
😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap terbaik
apa yg terjadi skrg..adlah berharap terbaik kedepanya. aamiin..
menjaga hati..
sakit
buku diary
dl zaman nabi yusuf yg oncek2 bagianya kaum hawa, yg ampe tak menyadari tanganya kepisau saking gantenge..nabi yusuf
x ini berbeda ....hehehhe
🤣😂😁😀😃😅😆😉
krn tak bs melupakan jk hati terluka. uhhhhh..hny bs menguatkan diri sendiri.. cha yo..semua siper women disini i luv u pull
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap yg yerbaik