[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Dari kata ‘cinta’ semua menjadi gelap gulita jika tidak pandai mengarahkannya.
Memutuskan vakum pacaran adalah hal terbaik meski terasa pahit. Karena zina adalah dosa besar.
Dari ‘merelakan’ mereka bisa merasakan apa itu cinta sejati tanpa ada batasan lagi. Tanpa ada kata zina yang menjadi benteng tinggi yang tidak boleh dilewati. Jika benteng tinggi runtuh, maka hancurlah bersamanya menjadi kepingan yang putus asa.
-----
Instagram pribadi: @aidahliaa_
Instagram quote: @quotebymeforyou
Youtube: Aidahlia
Twitter: @aidahlia55
Telegram: Aidahlia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Satu minggu telah berlalu. Ashila sudah mulai mengenal sanak saudaranya. Dari Abba, Kakak-kakaknya, Bibi Hana, dan Arga. Orang yang bukan termasuk kedalam keluarganya yang paling pertama Ashila kenal adalah Ray. Ashila cukup akrab dengan Ray. Ray selalu bercerita masa-masa saat Ashila masih di MTs dahulu.
"Kamu itu dulu primadona kelas. Kamu itu cantik, cantiknya kamu itu gak cuma wajah aja, tutur kata kamu, akhlak kamu, dan segala gerak-gerik kamu itu cantik. Kamu sangat menjaga diri kamu. Kamu itu tidak mau ada laki-laki yang menyentuh kulit kamu. Kamu juga gak bergaul dengan laki-laki. Kamu itu wanita sholeha."
"Apa aku sebaik itu, Ray?"
Ray terdiam. Terbayang kembali saat-saat ia berduaan dengan Ashila. Saat-saat mereka saling berpegangan tangan. Saat-saat mereka saling rangkul-merangkul, sender-menyender.
Aku tidak akan menceritakan kisah buruk itu!
"Apa aku sebaik itu, Ray?" Ashila mengulang pertanyaannya.
Ray hanya tersenyum, "Setiap manusia tak pernah luput dari salah dan dosa, Sil."
"Aku mau salat Ashar dulu, ya, sekalian aku pamit mau pulang. Besok kamu udah boleh pulang kerumah, dan seninnya kamu udah mulai sekolah. Insyaallah nanti aku akan kesini lagi."
Ashila mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih udah ceritain kisah-kisah menarik aku dahulu, aku yakin aku bisa ingat kembali."
"Aamiin..."
Di depan pintu Ray berpapasan dengan Abba, "Mau kemana, Nak?"
"Eh, Abba."
Ray langsung menarik lembut tangan kanan Abba dan mengecup punggung tangannya itu, "Saya pamit pulang dulu ya, Ba, udah sore, takut Ibu saya nanti pulang gak ada orang, soalnya Ayah saya lagi ada tugas di Malaysia dan kedua Kakak saya pasti belum pulang dari kampus, kasihan nanti Ibu."
"O iya-iya, semoga Allah selalu memberkati langkahmu."
"Aamiin, pamit ya, Ba, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam warrahmatullah..."
Abba tersenyum seraya menatap punggung Ray yang semakin menjauh, "Semoga kalian berjodoh."
***
Arga masih setia menunggu kedatangan Kakak perempuan Ashila yang tidak lain adalah Kak Ara, Fatimah Az-Zahra, di Bandara Soekarno Hatta.
Kakak laki-laki Ashila yang tak lain adalah Muhammad Al-Baihaqi tidak bisa ikut ke Jakarta karena ia masih berada di Mesir. Kemungkinan satu tahun lagi ia akan lulus dan kembali ke Indonesia. Itu pun jika memang lulus, jika tidak, ia harus bersabar menunggu satu tahun lagi untuk pulang ketanah air.
Setelah satu jam menungg,u kini Arga dapat menangkap wajah Kak Ara sedang tersenyum kearahnya. Ia menghampiri Arga.
"Assalamu'alaikum? Sudah lama ya menungguku, Ga?"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, lumayan satu jam," Arga langsung mencium punggung tangan Kak Ara karena merasa lebih muda.
"Kamu menjemputku memakai apa?"
"Motor, Kak."
"O, lalu untuk membawa koper miliku ini macem mana?" Kak Ara tidak terlalu biasa bicara logat orang Jakarta, rasanya logat Aceh sudah mendarah daging di kehidupannya.
"Itu mudah," Arga mengambil alih koper dari tangan Kak Ara. Ia memberhentikan satu taksi.
"Tolong antar Kakakku ke jalan ini," Arga memberikan selembar kertas kepada supir taksi.
"Aku mengikuti di belakang," ucap Arga saat melihat raut wajah Kak Ara berubah. Ia tahu pasti Kak Ara memikirkan hal yang tidak-tidak seperti penculikan misalnya
***
"Niatnya aku ingin membawa Ashila pulang ke Aceh, bagaimana menurutmu, Hana? Sejak aku ditinggal istriku aku jadi sulit bertanya sesuatu yang membuatku bingung, semoga kamu bisa membantu memecahkan masalah batinku ini dengan alasan yang logis."
"Kakakku itu memang orang yang baik, sehingga banyak sekali orang yang merasa kehilangan di tinggalkannya."
"Menurutku ada baiknya Ashila menyelesaikan SMAnya dahulu. Kalau ia ikut bersamamu ke Aceh, bisa-bisa ia akan berhenti sekolah, aku yakin itu. Aku juga takut di Aceh ia akan di jahati, ia pasti tidak mengenal siapapun disana. Kalau di Jakarta ada Ray, aku yakin dia bisa menjaga mantan pacarnya itu."
Abba sudah tau tentang Ashila yang sempat terjerumus kedalam lembah kemaksiatan dahulu. Ray lah yang menceritakannya sendiri di hadapan Abba dan Bibi Hana.
Awalnya Abba sangat murka. Saat mengetahui dari penjelasan Arga bahwa Ray kini sudah bertobat dan tidak akan mengulanginya lagi Abba mulai memaafkannya. Hatinya semakin mantap memaafkan Ray pada saat melihat Ray salat dhuha di masjid dekat Rumah Sakit dengan begitu khusyuk. Ray tidak tahu Abba memperhatikannya.
"Baiklah semoga itu memang jalan yang baik, aku titip anakku. Tolong perhatikan dia."
"Iya, Kak, maafkan aku pernah lengah dahulu."
Bertepatan di saat itu juga Kak Ara dan Arga datang. Kak Ara langsung mengecup punggung tangan Abba dan Bibinya. Matanya terlihat sedang menahan airmata. Ia pasti merasa sedih, saat ini Abah sudah tidak bersama Istri yang selalu ia bangga-banggakan di hadapan anak-anaknya lagi.
"Kamu pasti lelah istirahatlah di kamar persakitan Ashila, itu cukup luas dan sudah aku siapkan kasur lantai disana. Biasanya Aku dan Arga yang tidur di sana, terkadang Bibimu."
"Iya, Abba, tapi aku ingin salat Ashar dahulu. Waktunya sebentar lagi pasti habis. Adakah masjid disini?"
"Ada, yuk sama Bibi. Bibi mau melanjutkan tadarus."
"Masyaallah, baiklah, Ayuk!"
***
Di pukul 05.30 Abah, Bibi Hana, dan Kak Ara terlihat sibuk membereskan baju-baju Ashila. Hari ini Ashila akan pulang ke rumah Bibinya.
Saat ini Arga tidak bersama mereka. Semenjak insiden beberapa minggu yang lalu ia jadi Arga yang lebih baik. Ia kini jauh lebih rajin sekolah, tidak hanya sekolah bahkan ia ikut mengaji bersama Ray dan Agus. Salat lima waktu, salat tilawah, dan salat-salat sunnah lainnya tidak pernah ia lupakan. Ia sudah berjanji kepada Ibunya untuk menjadi Arga yang dahulu. Ya seperti itulah Arga di masa Sekolah Dasar dahulu. Bahkan saat itu ia pernah bercita-cita menjadi seorang hafiz Al-Qur'an. Kini ia luruskan cita-citanya yang sempat pupus itu.
Note:
Bermimpilah setinggi langit.
Mimpi itu GRATIS.
Mari ukir mimpimu.
Siapa tahu salah satunya tergapai. Allah Maha Mengetahui, Maha Pengasih.
"Benar apa yang di bilang Abba, kalau Kak Ara sangat mirip denganku, tapiku rasa kamu lebih cantik " kekeh Ashila sambil menggenggam pergelangan tangan Kakak perempuannya itu.
"Manusia tidak ada yang sempurna, Sayang," Kak Ara mengelus puncuk kepala Ashila yang tertutup kerudung instan.
"Aku tidak sabar kesekolah, kata Ray sekolah itu menyenangkan. Tapi ada yang kutakuti di sekolah."
"Apa itu, Dik?"
"Ray bilang setan itu ada dimana-mana, bisa jadi di antara teman-temanku. Dia bilang aku harus pandai memilih teman, karena kalau aku salah bergaul maka akan fatal segalanya. Ray juga bilang manusia itu tidak luput dari salah dan dosa untuk itu kita harus pandai menjaga iman. Salah satunya dengan berteman dengan orang yang baik."
"Masyaallah, siapa Ray itu, Dik?"
"Dia bilang dia itu saudara satu iman yang lain aliran darah, beda Ayah beda Ibu. Dia bilang walaupun kita saudara satu iman kita tetap harus menjaga batasan, dia bilang kalau Allah itu memerintahkan kita hambanya untuk menjauhkan zina. Karena aku dan Ray tidak makhrom, jadi dia bilang kita gak boleh bersentuhan, terus aku tanya kapan kita bisa saling bersentuhan seperti aku dan Arga. Dia jawab saat kita halal."
Kak Ara tersenyum. Walaupun ia tidak tahu siapa itu Ray yang Ashila maksud, ia sudah tau seperti apa Ray itu. Ia pasti laki-laki yang taat beragama. Ia yakin Ray pasti memiliki rasa terhadap Ashila namun cara ia berbeda. Cara dia seperti laki-laki sholeh lainnya. Mencintai dengan cara menjaga. Hati Kak Ara berdesir. Beruntung sekali adikku ini, di cintai oleh laki-laki yang benar-benar mencintai.
"Kenapa Kakak tersenyum?"
"Tidak ada apa-apa. Semoga kalian bisa terus bersama hingga ke surganya Allah."
Abba dan Bibi Hana yang sedaritadi menyimak pun ikut mengaamiinkan di dalam hati.
[Next Chapter 12]