NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Crazy Rich/Konglomerat / Pengantin Pengganti / Ibu Pengganti
Popularitas:312.8k
Nilai: 5
Nama Author: penulisrahasiaofficial

Tujuan Zeya ke Jakarta hanya untuk melanjutkan S2, kerja dan hidup bahagia dengan laki-laki yang dia cintai. Agar tidak mengurangi jatah bulanannya, Zeya tinggal bersama kakak dan abang iparnya. Kebetulan abang iparnya adalah dosen dia di kampus. Dosen killer yang jutek dan galak terhadap mahasiswa.

Tapi takdir justru berkata lain, Ambar—kakak kandung Zeya ternyata didiagnosis Leukimia. Ambar yakin kalau hidupnya tidak lama lagi, dan dia memiliki wasiat; agar Zeya menjaga anak semata wayangnya, Ciya, dan suaminya, Digta, dengan cara menikahinya.

Tentu saja hal tersebut membuat Zeya dan Digta terkejut. Zeya tidak mungkin menikahi kakak ipar sekaligus dosen killernya. Digta juga tidak mungkin menikahi adik ipar sekaligus mahasiswi-nya yang bego-nya minta ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulisrahasiaofficial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Dijemput Cowok

“Pak, maaf, mall kita sudah mau tutup. Mungkin orang yang Bapak cari sudah pulang,” ucap costumer service pada Digta saat Digta dan Ciya masih betah menunggu di mall.

Digta mendengus furstrasi. “Yaudah, makasih.”

Digta pun membawa Ciya kembali menuju mobilnya.

“Ayaah, kenapa Tante Zeya belum datang?” Tanya Ciya dengan wajah panik ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.

Digta juga panik. Kepalanya hampir pecah karena memikirkan Ambar akan marah-marah padanya karena sudah membuat Zeya menghilang.

Lelaki itu menarik napas panjang, ia lakukan secera berulang-ulang. Lantas, Digta coba menghubungi Ambar. Mudah-mudahan, Ambar akan memaafkannya.

“Mas,” sahut Ambar pada deringan pertama.

“Ambar.” Napas Digta terhela berat. “Maaf, aku—“

“Pulanglah, Zeya sudah ada di rumah,” potong Ambar cepat.

Membuat mata Digta terbelalak. “Apa?”

“Iya, dia sudsh pulang.”

Digta mengerang kesal sampai meremas ponselnya.

Benar-benar perempuan itu! Selama berjam-jam kami menunggu di mall, berharap dia akan datang setelah diumumkan oleh costumer service bahwa ada wanita autis yang hilang. Dan dengan seenak jidatnya, dia pulang tanpa memberitahu kami? Oke, Zeya, apa lagi rencana dan ambekan kamu yang nggak bermutu itu!

“Oke, sayang.” Digta berusaha mengontrol emosi. “Kami akan pulang, sekarang.”

***

“Tante Zeyaaaaa!!!” Ciya berlari memasuki rumah saat melihat Zeya sudah duduk di sofa. Ciya pun berhambur ke dalam pelukan Zeya. “Aku dan Ayah capek cariin Tante, loh,” ucap Zeya dengan wajahnya yang polos.

Zeya hanya tersenyum. “Maafin Tante ya, Sayang.”

Senyum? Bagus.

“Kamu pulang dengan siapa?” Digta menatap Zeya dengan dingin.

“Temen.” Tapi Zeya enggan membalas tatapan lelaki itu.

Membuat kesabaran Digta benar-benar diuji.

“Mas…” Ambar berkacak pinggang. “Sekarang perjelas aja semuanya sekarang. Mumpung kita semua sudah kumpul di sini. Kamu memang nggak suka adik aku tinggal di rumah kita? Kamu menganggap, bahwa adik aku itu beban untuk kamu?”

Tuh, kan! Ambar ngamuk.

Digta mendesah frustrasi. “Bukan begitu, Sayang.”

“Bukan begitu gimana? Zeya sampai pulang sendirian, loh. Kalau memang kamu nggak suka, bilang aja, Mas. Aku dan Zeya akan cari rumah kontrakan lain.”

“Ambar….” Digta memelas.

Sedangkan Zeya mencibir di dalam hati. “Ambar-Ambar, pret! Giliran dengan Mba Ambar baru deh nyalinya ciut.”

“Aku mohon bersikap dewasalah, Mas.” Ambar memasang raut wajah memohon. “Aku nggak ingin kalian perang dingin lagi.”

“Mba, nggak apa-apa, kok. Aku bisa jaga diri sendiri, dan hidup mandiri. Aku tahu kalau Mas Digta memang nggak bisa menerima kehadiranku di sini.” Zeya mulai mendramatisir keadaan.

Membuat Digta melotot sebal.

“Enggak, Zey. Mba nggak akan biarkan kamu pergi dari rumah ini. Kalau kamu pergi dari rumah ini, maka Mba juga akan ikut pergi!” Seru Ambar dengan tegas.

Membuat nyali Digta semakin ciut. Mana bisa dia hidup tanpa Ambar. Bisa gila dunianya.

“Sayang ….” Digta meraih tangan Ambar. “Dengar kabar, BS lagi ngeluarin produk terbaru, loh. Gimana kalau besok kita langsung samperin counter-nya.” Digta merangkul Ambar dan membawanya ke kamar. “Produknya kali ini bekerjasama dengan Disney. Tas-nya bagus banget dan lembut bahannya.”

Zeya terkekeh geli ketika melihat usaha Digta untuk membujuk istrinya yang sedang marah. Sekarang Zeya sudah tahu titik lemah Digta.

Sekarang, Zeya juga sudah bisa tenang.

Karena di atas Digta, masih ada Ambar.

“Tante Zeya lagi ngetawain Ayah ya?” Tanya Ciya lagi ketika Ayah dan ibunya sudah masuk ke dalam kamar.

Zeya mengangguk sambil menutup mulutnya yang tak berhenti ngakak.

“Tante Zeya lagi jailin Ayah juga? Ayah dan aku panik banget, loh. Cariin Tante Zeya,” kata Ciya lagi.

“Hihi, iya. Biar Ayah tahu rasa. Habisnya, Ayah kamu galak dengan Tante.”

“Hihihi. Iya, Ayah galak. Biarin ajah.”

Ciya dan Zeya pun kini menjadi komplotan sambil terkikik bersama tanpa henti.

***

Setelah berada di kamar, Zeya segera membuka ponsel barunya. Ia memasang simcard pada ponselnya agar langsung bisa digunakan.

Kalau pada akhirnya, Digta akan mengganti ponsel Zeya dengan yang lebih bagus dan mahal. Kalau gitu, Zeya rela semua barangnya dirusak dan dihancurkan oleh Digta agar diganti dengan yang lebih bagus lagi.

Tak lama, ada sebuah pesan masuk di ponselnya.

From : +681726344

[Hai, Zey. Ini aku Zega. Save ya]

Zeya senyum menerima pesan ini.

To: +681726344

[Oke, Zega]

Zeya langsung menyimpan nomor ponsel Zega di handphone-nya.

From: Zega

[Besok masuk kuliah pukul berapa?]

To : Zega

[08.00 dengan Bu Melani]

From: Zega

[Sama dong. Aku jemput mau?]

Ya nggak mungkin Zeya menolak kesempatan apik ini. Kapan lagi dia pergi kuliah tanpa Digta? Akhirnya, Zeya menemukan tumpangan yang jauh lebih baik dan ganteng. Dan akhirnya, Zeya bisa terbebas juga dari Jin Tomang itu!

To: Zega

[Okay, aku tunggu:)]

***

“Selamat pagiii….”

Zeya muncul di ruang makan dengan wajah semringah dan terlihat bahagia. Tumben-tumbenan sekali Zeya menyapa, padahal tadi malam baru saja dia menggelar acara ngambek-ngambekan dengan Digta. Sampai lelaki itu pusing tujuh keliling mencarinya.

Melihat hal itu, Digta sampai keselek makanannya.

“Huk.”

“Mas….” Ambar segera memberikan segelas air putih pada Digta.

“Pagi Tante Zeya yang cantikkk,” sapa Ciya dengan senyuman mengembang.

“Ih, kamu juga cantik.” Zeya mencubit pipi Ciya gemas.

“Tumben sekali ini ceria pagi-pagi. Ada apa, nih?” Ambar tersenyum curiga. Apalagi melihat penampilan adiknya yang berbeda dari biasanya. Kali ini, Zeya kelihatan lebih rapi, bersih, dan centil dengan menggunakan pita di rambutnya.

“Hehe, nggak ada. Cuma mau kasih kabar bahagia aja,” kata Zeya lagi dengan semangat.

“Kabar bahagia apa ini?” Ambar penasaran.

“Hari ini, aku nggak ke kampus nebeng Mas Digta lagi.”

Digta dan Ambar menoleh kaget. Kalau Digta merasa bahahia karena si perusuh nggak akan masuk mobilnya pagi ini. Tapi, berbeda dengan Ambar yang justru sedih dan kecewa.

“Kenapa, Zey? Terus kamu akan berangkat ke kampus bareng siapa? Mba nggak akan ngebiarin kamu naik angkutan umum.” Ambar berujar panik.

“Engga kok, Mba. Aku dijemput temen.”

“Temen?” Ambar mengerutkan dahi. Lalu menatap Digta. “Kamu tahu dengan temen-temennya Zeya, Mas?”

“Loh, mana aku tahu.” Digta mengangkat bahu acuh.

“Kenapa Mba harus tanya Mas Digta segala? Memangnya, Mas Digta ini siapa, sampai harus tahu temen-temenku.” Zeya mendengus sebal.

“Zey, kamu ini baru loh, tinggal di Jakarta. Kamu juga belum ada sebulan kuliah, masa sih udah nebeng-nebeng dengan orang lain. Apa orang itu bisa dipercaya? Gimana kalau orang itu cuma memanfaatkan kamu saja?”

Zeya memutar bola mata jengah. “Mba, please, deh. Aku ini udah dewasa, udah dua puluh empat tahun. Harusnya, Mba Ambar nggak perlu mencurigai aku seperti itu. Aku bisa jaga diri sendiri, kok.”

“Betul!” Digta ikutan nimbrung.

Ambar memelototi Digta.

“Nggak bisa, Zey. Mba nggak mau kamu pergi dengan siapapun kecuali dengan Mas Digta,” ucap Ambar lagi.

“Apa?” Zeya kaget.

“Mana bisa gitu, Mbar.” Digta juga menolak.

TINNNNN

Suara klakson motor pun mulai terdengar di pelataran rumah Ambar.

“Nah, itu temenku sudah jemput.” Zeya bangkit dari kursi. “Aku pergi dulu ya, Mba.” Zeya mencium pipi Ambar dan bergegas keluar dari rumah.

Ambar mengikuti langkah Zeya. Ia bersedekap saat melihat Zeya berusaha naik ke atas motor seorang lelaki asing.

“Mas… Mas!” Teriak Ambar.

“Apa sih, Syaang….” Dengan langkah malas Digta menyusul Ambar.

“Lihat tuh, Zeya. Dia pergi dengan cowok, pake motor lagi!” Ambar menunjuk motor yang baru saja melesat meninggalkan rumah mereka.

“Terus kenapa? Dia udah dewasa. Biarkan saja.”

“Nggak bisa, Mas. Pokoknya, aku mau kamu harus mengawasi Zeya!” Seru Ambar penuh penekanan sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

“Loh, Mbar, memangnya aku bodyguard adikmu!”

1
Fi Fin
ga suka sifat zeya yg celdis dan semaunya
Fi Fin
kok ortunya zeya ga peka ya ..bukanya resiko ya kalo adek perempuan tinggal sama kakak pere.puan yg sdh menikah
Aisyarani
suka sma alur cerita nya
Yusuf Maulana Efendi
whatt
Irna R
seru ceritanya saya suka
Dennoona
siapa naroh bawang disini 😭😭😭😭
fatia al jelani
🤣🤣🤣
Ani MB
semangat Thor 😍😍
Ani MB
lanjut Thor...aku padamu
Tiurma sari
Pertama kali komen. Mau bilang hayu di up 🤣
dyve
sekali*
Rani Syulfiani
ditunggu kelanjutan ceritanya...
semangat thor..
Cucu u
up... up... up... up
Irma Wati Lapadu
thor smgt...
lanjut crtnya slnya pnsran
Cucu u
kapan up lagi ka, d tunggu
Wandi Fajar Ekoprasetyo
kak othor......apa kabar nya,semoga baik².aja ya,kangen nih sama kisah selanjutnya.......semangat kakak.......
N13
kenapa karakter zeya begini amat, dia kan sdh s1, harusnya lebih dewasa dong, bkn anak labil yg baru lulus SMA
N13
toxic
N13
alamak, jd perempuan kok sempurna x ya zeya, pemalas, jorok, nggak disiplin, arghhh sumpah nyebelinnn
N13
lah bkn nya zeya kamarnya di lantai satu, othornya lupa ini mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!