Delia Laros terpaksa harus menikah dengan pria tajir dan arogan yang tidak dikenalinya. Pernikahan itu bermula dari sebuah ancaman akan reputasinya.
Pria yang bernama Rafael Widjaja tersebut berniat memanfaatkan Delia Laros untuk membatalkan pertunangan yang tidak diinginkannya, namun siapa sangka ternyata tanpa sadar pria itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Akankah Rafael Widjaja mampu menaklukkan hati istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XII
Keesokan harinya...
Sejak kejadian semalam, baik Rafael maupun Delia tidak membahasnya lagi. Semalam pria itu tertidur di sofa kamarnya, sedangkan Delia tidur di ranjang besar Rafael. Delia bersyukur pria itu tidak menyentuhnya. Ia berharap Rafael tetap membatasi sentuhannya selama pernikahan mereka masih belum jelas bagi Delia.
Rafael memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan sarapan mereka. Pria itu tidak mungkin membawa istrinya ke ruang makan dalam situasi seperti ini. Mereka akhirnya sarapan di dalam kamar mereka.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya.
"Maaf soal kejadian semalam Del, aku mohon bersabarlah sampai Hartanto merestui hubungan kita. Ia harus sadar siapa sebenarnya istri dan anak tirinya itu. Aku butuh waktu untuk mengungkap semuanya. Selama itu, maukah kau terus bersamaku?"
"Jadi peranku sebagai istri akan berakhir setelah kau bisa berdamai dengan ayahmu," pikir Delia sedih.
Melihat wajah Delia yang murung membuat hati Rafael sangat sedih. Namun pria itu salah mengartikan kesedihan istrinya.
"Sayang... walaupun saat ini kita belum direstui, tapi aku akan selalu melindungimu."
Delia kembali menganggukkan kepalanya.
"Makanlah yang banyak sayang, aku tak mau melihatmu menjadi kurus. Apa kata orang nanti saat menganggapmu istri Widjaja yang tak bahagia," goda Rafael.
"Kau sudah gila, karena takut dipandang orang tidak bisa membahagiakanku, kau ingin mengubahku menjadi seekor babi," jawab Delia.
Rafael terkekeh, "pikiran kalutku ini selalu hilang saat berbicara denganmu. Hari hariku benar benar bahagia sejak ada dirimu, Del. Aku selalu tertawa."
Delia menyipitkan matanya, "kau bahagia karena bisa terlepas dari Katrina Dowell dan kini kau menganggapku seperti badut."
Rafael tersedak, "kau membuatku kehilangan selera makan saat namanya disebut. Dan ya Tuhan, siapa yang akan menganggap wanita cantik sepertimu badut sayang?"
"Ciiiih... ternyata selain mesum, kau juga pria penggoda," ejek Delia.
Rafael melepaskan tawanya, ejekan Delia justru tidak membuatnya marah sama sekali.
"Karena kau menganggapku mesum dan pria penggoda, jadi apakah nanti malam kita bisa melakukan malam pertama?" goda Rafael.
Wajah Delia berubah merona, "jangan coba coba Rafael Widjaja yang terhormat."
"Sungguh lucu sayang, saat aku ingin menyentuhmu, kau justru memanggilku pria terhormat," ucap Rafael sambil terkekeh geli, "kau sudah sah menjadi istriku, aku punya hak untuk melakukannya." imbuhnya
"Rafael... itu tidak mungkin terjadi."
Rafael menahan tawanya karena melihat wajah Delia yang ketakutan. Wanita yang malu malu seperti Delia tentu saja masih perawan. Ia tidak mungkin melukai dan menyentuhnya sampai Delia sendiri yang menginginkannya.
Setelah sarapan selesai, Rafael pun mengantarkan Delia ke kampusnya. Beruntung saat keluar dari rumah Widjaja, mereka tak bertemu dengan Hartanto atau yang lainnya.
Sesampainya di universitas tempat Delia kuliah, Rafael justru langsung bersikap posesif.
"Jangan coba coba main mata dengan pria lain," ujar Rafael.
"Posesif sekali," gerutu Delia.
"Tentu saja, kau istriku."
"Seharusnya kau tidak mengantarkanku sampai depan kampus."
"Kau malu karena aku suamimu?"
"Akulah yang malu, karena aku tak pantas untuk pria kaya sepertimu. Aku seperti seorang Cinderella seperti dalam dongeng, pasti mereka menganggapku seperti itu," pikir Delia.
"Delia Widjaja, jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. Kabari aku jika sudah selesai, kita akan mengantar ayah dan ibu ke bandara."
"Kau seperti seorang paranormal yang bisa membaca pikiranku tuan. Dan satu lagi, jangan mengubah namaku semaumu."
"Ckckck... kau tidak bisa mengelak, karena itulah kenyataannya. Namamu mengikuti margaku setelah kita mengucapkan sumpah pernikahan."
Delia mengerucutkan bibirnya seraya keluar dari mobil Rafael. Wanita itu segera masuk ke dalam kampus tanpa menoleh ke belakang lagi.
*****
Rafael meninggalkan kampus Delia. Pria itu segera menghubungi sekretarisnya.
"Bisa kau sebutkan jadwalku hari ini," pinta Rafael setelah Melia menjawab teleponnya.
Melia segera menyebutkan semua jadwalnya pada Rafael.
"Serahkan semuanya pada Firdaus, aku ingin tahu seperti apa ia bisa menanganinya. Ada hal yang harus aku selesaikan di luar. Tolong sampaikan pada Jodhi juga," perintah Rafael.
"Tapi pak, klien kita hanya ingin bertemu dengan anda," jawab Melia.
"Urusanku lebih penting dari apapun Melia. Mengapa kau mulai mempertanyakan keputusanku? Kau bisa mengatasinya, ini bukan pertama kalinya aku tidak menemui klien."
"Baiklah pak," jawab Melia.
Rafael menutup teleponnya, lalu kembali menghubungi detektif yang ia sewa itu.
"Kita bertemu sekarang," ujar Rafael.
Hanya itu yang ia ucapkan lalu menutup teleponnya lagi.
*****
Satu jam kemudian...
Rafael menunggu detektif bayarannya selama 15 menit di tempat mereka biasa bertemu. Detektif itu akhirnya muncul. Ia menunjukkan beberapa foto bukti pertemuan seorang pria dengan wanita paruh baya yang memaki Delia. Dan beberapa tempat yang dikunjungi wanita itu.
"Kau yakin?" tanya Rafael.
"Sangat yakin tuan, wanita itu adalah wanita bayaran, tujuannya memang mempermalukan istri anda agar tidak ada pria manapun yang mau mendekatinya. Dan pria yang menyuruhnya bernama Bethran Markes. Pria itu ternyata satu sekolah dengan istri anda di Lampung, kini ia berada di universitas yang sama dengan istri anda."
Rafael menyunggingkan senyumnya, "aku tahu sekarang. Jadi pria itu sangat menyukai istriku, namun istriku menolaknya, hingga ia melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya."
"Kurang lebih seperti itu tuan."
"Baiklah... senang bekerja sama denganmu, selebihnya biar aku yang mengurusnya. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkannya lagi. Aku sudah mentransfer sisanya tadi pagi," kata Rafael.
Detektif tersebut menjabat tangan Rafael seraya meninggalkannya.
Rafael merasa bersalah pada istrinya, ia mengancam Delia dengan cara licik untuk mendapatkannya. Sejak awal ia sudah yakin Delia adalah wanita baik baik, namun demi mendapatkan wanita itu, dengan banyak alasan ia tetap meragukan Delia. Dan kini ia semakin yakin dengan perasaannya sendiri, ia bukan hanya tertarik dan menginginkan wanita itu, tapi ia juga jatuh cinta pada pandangan pertama.
*****
Di tempat lain...
Bethran dan Katrina sudah merencanakan dengan matang, ternyata mereka ingin menculik orang tua Delia sebagai alat pertukaran nanti. Mereka sudah menemukan dimana orang tua Delia menginap. Dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk keduanya melakukan rencana mereka. Orang bayaran Bethran dan Katrina menuju hotel Aston. Pria itu mengetuk kamar yang ditempati orang tua Delia.
Mendengar suara ketukan pintu, Derry pikir itu adalah Rafael dan Delia yang akan menjemput mereka. Pria itu membuka pintunya dan menatap wajah pria asing di depannya.
"Anda cari siapa?" tanya Derry.
"Apakah benar ini kamar tuan dan nyonya Laros?"
Derry menganggukkan kepalanya, "aku Derry Laros."
"Maaf tuan, aku diperintahkan tuan Widjaja untuk menjemput kalian," kata pria itu.
"Loh... katanya nak Rafael sendiri yang ingin menjemput kami bersama putri kami Delia."
"Maaf tuan Laros, tuan Widjaja ada pekerjaan mendesak. Jadi akulah yang diberi tugas untuk menjemput kalian."
Derry berpikir cukup lama, tapi memang menantunya adalah orang sibuk.
"Baiklah, tunggu sebentar," ujar Derry seraya masuk dan memberitahu istrinya.
Mereka keluar justru sambil membawa kopernya.
"Apa kita harus menelpon nak Rafael dulu?" tanya Emili.
"Mungkin ponsel tuan Widjaja tidak diaktifkan saat bekerja. Anda tenang saja nyonya, aku akan mengantar kalian dengan selamat."
Derry dan Emili pun tidak banyak bertanya lagi, keduanya hanya bisa mengikuti pria itu keluar dari hotel Aston. Pria bayaran tersebut mengirimkan pesan singkat pada Bethran Markes.
✉️Bos... misi berhasil. 1 jam lagi sampai lokasi.
*****
Rafael menemui sahabatnya di cafe Huda setelah bertemu dengan detektif tersebut. Pria itu menunjukkan bukti kuat tentang masalah Delia pada mereka.
"Kira kira harus aku apakan pria ini?" tanya Rafael.
"Kau yang lebih tahu apa yang harus kau lakukan Raf," jawab Tyar.
"Masukkan ke dalam karung lalu tenggelamkan ke dalam laut," jawab Huda.
"Itu kriminal, kau mengajariku bermain kotor Hud."
"Bukan bermain kotor, tapi aku langsung pada intinya saja."
"Ck... inilah akibatnya jika yang ada di kepalamu hanya wanita," ejek Tyar.
"Sialan...!" umpat Huda.
"Apa aku harus menghancurkan perusahaan milik keluarganya? ini sebagai peringatan atas perbuatannya," ujar Rafael.
"Jika itu perlu, kenapa tidak," jawab Tyar.
"'Ckckck... Jadi istrimu yang cantik itu adalah wanita baik baik, ya Tuhan... kau sungguh beruntung Raf. Carikan satu untukku yang seperti itu," kata Huda.
Rafael melemparkan kulit kacang yang ada di meja pada Huda, "mimpi saja," ejeknya.
"Selain masalah yang sudah terpecahkan ini, sepertinya ada yang harus kalian tahu," imbuh Rafael.
Kedua sahabatnya mendekati Rafael dengan serius. Rafael menyunggingkan senyumnya.
"Sepertinya aku jatuh cinta pada istriku," ucap Rafael.
Pengakuan Rafael membuat kedua temannya tertawa terbahak bahak. Mereka tak menyangka seorang Widjaja akhirnya jatuh cinta.
"Kalau begitu katakan padanya Raf," kata Tyar.
"Itu tidak akan mudah. Mengingat Delia tahu pada awalnya aku hanya memanfaatkannya, pengakuanku sekarang membuat diriku sendiri saja merinding," ujar Rafael masam.
"Kau itu pria menakutkan, masa bilang cinta saja tidak berani," ejek Huda.
"Benar benar ingin aku hajar kau Hud," ancam Rafael.
Mereka hanya terkekeh geli mendengarnya.
*****
Happy Reading All...
gasskeun✈✈
hmmm mungkin ini memang takdir dari mami otor pernikahan pada pandangan pertama😄
lanjuutt bacaa