Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Apa kata Rebecca, Meta? tanya Abraham menatap penasaran. Baru saja Meta mendapatkan telpon dari Rebecca jika Bian sudah kembali.
"Bian sudah pulang."
"Syukurlah, Papa khawatir pada anak itu. Dia baru dan belum mengetahui setiap tempat di sini." Lalu pasangan tersebut terlelap dengan perasaan lega jika calon mantu mereka di temukan.
Lain halnya dengan Nathan yang tak bisa tidur akibat memikirkan nasib wanita yang ia turunkan di tengah jalan. Nathan sampai melupakan niatnya untuk menemui Eliza hanya karena sibuk memikirkan Bian.
"Bagaimana, Billy? kau menemukan Bian?" tanya Nathan di balik telpon mondar-mandir di ruangan olahraga.
"Belum Bos. Saya sudah mencari kesana kemari namun tak juga menemukannya. Apa dia di culik preman, di bawa ke tempat sepi dan di perkosa, lalu di bunuh?" Billy berkata tanpa berpikir.
"Jangan ngaco kau, aku yakin wanita hitam itu baik-baik saja! Tidak mungkin pria mau sama dia." Nathan semakin gusar tak karuan takut terjadi apa-apa pada Bian. Entahlah, tidak biasanya ia mengkhawatirkan perempuan yang baru ia kenal.
"Kau sendiri yang bilang jika wanita hitam itu hampir pernah mendapat pelecehan dan kemungkinan itu terjadi mengingat tempat dimana kau menurunkannya terkenal angker banyak begal, banyak preman, banyak para pria haus belaian." Billy semakin membuat Nathan khawatir.
"Saya harus gimana dong, Billy? saya merasa bersalah," ujar Nathan terduduk lesu di lantai menyenderkan punggungnya ke dinding.
"Carilah! Jangan diam seperti itu. Kalau bisa datangi rumahnya, tanya pada Ibunya apa wanita hitam itu sudah pulang atau belum?"
"Aah, iya, kau benar. Saya harus ke rumahnya. Eh, saya tidak tahu rumahnya dimana. Apa kau tahu?"
"Tanya orang tuamu, Bos. Permisi, saya tutup dulu mau BAB saya." Billy mematikan telponnya secara sepihak. Nathan mencebik, asistennya malah nyuruh dia bertanya pada Orang tuanya.
"Ok, besok ku cari dia." Tekatnya bulat, sebagai rasa bersalah akan mencari Bian.
***********
Keesokan harinya.
Keluarga Fernandez sudah berkumpul di meja makan.
"Nathan, hari ini kau tidak usah kekantor." Ujar Abraham membuka percakapan.
"Tidak, Pah." Nathan menjawab simpel karena pikirannya masih tertuju pada Bian yang sudah merasuk kedalam otaknya.
"Kau diam di rumah! Jangan kemana-mana!" lanjut Abraham penuh penegasan. Sebelah alis Nathan terangkat menunjukan raut wajah bingung keheranan.
"Aku harus mencari sesuatu."
"Tidak usah! Cukup kau menuruti perintah Papa. Siapkan dirimu untuk nanti sore!"
'Ada apa dengan Papa, kenapa dia menyuruhku berdiam diri?' batin Nathan. Sedangkan Meta diam tak ikut menimpali karena dia sudah tahu apa rencana suaminya.
***********
"Sayang, kamu jangan pakai warna hitam, ya. Kita bukan lagi di Las Vegas, kamu tidak perlu menyembunyikan siapa dirimu yang asli. Paman Austin tidak mungkin bisa menemukan kita dan tidak akan menjual kamu." Pinta Rebecca sambil mengambil cat kulit di tangan Bian yang sering di gunakan Bian atas rekomendasi dokter.
"Tapi Bu...." Bian belum siap menunjukan dirinya yang asli di depan umum. Dia sudah terbiasa dari kecil dengan kulit warna hitamnya.
"Tidak Nak. Kau tidak perlu memakai ini lagi untuk bersembunyi. Ibu ingin suamimu mencintaimu dengan jati diri kamu yang asli dan tidak merasa di bohongi." Ujar Rebecca, Bian menghela nafas, lalu kepalanya mengangguk menyetujui Ibunya untuk tidak bersembunyi lagi di balik hitam.
Terdengar suara mobil berhenti di pekarangan rumah mereka. Rebecca segera melihat ke depan siapa kiranya yang datang. Dan, itu ternyata supir yang kemarin.
"Permisi Nyonya. Kalian berdua sudah di tunggu Tuan Abraham."
"Ada apa ya? kami tidak merasa di undang." Rebecca mengerutkan dahinya bingung.
"Nanti Anda akan tahu sendiri nyonya." Supir itu segera meminta Rebecca dan Bian untuk bersiap-siap. Meski Rebecca masih bingung, dia tak urung bersiap-siap dan meminta putrinya juga bersiap.
"Sebenarnya ada apa, Bu? kenapa Tuan Abraham meminta kita kerumahnya?" tanya Bian bertanya sambil mengoleskan sedikit lipstik di bibir mungilnya.
"Ibu juga tidak tahu. Kau sudah siap, ayo kita berangkat!" Bian mengangguk, dia tidak membawa apapun karena tas dan dompetnya hilang entah dimana.
***********
Nathan terlihat bingung kenapa taman belakang mansion sudah di dekorasi sedemikian rupa. Dia bertanya akan ada pesta apa sampai taman tersebut bersulap menjadi indah.
"Eh, Billy. Sini kau!" Nathan memanggil asistennya yang tak sengaja lewat dekat Nathan. Billy ikut turun tangan menjadi pemandu keamanan.
"Iya, Bos."
"Apa yang terjadi? kenapa semuanya di dekorasi?"
"Kau tidak tahu?" bukannya menjawab, Billy malah bertanya balik.
"Kalau saya tahu tidak mungkin bertanya padamu, Billy." Sergah Nathan kesal.
"Lah si Bos. Ini kan hari pernikahanmu, masa kau calon pengantin tidak tahu? aneh." Jawab Billy menggelengkan kepala sambil berlalu pergi karena masih banyak yang harus ia periksa.
"What! Menikah? hari ini?! dengan siapa? bukankah si hitam belum di temukan?" Nathan memekik penuh keterkejutan, dia tidak mengerti lagi apa yang di pikiran Papanya sampai begitu ingin menikahkan dirinya. "Wanita mana lagi yang akan di jodohkan denganku? Bian saja belum ketemu sudah di carikan calon yang baru."
Dddrrtttt.... ddrrtttt....
Handphone Nathan berbunyi, pria itu merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelpon. Rupanya itu adalah kekasihnya Eliza. Nathan beranjak dari sana sambil berbincang-bincang.
"Hai, sayang. Aku kangen sama kamu. Sorry, aku tidak berpamitan dulu, aku sudah sampai di New York sayang," ujar Eliza di balik telpon.
"What? kenapa kau tidak memberitahuku? setidaknya kita bisa menghabiskan malam indah dulu sebelum kau berangkat." Nathan terkejut kekasihnya sudah pergi tanpa pamit.
"Mau menghabiskan malam indah bagaimana sedangkan kau tidak...." Eliza menggantungkan ucapan meledek Nathan.
"Ck, ya, ya, ku tahu itu." Nathan mendengus kesal kekasihnya mengungkit sesuatu yang sangat membuatnya kesal dan merasa tidak sempurna. Nathan melangkah menuju kamarnya.
**********
Bian dan Rebecca begitu terperangah penuh kagum melihat kediaman Abraham.
"Bu, ini rumah apa istana? Besar sekali!" ujat Bian penuh kekaguman.
"Ini mansion, sepertinya dia orang kaya." Ada rasa tidak yakin menikahkan putrinya dengan keluarga kaya itu. Rebecca takut Bian mendapatkan perlakukan kurang baik dari keluarga Abraham mengingat dari mana asal Bian.
"Kalian sudah datang, ayo masuk!" Meta mendapatkan informasi jika orang yang di tunggu sudah tiba dan Meta menghampiri mereka ke depan.
"Eh, nyonya."
"Jangan panggil Nyonya, panggil Meta saja, kita sebentar lagi menjadi keluarga." Meta mengajak Bian dan Rebecca ke dalam. Di dalam perjalanan menuju rumah, langkah mereka di perhatikan oleh semua orang terutama para pria.
Pria itu begitu terpesona pada wanita muda yang ada di tengah-tengah Meta dan Rebecca. Meta mencari keberadaan Nathan, kalau Abraham, dia berada di ruang kerja. Mata Meta melihat Nathan sedang telponan menuju kamarnya dan ia memanggilnya.
"Nathan."
Merasa ada yang memanggil, Nathan menoleh. Namun, matanya malah tertuju pada wanita yang ada di tengah-tengah mereka. "Wanita itu? dia yang di foto itu," batinnya.
"Nathan, kau antar Bian ke kamar tamu untuk beristirahat!" ujar Meta. Bian menunduk malas melihat pria itu.
"Bian?" pria itu terlihat bingung.
"Iya, ayo Bian, kau ikut dengan Nathan! Dia akan menunjukan kamar untuk kau istirahat. Mama dan Ibumu mau bicara sebentar." Meta berucap sambil memandangi wajah cantik Bian. Nathan terbelalak terkejut seakan kaget jika wanita itu adalah si hitam.
"Dia..."
Bersambung.....