Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Paksaan Menikah)
VOTE SEBELUM BACA !!!
Kaki jenjang seksi itu melangkah lebar. Setiap langkah mampu melumpuhkan syaraf. Bara Dirgantara membeku di atas ranjang. Gadis itu duduk di pinggir ranjang, membelai rahang tegas keras itu dengan gerakan seksual. Menggoda, sungguh sial. Jangkung Bara tak mampu naik ke atas. Hanya karena godaan iblis betina itu.
"Kakak Ipar." Serunya dengan nada mendayu-dayu. Gerakan jadi tangan membelai rahang tegas turun ke leher tak mampu di tepis."Ayo, kita make a Baby tonight!" Tutur Aurora dengan nada nakal.
Ah! Keras. Di bawah sana mengeras. Ayolah! Bara Dirgantara lelaki es itu masih seorang lelaki tulen. Lelaki normal yang tidak selamanya tahan godaan syetan terkutuk. Aurora menyeringai, kala lenguhan nikmat dengan pejamkan mata dari lelaki itu terlihat. Bara Dirgantara menikmati sentuhan tangan nakal.
Desahan dan erangan panjang pelepasan mengisi ruangan kamar mewah bernuansa abu-abu itu. Peluh membasahi tubuh Bara. Kelopak mata tegasnya terbuka perlahan. Sebelum tertutup kembali, ia mengerang pelan. Hembusan napas kasar dari mulut, menandakan kegusaran nya. Telapak tangan keras kasar itu mengusap pelan wajah nya.
Sial! Bagaimana bisa ia mimpi basah dengan adik iparnya sendiri. Gila! Bejad! Itulah yang ada di otak Bara. Tidak seharusnya, ia bermimpi hal seperti itu. Ini semuanya juga karena ulah gadis itu sendiri. Beberapa kali menggoda nya, meski logika lebih kuat dari pada napsu binatang nya. Ia bisa menghindari nya dengan mudah.
Namun di dalam mimpi ia tak bisa. Karena mimpi adalah keinginan yang terpendam di dalam alam bawah sadar manusia. Yang tersalurkan melalui mimpi. Yang sering kali orang-orang berkata bahwasanya itu adalah bunga tidur.
"Ah! Brengsek!" Seru Bara kala ia bergerak bangkit dari posisi tidurnya. Di bawah sana basah. Sialan sekali. Ini benarkah memalukan.
***
"Aurora!" Seruan keras dengan langkah kaki lebar membuat Aurora menoleh ke kanan.
Roy melangkah menghampiri nya dengan senyum. Di tangannya ada sebuket bunga.
"Kak Roy!" seru Aurora ramah. Gadis ini tidak menunjukkan sifat bar-bar nya hari ini.
Roy menyodorkan buket bunga yang ia bawa pada Aurora. Dahi gadis ini berlipat, dengan kepala di teleng menatap buket bunga yang di berikan oleh Roy padanya.
"Ini untuk mu." Ujar Roy yang melihat ketidak mengerti an dari Aurora.
Gadis itu tersenyum dan menerimanya. Dengan senyum termanis yang ia punya.
"Terimakasih, Kak!" Tuturnya dengan senyum lembut.
"Sama-sama, Ra!" Jawab Roy Amanah menggaruk kepala belakang nya yang tak gatal."Kau terlihat cantik hari ini." Puji nya.
Aurora memperlihatkan deretan gigi rapinya kala pujian di lontar kan oleh lelaki tampan ini. Wajahnya berbuah menggoda Roy."Lalu kemarin-kemarin aku tidak cantik ya, Kak?" ujarnya.
"Ti—tidak. Bukan begitu, hanya saja dulu kau terlihat begitu polos dan apa adanya," ujar Roy mencoba menggambarkan bagaimana Aurora yang dulu,"Tapi sekarang kau terlihat begitu cantik dan dewasa," lanjut nya.
Gelak renyah hadir begitu saja. Roy adalah sahabat dekat Bara Dirgantara dan Kevin Leondra. Namun sebelum itu Roy adalah teman sang Kakak. Mereka mengaku hanya sebatas sahabat saat saat di bangku sekolah tinggi atas. Namun, perilaku ke duanya membuat Aurora tidak percaya. Mereka di lihat baik sekilas atau lama. Tidak seperti seorang teman biasa.
Ke duanya seperti teman tapi mesra. Tidak menutup kemungkinan ada hati di antar mereka. Yang mungkin tidak bisa mereka kembangan kan dengan baik. Roy sangat sering ke rumah mereka dulu. Bahkan setelah Aurora di kirim ke Amerika. Roy masih sering ke rumah dan juga berkunjung ke Amerika kala libur datang. Roy Amanah akan datang bersama Nana Wijaya.
Roy berdiri di samping Aurora dengan wajah aneh. Gadis ini hanya melirik sekilas. Hembusan angin menggoda anak rambut Aurora menarik bersama.
"Melihat mu membuat aku merindukan Kakakmu, Ra!" ujarnya pelan.
"Kakakku, lebih cantik dari pada aku. Jadi sudah pasti Kak Roy merindu kan nya," ujar Aurora bermaksud menambahkan humor di sana.
Nama sayangnya, Roy tidak tertawa. Ia hanya tersenyum masam."Tidak bisakah kau tidak bersama Bara?" tanya Roy pelan.
Sontak saja wajah Aurora menoleh ke arah Roy. Lelaki itu pun ikut menoleh ke arah Aurora. Ke duanya terdiam, netral hitam legam Aurora bersitatap dengan netra coklat hangat milik Roy. Seakan ingin menyelam lebih dalam lagi isi hati Roy Amanah. Apa yang membuat lelaki ini tidak ingin Aurora bersama Bara Dirgantara. Yang notabene nya adalah sahabat karibnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Aurora pelan.
"Dia tidak pantas untuk mu."
"Apa yang membuat, Kakak berpikir seperti itu?"
"Kau tau buka bahwa kehidupan seorang istri Jenderal bukanlah mudah."
"Tentu saja aku tau Kak."
"Lalu kau masih mau mengambil resiko?"
"Tidak masalah. Asalkan Sora bisa aku urus. Aku menjadi wali sah Sora, tidak masalah menjadi istri dari mantan Kakak Ipar ku sendiri. Tidak masalah, jika aku akan selalu di hadang bahaya. Asalkan Sora baik-baik saja. Aku di sini menikah dengan Kak Bara bukan untuk hatiku! Bukan untuk cinta. Tapi untuk keponakan ku, anak dari Kakakku. Aku tidak mau dia merasakan apa yang aku rasakan, Kak!" papar Aurora dengan tegas.
Roy diam. Menyesapi perkataan Aurora. Benar, ia melupakan Sora Dirgantara. Anak perempuan itu adalah anak Nana Wijaya dan Bara Dirgantara. Jika Bara menikah dengan wanita lain. Maka Sora akan menderita. Karena hak asuh, tidak akan bisa jatuh pada tangan Aurora. Jika Bara tidak meninggal. Jikapun lelaki itu meninggal, hak asuh Sora akan jatuh pada Kakek dan Nenek dari pihak Ayah.
Tunggu dulu! Jika Bara mati, meski hak asuh ada pada tangan orang tua Bara. Mereka pasti akan menyerahkan nya pada Aurora. Karena orang tua Bara akan menua. Sedangkan Aurora. Gadis ini akan menjadi seorang wanita dan Ibu kedepannya.
"Bisakah di undur beberapa bulan lagi?" tanya Roy yang terdiam beberapa saat.
"Kenapa begitu?" tanya Aurora.
"Tidak bisakah kau mengabulkan nya?" Pinta Roy dengan wajah memohon,"Nanti akan aku katakan alasannya di saat yang tepat," lanjut Roy.
***
"Apa lagi ini?" tanya Bara dengan wajah aneh.
"Tentu undangan pernikahan," jawab Susi dengan nada enteng.
"Ya. Aku tau Ma! Ini undangan pernikahan. Pertanyaan ku adalah undangan untuk siapa?" tanya Bara jengah.
Susi berdecek kesal. Ia membuka undangan pernikahan.
Di sana ada foto yang di edit wajahnya dan Aurora. Jangan lupakan undangan yang di bawa bukan satu motif dan gaya. Namun ada puluhan di atas meja. Dan itu mampu membuat kepala Bara pening seketika.
"Aurora berikan contoh jas mempelai pria. Agar Bara bisa memilih nya," titah Susi dengan penuh wibawa.
"Ini Kak! Ini untuk desain jas pria. Ini gedung yang harus di pilih untuk pernikahan kita!" Jelas Aurora meletakan dua buah buku besar di atas meja.
Bara melongo. Yahya terkekeh pelan melihat ekspresi sang putra. Terlihat begitu lucu saat ini. Namun apa lah daya, Yahya kalah dengan sang istri.
"Aku tidak bilang aku setuju Ma!" Kesal Bara memijit pangkal hidung yang terasa berdenyut.
"Bukankah Aurora hanya tinggal dua Minggu saja di barak Tentara. Jadi dia sudah menang taruhan dong. Enak saja kau mau ingkar janji!" desak Susi mampu membuat Bara merasa ingin menembak kepalanya sendiri saat ini.
"Belum tentu dia akan memang Ma!" bantah Bara dengan nada berat.
Susi menoleh ke arah Aurora sedikit menengadah. Lantaran gadis remaja itu berdiri di sisi kanannya. Dengan kode mata, Susu meminta Aurora duduk di samping nya. Mengerti akan permintaan calon mertua nya. Aurora menduduki sofa dengan nyaman.
"Jika Aurora kalah. Maka kau akan aku recoki dengan obat perangsang!" Jawab Susi dengan vulgar, tak lupa dagunya di angkat tinggi."Jika tidak bisa baik-baik, maka jalan pintas menuju altar masih ada seribu terbentang luas." Lanjut nya dengan senyum iblis.
Tawa Aurora meledak di ikuti oleh Tuan besar Dirgantara. Ke duanya tak tau kapan Susi berubah menjadi bar-bar. Oh! Lihat lah ekspresi linglung Bara. Sungguh sangat lucu.
TBC
Vote+comen!!!
Visual Roy Amanah
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi