Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Asmara..
"Kamu dengar tadi Don.?" Pertanyaan pertama yang muncul dari mulut sang presdir sesaat setelah seorang karyawan wanita meninggalkan ruangannya. Dadanya berdesir saat karyawan itu menyebut nama wanita yang selama ini membuat hati seorang presdir begitu rapuh dan terpuruk dalam penyesalan yang tiada batasnya.
"Kamu tadi dengar kan Don, dia menyebut nama Asmara.?" Tanyanya sekali lagi dengan wajah gelisah dan takjub menjadi satu.
"Iya tuan, saya mendengarnya.."
"Apa itu orang yang sama Don.? atau memang dia punya saudara yang namanya kebetulan sama.?"
"Tuan, tuan bisa saja cek data dari karyawan tadi. semua info tentang karyawan kita ada disana."
"Benarkah.? tolong carikan Don.?"
"Baik tuan.." Doni langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Dia membuka laptop dan mencari data atas nama Ririn Ekawati.
"Maaf tuan, disini tertulis kalau Ririn Ekawati itu anak tunggal."
"Apa.? jadi.?"
"Apa perlu Saya selidiki tuan.?"
"Jangan dulu Don, kita tunggu saja nanti. bukankah orang yang bernama Asmara itu akan datang nanti sore menjemput karyawan itu.?"
"Benar tuan."
"Nanti kamu awasi saja Don, dan suruh semua penjaga untuk mengawasi nanti disebelah mana karyawan itu nanti menunggu jemputan.."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
Pikiran Angkasa kembali terpaku pada satu nama wanita. Rasa penasaranya meletup letup namun dia harus menahan diri karena dia tidak mau lagi menanggung kekecewaan karena harapan yang belum ada kepastiannya.
Sementara itu di tempat lain.
"Pah, papah bantu mamah ngomong dong pah.."
"Mah, mamah sudah pasti tahu kan jawabannya angkasa pasti apa.?"
"Tapi pah, kalau begini terus, kapan anak itu akan menikah, lihat usianya dia sudah berapa.?"
"Mah, justru kalau dipaksa, apakah mamah akan menjamin Angkasa bahagia.? apakah wanita yang akan dijodohkan juga akan bahagia dengan sikap Angkasa yang seperti itu.? pikir baik baik kedepannya mah, jangan hanya memandang satu sisi saja.."
Tapi pah.."
"Sudah yah, mamah juga ngga boleh egois, jangan terlalu tertekan dengan pikiran mamah sendiri. mending mamah siap siap."
"Siap siap.?"
"Loh, mamah ini gimana. Kita kebanyumas lah. bukankah Angkasa sudah berangkat duluan kesana.?"
"Ya Ampun, acara nikahannya Zia.? kok bisa lupa gini sih.?"
"Hmm udah sana siap siap.."
"Bukannya Angkasa disana ada urusan sama anak cabang perusahaan pah.?"
"Ya sekalian buat datang ke acara nikahannya Zia, bisa ngamuk tu anak kalo Angkasa ngga datang.."
"Iya ya pah, tapi kalau lagi bareng, ampun deh tu anak berdua, ribut mulu."
"Ya udah sana mah bersiap, Papah ngga mau nanti di jalan kemalaman, males.."
"Iya iya pah.."
dan waktu yang sama di tempat lain.
"Tadi ibu udah telfon nok, kamu nanti disuruh ke kantor Ririn sulu.."
"Iya bu, aku udah tahu kok, katanya sekalian mau nyari baju buat kondangan di acaranya Zia bu."
"Tuh anak baju terus, mbok ya duitnya di tabung.."
"Hhehe ngga apa apa bu, mungkin karena dia udah nyari duit sendiri, Aku juga kayak gitu.."
"Tapi kan dia juga harus nabung nok, katanya pengin nikah eh malah boros gitu."
"Lah emang Argo rencana ngelamarnya kapan.? katanya sih 3 bulan lagi.."
"Ya kita berdoa saja lah bu, semoga lancar semuanya.."
"Nanti kamu juga datang di acaranya Zia ngga nok.?"
"Zia sih maksa aku datang bu, malah nyuruh aku nyanyi coba, tuh sih mulut Ririn ember."
"namanya juga sahabat nok, apalagi kamu tahu Zia bagaimana, meski dia dari keluarga terpandang tapi sama Ririn bisa lengket banget."
"Beruntung Ririn punya sahabat seperti itu. Ngga gengsi anaknya."
"Lah emang kamu mau nyanyi lagi.?"
"Ya engga lah bu, ini aja karena Zia yang maksa, katanya aku ngga boleh nyumbang uang, cukup nyumbang suara saja, biar dia ngga ngeluarin uang banyak buat bayar artisnya."
"Hehhee ada ada aja tu anak, nanti kamu naek ojeg apa naik mini bus nok.? biasanya kalau sore kendaraan umum ke kota susah.."
"Udah bilang ojeg sebelah kok bu, ngga apa apa mahal dikit, daripada telat, bisa murka nanti anak ibu.."
"Ya udah mending kamu siap siap, nanti soal anak anak biar ibu yang ngomong, toh paling mereka maen lagi."
"Iya bu, aku memang mau mandi eh malah di ajak ngobrol.."
"Owalah hahhhah.."
Waktupun terus merangkak menuju sore, dan tak lama kemudian jam pulangpun akhirnya datang. Hampir seluruh karyawan bersiap siap meninggalkan ruang kerjanya setelah seharian bertarung di bagian masing masing sesuai dengan job yang mereka terima dan sesuai dengan bidangnya.
Sesuai dengan yang diperintahkan atasan, Doni sudah menyuruh anak buahnya bersiaga di berbagai titik yang kemungkinan akan digunakan Ririn untuk menunggu seseorang. Ririn benar benar ngga sadar kalau gerak geriknya sedang diawasi. Dia melenggang saja tanpa beban menuju tempat parkir khusus sepeda motor.
Sementara di ruangannya, sang presdir lagi merasakan kecemasan yang luar biasa. Dari tadi pikirannya ngga fokus, matanya selalu melirik jam menunggu detik detik datangnya jam kantor berakhir. Tapi begitu jam kantor telah menunjukkan tandanya, Dia justru semakin panik.
Saat ini Ririn sudah keluar dari area parkir motor. Dia menuju ke seberang kantor. Nampaknya dia memilih menunggu Asmara di tempat yang rindang dan tak terlalu rame. Karena kalau dia nunggu di depan kantor, takut Asmara malah kesulitan mencarinya saking banyaknya motor dan mobil yang keluar secara hampir bersamaan.
Ririn ngga sadar, kalau di sisi kanan kirinya ada pria yang sedang diam diam merekam gerak geriknya. Pakaian yang digunakan kedua pria itu nampak seperti orang biasa hingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak lama Asmara pun datang, mungkin Ririn sudah ngasih tahu dimana dia berada, karena Asmara langsung menuju ke tempat Ririn berada tanpa harus mencarinya. Dan kedua pria itupun berhasil merekam sesuai yang diperintahkan sang asisten hingga Ririn pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah dirasa cukup, kedua pria itu bergegas menuju ketempat dimana Doni sudah menunggu.
Dan setelah Doni menerima rekaman dari kedua anak buahnya, dia bergegas menuju keruangan sang presdir.
"Gimana Don, sudah.?"
"Ini Tuan, anda bisa memastikannya sendiri."
Tangan Angkasa gemetar menerima ponsel Doni. Hatinya bergetar tak karuan. Perlahan layar ponsel itu di arahkan ke tatapan matanya dan jempol tangannya dia tekankan ke tombol play
Nafasnya menderu. Tatapnya terpaku pada sosok perempuan yang makin terlihat cantik dan semakin terlihat dewasa dalam rekaman itu. Dadanya berdesir. Antara bahagia, sedih, malu bercampur jadi satu. Dialah wanita yang selama ini dia cari
"Dia Asmara Don, benar dia Asmara, Dia Asmara yang aku cari Don, Dia Asmara.."
@@@@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...