Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangunan Lama 3
Tetapi ....
Selang beberapa menit plafon kamarku berbunyi lagi dengan ketukan ritme yang sama.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ritme yang sering terdengar untuk malam yang sunyi ini, tak membuatku berdiam diri, tetapi juga berhasil membuat sekujur tubuhku merinding. Tak pikir panjang aku langsung melompat ke ranjang Santi, temanku, dan kami berdua langsung membaca doa ayat kursi walaupun tak dapat khusyuk.
Hihihi ...
Perlahan suara cekikikan pun terdengar, sungguh menambah ketakutanku. Entah kenapa Santi terlihat santai dan seperti sudah biasa menanggapi hal ini. Berbeda dengan aku yang baru pertamakali mengalami hal ganjil seperti ini. Dan akhirnya kami berfokus untuk berdoa dan suara itu lambat laun menghilang dengan sendirinya.
Tak terasa jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Aku yang baru tersadar dengan suara 'hihihi' yang diperdengarkan menghilang. Aku menoleh ke arah Santi dan ku dapati dia tertidur pulas.
'Wah, kurang asem kamu, San. Aku ketakutan eh dia malah tidur.' Batinku seraya melihatnya sangat pulas. Aku pun beranjak dari ranjangnya dan aku segera berbalik ke arah ranjang sendiri.
...****************...
Beberapa hari telah berlalu, aku berbaring sambil memainkan ponselku di dalam kamar. Kebetulan sekali saat itu aku hanya sendirian dengan posisi kamar lampu selalu aku matikan agar cepat terlelap dalam tidur. Tak lupa aku selalu menyetel alarm pukul 3 dini hari untuk membangunkan solat malam.
Tak terasa bermain ponsel sebentar membuat rasa kantuk melanda di keseluruhan pelupuk mata. Tak berapa lama, aku terlelap dengan sendirinya dengan posisi ponsel masih berada di sekitaran tubuhku. Aku tak bisa lagi bergerak karena pelupuk mata sudah memanggilku untuk terlelap mengarungi alam mimpi yang sangat indah.
Tok ....tok .... tok....
'Assalamualaikum ...'
Samar-samar aku mendengar suara ketukan pintu dan salam yang terucap, seketika itu juga aku terbangun dari lelapku. Aku segera mengerjap-ngerjapkan mata yang masih mengantuk, dan memfokuskan pendengaranku, apakah itu benar suara orang atau bukan? Secara bersamaan, bunyi pintu tak terdengar. Aku merasa sangat curiga dan aneh. Jangan-jangan bukan manusia lagi? Maksudku temanku. Tapi jam berapa ini? Aku segera mencari ponselku yang entah dimana tata letaknya. Dan tak berapa lama, aku menemukannya. 'Ah masih jam 2.45 dini hari. Masih Pagi sekali.' Batinku. Suara yang muncul itupun tak terdengar lagi. Aku bergegas bangun dan hendak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku memberanikan diri untuk itu. Dan Alhamdulillah dengan niat baik dan perlindungan dari Allah, aku tidak sedikitpun mengalami hal ganjil.
Aku bergegas kembali memasuki kamarku sesudah berwudhu dan langsung menguncinya. Sebagaimana umat, aku hanya melaksanakan sunahnya, yaitu solat malam. Dan aku tak dapat menutup mataku ketika selesai menunaikan solat. Sampai saat subuh tiba, barulah kantuk melanda.
...****************...
3 hari berlalu semenjak kejadian itu, aktivitas yang aku jalani semakin padat. Kebetulan hari ini aku menjalani rapat organisasi di kampus. Tak terasa malam pun tiba, aku menyadari bahwa aku masih di kampus. Dan aku secepatnya meminta izin untuk pulang terlebih dahulu karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Teman-temanku memintaku pulang duluan karena mereka masih memiliki rapat yang perlu dihadiri lagi.
Tak banyak cerita, aku langsung beranjak meninggalkan kampus, melangkah keluar kampus menuju asrama. Sudah ku katakan, asramaku tidak terlalu jauh dari kampus, tetapi akses jalannya masih menyeramkan. Aku tak sadar kalau malam ini adalah malam Jum'at tepat pada malam satu suro. Konon, malam satu suro, kita tidak diperbolehkan untuk keluar rumah malam-malam apapun alasannya. Karena aku anak pemalu, dijalan simpang kiri masih ramai dengan adanya acara pengajian, sedangkan di jalan kedua, yaitu jalanan lurus yang langsung bisa terlihat asramaku, tetapi jalan ini sungguh sepi dan banyak pohon-pohon mangga. Aku putuskan untuk mengambil jalan tengah. Karena jalan ke tiga adalah kuburan yang aku dah ayahku pernah tersesat.
Aku tidak ada pilihan lain untuk memilih jalan dan waktu pun terus berjalan. Aku berjalan menelusuri jalanan itu sambil memainkan ponselku menundukkan kepalaku. Tak berani menoleh bahkan menegakkan kepalaku. Tak berapa menit ...
Wush ...
Aku tersentak kaget dengan bayangan yang baru saja melintas disampingku. Ku tambah kecepatan berjalanku, bulu romaku sudah meremang. Sekilas tampak bayangan putih lewat dengan tawa khasnya, aku semakin ketakutan. Ku ambil langkah cepat namun tak berlari dan masih memperhatikan ponselku.
Aku mendongak dan tampak orang berlari dari kejauhan dan hampir menyerempet ku, disitulah aku seketika menundukkan kepala dan tak sengaja melihat kakinya yang ngambang. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari cepat ketakutan dan membaca doa.
Dimanapun kitq berada, kita harus waspada dan selalu membaca doa.
...****************...
End.
Terimakasih Narasumber 🙏