Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I am sorry, I can’t.
...12. I am sorry, I can’t....
Biru.
Sudah lebih dari dua jam Biru duduk di depan laptop miliknya. Memilih hasil foto terbaik dan menghapus yang tak layak. Ini proyek pertama untuk membuat katalog fashion, tentu saja ia tak ingin mengecewakan. Biru berusaha sebisa mungkin agar hasilnya memuaskan.
Mata Biru terfokus pada satu wajah. Walaupun wajahnya tertutup cadar, ia tahu keindahan apa yang berada dibaliknya. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Sebenarnya, dilihat dari angle manapun Kha selalu nampak anggun. Sederhana namun berkelas, walaupun ke kakuannya masih terlihat jelas dalam foto.
Biru segera menggelengkan kepala seraya mengetuk-ketuk pelipis begitu menyadari krusor berhenti pada bagian wajah Kha.
Fokus, Bi! Fokus... Biru kembali memfokuskan diri.
Lima jam berlalu, untuk E-katalog sudah rampung dikerjakan. Sekali lagi, Biru putar Video hasil editannya, sebelum menyimpan pada flash drive.
Foto-foto pilihannya yang sudah selesai di edit, kemudian ditambah deskripsi sesuai dengan busananya yang tertera. Satu langkah lagi, tinggal menaikkan foto untuk kemudian dibuat menjadi katalog versi cetak, lalu keseluruhan proyek ini akan selesai.
Biru menyerahkan tugas akhir pada Aru untuk mencetak, dan Moya mengecek kembali hasil suntingan video.
Kini studio berisi lebih dari 15 karyawan. Sengaja ia menambah jumlah untuk mempersiapkan kerja sama dengan Riz WO yang akan dimulai Minggu depan. Tante Risa selaku Founder, memberikan pekerjaan yang tidak terlalu berat buat permulaan. Mereka akan mengawalinya dengan acara gender reveal party seorang influencer terkenal ditanah air.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Khadijah.
Langit masih temaram, belum sepenuhnya menunjukan sinar megah sang Surya. Waktu yang indah untuk dinikmati dengan secangkir kopi dan koran keluaran terbaru. Akan tetapi tidak dengan Kha dan kawan-kawan. Kopi instan yang dibeli take away dari kedai kopi cukup untuk menyegarkan mata.
“Guys... Kita awali pekerjaan kita dengan Bismillah agar berakhir dengan Alhamdulillah, ya....” ujar Kha lalu memimpin doa.
Selesai dengan doa, semua bersiap dengan peralatan didepannya. Kha mendapatkan proyek gender reveal party dari seorang influencer. Tantangan besar baginya untuk awalan, namun Kha bertekad untuk tetap mengambil proyek dan melewati rintangannya. Acara penentuan jenis kelamin memang akhir-akhir ini tengah menjamur dikalangan masyarakat, setelah sebelumnya hanya terdengar acara seperti baby shower, baby moon, atau sekedar syukuran 4 dan 7 bulanan.
Untuk acara seperti ini, tidak banyak Bunga yang Kha pakai, karena pemeran utamanya adalah balon. Ia sudah menyiapkan balon berwarna biru dan pink dengan berbagai ukuran, serta satu balon besar berwarna hitam yang sudah diisi kertas warna sesuai dengan permintaan klien.
Empat jam berlalu, Dekorasi hampir selesai seluruhnya. Kha mengamati ulang untuk finishing. Papan yang dilapisi kain putih, dibubuhkan tulisan Boy or girl sebagai background, dihiasi balon berwarna biru dan pink membentuk later L.
“Background, Ok!” ucap Kha mengacung jempol pada crew. Lalu beralih mengecek standing flower. Masih dengan warna senada, Kha hanya memakai bunga mawar berwarna biru, pink, dan putih. Standing flower diletakkan di masing-masing sisi background.
Puas memeriksa bunga dan backdrop, Kha bergeser kemeja panjang yang juga ia hias dengan bunga disemua sisi, meja yang nantinya akan diisi berbagai kue oleh bagian catering.
“Ok, guys! Semua selesai, terima kasih buat kerja keras kalian hari ini,” Kha melirik pergelangan tangan, “Acara akan dimulai 2 jam dari sekarang, dan mungkin berakhir malam. Aku sudah menghubungi cleaning service untuk membersihkan setelah acara selesai.” sambung Kha.
Kha dan crew membersihkan barang yang tidak terpakai, lalu pergi bersama meninggalkan lokasi yang sudah ia kerjakan.
Dipertengahan jalan, Kha berpapasan dengan Biru dan teamnya.
“Team kamu yang dekor, Kha?” tanya Biru. Kha mengangguk dan hanya menjawab dengan kata 'hmm'. Kha kembali melangkah menyusul yang lain, namun terhenti karena panggilan Biru.
“Nggak mau nunggu disini?”
Kha bergeming. Keningnya mengernyit.
“Kali aja masih ada yang kurang atau salah dekornya.” tambah Biru.
“Sudah ku cek semua, Mas. Semua selesai sesuai dengan pesanan.” melihat Biru mengangguk, Kha lantas bergegas pergi menyusul crewnya.
Sebelum naik ke mobil, sekali lagi Kha menoleh, ia masih jelas melihat Biru sedang berdiri menatap dirinya. Ada perasaan aneh saat Biru menatap dengan senyuman. Kemana Biru yang cuek? Belakangan, pria bertubuh jangkung itu terlihat berbeda, seperti gunung es yang akhirnya mencair.
Hari sudah petang saat mereka tiba di ruko. Kha berlarian kecil, ia ingin segera kedalam dan melaksanakan kewajibannya karena waktu hampir habis. Dari kaca luar, ia melihat siluet tubuh seorang pria. Jelas sekali pemilik tubuh tersebut adalah Barid.
“Assalamualaikum.” ucap Khasaat masuk disusul yang lain.
Dipa dan Barid menjawab salam bersamaan.
“Baru pulang?” Kha mengangguk menjawab pertanyaan Barid.
“Mas Barid mau pesan bunga?”
“Iya, sekalian ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”
“Boleh, tapi saya izin mau sholat sebentar. Mas Barid silahkan pilih bunganya, nanti biar Dipa rangkaikan.” Kha berlalu setelah mempersilakan Barid untuk duduk menunggu.
Selesai sholat, Kha melihat cahaya dari ponselnya berpendar. Beberapa notifikasi pesan masuk terlihat disana. Ada satu pesan yang membuatnya tertarik untuk lekas membuka.
Dekornya keren, klien juga kelihatan puas. Good job, Kha.
Tulis Biru pada pesan yang dibubuhi emoticon senyuman. Kha lega mendengar informasi jika klien merasa puas, dan yang membuatnya menarik sudut-sudut bibir, adalah dia... Dia yang menyempatkan memberikan informasi disela kesibukannya.
Segera ia mengetik balasan. Terima kasih, Mas. Tak lupa dengan emoticon yang sama.
“Bunga pesanan Mas Barid sudah, Dip?” Dipa melirik tajam kearah Barid yang masih sibuk dengan gawainya. “Belom! Maunya sama kamu, aneh banget manusia.” adu Dipa.
Kebiasaan Barid yang membuat Dipa dan yang lain heran, laki-laki itu sering memesan bunga entah untuk siapa, tapi harus Kha yang mengerjakan. Barid tidak mau jika pesanan bunganya dirangkai orang lain. Hal itu juga yang membuat para karyawan menjadikan bahan ledekan, mengatakan jika Barid menaruh hati pada Kha. Dan Kha? Ia masih bergeming tak merespon apapun yang teman-temannya terka.
“Kali ini bunga buat siapa?” tanya Kha tanpa memandang pada Barid. Barid duduk di kursi depan kasir, menumpuk kedua tangan untuk dijadikan bantalan kepala.
“Siapa lagi kalau bukan Mamaku, aku mau bunga yang indah buat diletakkan di vas.” balas Barid. “Mamaku suka bunga buatan kamu, Kha.” sambung Barid, Kha hanya merespon dengan senyuman.
Ekor mata Barid selalu mengikuti pergerakan Kha kemanapun Kha melangkah. Ia sadar, namun tetap fokus merangkai bunga dan meletakkan pada box tabung.
“Sweet peachy pink blossom box.” Kha menyerahkan bunga rangkaiannya. Bunga mawar pink, disisipkan dalam box bersama tulip pink dan bakung putih, ia juga menambahkan lavender untuk mempermanis.
“Wahh... Makin kesini bunga kamu makin cantik.” puji Barid memandang takjub bunga didepannya.
“Karena itu harganya juga makin mahal.” balas Kha sembari memberikan bill.
“Oh, iya. Minggu depan aku wisuda. Kamu mau hadir, Kha?”
“Aku?”
Barid mengangguk, menatap penuh harap. “Aku ingin, hari istimewaku dihadiri sama orang-orang yang penting dalam hidup aku.”
“Aku bu--”
“Kamu orang penting dihidup aku, Kha.”
Deg!
Dia bukan perempuan bodoh yang tak mengerti maksud dari ucapan Barid. Dari semua sikap Barid terhadap dirinya selama ini pun sudah sangat menjelaskan. Tapi mau bagaimanapun, ia hanya menganggap Barid sebagai adik dari pemilik toko sebelah, atau hanya sebatas pelanggan ditokonya, tidak lebih.
“Maaf, Mas. Sepertinya saya tidak bisa, jadwal saya Minggu depan sudah penuh. Lagi pula, saya rasa saya bukan orang penting buat Mas Barid.” dengan terpaksa, Kha harus menolaknya dengan tegas. Mungkin ucapannya terlampau jujur dan lugas, bisa saja membuat Barid sakit hati. Tapi harus ia lakukan agar kedepannya tidak ada harapan yang tidak sesuai dengan keinginan.
Sampai detik ini, fokusnya hanya tentang pekerjaan dan orang tua. Mengenai siapa yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya, sepenuhnya ia pasrahkan pada Allah. Ia percaya bahwa takdirnya telah tersusun rapi di Lauhul mahfuz.
terima kasih sudah mampir...
kita ketemu hari apa bestieeee???
Senin! yakk betol. sampai bertemu hari Senin ya 🤗❤️
weekend mau buat runtime karya author Laen 😘
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf