Velicia menikah dengan Arnold pria yang selama ini di kiranya yang pernah masuk dalam kenangan masa lalunya...
Cinta yang berawal dari lantunan piano dari seorang pria yang memainkan lagu Sleep in the deep sea yang biasa di mainkan ibu Velicia sewaktu sang ibu masih hidup...
Pernikahan Aliansi yang terjadi di antara mereka, bukan membuat Velicia bahagia namun malah membiat dia terluka hingga penyakit mematikan menyerang hidupnya...
akankah Arnold bisa mencintai Velicia??
yukk baca novelku...!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Dalam Luka (Bab 12)
Velicia masih saja diam, saat ini di dalam otaknya banyak pertanyaan yang timbul di karenakan sikap Arnold yang tampak sangat berbeda dari sebelumnya terhadap dirinya.
Melihat Velicia yang masih diam Arnold pun menatap dalam manik kecoklatan menyimpan rasa yang tak bisa di artikan.
“ Aku bersedia berpacaran denganmu sebelum aku menikah dengan Viona....” Ujar Arnold memberikan sebuah tawaran kepada Velicia.
“ Itu tak perlu kau lakukan...aku sudah tak menginginkannya lagi...” Ujar Velicia lalu dia pun mendorong tubuh Arnold yang berdiri menghadangnya agar dia bisa melewatinya.
Velicia menghapus kasar buliran bening yang membasahi pipinya, dia keluar dari Villa lalu langsung memasuki mobilnya. Velicia meremas dadanya yag terasa begitu sesak.
Rasa sakit menyelimuti dadanya, sesak rasanya saat tahu dia yang sudah ingin menikah dengan Viona, lalu menawarkan diri untuk berpacaran dengannya sebelum dia menikah dengan Viona. Rasa sakit yang kini di rasakan Velicia lebih sakit dari sakitnya penyakit yang menggerogoti tubuhnya saat ini.
Velicia kembali menghapus buliran bening yang terus saja jatuh di pipinya, walau dia telah berusaha menahannya. Velicia pun mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan Villa keluarga Setyawan. Velicia membelah keramaian jalanan, dia terus mengingat apa yang baru saja di tawarkan oleh Arnold padanya. Hingga akhirnya Velicia pun sampai di depan Villa miliknya.
Velicia turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu utama Villa keluarga Arista, Velicia masuk Villa dan langsung melagkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua. Di dalam kamar Velicia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar miliknya.
Dia merasa dirinya bernasib begitu menyedihkan, Arnold menerima kesepakatan itu hanya sekedar berbelas kasihan pada dirinya yang saat ini menderita penyakit yang mematikan.
Velicia kini membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang , dia tak bersemangat melewati hari. Dia terus berbaring sambil mengotak-atik ponselnya untuk menghapus rasa jenuhnya.
Setelah bosan membuka beberapa akun sosial yang tak ada berita apa pun di sana, Velicia pun meletakkan ponselnya di atas nakas di pinggir ranjang dan berusaha memejamkan matanya walau itu sulit untuk di lakukannya.
Drrrt....drrrt...drrrt...( ponsel Velicia berdering )
Velicia pun menoleh ke arah ponselnya yang ada di atas nakas, lalu berusaha meraih ponsel itu. Velicia melihat panggilan dari sahabatnya Merry. Seketika Velicia pun menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
“ Hallo....” Sahut Velicia saat panggilan telah tersambung.
“ Hallo Velli...kamu lagi apa?” Tanya Merry pada sahabatnya berharap Velicia sedang tidak sibuk.
“ tidak ada...aku hanya berdiam diri di kamarku...” Jawab Velicia jujur.
“ Kalau begitu...bisakah kamu menemaniku untuk mencari Hansen???” Tanya Merry memohon.
“ Baiklah...aku bersiap-siap dulu...” Ujar Velicia.
Panggilan pun terputus lalu Velicia meletakkan ponselnya di atas kasur, Velicia pun bangun dan beranjak melangkah ke bathroom untuk membersihkan dirinya sebelum pergi keluar untuk menemani sahabatnya mencari sang kekasih di masa lalu.
Setelah Velicia mandi, dia mengambil blouse dan celana jeans miliknya lalu mengenakan pakaian yang menurutnya santai. Dia memoles sedikit make up di wajahnya. Setelah di rasa rapi, Velicia pun keluar dari kamarnya lalu melangkah keluar Villa.
Velicia langsung masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju kedai teh milik Merry untuk menjemput Merry. Saat Velicia telah berada di depan kedai teh milik Merry, Velici menghidupkan klakson mobilnya memberitahukan Merry bahwa dirinya telah berada di depan kedai teh miliknya.
Tak berapa lama Velicia menunggu, Merry keluar dari kedai teh miliknya dengan penampilan tanpa berdandan sedikit pun. Udah lama Velicia tak melihat sahabatnya ini berpenampilan tanpa make up. Merry terlihat begitu anggun tanpa make up di wajahnya dia terlihat begitu murni.
“ Merry...apakah benar ini dirimu ? “ Tanya Velicia pada sahabatnya yang heran melihat penampilan sahabatnya.
“ Hansen tak pernh melihatku berdandan...aku takut dia tak mengenaliku nantinya...” Jawab Merry yang sadar kemana arah pertanyaan sahabatnya.
“ Oh...” Velicia hanya ber oh-ria memahami, mungkin Merry tak ingin Hansen tak pede berjumpa dengan Merry jika Merry terlihat terlalu cantik.
Merry masuk ke dalam mobil, dia sudah siap untuk berangkat namun dia melihat ke arah sahabatnya yang kini sibuk menghapus make up yang tadi di pakenya. Menurut Velicia, lebih baik dia juga ikut berdandan biasa saja, lalu keluar sebentar dari mobilnya untuk mengganti pakaiannya yang terkesan santai yang kebetulan ada di dalam mobilnya.
Walau Velicia berpenampilan apa adanya, namun penampilan itu tak dapat menutupi aura dirinya yang elegan.
Setelah selesai mengubah penampilannya, Velicia pun kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya. Merry hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Velicia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia menelusuri jalan yang mengarahkan pada alamat yang telah di sebutkan oleh Merry.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, dan memutar-mutar mencari desa kecil dan terpencil akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang menurut petunjuk para penduduk di sanalah Hansen tinggal bersama neneknya.
Velicia dan Merry melangkah masuk ke pekarangan rumah sederhana, yang mana mereka telah berjalan sekitar 50 meter di karenakan gang rumah nenek Hansen tidak bisa di lewati oleh mobil.
Merry terdiam saat melihat di depan rumah itu duduk seorang pria di atas kursi roda, pria itu telah kehilangan kedua kakinya. Merry melangkah perlahan mendekati pria itu.
“ Hansen...” ujar Merry pelan setelah dia berada tepat di depan pria yang bernama Hansen itu.
Hansen menoleh pada wanita yang kini berada tepat di hadapannya.
“ Siapa kau...?” tanya Hansen pada Merry.
Tak berapa keluarlah seorang wanita paruh baya yang menggunakan penutup kepala, yang rambut putihnya membual berantakan dari songkoknya.
“ Hansen...ini aku Merry...” jawab Merry sendu.
“ Hansen memang sering seperti ini...entah kenapa dia seperti orang bodoh saja...” Celetuk sang nenek.
Merry menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“ Hansen apakah semudah itu kau melupakanku...?” Tanya Merry tak terima saat Hansen tidak mengenali dirinya.
Hansen masih saja mengatakan bahwa dirinya tidak mengenali Merry, hingga akhirnya Velicia mengajak Merry untuk pulang. Walau berat Merry pun akhirnya melangkah meninggalkan pria yang sama sekali tak mengenali dirinya.
Dengan langkah gontai, akhirnya mereka pun sampai di dekat mobil. Velicia mengajak Merry untuk masuk ke dalam mobil.
“ Veli...aku yakin Hansen pasti berbohong...dia pasti mengenal diriku...” ujar Merry pada Velicia yakin bahwa kekasihnya itu baik-baik saja. Dia merasa Hansen sengaja berbohong berpura-pura tidak mengenali dirinya.
“ Kamu sabar ya Mer...” lirih Velicia berusaha menenangkan sahabatnya.
“ Veli...harusnya aku telah mati 8 tahun yang lalu...namun Hansen telah menyelamatkan diriku...karena itu aku sangat bahagia...dan aku juga bahagia saat tahu Hansen masih hidup...” lirih Merry.
“ Aku akan bahagia...” lirihnya
berulang-ulang.
“ Sudahlah Merry...kau akan kehilangan segalanya jika kau terus mengejar Hansen...” mengingatkan sahabatnya. Tiba-tiba Veliciateringat sesuatu.
“ Merry...Masih ingatkah kamu...Setahun yang lalu aku meletakkan sebuah kartu di depan komputermu...Harusnya kamu tahu dariku,,,tapi kenapa kamu tidak menanyakan pinnya padaku...” ujar Velicia mengingatkan Merry.
“ Tanpa aku bertanya padamu PIN kartu itu...karna aku sudah tahu PIN dari kartu itu...” Jawab Merry.
Velicia pun tak bisa berkata-kata lagi, karena Merry sahabatnya yang satu ini adalah sahabat yang paling mengerti dirinya.
Bersambung...
.
.
.
.
.
Terima kasih Readers yang udah baca karya owner...🙏🙏🙏
Jangan lupa dukung terus karya Owner dengan meninggalkan jejak...
\=> Like
\=> koment
\=> Hadiah
\=> Vote...
Terima kasih atas dukungannya...🙏🙏🙏
Sukses bwt kk 😊💐