Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan ke Dua
setelah Ali memastikan tidak ada yang mengetahuinya, Ali memanfaatkan cincin permata sulaiman untuk pergi ke ibukota, dalam sekejap dia sudah sampai di pintu gerbang ibukota.
ada sepuluh pendekar bintang Tiga yang menjaga pintu gerbang ibukota. Ali memberi salam dan langsung di balas oleh mereka, Ali tersenyum karena mereka tidak mengetahui siapa dia sebenarnya, dia tidak langsung pergi ke istana, dia menuju kesebuah klinik di tengah kota yaitu "klinik Babus syifaa". klinik milik ibundanya itu.
setelah satu jam berjalan Ali baru melihat sebuah bangunan yang cukup besar, tampak di bagian depan bangunan memiliki dua lantai. banyak orang orang berlalu lalang di sekitar bangunan itu, ada sebuah plakat bertuliskan "المسثشفى باب الشفاء". Ali bergegas menuju bangunan tersebut, setelah masuk dia menemui bagian pencatatan, dua gadis yang menjaga disana.
"ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanya salah satu gadis itu.
"apa saya bisa menemui pemilik tempat ini?" tanya Ali sambil menundukkan wajahnya.
"baiklah, mari saya antar ke tempat beliau." Ali mengikuti gadis itu dari belakang, setelah sampai di sebuah ruangan di lantai dua, dia mempersilahkan Ali masuk, di dalam ruangan itu ada seorang wanita berusia 30 tahunan yang sedang sibuk meracik obat, wanita itu begitu anggun, wajahnya memancarkan pesona yang mirip dengan Ali.
setelah mendengar suara pintu di buka, ada suara salam, kedengarannya suara pemuda. wanita itu menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada sumber suara.
wanita itu terkejut mulutnya menganga, lalu menghambur ke arah pemuda itu. setelah sampai dia memandangi wajah pemuda itu. "Ali.... apakah ini benar benar dirimu?" matanya mulai berkaca kaca, tangisnya hampir meledak.
gadis yang mengantarkan Ali tertegun melihat tingkah permaisuri yang begitu aneh. "iya ibunda ini Ali...."pemuda itu tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"ternyata ibunda masih begitu mengingatku." jawab Ali.
wanita itu tidak berkata apa apa lagi, tangisnya sudah pecah. dia memeluk Ali dengan sangat erat, sebuah kerinduan yang sudah lama terpendam, menahan ego seorang ibu yang pernah ingin dipisahkan dengan buah hatinya. " kau anak yang cerdas, kenapa begitu lama kau disana, apa ada yang mempersulitmu?" setelah cukup lama dia melepaskan kerinduannya.
"Ali mempelajari semuanya ibunda, itu sudah yang tercepat, apa ibunda merindukanku?" Ali melepaskan pelukannya dia ingin memandang wajah wanita yang penuh jasa dalam hidupnya.
wanita itu melihat sekelilingnya, ada yang salah. beberapa pegawai yang sedang berada di lantai Dua sedang memandangi dirinya dan putranya. "dia Ali bin Abbas putraku, kalian pasti pernah mendengar namanya." wanita itu memperkenalkan putranya.
setelah itu mereka berdua masuk ke ruangan itu, ibundanya ingin mendengarkan semua cerita dari putranya itu.
*********
setelah beberapa hari berada di istana, semua staf kerajaan dan pegawai istana sudah mengenali Ali, Ali sangat pandai bergaul dengan siapapun. bahkan sering bercanda ria dengan para pelayan pelayan istana, Ali sering menghabiskan waktunya di tempat ibundanya praktek, kecintaannya pada dunia medis dan penemuannya tentang obat yang mampu meningkatkan kualitas tulang, membuatnya sangat betah di ruangan ibundanya, tidak jarang ibundanya meminta Ali untuk membantunya meracik obat dari beberapa penyakit yang di derita pasiennya.
Suatu malam, ayahandanya memberitahukan Ali, bahwa dia sudah di jodohkan dengan seorang gadis, dan besok rombongan keluarga gadis itu akan datang ke istana. mungkin saja akan membicarakan hal itu.
Ali tidak kaget dengan yang di ucapkan ayahandanya, sebab Ali sudah pernah menemui calon tunangannya sebelum menuju ke ibukota.
Ali menceritakan jika gurunya juga meminta dia untuk menikahi putrinya, dan Ali sudah menemui tunangannya itu, ayah dan ibundanya malah yang terlihat kaget. "lalu apa keputusanmu?" Khalifah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Ali tidak langsung menjawab dia menoleh ayah dan ibundanya bergantian lalu menundukkan kepala. " saya belum memutuskan apapun, tapi sepertinya putri paman mentri tidak tertarik dengan pertunangan ini".
"bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu putraku?" sekarang permaisuri yang diliputi rasa penasaran oleh jawaban putranya itu.
"entahlah, saya hanya mengira saja bunda".
"kau lebih suka yang mana?" Khalifah menanyakan apa yang ada di pikirannya.
"kakanda pertanyaan apa itu?" permaisuri melakukan protes pada suaminya.
Ali tersenyum, "Ali menyukai keduanya".
mereka terperanjat mendengar jawaban polos putranya.
*********
keesokan harinya rombongan mentri pertahanan tiba di istana, hanya mentri pertahanan dan putrinya, istrinya tidak ikut karena sakit, beberapa prajurit sebagai pengawal.
Khalifah menyambut rombongan tersebut, dan langsung diajak ke ruang penjamuan, disana mentri melaporkan beberapa masalah tentang beberapa kelompok perampok yang telah di atasi dengan baik, sebuah penyelidikan tentang organisasi bawah tangan yang di duga sebagai aliran sesat, ada surat permohonan keamanan dari perguruan Singa Langit yang akan mengadakan perlombaan pendekar muda berbakat, dan ada satu surat lagi yang datangnya dari perguruan Tapak Suci yang ingin bergabung dengan mendukung pemerintahan.
Khalifah menerima semua laporan tersebut, dia memberikan tanggapan atas semua masalah yang di laporkan, bahkan sangat senang saat membaca surat dari ketua perguruan Tapak Suci.
"apa ini calon menantuku?" Khalifah mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk disamping mentri itu.
Aisyah menunduk tak berani mengangkat mukanya, dia sangat malu, dia berharap Ali sudah melupakan kejadian waktu itu. Ali tidak mengikuti jamuan, karena ada kepentingan di luar istana.
Syaikh Abdurrahman tertawa mendengar pertanyaan Khalifahnya tersebut. " iya Khalifah, ini putri saya Aisyah. dia sekarang sudah berusia Empat Belas tahun".
Khalifah bertanya apa saja kegiatannya saat ini, Beliau sempat kaget saat mengetahui kalau Aisyah sangat menggemari bela diri, bahkan belajar di perguruan Tapak Suci.
" kalau anakku sepertinya lebih menyukai beladiri memanah, selama di istana dia sering latihan memanah, jika beradu tangan kosong mungkin anakku akan kalah denganmu." Khalifah mengambil kesimpulan atas dasar apa yang dia ketahui.
"pangeran mahkota sangat jenius, dia selalu tidak terduga." mentri itu tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan Khalifahnya.
"benarkah?" Khalifah tersenyum mendengar putranya selalu mendapatkan pujian, Khalifah berpikir putranya sudah sangat kebal dengan pujian pujian seperti ini. "apa yang dia lakulan saat berada disana?" Khalifah menoleh pada gadis itu, yang dari tadi mendengarkan saja.
"pangeran dengan mudah mendapatkan medali bintang Delapan dari ketua perguruan Tapak Suci." Aisyah menjawab sambil tetap menundukkan pandangannya.
Khalifah kaget mendengarnya, sampai Akhirnya adik kandung ketua perguruan itu menceritakan semuanya.
*********
Ali datang saat hari sudah malam, saat berjalan di lorong menuju kamarnya, ali tak sengaja menabrak seseorang yang baru leluar dari kamar khusus tamu penting, terdengar suara rintihan kesakitan dari sosok yang di tabraknya. suara gadis Ali kaget. lebih kaget lagi saat mengetahui wajah gadis itu.
"adik Aisyah?maafkan saya" Ali merasa bersalah.
"tidak apa apa, aku yang salah" Aisyah mencoba bangkit tangan kirinya sakit karena membentur dinding.
Ali menangkap perubahan wajahnya, ada kekhawatiran di hatinya, namum dia tidak bisa membantunya. "apanya yang sakit, aku panggilkan ibunda ya?" Ali agak ketakutan.
Aisyah menangkap wajah Ali yang ketakutan, ada perasaan bahagia dihatinya, 'ternyata dia menghawatirkan aku' batinnya. "enggak kak, aku baik baik saja"
"kau mau apa keluar malam malam?" Ali mengingat bahwa gadis itu akan keluar kamar.
Aisyah merasa lapar sejak pertemuan saat pagi itu, dia tidak makan lagi, perutnya sangat lapar, dengan malu malu dia bilang "aku lapar".
mendengar itu Ali bingung, bagaimana mungkin para pelayannya melupakan tamu penting seperti itu. "apa kau bisa masak?" Ali bertanya seperti ini karena dia tahu, kalau sudah malam begini tak ada orang yang bisa menyiapkan hidangan untuk nya. "aku juga lapar" kata Ali.
Aisyah mengangguk, dia memang suka membantu Umminya memasak, dia sudah sangat hafal membuat beberapa resep masakan lezat. dia tidak menyangka jika malam ini dia akan memasak untuk pemuda yang suda memenuhi relung hatinya itu. ada perasaan bahagia.
~***1187kata.
》》》》》》》》》
mungkin besok aku libur dulu ya, soalnya badanku sudah tidak mampu dan harus beristirahat.
terima kasih sudah mau menunggu kelanjutan cerita ini, jika ada yang kurang jangan sungkan untuk mengingatkan saya.
😊😊😊😊😊***