NovelToon NovelToon
Always Love You

Always Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:598.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Abil Rahma

Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?


Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALY 12

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, pagi tadi ia bisa bermanja-manja dengan sang Mami, memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya itu, seakan tak ingin ia lepaskan. Seperti saat ini pun sama, ia memeluk erat tubuh sang Mami dengan air mata yang berderai, ia sekarang sudah menjadi milik orang lain, tanggung jawab seseorang yang baru saja mengucapkan kalimat sakral ijab qobul.

Sejak kedatangan Rangga dan keluarga, ia belum memperlihatkan batang hidungnya pada keluarga Rangga. Bukan tak mau, tapi memang seperti itu konsep yang ia minta, ia tidak mau berada di antara mereka ketika ijab qobul berlangsung, ia akan menampakkan diri ketika sudah benar-benar menjadi istri Rangga.

"Jangan nangis dong, harusnya kamu seneng, katanya kamu cinta sama Rangga, tapi kok nangis?" tanya Mami, karena putrinya itu belum mau di ajak ke luar dan menemui suaminya.

Mami memang sempat bertanya padanya, apakah ia mencintai Rangga? Dan Yesha menjawab jika ia mencintai pemuda itu, meski ukuran cintanya belum terlalu dalam, tapi ia merasakan jika ia sudah jatuh hati pada pemuda itu.

"Aku nangis bukan karena sedih Mam, tapi rasanya enggak percaya aja dengan semua ini." Ia mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi.

"Aku menangis karena terharu Mam, lega juga karena sejak tadi dadaku sesak sekali, apa seperti ini dulu yang Mami rasakan saat akan menikah dengan Papi?" tanyanya.

Sejak pertama keluarga Rangga datang, ia memang merasakan sesak di dada, debaran jantung lebih tak terkontrol, tapi setelah ia mendengar kata 'sah' dari para saksi, entah kenapa terasa lega sekali. Seakan semua beban telah terlepas hingga membuat ia bernafas lega.

"Alhamdulillah, kalau seperti itu. Tentu saja Mami merasakan apa yang kamu rasakan, udah ya, sekarang temui suami kamu, mereka sudah menunggu," Mami dan Papi memang belum pernah bercerita jika mereka menikah tidak di rencanakan, alias dadakan, dan sang Mami yang rela menggantikan calon mempelai wanita yang kabur saat acara pernikahan itu. Hanya karena ingin menyelamatkan keluarga Papi supaya tidak di rundung rasa malu akibat batalnya pernikahan anak mereka.

Anak dan ibu itu melangkah ke luar kamar, menemui beberapa orang yang berada di ruang tamu, tidak banyak hanya ada sembilan orang, termasuk kedua sahabatnya. Kedua orang tua Rangga, Papinya, Om Irfan yang sudah datang sejak tadi pagi, lalu dua orang yang tak ia kenal, salah satu adalah penghulu dan satunya lagi sebagai saksi dari pihak Rangga. Yang terahir adalah suaminya, ya Rangga kini sudah sah menjadi suaminya.

Penampilannya memang tidak bermake-up seperti pengantin pada umumnya, ia hanya memoles wajahnya dengan make-up tipis, mengenakan gamis mewah berwarna putih yang di bawa oleh Laura tadi pagi sekali, tentu saja kiriman dari keluarga Rangga. Dan jilbab berwarna senada, terlihat cantik natural.

Ia menunduk ketika tak sengaja tatapan mereka bertemu, entah kenapa wajahnya tiba-tiba memanas, tersipu malu saat melihat senyum manis pemuda yang telah sah menjadi suaminya itu. Mami menuntunnya untuk duduk di sisi Rangga, dengan sigap Rangga mengulurkan tangannya membantunya untuk duduk.

Deg

Jantungnya makin berdebar ketika kulit halus Rangga menyatu dengan telapak tangannya, duh, kenapa ia menjadi semakin berdebar, padahal hanya bersentuhan tangan saja, belum yang lain. Eh, kenapa pikirannya jadi aneh-aneh sih? Pasti gara-gara ucapan Elsa semalam, duh memalukan sekali.

"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, meskipun belum tercatat oleh negara, tapi secara agama kalian sudah halal," ucap seorang yang ia yakini sebagai ustadz terlihat dari penampilannya yang berbeda dari orang lain.

Ia pun tersadar dari lamunannya yang menyalahkan Elsa, kasian sekali si Elsa di salahkan.

Selanjutnya, Rangga memasangkan sebuah cincin perak bermata berlian yang dulu pernah ia tolak, bukan di tolak juga sebenarnya, tapi ia belum mau menerima itu tanpa seijin orang tua dan sekarang dengan mudahnya Rangga memasang cincin itu di jari manisnya. Entah kenapa cincin itu bisa pas di jari manisnya, padahal ia belum pernah mencobanya, itu sebuah kebetulan atau memang Rangga terlalu pintar memilih ukuran cincin hanya melihat jarinya saja tanpa mengukur? Entahlah. Setelah itu ia bergantian memasang sebuah cincin polos berbahan berbahan perak, pada jari manis Rangga.

Dan untuk pertama kalinya, Rangga mengecup keningnya, membuat debaran jantung yang tadi belum normal kini bertambah tidak normal. Tapi sebisa mungkin ia menetralkan keadaan. Setelahnya, Bapak Ustadz membacakan doa untuk kedua pengantin.

Tak lupa Rangga memberikan mas kawin yang tak pernah ia sangka, satu set perhiasan dan beberapa uang yang jumlahnya tak sedikit. Membuatnya melongo saat menerima semua itu, ia tak pernah meminta dan juga Rangga tak pernah menanyakan akan hal tersebut.

*****

Setelah serangkaian ijab qobul, Papi membawa semua tamu termasuk kedua orang tua Rangga untuk makan siang bersama di sebuah restoran hotel yang tepatnya berada di samping apartemennya. Om Irfan yang menyiapkan semuanya, karena ia yang menginap di hotel tersebut bersama dua orang yang ia tahu sebagai ustad dan saksi dari pihak Rangga.

Elsa dan Laura, tadinya ingin tinggal di apartemen, tapi setelah di bujuk oleh Mama Rangga, keduanya pun ikut serta. Menyisakan ia dan Rangga yang berada di dalam apartemen.

Tiba-tiba keadaan menjadi canggung, padahal mereka berdua sering bertemu sebelumnya, bahkan hanya berdua saja seperti saat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Ia yang sejak tadi diam sambil menunduk, memainkan jari jemarinya, jantungnya makin berdebar ketika Rangga melangkah mendekatinya setelah menutup pintu apartemen.

"Boleh peluk enggak?" pertanyaan Rangga membuatnya makin menunduk, malu sekali rasanya. Kenapa juga Rangga harus meminta ijin?

"Enggak boleh ya? Yaudah kalo enggak boleh, aku pulang aja," entah itu ucapan serius atau hanya pancingan supaya ia menatap Rangga.

Benar saja, ia pun menatap Rangga yang akan berbalik, dan reflek menarik tangan Rangga. "Mau kemana Kak?" tanyanya.

Rangga pun menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap wajahnya, bukannya menjawab Rangga justru menariknya supaya berdiri, "Ayo mau ikut enggak?" tanyanya. "Enggak usah mikir yang aneh-aneh, ini juga masih siang, boleh mikir aneh-aneh nanti kalo udah malem," Rangga tersenyum karen berhasil menggodanya.

Tanpa sepatah kata pun ia menerima uluran tangan Rangga, mengikuti kemana langkah Rangga berpijak, dan ternyata Rangga mengajaknya ke apartemen depan, alias apartemen Rangga sendiri.

"Maaf tapi berantakan, enggak sebersih apartemen kamu," celetuk Rangga saat keduanya berhasil masuk ke dalam apartemen.

Yesha berjalan lebih dahulu, melihat sekeliling. Berantakan katanya? Memang sih cuma ada jas yang tergeletak di sandaran sofa, selain itu bersih. Tata letak sofa dan yang lainnya terlihat sama dengan apartemennya, mungkin karena belum pernah di rubah dari awal.

"Ay, sini." Rangga ternyata sudah duduk, ia menepuk sisi sofa yang kosong supaya Yesha duduk di sana.

Perlahan Yesha pun menghampiri Rangga, duduk di sisi pemuda itu, tapi diantara mereka masih ada sedikit jarak, membuat Rangga gemas dan langsung menarik istrinya itu ke dalam pelukan.

Yesha terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rangga, tiba-tiba jantungnya kembali berdetak lebih cepat, apalagi mendapat perlakuan yang mendadak seperti ini.

"Rasanya seperti mimpi, tapi ternyata ini sebuah kenyataan, benar kan Ay, kalau ini nyata?" ucap Rangga masih memeluk tubuh Yesha.

Gadis itu mengangguk, setelahnya ia membalas pelukan Rangga. Perasaan bahagia menyelimuti keduanya.

Rangga melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Yesha dengan kedua tangannya, menatap gadis itu yang tersenyum membalas tatapannya.

"Kamu bahagiakan nikah sama aku?" tanya Rangga.

"Iya Kak, aku bahagia dan enggak pernah menyangka ini semua akan terjadi," jawabnya sambil tersenyum.

Rangga mengecup keningnya cukup lama, lalu beralih di kedua pipinya, tak lupa pula mengecup hidung dan juga bibirnya. Setelah itu mengusap bibirnya dengan ibu jari, "Boleh?" tanyanya pada Yesha.

Yesha mengangguk kecil, ia tidak berani menolak keinginan Rangga, karena Rangga kini adalah suaminya.

Perlahan Rangga menyatukan bibir mereka, menikmati setiap sensasi yang mereka ciptakan. Ia merasakan jika Yesha tampak kaku menerima semua perlakuannya, mungkin karena ini pertama kali untuknya, berbeda dengan dia yang dulu pernah melakukan itu dengan mantan kekasihnya, sebelum semuanya berahir.

Meskipun masih kaku, Yesha tetap berusaha membalas perlakuan Rangga, bahkan kedua tangannya tanpa permisi sudah bertengger di leher suaminya itu. Menikmati setiap perlakuan Rangga yang membuatnya seperti tak sadarkan diri, hingga Rangga melepas pagutan mereka karena oksigen yang mulai habis.

Rangga tersenyum, lalu mengusap sisa Saliva yang masih tertinggal di bibir istrinya, setelah itu mengecup kembali bibir tersebut, sekilas. Jika kembali menikmati benda kenyal itu, bisa-bisa ia tidak terkendali dan melakukan hal lainnya.

Wajah Yesha terlihat memerah, sepertinya gadis itu menahan malu, setelah melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi Rangga tak mempermasalahkan itu, karena ini pengalaman pertama untuk istrinya, jadi wajar jika masih malu-malu.

"Temenin aku tidur yuk, jangan pikir aneh-aneh, aku beneran lelah pengen tidur. Semalam pulang tengah malam dan enggak bisa tidur sampai subuh," ucap Rangga, lalu mengulurkan tangannya membantu Yesha untuk berdiri.

Yesha menerima uluran tangan Rangga, lalu mengikuti langkah Rangga menuju kamar.

"Bentar aku ganti baju dulu, kamu mau ganti enggak? Di sini banyak baju buat kamu, Laura yang mempersiapkan semuanya," Rangga menunjuk ke salah satu lemari yang ada di kamarnya, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.

Tapi setelah keluar kamar mandi, ia melihat Yesha yang masih mengenakan pakaian sebelumnya, berdiri di sisi jendela yang menghubungkan ke arah balkon. Ia pun mendekati istrinya itu, memeluknya dari belakang. Tampaknya Yesha terkejut dengan perlakuannya, tapi tak menolak apa yang ia lakukan.

"Kenapa belum ganti baju? Apa perlu aku yang menggantinya?" bisik Rangga.

"Ih, Kak Rangga. Aku kan lagi nungguin kamu," ucapnya lalu berbalik menghadap ke arah Rangga.

"Sini biar aku bukain, jilbabnya. Bukan bajunya, kenapa melotot gitu? Takut aku bukain bajunya juga ya? Kalau mau sih enggak masalah, aku tidak keberatan," Rangga suka sekali menggoda istrinya itu. Karena Yesha terlihat menggemaskan saat ia goda.

Tanpa menunggu lama, Rangga pun melepas jilbab yang di kenakan oleh Yesha, ia takjub saat melihat wajah istrinya tanpa hijab, terlihat lebih cantik, apalagi dengan rambut hitam panjang yang terawat. Ia sengaja melepas tali rambut Yesha, lalu mengelus rambut itu dan menciumnya.

"Wangi," ucapnya.

Yesha menerima setiap perlakuan Rangga, tanpa protes sedikit pun bahkan menikmati setia sentuhan Rangga.

"Kamu terlihat lebih cantik, padahal dulu aku pernah liat kamu enggak berhijab, tapi sekarang beda banget, lebih cantik dan aku suka," ucap Rangga, lalu mengecup puncak kepalanya, setelah itu membiarkan istrinya itu untuk berganti pakaian.

.

.

.

1
Febby fadila
alhamdllah ya semua bahgia, terutama buat angkasa yg sellu setia menunggu cintax sama sang istri Ayesha 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Febby fadila
makax jova jangan sok kamu udah dihamilin gitu malah di campkan
Febby fadila
lanjut siapa ya🤔
Febby fadila
jangan tamat dulu ya kak, ada extra part nya kan
Febby fadila
semoga bumil sellu bahagia dan sehat sellu sampai lahiran
Febby fadila
makax bunda jangan main asal benci aja cari tau duluaslaahnua seperti apa
Febby fadila
ya elah aku kira aku doang yg tidur di bawah ketiak suami 🤣🤣🤣,,, jadi klw suami sdah dinas serasa rindu banget karena nggak bisa tidur
Febby fadila
Semoga nggak ada pelakor ya
Febby fadila
semoga aja Ayesha lagi hamil anakx angkasa
Febby fadila
gassss poooooollll ya angkasa jangan kasih kendor 🤣🤣🤣🤣 biar Fabian punya adik baru lagi
Febby fadila
tentang Aufa duku aja Thor tp di bikinseru ya
Febby fadila
Alhamdulillah semoga selalu bahagia terus ya moga aja Fabian akan punya Dede lagi
Febby fadila
lanjut biasanya dibcerita lain tu musti tunggu siap dulu baru mulai malam pertama nya
Febby fadila
sah selamat ya semoga kali ini samawa sampai til Jannah nya allah
Febby fadila
sedih aku tiap kali yesha mengingat rangga
Febby fadila
kangen Rangga juga ya, semoga tenang dan bahagia ya kamu Rangga 😭😭😭
Febby fadila
semoga ini awal untuk kebahagiaan kalian berdua
Febby fadila
sungguh kisah cintanya Ayesha sama angkasa nggak pernah mulus banget
Febby fadila
gimana reaksi bunda ayu ya, semoga bunda ayu nggak julid sama mantunya nanti
Febby fadila
waduuu Aufa kok suka sama sepupu sendiri siii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!