Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Second Date
"Sekarang?" tanya Radit, seakan mencari jawaban yang pasti.
"Sudah putus," jawab Jenna menyeruput jus buah di hadapannya.
"Oh," lirih Radit. Ingin rasanya Radit bertanya "kenapa?" tapi sepertinya dia merasa itu tidak etis jadi memang sebaiknya dia pendam pertanyaan itu.
"Mas Radit jadi kesana?" tanya Jenna menunjuk pasar malam.
"Ayo ... keburu malem."
"Kan pasar malem namanya juga."
Radit tertawa. "Pinter sekarang," ujarnya refleks meraih tangan Jenna untuk mengikutinya melangkah.
Jenna? Jenna kaget, sesuatu berdesir mengaliri nadinya, respon yang seketika membuatnya berhenti melangkah.
"Eh, maaf Na." Radit pun tersadar akan spontanitas dan tanpa meminta ijin.
"Gak papa," ujar Jenna. "Mas."
"Ya?"
"Tas sama sepatu aku tinggal di sini ya ... terus aku pinjem sandal dong," pinta Jenna.
"Sebentar," Radit mencari Ellen untuk meminjam sandal dan menitipkan tas milik Jenna.
Sampai di pasar malam, suasana kelap-kelip lampu warna-warni begitu indah. Beberapa wahana permainan terdapat di sana, banyak pengunjung sudah mulai ramai berdatangan.
"Ternyata rame juga ya," ujar Radit. "Mau coba wahana apa?" tanya Radit saat ia memperhatikan Jenna melihat komedi putar yang tak jauh dari mereka.
"Iya rame ... aku mau coba itu Mas," ujar Jenna menunjuk komedi putar yang ia amati tadi. "Aku belom pernah naik itu," katanya.
"Komedi putar?" tanya Radit dan Jenna mengangguk.
Sesaat mereka mengantri, setelah mendapatkan giliran Jenna dan Radit pun naik ke salah satu bilik. Komedi putar itu berukuran lumayan besar untuk suatu wahana di pasar malam. Perlahan komedi putar pun bergerak, Jenna menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan jauh ke bawah dan tersenyum.
Sedangkan Radit, asyik memperhatikan gadis yang duduk di depannya. Radit seperti melihat burung yang seakan bebas dari sangkarnya. Senyum Jenna begitu manis, sesekali Jenna melempar pandangan pada Radit. Lelaki berhidung mancung itu membiarkan Jenna menikmati malam ini.
"Mas Radit tau, kata orang hidup itu seperti komedi putar ... saat di bawah kita bisa melihat dengan jelas orang-orang di sekeliling kita, saat kita sampai di tengah seperti tadi aku ngerasain was-was takut ketinggian seperti menghadapi kehidupan yang akan dimulai, tapi saat seperti sekarang kita berada di ketinggian aku malah menikmati keindahan yang gak bisa orang di bawah sana nikmati."
"Mas Radit tau ...," ujar Jenna lagi dan ia terdiam saat komedi putar berhenti sejenak di atas. "Kok berenti ya?"
"Kayaknya emang sengaja," kata Radit.
"Oh ...."
"Lanjutin lagi, tadi mau bilang apa."
"Aku cuma mau bilang, aku cuma pengen menikmati hidup seperti komedi putar ini ... ada di bawah, di tengah, di atas, berputar seperti kehidupan tanpa harus mengikuti aturan." Jenna menatap Radit.
"Aturan kadang di buat untuk di langgar, Na ... belum pernah coba kan? kapan-kapan kita langgar aturan itu," ujar Radit tersenyum, jawaban asal tapi mengena.
"Eh kok gak gerak-gerak ya," ujar Jenna yang mulai sedikit panik saat komedi putar sudah kurang lebih 10 menit tidak bergerak.
"Tenang aja ... ini gak bakal kenapa-kenapa, aku juga gak kemana-mana ... aku di sini kan," ujar Radit menenangkan gadis itu.
Jenna memandang ke bawah, petugas komedi putar akhirnya menggerakkan komedi putar perlahan.
"Jenna."
"Ya," ujar Jenna.
"This is our second date?" tanya Radit menyandarkan tubuhnya di sandaran bilik.
"Ya, i think this is our second date," jawab Jenna lalu tersenyum.
"Thank you." Radit pun ikut tersenyum.
Komedi putar perlahan berhenti di setiap bilik, hingga sampai di bilik Jenna. Radit turun lebih dulu, menggenggam tangan Jenna agar gadis itu tidak terjatuh. Namun, genggaman tangan itu tak pernah terlepas di setiap mereka menaiki beberapa wahana.
Terkadang mereka saling melempar senyum, berjalan beriringan. Ya, begitu terasa seperti kencan yang sesungguhnya.
"Sebentar," ujar Radit dan melangkah ke sebuah stand lempar botol untuk mendapatkan beberapa boneka di sana. " Mau coba gak?"
"Bisa?" tanya Jenna.
"Kita coba dulu, aku mau dapetin yang itu," ujar Radit menunjuk sebuah boneka beruang berukuran sedang.
"Tapi aku mau yang itu, Mas ... lucu," kata Jenna menunjuk satu boneka gajah berwarna pink.
"Oke ... kita coba, kalo aku dapet kamu mau kasih aku apa?"
"Ish, lakukan tanpa ada pamrih," ujar Jenna tertawa.
"Oke ... kita coba ya."
Lelaki yang mengenakan setelan kaos berlengan panjang berwarna coklat dan celana jeans sobek itu pun memposisikan dirinya melempar bola ke arah botol. Jenna berdiri di samping Radit, kedua tangannya menangkup di depan dada, berharap agar Radit mampu melakukan lemparan tepat di botol-botol itu.
"Beneran gak mau kasih aku apa-apa kalo aku bisa ngedapetin gajah itu," ulang Radit.
"Ih ... dapetin dulu, aku janji nanti kasih kamu sesuatu," ujar Jenna.
"Ntar aku doa dulu," ujar Radit dan Jenna pun tertawa.
PRANG
Lemparan pertama tepat di tengah botol-botol, menjatuhkan semua botol di salah satu rak. Penjaga stand pun terkejut, sangat jarang ada yang bisa menjatuhkan botol dengan satu kali lemparan.
"Waw," Jenna terkejut, dia tak percaya Radit berhasil melakukannya.
"Biasa aja," ujar Radit mengacak rambut cepol Jenna.
"Gimana bisa?" tanya Jenna dengan wajah takjub.
"Mantan atlet baseball," canda Radit.
"Boong banget," Jenna menepuk lengan lelaki itu.
"Kan aku udah bilang, aku pasti bisa ngedapetin itu gajah."
Lelaki dengan postur tubuh tinggi dan ideal itu menerima gajah berwarna pink dari penjaga stand yang masih geleng-geleng kepala karena lemparan bola Radit.
"Gajahnya di mandiin dulu, sebelum diajak bobok bareng ya," goda Radit.
"Apa coba," Jenna tersenyum malu.
"Masih mau coba yang lain?"
"Gak deh," Jenna melirik jam di tangannya. "Sudah jam setengah sembilan Mas, aku harus pulang," ujar Jenna.
Radit mengangguk, mereka pun berjalan kembali ke coffee shop untuk mengambil tas Jenna dan sepatu yang Jenna tinggalkan di sana.
"Kamu gak papa pulang malem gini?" tanya Radit saat mereka sudah menuju perjalanan pulang.
"Gak papa, Mama sama Papa masih ada acara kalo Abang aku gak tau ... mungkin sudah ada di rumah."
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di depan kediaman Jenna.
"Aku antar masuk ya," kata Radit saat Jenna baru membuka pintu mobil.
"Eh, gak usah Mas ... gak papa Mas Radit langsung pulang aja," ucap Jenna memutar kembali tubuhnya ke arah Radit.
"Yakin?"
Jenna mengangguk.
"Ketemu lagi besok-besok ... makasih ya," ujar Jenna lalu tersenyum.
"Jenna."
"Ya," jawabnya.
"Mimpi indah," ujar Radit, senyum Jenna paling manis saat itu seakan menjawab kata-kata Radit.
Jenna menutup pintu mobil, meninggalkan Radit yang masih berdiam disana. Melangkah masuk dari pintu samping berharap pintu belum terkunci oleh salah satu pembantunya. Merasa aman, Jenna menjinjing sepatunya menaiki anak tangga perlahan.
"Darimana Na," ujar suara itu.
***enjoy reading 😘
like dan komen selalu aku tunggu ... matur tengkyuuuhh 🙏😘***
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba